Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
112. Sibuk


__ADS_3

Tidak jauh seperti yang sudah diprediksi Serge. Pekerjaan menumpuk.


Para pimpinan perusahaan berkumpul. Membahas tentang pembatalan proyek Andalusia Mall. Rion memimpin rapat langsung. Desas desus bahkan sudah bermunculan saat info tentang pembatalan kontrak bergulir. Memblokir alasan sebenarnya tidaklah mudah.


Karyawan yang dipecat sepertinya meninggalkan jejak desas desus. Mungkin mereka sengaja karena merasa sakit hati dipecat. Pimred Merilin memiliki hubungan dengan pembatalan kontrak kerja sama, hal ini menyebar begitu saja. Kekacauan di kantin kantor waktu itu menjalar ke mana-mana.


Ada yang percaya dan membicarakannya diam-diam. Namun, jauh yang lebih banyak tidak percaya. Tidak mau ikut membicarakan, karena takut bernasib sama dengan karyawan yang dipecat.


Presdir pun datang dalam rapat pimpinan, untuk melihat bagaimana putranya menyelesaikan masalah yang sudah ditimbulkannya itu. Dan setelah melewati rapat panjang, akhirnya mereka memutuskan memakai alasan sederhana.


Tidak ada kesamaan, visi dan misi serta tujuan yang ingin dicapai, dan setelah melewati beberapa kali pertimbangan tetap tidak ada titik temu, akhirnya Andalusia Mall dan Andez Corporation memilih mengakhiri kerja sama yang baru saja di mulai ini. Seperti itulah informasi yang disampaikan kepada publik.


Pengumuman secara resmi, kepada internal perusahan dibumbui peringatan keras, untuk tidak menyebarkan desas desus yang tidak berdasar. Ancaman pemecatan pun disampaikan secara resmi.


Merilin merasakan tatapan yang terasa aneh tertuju padanya. Namun, banyak juga karyawan yang biasanya dia kenal sambil lalu menyapa sopan padanya. Menundukkan kepala sambil tersenyum canggung.


Selama beberapa hari ini, begitulah yang dirasakan Mei. Gadis itu kadang memikirkannya, kadang berfikir ya sudahlah Mei, ini sudah resiko pernikahanmu diumumkan. Fans CEO masih membicarakan, kenapa? kenapa? wanita seperti Merilin bisa menikah dengan CEO kami. Mereka masih tidak terima, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.


Seperti hari ini. Saat masuk ke kantin sudah ada yang diam-diam melirik.


"Mei, kau tidak apa-apa?" Mona menarik tangan Mei yang ada di atas meja. Mereka sedang makan siang. Berdua. Kendra dan Baim makan siang di ruang kerja karena banyak yang mereka kerjakan. Mona berdehem sebentar, lalu lirih bicara lagi. "Siapa Amerla memangnya Mei?" Mona dengan jelas mendengar nama itu disebutkan waktu kejadian di kantin kantor.


Akhirnya sekarang dia punya kesempatan bertanya pada Mei. Yang ditanya langsung gelagapan.


"Kalau kau tidak mau membicarakannya ya sudah, aku hanya ingat sekilas, senior waktu itu bilang, kalau Amerla sumber gosip mu dan Presdir kan." Mona memukul bibirnya, lalu minta maaf. Melirik kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang mendengar apa yang baru dia katakan.


Mei tersenyum. Gadis di depannya memang sangat tulus, Mei bisa merasakan itu. Dia tidak berubah memperlakukan Mei sebagai rekan kerja. Walaupun di awal ada sedikit kecanggungan, namun Mei meminta Mona bersikap biasa saja. Akhirnya tak ada jarak antara mereka.


Masih terlihat keraguan untuk bicara jujur di mata Mei, tentang siapa Amerla. Tapi, Mei mengusir keraguan itu. Mona bahkan rela membelanya, hingga rasanya jahat sekali kalau dia berusaha menutupinya.


"Amerla mantan pacar Kak Rion."


Sendok ditangan Mona terlepas jatuh menggelinding di lantai. Matanya membelalak. Mulutnya yang terbuka langsung menyembur makian.


"Dasar gila!" Mona menutup mulutnya lagi. Melirik kanan dan kiri lagi. "Dia menebar fitnah itu tujuannya apa? Supaya Tuan Rion kembali padanya? Ah, gila! Ada ya orang gila seperti itu. Padahal jelas-jelas Tuan Rion sudah menikah denganmu." Rentetan makian meluncur dari mulut Mona. "Lantas, apa hubungannya dengan Andalusia Mall? Ada hubungannya dengan Amerla itu?"


Bahkan Mona sekalipun percaya, kalau pembatalan kontrak itu ada hubungannya denganku. Dan Amerla ada di balik itu semua.


"Apa jangan-jangan Amerla itu istri CEO Andalusia Mall? Haha! Lucu sekali, aku sepertinya senang menulis naskah drama TV." Mona menggebrak meja kaget sendiri, karena reaksi Mei yang tersenyum sambil memiringkan kepala dan menggigit sendok. "Apa!" Kali ini rasa shock yang ditunjukkan Mona sepertinya berkali lipat.


"Awas mata mu keluar nanti." Mei tertawa, melihat mata Mona yang mengerjap.


Gadis di depan Mei berakting pingsan, menjatuhkan kepala di meja.


"Gila! ini benar-benar gila! Aku tahu rahasia paling gila setelah kabar kau menikah dengan CEO Mei, tunggu aku mau pingsan dulu." Mona memejamkan mata, menjerit dalam hati.

__ADS_1


Setelah Mei menceritakan rahasianya pada Mona, entah kenapa ada yang terasa mengendur di pundaknya. Apalagi saat Mona menghiburnya dengan kata-kata menenangkan.


"Kalau ini bukan salahmu Mei. Wanita itu yang gila, bisa-bisanya memfitnahmu. Padahal dia sendiri sudah menikah, tapi malah mau menghancurkan pernikahan CEO Rionald yang sudah jadi mantannya. Jadi jangan merasa bersalah Mei dengan pembatalan kontrak ini. Walaupun pekerjaan kita menumpuk sekalipun. Walaupun banyak yang membicarakanmu. Hih! Tantang saja mereka, sambil berkacak pinggang. Apa! Mau kuadukan pada suamiku. Haha."


Mei tertawa mendengar kalimat terakhir Mona. Walaupun hatinya berdenyut, semua orang melihatnya sebagai wanita yang dicintai Kak Rion. Padahal fakta yang ada tidak begitu.


Mona mengambil sendok baru, dan menyelesaikan makan. Sambil berusaha mengorek tentang bagaimana Mei bisa menikah dengan Tuan Rion. Kalau yang ini, Mei masih belum mau menceritakannya. Dia menutup wajahnya malu-malu. Berakting di depan Mona supaya berhenti bertanya tentang Kak Rion.


"Mei, kalau nggak pakai baju, Tuan Rion bagaimana?"


"Mona!"


"Maaf Mei, haha. Aku akan pensiun jadi fans suamimu, sumpah! Tapi jawab dulu, seksi ya? Haha."


"Mona!"


Mereka tertawa, tidak memperdulikan bisik-bisik yang terdengar saat melirik Mei.


...🍓🍓🍓...


Di ruang kerja divisi majalah perusahaan.


"Aku sudah menghapus semua postingan Andalusia Mall di halaman Web. Film pendek juga. Im!" Kendra sedang duduk di meja kerjanya mendorong kursinya memanggil Baim. "Im, sebagai pengalih suasana, posting info-info tentang rumah atau quote kasih foto CEO juga dibeberapa postingan ya."


Terdengar Kendra mengeluh tentang banyaknya hal yang harus dia kerjakan. Sekarang dia mulai mengedit foto dan Vidio konferensi press yang dilakukan perwakilan Andalusia Mall dan Andez Corporation.


Mei diam saja di mejanya mendengar Kendra mengeluh.


Amerla, istri CEO Andalusia Mall ternyata adalah mantan pacar CEO Andez Corporation. Menyebarkan fitnah tentang istri yang selama ini dirahasiakan CEO Andez Corporation. Tujuannya, supaya bisa kembali ke pelukan CEO Rionald. Kalau Head line berita yang keluar seperti itu pasti jadi gempar. Mei bisa membayangkan akan jadi bulan-bulanan media info tentang Andalusia Mall.


Tapi, Kak Rion ternyata masih sangat bijak mengambil keputusan. Mei merasa bangga sekaligus lega. Kalau berita itu tersebar, pasti Andez Corporation yang lebih diuntungkan. Amerla bisa membawa kehancuran bagi Andalusia Mall. Padahal mall itu memang sudah tertinggal dengan saingannya.


"Mei, artikel sudah selesai belum. Mau aku posting sore ini." Suara Kendra terdengar lagi.


"Ia Kak sebentar lagi." Mei beralih ke layar komputernya lagi. Menyudahi lamunan.


Baim melirik sekilas ke meja Mei, karena saking sibuknya dia bahkan belum bicara dengan Mei secara pribadi. Sekedar bertanya kabar yang sering dia lakukan kalau setelah akhir pekan. Dia pun tidak punya kesempatan lagi membelikan kopi. Karena Kak Mei, pasti punya uang lebih banyak darinya sekarang. Tatapannya masih terlihat sedih.


"Kak Mei, bagaimana bisa kau menikah dengan Tuan Rion?" Bergumam-gumam dengan suara sendu.


"Karena mereka berjodoh." Suara berbisik.


"Aaaaaaa! Apa sih Kak Mona! Sejak kapan..." Mona menempelkan botol jus dingin ke pipi Baim. "Apa ini Kak?" Menyentuh botol dingin yang terasa sejuk.


"Energi, biar kau tidak berfikir aneh-aneh. Sudah sana kerja lagi." Ih, imutnya reaksi ini bocah! Aaaaaa! kenapa kau goyang-goyangkan botol itu di pipimu. Mona menjerit dalam hati melihat ulang Baim.

__ADS_1


"Hehe. Terimakasih Kak. Aku akan meminumnya."


Mei melirik sekilas ke meja Baim karena suara percakapan mereka, lalu tersenyum dan kembali ke komputernya. Ternyata Baim dan Mona akrab banget sekarang, gumamnya.


Begitulah yang terjadi. Selain masalah pembatalan kontrak, email masuk, draf pertanyaan yang disetujui Presdir dan CEO.


"Mei, pertanyaan yang sudah disetuju Presdir dan CEO sudah masuk." Mona membuka email, bola matanya bergerak cepat memeriksa. " Cuma 5 pertanyaan Mei yang disetujui, masing-masing. Jadi cuma ada 10 pertanyaan utama."


Deg. Deg. Entah kenapa hati Mei malah berdebar-debar. Dia ingat perkataannya waktu itu pada Kak Rion. Setelah wawancara selesai dia akan membuat pengakuan cinta.


"Mei!"


"Ah, ia. Kamu print dulu, nanti aku lihat. Aku menyelesaikan artikel pembatalan kontrak dulu."


Fokus Mei! Pikirkan pengakuan cintamu nanti.


Begitulah hari-hari kerja yang dilalui Mei, setelah semua orang tahu, dia istri CEO Rionald.


Diluar kesibukan divisi majalah perusahaan. Bagian lain tak kalah kalang kabut. Bagian penjualan properti juga mendapat dampak signifikan. Apalagi pembangunan tanah kavling yang sudah mau dimulai. Para konsumen yang sudah membeli ada yang menghawatirkan keprofesionalan Andez Corporation. Bahkan ada yang mau melakukan pembatalan pembelian. Telepon tidak berhenti berdering di bagian penjualan.


Para arsitek yang sudah menghabiskan waktu dan energi, mereka ada yang terlihat depresi karena sudah mencurahkan waktu berhari-hari untuk membuat desain awal. Ada yang terlihat marah sambil membanting hasil desainnya. Desas desus ramai di bagian ini. Walaupun mereka tidak bisa protes pada siapa pun.


Bagian keuangan, beberapa rekan bisnis dan sponsor. Semuanya mendapat imbas dari keputusan yang dibuat CEO Rionald untuk melindungi istrinya.


Rion menghela nafas dalam, menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia angkat kakinya, sambil memiringkan tubuh. Serge ikut ambruk, duduk. Dia dimarahi habis-habisan oleh Presdir. Dasar! Dia tidak mau memarahi anaknya, tapi melampiaskan padaku. Hiks. Cuma bisa pasrah sebagai budak kapitalis dunia kerja.


"Ge..."


"Hemm, kenapa?"


"Aku tidak pernah sebangga ini, aku melakukan semua ini hanya untuk Mei."


"Dasar gila!" Sudah membuat kekacauan masih bangga, maki Serge.


"Kau tahu aku memang gila kan kalau sudah jatuh cinta." Rion menyeringai. Tidak ada yang ingin dia tutupi dari Serge. Tentang perasaannya, semakin dia pamer, semakin dia puas. "Sekarang, aku bisa melakukan apa pun untuk Mei."


"Ya, ya, kau memang bocah gila. Tapi, aku bahagia dan mendukung kegilaan mu. Teruslah gila dan bahagiakan Mei."


"Teruslah bodoh seperti ini Ge." Rion memejamkan mata lalu tertawa. Dia sedang menyusun rencana, malam ini sepertinya makan malam berdua dengan Mei seru juga.


Serge cuma memandang Rion, sambil bergumam, apa sih, dasar gila!


Waktu terus berjalan....


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2