Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
108. Mengaku Cinta


__ADS_3

Mundur ke belakang. Di waktu yang kurang lebih bersamaan dengan selesainya masalah Amerla dan Rion pulang ke rumah untuk mensucikan diri.


Selepas Brama dan istrinya datang dengan banyak barang belanjaan, mereka makan siang bersama. Di ruang keluarga, beralaskan karpet. Tentunya karena tidak ada meja makan di rumah itu.


Kebersamaan keluarga yang dirindukan oleh Mei. Melihat ibu yang makan dengan lahap. Kak Brama dan Harven yang saling menggoda dengan iseng. Kakak ipar yang tidak canggung memindahkan lauk ke piring ibu. Airmata gadis itu tak terasa luruh perlahan. Dean yang selalu peka pada situasi, melihat senyum bercampur keharuan dibibir Mei, Dean menyeka airmata Mei, lalu mengusap kepala Mei. Seperti menenangkan adik kecilnya.


"Kenapa menangis lagi si, kau ini, semua benar-benar ada di sini Mei, ini bukan mimpi." Tangan Dean yang satu merangkul bahu Mei.


Yang lain jadi melihat ke arah Mei, gadis itu langsung tertawa dengan wajah ceria walaupun pelupuk matanya basah.


"Aku bahagia Kak." Melihat Brama yang langsung bereaksi dengan ucapan Dean. Khawatir, karena adiknya mendadak menangis. "Sudah lama sekali kan, kita tidak berkumpul. Saking bahagianya aku malah menangis. Hehe."


Begitulah akhirnya, piring Mei penuh lauk yang dipindahkan semua orang tanpa terkecuali. Menggunung, membuatnya tertawa. Harven menjejalkan lauk paling banyak di piringnya.


"Haha, kalian ini." Mei menyeka ujung matanya dengan punggung tangan. "Memang aku bisa menghabiskan semua ini." Sungguh, airmata Mei adalah airmata kebahagiaan. Dia mengunyah dan makan dengan lahap. "Kalian juga makan, malah menonton."


Ucapan Mei disambut tawa, ibu tersenyum penuh terimakasih pada putri kecilnya yang sudah tumbuh dengan luar biasa.


Sambil menelan makanan. Dalam hati Mei memuji dirinya sendiri, dia sangat berterimakasih pada dirinya dimasa itu. Seorang gadis yang sudah berjuang dengan keras dan tidak menyerah. Terimakasih karena kau mengalah untuk kebahagiaan semua orang.


Merilin yang merelakan cintanya pada Kak Serge, demi menikah dengan Kak Rion yang bisa menyelamatkan hidupnya. Karena gadis tidak berdaya itu, yang menganggukkan kepala dan bersedia menjadi boneka itulah, sekarang, dia bisa makan bersama orang-orang yang ia sayangi. Pandangan Mei jatuh pada ibunya. Semoga ibu lekas sehat juga. Akan lengkap kebahagiaan ini, jika ibu sudah bisa melepaskan ayah dan menatap masa depan, bersama kami. Gumam Mei beroda panjang. Ah, kalau Kak Rion ada di sini, pasti bertambah kebahagiaan ini.


Hehe, sudahlah Mei, jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil. Mei lagi-lagi mengingatkan dirinya, untuk tidak serakah. Semua kebahagiaan yang dia dapatkan bersama keluarganya, juga karena Kak Rion. Ini semua sudah lebih dari cukup.


Makan siang berlanjut, setelahnya mereka mulai bekerja dan membagi tugas.


Mei dibantu Dean dan Jesi, merapikan barang-barang ibu. Pakaian dimasukkan ke dalam lemari satu persatu. Brama dan kakak ipar, berbagi tugas, memasukkan bahan makanan di kulkas. Menyusun barang kebutuhan sehari-hari di dalam lemari. Kalau yang ini Harven turun tangan sendiri, karena dia yang akan tinggal bersama ibu, tentunya supaya dia ingat barang apa saja yang dia simpan.


Akhirnya, selesai juga. Semua sudah tertata dengan rapi di tempatnya. Mei menatap takjub, rumah yang tidak terlalu besar, namun rapi dan bersih. Mungkin ini bukan rumah yang dipenuhi kenangan ayah, tapi Mei berharap, rumah ini akan mengobati luka ibu, dan membuatnya tersenyum saat menyambut kedatangan Harven.


Saat sedang menyapu setiap sudut rumah dengan pandangan penuh syukur, Brama memanggil Mei.


"Mei, kakak iparmu beli buah sama bumbu rujak tadi, siapkan sana." Brama menunjuk tas belanja di dekat meja dapur. Setelah Mei selesai dengan pekerjaannya masih menunggu satu pekerjaan baru ternyata.


"Ia Kak."


Ketiga gadis itu kembali bergerombol mengerubuti buah-buahan. Sambil bercerita keseharian mereka selama beberapa hari ini. Jesi malu-malu menunjukkan layar depan hpnya. Ekspresinya sudah seperti tomat rebus. Tangan Mei dan Dean langsung menghujani bahu gadis itu. Dengan pukulan menggoda.


"Cieeee, cieee, author komik kita yang biasanya pacaran sama cowok datar, cieeee." Mei menyenggol lengan Jesi.


"Apa sih." Jesi lalu tertawa. "Katanya dia bangga pacaran denganku, seperti pacaran dengan idolanya." Jesi menyentuh pipinya yang memerah. "Padahal apa sih, idola apaan. Komikku juga belum populer-populer amat." Hati Jesi yang berbunga bukan hanya karena disukai sebagai seorang wanita, namun dia merasa sangat bangga karena dicintai sekaligus beserta paket dia sebagai author komik.


Menjadi pembuat komik, bukan pekerjaan yang layak dibanggakan Jesi pada orangtuanya. Walaupun Jesi sudah berusaha menunjukkan kalau dia bisa menghasilkan uang dari pekerjaannya. Tapi orangtuanya selalu berharap, Jesi bisa bekerja seperti Merilin ataupun Deandra. Bekerja di perusahaan besar. Menunjukkan kartu ID perusahaan.


Dan Arman seperti menjadi obat bagi Jesi, dia dicintai sekaligus dipuji dengan bakat menggambarnya. Yang pujian itu tidak pernah dia dapatkan dari keluarganya.


"Cieee senangnya, kau kan selalu bilang, ingin punya suami yang mencintai dan mendukung pekerjaanmu." Mei ikut bahagia dengan apa yang dirasakan Jesi. "Pantas saja sekarang penampilanmu berubah. Hehe."


Jesi yang digoda semakin malu. Biasanya dia kan memang tidak ambil pusing dengan baju yang dia pakai, atau caranya menyisir rambut. Tapi hari ini dia memang berdandan karena katanya Arman mau datang juga nanti sore.


"Berarti tinggal aku yang belum punya pacar sekarang." Dean bicara dengan suara sedih yang dibuat-buat. Jesi malah menyenggol lengannya sambil mengedipkan mata. "Apa?" Dean mendelik karena paham arti kedipan mata Jesi.

__ADS_1


"Cieee." Jesi meledek.


"Eh, apa, Dean sama siapa? Wah, kalian belum cerita apa-apa padaku!" Mei protes karena sepertinya ada yang tidak dia ketahui tentang Dean. "Hayo apa? Kau sudah punya pacar?"


Dean memukul lengan Jesi yang terkekeh, dan memelototinya.


"Kau kan susah sekali di hubungi. Dan aku belum punya pacar! " Dean nyengir mengalihkan pembicaraan. Mei tidak bisa mengelak ketika dibilang susah dihubungi. Sekarang memang dia yang paling jarang nimbrung. Ya mau bagaimana lagi, kalau di rumah jangankan memegang hp, bergerak saja rasanya sudah seperti orang ketempelan. "Sejak menikah kau kan begitu."


"Hihi, aku tahu apa yang Mei lakukan kalau di rumah. Hahaha, aku kan pengalaman." Jesi pamer kemampuannya menghalu. Tertawa terbahak. Terdiam saat dijejali Mei buah. "Haha, kau malu ya. Wkwkwk."


Dean dan Mei uyel-uyel kepala Jesi, yang otaknya memang paling pintar kalau urusan begituan.


Buah dan sambal sudah selesai, sebagian ditaruh di ruang keluarga di atas karpet. Bersamaan dengan rujak selesai dibuat, datang dua orang tamu. Tamu yang sebenarnya datang dan pergi dengan seenaknya. Siapa lagi kalau bukan Sherina dan kakak sepupu palsunya. Datang tak diundang, pergi kalau sudah diusir, biasanya si begitu.


Arman melambaikan tangannya pada Jesi, dan menundukkan kepala pada Mei dan Dean. Jesi tersenyum malu-malu sambil menyelipkan rambut dibelakang telinga. Dean tertawa melihat tingkah sahabatnya yang langsung berubah kalem ketika pacarnya datang.


Suasana semakin meriah, saat dengan tidak tahu malunya Sherina memperkenalkan siapa dirinya. Gadis ceria itu mewarnai rumah dengan mulutnya yang tidak berhenti bercerita.


"Saya pacar, teman sekolah, sekaligus teman sekelas, dan calon teman kuliah Harven Tante, kakak ipar, mohon bimbingannya kedepannya." Brama dan istrinya belum sempat terkejut. Ibu juga baru mencerna situasi. Sherina sudah nyerocos lagi. "Jangan khawatir, saya akan menjaga Harven dengan baik. Hehe."


Semua hanya bisa tertawa, sementara Harven cuma memerah wajahnya karena malu. Kenapa malah Sheri yang menjaganya.


Benar-benar akhir pekan yang bahagia bagi Merilin.


Sebagian rujak buah mereka bawa ke halaman belakang. Setelah mengobrol kemana-mana di ruang keluarga, ketiga gadis memisahkan diri. Sementara yang lain tetap di ruang keluarga, mendengarkan Sherina bicara tentang pertemuannya pertama kali dengan Harven. Gadis itu dengan pandai ya mereka ulang cerita.


Ide dari Harven melahirkan area duduk di belakang rumah. Meja kayu dengan ukuran lumayan besar, diapit dua kursi panjang. Di sinilah ketiga gadis sedang duduk bercerita. Sambil menikmati rujak buah.


Mei selesai mengunyah, berhenti sebentar. Dia melihat kedua temannya. Dia ingin bercerita kegelisahan hatinya. Melirik pintu belakang. Tidak ada orang yang mendengarkan, yang lain masih sibuk dengan Sherina di ruang keluarga.


"Kenapa Mei?" Bersamaan Jesi dan Dean bicara.


Mei menatap sambal kacang berwarna kecoklatan di atas meja.


"Bagaimana ini, aku sepertinya jatuh cinta pada Kak Rion suamiku."


Dean dan Jesi saling pandang, lantas apa masalahnya gumam mereka berdua dalam hati. Dia kan suamimu. Ya, pertanyaan Mei memang terdengar aneh. Tapi Dean langsung tersentak seperti orang kaget.


"Kau sudah berhasil mengubur cintamu pada Kak Serge?" Dean setengah berbisik menyebut nama Serge.


Merilin mengangguk. Cinta dalam kesunyian yang selama ini dia pelihara dengan baik. Seperti memudar dengan sendirinya, seiring kebersamaannya dengan Kak Rion. Kak Rion telah menggeser nama Kak Serge di hati Mei. Seperti itulah adanya, tanpa Mei sadari, hatinya sedikit demi sedikit mulai terbuka.


"Lantas apa masalahnya Mei? Toh Tuan Rion suamimu kan?" Jesi nyeletuk apa yang dia pikirkan. Karena kalau Mei melupakan Kak Serge, sepertinya akan ada yang punya harapan. Bergantian dia melirik Dean dan Mei. "Kalau aku malah senang, kau bisa move on dari Kak Ge, dia kan hanya menganggap mu adik."


Kalimat yang dulu rasanya menggoreskan luka, kini tidak berdampak apa-apa. Mei merasa kata aku dianggap adik oleh Kak Ge, sekarang tidak membekas apa-apa dihatinya. Sudah biasa saja.


Tapi, Kak Rion hanya menganggapku bonekanya. Bagaimana aku bisa mengatakan ini pada kalian. Kalau kami terikat kontrak selama dua tahun ini.


"Tuan Rion juga mencintaimu." Dean angkat suara ketika melihat kebimbangan Mei. "Kau tahu itu kan?"


Tanpa sadar Mei tertawa mendengar pernyataan Dean. Darimana coba, sahabatnya berkesimpulan begitu. Aku yang paling tahu hati Kak Rion, gumam Mei.

__ADS_1


"Kau kan tidak berdosa Mei kalau melupakan Kak Serge. Malah salah kan, kalau kau masih mencintai Kak Ge." Jesi mengangguk, sepakat dengan kalimat yang diucapkan Dean. "Aku melihat cinta Dimata Tuan Rion untukmu di hari pernikahanmu."


Lagi-lagi Mei tersenyum. Sepertinya akting Kak Rion sangat handal, sampai bisa mengelabui mata peka Dean.


"Kau sudah pernah mengungkapkan perasaanmu Mei, pada suamimu?"


Merilin menggeleng, dia tidak punya keberanian dan kenekatan serta kegilaan untuk mengaku. Bagaimana bisa boneka mencintai pemiliknya.


Jesi seperti mendapatkan pencerahan setelah diam menyimak.


"Aku tahu kau pandai menyimpan perasaan Mei, tapi kali ini, berusahalah mengungkapkan cintamu padanya, dia kan suamimu. Suami yang berhak atas cintamu. Ah, aku juga mengaku kalau aku menyukai Arman. Walaupun awalnya malu." Lagi-lagi wajah Jesi memerah. "Kau harus berani mengatakannya, karena setelah kau mengakui perasaanmu, ada yang berbeda dan berubah dari hubungan."


"Wahhh, jangan bilang kau sudah mau menikah?" Dean nyeletuk.


"Belum ya!"


Mei menepuk bahu dua temannya yang malah adu mulut. Apa yang dikatakan Jesi memang benar. Tapi, situasinya sangat berbeda sekarang dengan kondisinya. Kak Rion memilihnya untuk menjadi istri, karena dari awal dia tidak akan meributkan cinta dan perhatian. Kalau aku mengakui perasaanku sekarang, apa akan ada yang berubah. Sedangkan hubungan kami akan berakhir dua tahun lagi.


Deg.


Tapi, kalau aku tidak menyatakan perasaanku, apa aku tidak akan menyesal. Mei bergumam pelan.


"Kak Mei!" Suara Harven terdengar saat kepalanya menyembul di pintu. "Suami Kak Mei datang."


"Apa! Kak Rion?" Berdiri kaget mendengar ucapan Harven.


"Memang siapa lagi suamimu Mei, kalau bukan aku." Rion muncul di belakang punggung Harven. Berjalan keluar rumah, menginjak rumput tanpa alas kaki. "Aku datang menjemputmu." Rion menghampiri Mei, memeluk lalu mendaratkan kecupan di kepala. Sementara Merilin masih membeku karena tidak percaya Rion muncul di depannya. "Kau merindukanku?" Berbisik sambil menggigit telinga.


"Kak Rion!"


Dean dan Jesi yang melihat kelakuan suami Mei menutup mulut yang refleks tertawa.


"Maaf kami menggangu, kami akan pergi. Ayo Jesi. Biar Mei dan Tuan Rion melepaskan rindu." Nada bicara Dean sambil menahan tawa. Gadis itu melirik Mei lalu menyeringai penuh arti.


Apa! Tunggu! Kalian jangan salah paham!


"Hei... kalian ini!"


Rion menarik pinggang Mei untuk duduk dipangkuannya. Setelah Dean dan Jesi menghilang, sambil menutup pintu. Rion menjatuhkan kepala di punggung Mei.


"Aku sudah datang, menyapa ibumu, menyapa kakakmu dan adikmu Mei. Aku juga membawa bunga untuk ibumu sebagai ucapan selamat keluar dari RS."


Apa! Kau mau apa! Mau aku berterimakasih!


Sudah bisa dibayangkan Mei, ucapan terimakasih apa yang ingin di dapatkan suaminya, dari cara Kak Rion tertawa sambil mencium punggungnya.


Yang di dalam rumah cukup tahu dan pengertian, ketika Dean menjelaskan apa yang sedang dilakukan Mei dengan suaminya.


"Dasar pengantin baru." Celetuk semua orang bersamaan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2