
Di dalam mobil yang dikemudikan Serge dengan kecepatan penuh. Laki-laki itu mengurangi kecepatan, karena sebentar lagi mendekati lampu merah. Dari kursi belakang, terdengar suara Mei yang bicara dengan Rion. Suaranya yang terdengar pedih, karena pasti ingatan tentang ayahnya terbayang.
"Dia sebenarnya bawahan ayah, tapi karena sudah sangat dekat, aku dan Kak Brama disuruh memanggilnya paman. Dia sudah seperti teman ayah. Bagaimana ini Kak, aku bingung bagaimana harus berdiri di depannya nanti." Tidak mungkin dia tidak membenci laki-laki itu. Tapi, sebenarnya apa yang dia inginkan sekarang. Apa dia akan melaporkan laki-laki itu ke polisi, memintanya membayar ganti rugi dan mengembalikan uang ayah yang dulu dia bawa kabur. Atau apa yang dia inginkan? Atau Mei lebih memilih, supaya penipu itu berkubang dengan rasa bersalah dengan cara membencinya selamanya. "Apa dia bisa mengembalikan uang ayah supaya Kak Brama bisa membangun lagi perusahaan ayah?" Pertanyaan Mei, yang dia tujukan untuk Rion
Gadis itu saat ini sedang tidak bisa mengambil keputusan apa-apa. Dia bahkan tidak menelepon Kak Brama, karena takut kakaknya tidak bisa menahan emosi dan amarah. Lebih lagi, dia tidak mau memberi tahu ibu, sebanyak apa luka yang akan terbuka lagi, kalau sampai ibu bertemu dengan laki-laki yang sudah dianggap ayah seperti teman itu.
Mobil berhenti di lampu merah. Serge melirik kaca spion, melihat Rion, dia mau menjawab apa pikir Serge.
"Ge..." Panggilan Rion terdengar. Artinya, Rion menyuruhnya yang menjawab pertanyaan Mei.
"Mei..." Serge langsung cepat tanggap kali ini, tahu maunya Rion apa. "Sebenarnya, aku mendapat perintah dari Presdir dan Rion untuk mencari penipu itu."
"Apa? Kakak dan ayah?" Mei menyentuh pipi Rion, meminta penjelasan lebih, sambil menunggu lampu merah berganti. Setelah lampu hijau mobil kembali melaju. Rion menganggukkan kepala, dan merengkuh bahu Mei.
Terdengar lagi penjelasan Serge menggantikan Rion.
"Aku memang berhasil melacak orang itu, tapi ternyata dia sudah tidak punya apa-apa. Jangankan perusahaan, bahkan rumah pun tidak punya. Karena berpindah-pindah tempat tinggal, makanya kami sulit menangkapnya." Mungkin kehancurannya itulah yang membuatnya menemui ayah mu Mei, menangis di makam ayah mu, seperti yang penjaga makam itu lihat. Ah, hati Serge tak menyisa ruang untuk berbaik sangka. Karena kebenciannya pada penipu itu.
Cih, Rion mendengus sedikit jengah di samping Mei. Sebenarnya Rion mau membalas laki-laki itu dengan cara yang sama, misalnya dengan mengganggu usahanya, tapi, tidak ada yang bisa ia hancurkan, karena laki-laki itu sudah hancur dan tidak punya apa-apa. Tuhan sendiri yang membalas kejahatan yang sudah dia lakukan dengan seadil-adilnya.
"Dia bangkrut juga Kak?"
"Jangan kasihan padanya Mei." Rion meraih tangan Mei, "Kau berhak membencinya dan tidak memaafkannya. Hah! Membuat orang babak belur tidak akan dipenjara kan?" Entah apa yang sedang dipikirkan Kak Rion, tapi jujur Mei sudah takut Kak Rion lah yang akan meledak nanti.
"Kak..."
"Tidak akan sampai mati kok..."
"Kakak!"
"Baiklah," Mendengus lagi sambil menghela nafas kesal. "Aku akan menahan diri, karena ini kemarahan mu Mei, lakukanlah apa pun yang kau inginkan."
Serge yang ketar ketir juga sebenarnya, saat Rion bicara begitu. Kalau terjadi apa-apa pada Rion, dia kan yang harus maju bertanggung jawab duluan.
Mobil memasuki gerbang pemakaman. Tepatnya Dua buah mobil berdecit, sopir yang membawa mobil menginjak rem bersamaan. Parkir sebelahan juga. Serge melihat sekilas saja, tahu mobil siapa di sebelahnya. Kenapa Brama di sini, gumam Serge panik. Melihat kursi belakang, Rion sedang menenangkan Mei untuk terakhir kalinya. Hingga gadis itu tidak menyadari kalau kakaknya ada di sini.
Aku kan tidak menghubunginya? Bagaimana dia bisa ada di sini? Serge keluar duluan dari mobil.
"Hei! Brama!" Brama yang baru saja membanting pintu mobil tersentak, saat namanya dipanggil.
"Ge! Kenapa kau di sini?" Belum mendapat jawaban dari Serge.
Pintu mobil terbuka, Brama kaget lagi karena melihat Mei. Padahal dia sudah mengatakan pada Harven untuk jangan menghubungi Mei. Dia takut, hati Mei melemah dan akan mudah memaafkan penipu itu. Jadi, biar dia yang menghajar laki-laki itu sendiri. Menggantikan ayahnya.
"Mei..."
"Kak Brama!"
"Kenapa kalian ada di sini?" Brama melihat adik iparnya. Kenapa semua ada di sini juga? apa ini kebetulan?
"Kakak sendiri?" Mei melihat Serge, dengan melotot lagi. Serge mengibaskan tangannya, karena dia pasti yang dituduh menghubungi Brama. "Kakak mau mengunjungi ayah?"
__ADS_1
Kesalahpahaman yang meruncing. Brama mengedarkan pandangan jauh, melihat ke arah makam ayah. Lalu, dia bicara pelan. Sudah tidak ada yang bisa dia tutupi, karena Mei ada di sini, dia juga harus bertemu penipu itu.
"Ibu dan Harven di sini." Brama menunjuk jalan menuju ke arah makam ayah mereka.
"Apa!"
Mei, Rion dan Serge berteriak bersamaan. Dan tanpa mendengar penjelasan lagi, Mei langsung lari ke arah makam ayahnya. Rion mengejar. Sementara Serge dan Brama tertinggal. Dan akhirnya, Serge pun menjelaskan sambil mereka berjalan cepat mengejar Mei yang berlari dengan tergesa. Membuat kekagetan Brama berangsur pergi.
Pada akhirnya malah semua berkumpul gumam Serge. Kalian ingin saling melindungi supaya tidak ada yang terluka, tapi kenyataan tetaplah harus dihadapi. Walaupun sulit, Serge berharap ini bukanlah kesalahan. Bertemunya keluarga Mei dengan penipu itu. Semoga bukan kesalahan, walaupun dia juga tahu, luka lama yang terbuka lagi, kebencian yang naik ke permukaan, bahkan dendam yang sudah terlupakan. Karena dia pun merasakannya. Kemarahannya sama persis yang dirasakan Brama sekarang.
"Marahlah, memakilah, luapkan saja kebencian mu Bram, semua yang sudah kau pendam. Rasa marah mu padanya." Serge menepuk bahu Brama. "Tapi, kau tetap harus waras dan jangan melampaui batas, karena di sana ada adik-adikmu dan ibumu." Pesan bijak Serge sebagai seorang teman sekaligus keluarga. "Kau boleh memukulnya, tapi tetaplah waras."
Brama tidak menyahut. Tapi, saat makam ayahnya sudah terlihat. Mei yang memeluk ibu sambil terisak, suara tangisnya yang sudah terdengar di telinga. Brama sudah mengepalkan tangan, sorot matanya sudah tajam mengarah ke satu orang yang sedang duduk berlutut di tanah.
...🍓🍓🍓...
Bicara memang mudah.
Entah kenapa, saat berada di depan pelaku, dan laki-laki itu terbata-bata menceritakan kehidupannya yang menyedihkan. Kalau setiap malam dia bahkan tidak bisa tidur karena dihantui rasa bersalah. Kalau semua orang yang tahu masa lalunya menjauh, kalau dia pernah tidak punya uang untuk sekedar makan. Kalau dia seperti sudah jatuh tertimpa tangga, masih kejatuhan ember berisi cat juga.
Serge yang menjadi saksi hidup, bagaimana Brama yang tadinya seorang kakak penyayang berubah, Serge yang melihat Mei memakai tas lusuh pemberiannya, kupon makan yang gadis itu terima dengan suka cita. Ibu yang lupa ingatan. Harven yang harus kerja paruh waktu. Walaupun melihat laki-laki penipu itu membenturkan kepalanya sekalipun di tanah amarahnya tidak menghilang.
Brama yang paling terpancing, karena laki-laki itu seperti melemparkan tanggung jawab pada nasib, penipu itu memang merasa bersalah, tapi dia juga merasa sudah membayar dosa-dosanya dengan kehilangan anak, istri dan harta, tersirat kalau dia layak untuk dimaafkan karena dia sudah menebus dosa-dosanya. Mendengar itu semua, Brama berteriak marah, menendang tubuh laki-laki itu. Memukulnya sambil mencaci maki.
"Kembalikan hidup kami sialan! Kalau kau melihat bagaimana ayahku hidup setelah kejadian itu, kau pasti malu! Ibu ku sakit! Dasar gila! Aku tidak sudi memaafkan mu! Hiduplah dengan tidak tenang seumur hidupmu sana!"
Serge bahkan harus memegangi tubuh Brama yang sudah memukul membabi buta. Keduanya terjungkal ke tanah, karena Brama masih saja berontak dan Serge kalah tenaga. Jatuh terengah-engah, kehabisan tenaga. Dan Isak tangis Brama yang terdengar, sambil dia memukul dadanya sendiri.
Serge memeluk Brama lagi, mengerahkan semua sisa tenaga. Walaupun dia oleng.
Mei masih memeluk ibunya yang menangis, luka masa lalu itu tersiram air garam. Melihat Kak Brama yang mencaci maki dan meluapkan amarah, hati ibu rasanya semakin pedih. Mei memeluk ibu, sambil berbisik, menenangkan tangis ibu. Di punggung Mei gadis itu bisa merasakan tangan Kak Rion dan Harven menepuk bahunya pelan. Melihat Kak Brama yang tidak bisa menahan emosinya.
Langit meredup, awan berarak seperti bergerak di atas mereka. Memberi keteduhan dari sinar matahari. Angin pelan berhembus. Penjaga makam cuma bisa menonton dan hanya menebak-nebak situasi.
Setelah hening sebentar.
"Saya sudah tidak punya apa-apa, saya bahkan tidak punya uang. Bagaimana saya harus membayar kesalahan saya." Masih dengan suara bergetar dan terbata-bata penipu itu bicara lagi, kali ini tatapannya ke arah ibu dan Mei. "Saya dihantui rasa bersalah setiap hari, saya benar-benar memohon maaf."
"Mati saja kau!" Suara Brama menyambar.
Mei melihat penipu itu dengan sorot mata campur aduk.
Kemarahan dan dendam tidak akan berujung pada apa pun, apalagi ayah yang sudah meninggal. Itulah kenyataan, namun mengucapkan ya sudahlah, biarkan saja, lupakan semua, juga bukan perkara mudah. Apalagi penipu itu muncul setelah sekian lama, setelah kemalangan demi kemalangan ia terima, dia jadi menyadari semua dosa-dosanya. Mei sekalipun, tidak sanggup memaafkannya sekarang.
"Pergilah!"
"Mei!" Brama dan Serge yang masih berpelukan berteriak kaget, ketika tiba-tiba Mei bicara dengan suara lirih namun juga tegas. Rion pun terlihat terkejut dengan apa yang dia dengar. "Jangan maafkan dia Mei!" Brama berteriak lagi, sambil memukul Serge supaya melepaskannya.
Mei menghapus sudut matanya. Aku pun tidak bisa memaafkannya, tapi ibu, ibu akan semakin terluka kalau paman itu masih tetap ada di sini.
"Laporkan saja dia ke polisi, biar dia membusuk di sana!" Walaupun itu terdengar seperti tawaran yang sangat baik, dipenjara dia punya tempat tinggal dan bisa makan, enak sekali. Batin Brama. "Tidak! Mati saja kau sana, supaya tidak bisa berbuat jahat lagi pada orang lain!"
__ADS_1
Mei mengusap wajah ibu, menghapus sisa airmata di wajah ibunya. Lalu gadis itu memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Walaupun airmatanya tetap menetes.
"Bu, kita hidup dengan bahagia ya, sekarang, kita hidup dengan baik kan Bu? Nanti, kita sering datang ke rumah ayah sama-sama. Mei, Kak Brama dan Harven juga."
Gadis yang sedang bicara dengan suara bergetar bercampur airmata itu hanya ingin menunjukkan, kalau sekarang mereka sudah baik-baik saja. Kalau masa lalu hanyalah kenangan buruk yang tak perlu mereka bicarakan lagi.
Brama berhasil melepaskan diri dari Serge, dia segera mendekat ke arah Mei. Duduk di samping ibu dan Mei, memegang tangan kedua wanita di depannya.
"Aku tidak rela Mei, kau tidak ingat penderitaan kita, kemalangan ibu, karena penipu itu!" Brama mengguncang lengan Mei.
"Kak.. ibu akan lebih menderita kalau kita tetap di sini."
Deg.. tangan Brama bergetar. Lalu dia jatuh terduduk. Melihat wajah ibu dan Mei bergantian.
"Apa kau bisa memaafkannya?"
Gelengan kepala Mei menjadi jawaban. Lalu Mei meraih tangan Ibu, bersama Harven gadis itu membantu ibu bangun. Dia pun saat ini tidak bisa memaafkan laki-laki itu begitu saja. Bahkan setelah mendengar kisah pilunya sekalipun. Karena itu buah dari kesalahan yang sudah dia lakukan.
"Jadi, kau mau bagaimana Mei? Aku bisa menuntutnya masuk penjara kalau kau mau. Karena cuma itu yang bisa dia lakukan untuk menebus semuanya." Suara dingin Rion langsung membuat penipu itu tertunduk. Sepertinya penipu itu mengenal Rion. Dia sudah gemetar takut walaupun baru digertak. "Atau minimal, biarkan aku menghajarnya sampai koma."
"Kakak!"
"Hah!" Rion mengangkat bahu. Sambil mendengus. Dari tadi dia memang berusaha menahan diri, karena kalau bicara sedikit saja dia pasti terpancing. "Biar Serge dan Kak Brama saja yang mengurusnya, ayo pergi. Kita antar ibu pulang."
Tiba-tiba.
"Nyonya! Tunggu! Bicaralah sebentar Nyonya!" Penipu itu sadar, kalau ibu Mei pergi maka berakhir sudah. "Saya mohon Nyonya, selamatkan hidup saya dari penderitaan ini."
Buag!
Suara tendangan kaki terdengar, saat semua tersentak, penipu yang mau memegang kaki ibu terjungkal.
"Hah! Padahal aku sudah menahan diri dari tadi." Mata Rion sudah menyala, sambil melirik tajam ke arah penipu yang terjungkal dan sedang mengaduh kesakitan itu. "Kau benar-benar mau mati ya?"
"Nyonya, saya mohon!"
Penipu itu masih mencoba merangkak mendekat, dan hampir saja jangkauan tangannya menyentuh kaki ibu. Dan tendangan kaki Rion melayang lagi, setelahnya Rion meraih kerah baju lusuh yang dipakai penipu itu. Bibir Rion bergetar menahan marah.
"Beraninya kau menyentuh ibu ku! Lawan mu aku sekarang!" Rion menghempaskan tubuh sang penipu ke tanah.
Dasar gila! Serge yang panik menarik Brama supaya membantunya. Dia saja bisa babak belur kalau Rion sudah emosi, apalagi pada orang asing pikir Serge. Membuat laki-laki itu koma bisa-bisa benar-benar terwujud.
"Rion hentikan!"
"Lepaskan aku sialan! Biar ku bunuh saja dia!"
"Mei! Bawa Rion pergi, biar aku dan Brama yang mengurus sisanya!"
Masih sempat Rion mengacungkan kepalan tangannya, sebelum meninggalkan makam ayah Mei. Mei menarik tangan Rion, menggandengnya, sambil satu tangannya menggandeng lengan ibu. Dia menoleh sekilas pada laki-laki yang pernah dipanggilnya paman itu.
Jangan pernah muncul lagi, walaupun di makam ayah. Gumam gadis itu, karena dia tidak rela. Kebenciannya masihlah sebanyak itu hari ini. Mungkin, dia dan keluarganya akan memaafkan laki-laki itu nanti, suatu hari nanti. Tapi, hari ini bukanlah saatnya. Luka dan kemarahan masih terlalu besar di hati mereka.
__ADS_1
Bersambung