Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
132. Hubungan Yang Menggantung


__ADS_3

Ketika lampu jalanan sudah menyala. Saat matahari turun ke peraduan, dan senja yang kemerahan mulai menghilang. Sebuah mobil melaju cepat dari gerbang utama. Laki-laki yang keluar dari mobil tergopoh, berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Dia ayah Amerla, laki-laki itu tergesa keluar dari kantornya setelah mendapat telepon dari menantunya.


"Di mana Erla?" tanyanya setengah berteriak pada pelayan wanita yang menyambutnya di depan pintu.


"Nona ada di kamar Tuan, dan nyonya belum pulang." Wanita paruh baya itu mundur takut saat ayah Amerla mulai mengomel. Menyuruh wanita itu menelepon istrinya untuk segera pulang. Sementara dia bergegas naik. Derap langkahnya mengganti kesunyian yang sepanjang hari ini ada di rumah seperti tak berpenghuni ini.


Brak! Gedoran pintu terdengar. Saat handle pintu dia tarik ternyata terkunci. Bug, bug, semakin keras dia memukul pintu.


"Erla! Keluar! Ibram mau datang menjemputmu. Keluar kamu! Mau sampai kapan kau mempermalukan ayahmu ini. Kau belum puas melihat ayahmu ini dipermalukan menantunya sendiri." Gedoran pintu dan teriakan laki-laki itu tidak berbalas. Dari dalam hanya keheningan. Membuatnya semakin emosi. Saat pelayan datang mendekatinya, wanita itu menjadi tempat pelampiasan kemarahannya. "Amerla! Keluar!" Memukul pintu lagi.


Di dalam kamar. Amerla menjatuhkan pensil yang sedari tadi dia pegang. Papan gambarnya terjatuh saat dia terbangun. Sebenarnya dia sudah mau membuka pintu saat gedoran pintu semakin mengeras, tapi, saat ayahnya menyebut nama Ibram dia jadi mundur karena takut.


Tidak! Tidak mungkin Kak Ibram datang merendahkan dirinya ke mari. Amerla yakin sekali itu. Kedatangan Ibram ke rumahnya hanya akan menjadi semacam kekalahan pada harga dirinya. Dia saja tidak mau kalah dari CEO Gardenia Pasifik Mall saingannya itu. Apalagi dari istri yang sudah dia buang.


"Erla! Buka!" Teriakan ayah semakin mengeras.


Tidak lama, keheningan tercipta. Amerla mendekat ke pintu. Merapatkan telinga. Apa yang menyerah gumamnya. Tapi, baru membatin dalam hati, dia kembali mendengar suara ayahnya, kali ini juga suara ibu. Dan suara kunci bergesek. Dan brak! Ayah menendang pintu.


Kaki gadis itu gemetar, merapat ke tempat tidur.


"Dasar anak kurang ajar! Selain mempermalukan orangtua kau mengabaikan ayahmu juga!" Ayah yang terbakar amarah dan harga dirinya mendekati Amerla, tangannya terangkat. Amerla meringkuk dengan kaki gemetar, memejamkan mata. Melindungi kepalanya dengan kedua tangan terangkat. Ayahku sendiri mau memukulku batinnya nyeri. Tapi dia hanya pasrah.


"Suamiku jangan!" Ibu memegang lengan suaminya. Amerla membuka sedikit matanya saat mendengar ibu bicara.


Deg. Apa ibu membelaku. Dia menatap ibunya merasa tidak percaya.


"Kalau Nak Ibram melihat luka Erla nanti dia semakin tidak suka pada Erla bagaimana." Jawaban ibu menerbangkan setitik keharuan yang dengan bodohnya muncul tadi.


Hah! Apa? Gadis yang sedang gemetar ketakutan itu tertawa dalam hati, saat mendengar kekhawatiran ibunya. Yang dia khawatirkan bukan aku ternyata. Yang dia takuti tetap Kak Ibram. Haha, lucunya. Hatiku sudah berdesir haru tadi.


Mendengar kata-kata ibu sepertinya ayah berusaha menahan amarah sebisanya. Dia menatap Amerla dengan pandangan jengah.


"Bersihkan dirimu! Jangan sampai Ibram melihat tampang menyedihkanmu itu!" Ayah berbalik, lalu melihat istrinya. "Urus dia."


Tidak ada yang menjawab, baik Amerla maupun ibunya. Ayah pun keluar dengan membanting pintu membuat Amerla terperanjat jatuh terduduk ke atas tempat tidur. Tidak ada yang bergerak dari posisi mereka, keduanya terdiam.


Amerla yang tidak berdaya. Ibu yang bingung mau mulai bicara apa.


"Ibu..." Akhirnya Amerla yang membuka suara. Dia bangun, membereskan kertas berseraknya. "Kak Ibram ke sini juga hanya untuk mengantar surat gugatan cerai Bu. Lebih baik kalian persiapkan diri untuk itu."


"Erla!" Ibu mendekat, mengguncang bahu anaknya. "Sadarlah! Kita itu tidak punya pilihan lain. Kau tidak punya pilihan selain kembali pada Ibram. Sudah ibu bilang kan ini demi kebaikan kita semua."


Amerla tergelak, melepaskan kedua tangan ibu.


"Kebaikan kita? Hah! Kebaikan kalian semua baru benar."


"Erla, kita ini kan satu keluarga."


Menggelikan, saat seperti ini ibu baru menyinggung tentang keluarga. Selama ini kalian kemana. Bukankah aku sudah terlalu banyak berkorban. Amerla ingin menumpahkan semua isi kepalanya saat ini. Tapi, dia menggigit bibirnya sampai terasa sakit. Kalau dia diusir dari rumah orangtuanya, dia tidak punya apa-apa dan siapa-siapa sebagai tempat pelarian. Hingga dia menelan lagi segala keluh kesahnya ke dalam hati.


"Bu, sudah tidak ada yang bisa diperbaiki lagi antara aku dan Kak Ibram Bu. Kami sudah saling membenci. Jadi sadarlah! Hanya perceraian ujung dari pernikahan kami." Hanya itu yang tersisa dalam hubungan kami Bu. Ada yang terasa menusuk di hati Amerla ketika mengatakannya.


"Erla! Lalu kau mau apa setelah bercerai! Memang kau punya apa selain status janda itu! Kau mau menjadi aib, kau pikir akan ada tuan muda kaya yang melirikmu lagi!"


Kalau dulu Amerla pasti sudah meledak marah. Bisa jadi dia akan membanting apa yang ada di depannya, berteriak pada ibunya. Tapi sekarang, dia hanya mengepalkan tangan menahan semua kesedihan di hatinya.


Terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu, Amerla dan ibu menoleh. Terperanjat kaget, saat melihat siapa yang sedang berdiri sambil menyeringai dengan sombong. Laki-laki itu tertawa mengejek. Ayah Amerla disampingnya menahan malu dan marah. Ibram menatap Amerla dengan sorot mata menusuk.


"Keluar semua, aku mau bicara dengan istriku."

__ADS_1


"Ibu! Tidak, aku mohon Bu." Amerla meraih tangan ibunya. Memegang lengannya dengan erat. Melihat sorot mata Ibram yang penuh ancaman dia ketakutan kalau harus ditinggal sendirian. "Ayah, aku mohon Yah. Aku mohon."


Perlahan ibu melepaskan tangan Amerla dari lengannya, lalu dia berjalan ke arah pintu. Menundukkan kepala pada Ibram. Dia tidak menoleh walaupun Amerla memanggilnya.


Dan pintu kamar tertutup.


Ibram menyapu setiap sudut ruangan dengan matanya. Lalu berjalan dan menyentuh beberapa benda. Amerla berdiri kaku di dekat meja. Dia menutupi sketsa gambarnya dengan tumpukan kertas kosong.


"Beraninya kau kabur dariku."


Amerla melirik pintu keluar, pandangannya terlihat Ibram. Laki-laki itu tertawa sambil menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur.


"Kau mau keluar dari kamar? Pergilah! Kalau kau penasaran ingin melihatku melakukan apa padamu di depan ayah dan ibumu yang merepotkan itu." Seringainya saja sudah membuat pikiran Amerla langsung membeku. Dia tidak berani menantang Ibram sedikit pun sekarang. "Kenapa? Kau tidak penasaran? Padahal aku saja penasaran."


Amerla meremas jemarinya yang bergetar. Rasa takut menjalar dengan sendirinya. Lama tidak bertemu dengan Ibram, saat melihat wajahnya sekarang, segala macam penderitaan yang dia lalui di rumah Ibram saat itu seperti menari di depan matanya.


"Kenapa diam? Berlutut dan merangkak ke mari dan memohonlah aku mengampuni Erla." Ibram tertawa, namun dari ekspresinya saat dia melihat Amerla sepertinya dia terkejut.


Dia bersinar lagi. Deg. Sial! Ibram memaki hatinya sendiri. Gadis kumal walaupun memakai pakaian mahal yang terakhir kali dia lihat. Amerla yang saat itu sudah padam, bagaiman mungkin, sekarang dia kembali bersinar dan cantik.


"Kau sudah punya pacar?"


Amerla cuma bisa bengong dengan pertanyaan yang berikan Ibram.


"Beraninya kau bertemu laki-laki lain dibelakangku, dasar wanita tidak tahu diri!" Saat akan bangun dan mendekati Amerla yang sudah mundur, Ibram tersentak sendiri. Dia ingat dengan jelas, ayah Amerla bilang kalau selama ini gadis itu hanya mengurung diri di dalam kamar. Bahkan pelayan juga membenarkan itu.


Daritadi Ibram bicara seperti sedang monolog. Karena sedikit pun Amerla belum membuka mulut.


"Kau mau menguji kesabaran ku! Mau kutarik rambutku dan aku seret kau keluar dari rumah ini. Berlutut dan memohonlah aku mengampuni mu!"


Dengan tangan yang masih gemetar dan mulai berkeringat, Amerla jatuh terduduk dilantai kamar. Suara lututnya membentur lantai berdentum. Dia menjatuhkan telapak tangannya, keduanya menempel di lantai. Dia terlihat seperti anjing yang akan menggonggong kalau dia disuruh menggonggong. Ibram mulai merubah ekspresi kesal di wajahnya. Dia tersenyum melihat gadis di depannya semakin tidak berdaya.


"Aku mohon Kak." Suara Amerla terhenti. Dia menatap lantai, hatinya sakit.


Tidak, hubungan kita sudah tidak mungkin diselamatkan lagi. Gadis itu bergumam getir.


"Aku akan merangkak di kakimu Kak, aku juga akan mencium kakimu kalau itu yang kau inginkan. Aku akan memohon padamu untuk membuatmu puas." Amerla semakin tertunduk.


"Hah! Kau sudah tahu situasimu rupaya. Sekarang lakukan, semua yang kau katakan tadi." Ibram tertawa mengejek, sambil menepuk tempat tidur Amerla.


Masih dengan tangan berkeringat, Amerla menarik nafas dalam-dalam. Dia menyiapkan keberanian.


"Aku akan melakukannya Kak, tapi, kabulkan permohonan ku, aku mohon. Aku akan melakukan semua hal tadi untuk menyenangkan hati Kak Ibram." Menarik nafas dalam. "Aku mohon Kak, ceraikan aku, lepaskan aku."


Seringai di bibir Ibram langsung lenyap.


"Aku akan merangkak dan mencium kaki Kakak, tapi aku mohon ceraikan aku."


"Kau sudah gila!"


Tadinya Ibram pikir Amerla akan memohon-mohon supaya bisa kembali padanya. Memohon supaya dia tetap memberi modal usaha pada keluarganya. Tapi yang dia dengar sekarang, malah, dia memohon supaya dia dibuang.


"Kau benar-benar sudah gila karena tidak bertemu denganku lama. Hah." Ibram mencengkeram tangan Amerla menariknya, dan melemparkan gadis itu ke atas tempat tidur. "Barusan kau bilang apa? Hah! Bercerai! Setelah kabur bukannya merenungi kesalahanmu kau malah jadi gila!"


Ibram menarik baju yang melekat di tubuh Amerla, susah payah gadis itu mempertahankan. Tapi, posisi Ibram yang ada di atasnya membuatnya hanya bisa menggigit bibir pasrah. Saat dengan penuh kemarahan laki-laki yang masih berstatus suaminya itu memaksa menciumnya. Menggigit bahunya sampai memerah. Karena Amerla tidak melawan membuat Ibram semakin emosi.


"Kau sudah punya pacar lagi? Benar kan? Kau sudah punya laki-laki lain yang bisa menghidupimu. Jawab!"


Amerla menatap bola mata yang dipenuhi amarah milik Ibram.

__ADS_1


"Aku bahkan ingin mati Kak."


"Apa?"


"Apa kau senang setelah menyiksaku? Kenapa tidak kau bunuh aku saja Kak. Supaya aku menghilang. Aku sakit, aku lelah. Aku kesakitan tapi sama sekali tidak ada yang perduli. Bahkan ayah dan ibuku sendiri. Mereka tahu apa yang akan Kakak lakukan padaku, tapi mereka menutup pintu dan pergi. Jadi, lakukan apa yang ingin Kakak lakukan padaku. Pukul aku sampai Kakak puas, cumbui aku dan lampiaskan hasrat Kakak sampai Kakak muak. Tapi aku mohon, ceraikan aku dan lepaskan aku setelah itu." Amerla memalingkan wajah. Melihat ke arah jendela. Airmata jatuh di tergelincir di pipinya.


Cengkeram tangan Ibram mengendur. Melihat airmata Amela jatuh lagi, kakinya bergeser dari paha. Dia menarik selimut, melemparkan ke tubuh Amerla sampai menutupi wajahnya.


"Sialan!" Ibram memaki sambil turun dari tempat tidur.


Apa dia tersentuh dengan kata-kataku, gumam Amerla. Apa ini benar-benar akan menjadi ujung dari hubungannya dengan Ibram. Apa status janda akan melekat dalam hidupnya. Hah! Sudahlah Erla, apa yang kau tangisi. Ujung mata gadis itu semakin berair, entah kenapa dia menangisi berakhirnya hubungannya dengan Ibram. Padahal inilah yang ia inginkan.


Amerla menarik selimut yang menutupi kepalanya. Dia berusaha bangun supaya bisa duduk, malah terjungkal karena selimut di atas tubuhnya melilitnya.


Apa sih!


Ibram menahan diri untuk tersenyum, dia melengos mencari hal lain untuk dilihat. Amerla terlihat kesusahan tapi berhasil duduk. Dia menarik selimut, menutupi bagian depan tubuhnya. Bajunya yang terkoyak.


"Jawab aku? kau bertemu dengan laki-laki lain?"


"Tidak. Aku hanya ada di kamar, aku tidak pernah keluar rumah."


"Hah! Apa yang kau lakukan di kamar? Menangisi nasibmu?"


Amerla menunduk dan terdiam.


"Jawab!"


"Untuk apa aku hidup? Aku hanya memikirkan itu."


Alasan aku untuk bangkit dari hidup menyedihkan ini. Hanya itulah yang aku lakukan Kak. Dan aku sudah menemukan alasan aku untuk bertahan hidup. Bukan mencintai ataupun berharap dicintai. Aku ingin bersinar, dengan desain baju yang aku buat. Aku ingin hidup menjadi Amerla yang baru, yang mengejar mimpi dengan tanganku sendiri. Kalau aku menjawab begitu, apa Reaksi Kak Ibram ya. Apa dia akan menertakanku dan mencemoohku. Amerla yang cuma punya wajah cantik dan tubuh yang indah, berfikir tentang mimpi, kau benar-benar sudah gila. Mungkin itulah yang akan aku dengar dari Kak Ibram. Gadis itu memberanikan diri menatap mata Ibram, melihat reaksinya.


"Dasar bodoh!" Amerla tidak merespon apa pun penghinaan itu. "Aku akan memberimu waktu, renungkan kesalahan mu dan kembali padaku. Aku tidak memberimu waktu lama Erla. Pikirkan keluargamu yang akan sekarat kalau aku membuangmu."


Untuk apa aku perduli pada keluarga yang tidak perduli padaku.


"Ceraikan aku saja Kak, dan carilah wanita sesuai keinginan Kakak di luar sana."


"Tutup mulutmu!"


"Apa Kak Ibram mencintaiku?"


Deg... Deg


"Pikirkan baik-baik kata-kataku, sekarang aku biarkan kau disini." Ibram tidak menjawab pertanyaan Amerla.


"Kalau Kak Ibram tidak mencintaiku, untuk apa lagi Kak? Aku mohon, lepaskan aku. Ceraikan aku dan carilah wanita lain."


"Kau memancingku lagi?"


Amerla terdiam.


"Dua minggu, aku tidak sesabar itu menunggu."


Saat Ibram mendekat dan merayap diatas tempat tidur, gadis itu mundur sampai membentur sudut tempat tidur. Tangan Ibram mencengkeram dagu Amerla.


"Kalau aku mendengar kau bertemu dengan laki-laki lain selama dua Minggu aku memberimu waktu, maka tidak ada lagi ampun bagimu. Kau paham." Ibram mencium pipi Amela. Dan berbisik. "Aku akan membawamu ke neraka yang lebih mengerikan dari kemarin saat kau mencoba merayu CEO Rionald."


Ibram melambaikan tangan saat keluar dari pintu kamar. Sementara Amerla mencengkeram selimut yang menutupi dadanya dengan tangan gemetar.

__ADS_1


Kenapa? Kenapa dia jadi terobsesi padaku!


Bersambung


__ADS_2