Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
48. Kejadian di Lift


__ADS_3

Hari ini ternyata adalah hari kelahiran si bungsu Baim. Jadi semua orang bagian majalah perusahaan ditraktir Baim makan siang. Bukan di kantin kantor, tapi makan siang di luar. Yang lain senang-senang saja ngikut. Apalagi makan di restoran yang cukup mewah.


Di dekat daerah perkantoran memang banyak terdapat restoran, rumah makan atau pun cafe. Mereka berempat cukup berjalan kaki beberapa menit saja.


"Kak Mei, padahal aku nungguin hadiah dari Kak Mei. Biasanya Kak Mei nggak pernah lupa kan kalau ada yang ulang tahun." Mereka sudah berjalan di trotoar, kembali dari makan siang. Baim sedang merajuk karena Merilin lupa ulang tahun rekan kerjanya.


Biasanya Mei memang selalu ingat hari spesial rekan kerjanya, dia menyiapkan hadiah kecil seperti pena yang pernah dia berikan pada Kendra, coklat pada Mona. Tapi, karena banyak sekali kejadian dalam hidupnya selama beberapa hari ini, dia jadi tidak sempat memikirkan hidup orang lain. Apalagi mengingat ulang tahun teman kerja.


Isi kepala Merilin masih dipenuhi dengan Rion, bagaimana dia bisa bertahan melewati malam-malam berikutnya setelah kemarin. Selain tentu saja, perubahan yang sangat signifikan seperti yang direkturnya katakan tadi pagi.


Semua itu hanya semakin menunjukkan, Rion mau menggangunya bahkan sampai di kantor. Tempat yang tadinya Merilin anggap paling aman dari jangkauan Rion. Ternyata tidak ada tempat yang benar-benar aman baginya sekarang.


"Maafkan aku, aku benar-benar lupa." Baim masih terlihat sedih, akhirnya gadis itu berjanji akan memberinya hadiah ulang tahun. Nanti sore dia kan rencananya mau belanja, sekalian saja gumam Mei. Mendengar janji Mei, Baim bersorak senang wajahnya sudah full senyuman.


Mereka menyusuri trotoar sambil membicarakan informasi yang diberikan direktur tadi pagi. Semua orang terkejut tadi dan bertanya-tanya kenapa Presdir akhirnya mau menjadi bintang utama edisi mendatang, Mei hanya angkat bahu tidak tahu alasannya. Dia juga penasaran.


"Mei, kita tidak akan dipecat atau dimutasi kan?" Kendra yang bertanya.


"Apa sih Kak, majalah itu bagian penting perusahaan tahu. Ya walaupun tidak sehebat iklan komersil kita." Tapi majalah perusahaan itu seperti wajah perusahaan, begitulah yang Mei yakini. "Ya, walaupun aku tahu, siapa si yang membaca majalah perusahaan, bahkan karyawan kita sendiri belum tentu." Merilin menyahut ketakutan Kendra dengan fakta.


"Hei Mei, kalau sampul depan CEO Rionald, kau masih bicara begitu. Edisi cetak waktu CEO jadi sampul majalah kita diserbu fans bar-bar CEO kan." Ngga sadar kalau Mona termasuk ke dalam fans bar bar itu. Dia bahkan membawa pulang tidak hanya satu jatah majalah. Edisi waktu itu habis tidak tersisa satupun, bahkan masih ada permintaan cetak ulang. Merilin tidak menggubris, karena jumlah cetak majalah sudah sesuai aturan yang ada.


"Kak Mei, apa seleramu juga seperti CEO Rionald, orang yang dingin dan angkuh, kaya raya dan berkuasa begitu. Pantas saja aku mengajak Kak Mei pacaran nggak pernah digubris." Suara Baim yang biasanya renyah terdengar agak mengkerut.


"Berhenti bercanda!" Merilin mendorong kepala Baim yang bicara sambil mendekat ke arahnya. Laki-laki itu merengut lalu mundur mensejajari Kendra.


Padahal aku serius gumam Baim. Tapi bukan hanya Merilin, semua orang. Tidak Mona ataupun Kendra, juga menganggap rayuan dan godaan Baim cuma sebatas candaan bocah puber yang baru terjun ke dunia kerja, karena menemukan senior baik hati seperti Merilin.


Sampai di loby kantor, ada beberapa orang yang juga masuk. Sepertinya banyak juga yang makan di luar kantor hari ini. Mereka menundukkan kepala ketika beberapa manager melewati mereka.


Mei dan lainnya menuju lift, ada yang sudah mengantri. Mona terlihat sibuk dengan hpnya. Dia tadi dengan semangatnya bicara mau kencan buta berkelompok. Bahkan mengajak Merilin ikut serta.


Di kantor ini ada empat buah lift. Satu lift barang merangkap lift darurat letaknya di dekat tangga darurat. Hanya dipakai kalau membawa barang-barang oleh karyawan atau staf kebersihan. Satu lagi lift khusus Presdir dan CEO. Setara direktur masih bisa menggunakan lift itu. Dua lift lagi adalah lift umum yang bisa dipakai semua karyawan.


Tiba-tiba, tengkuk Merilin merasa merinding, saat dia meraba belakang lehernya yang tertutup rambut, matanya menangkap bayangan. Pantas ada suara berisik gumamnya, ternyata CEO dan Sekretaris Serge terlihat memasuki pintu dan berjalan ke loby. Kaki Merilin bergeser, dia sedikit gemetar, karena kedua orang itu bukannya berjalan menuju lift khusus, tapi malah menuju ke arah lift karyawan.

__ADS_1


Tunggu, apa yang dia lakukan, kenapa dia berjalan kemari. Dia tidak melihatku kan.


Merilin reflek menyembunyikan wajahnya di balik lengan Mona. Membuat gadis itu bingung sendiri.


"Mei, kenapa?" Mona sudah membeku, tidak melihat ke arah Merilin lagi setelah matanya melihat dua orang laki-laki yang berjalan ke arahnya. Dua orang yang fotonya memenuhi galery hpnya. Serge termasuk, karena biasanya di mana ada CEO selalu ada Serge. Mona tidak sejahat itu sampai mengecrop wajah Serge, karena sekretaris CEO juga wajahnya cukup enak dipandang. Diakan hanya penikmat wajah tampan.


Serge tertawa saat melihat semua orang menatap dengan penuh tanda tanya setelah menundukkan kepala, kenapa CEO Rion berjalan ke lift karyawan bukan lift khusus. Jangan tanya padaku, Serge mengeram, aku juga tidak tahu kenapa dia mau naik lift ini.


"Lift khusus sedang diperbaiki." Cuma itu alasan masuk akal yang bisa diucapkan Serge sambil tertawa.


Mei. Serge melihat Rion, apa kau mau menyapa Merilin! Tapi saat melihat Rion masih dengan acuh sama sekali tidak melihat ke arah Mei, sepertinya dugaan Serge salah. Laki-laki itu sedang bersikap sok keren seperti biasanya. Pandangan mata Serge bertemu dengan Merilin.


Deg. Gadis itu terlihat terkejut. Mei menyentuh pipinya sendiri sambil melihat sekilas ke arah Serge. Merilin melihat ada luka didekat bibir yang di tutupi Serge dengan hansaplas.


Kak Ge terluka. Tapi, kenapa manusia bunglon ini disini si. Apa dia mau mengganguku, katanya disuruh pura-pura tidak kenal.


Pintu lift terbuka, tidak ada yang berani bergerak dari tempat mereka berdiri. Biasanya langsung berebut masuk ke dalam lift. Bahkan saat Rion dan Serge masuk tidak ada yang mengikuti masuk.


Tentu saja, siapa yang mau masuk ke dalam lift yang ada CEO di dalamnya, bahkan para fans bar-bar sekalipun seperti Mona tidak akan berani masuk. Melihat tidak ada yang masuk, Rion menendang sepatu Serge.


"Kenapa kalian tidak masuk? Tuan Rion bilang kalian bisa ikut naik bersama." Serge langsung paham arti tendangan dan sorot mata Rion.


"Aku naik nanti, sekalian menunggu kiriman majalah sama Baim." Kendra melambaikan tangan. Menyelamatkan diri sendiri. Pintu lift tertutup.


Hening, bahkan tidak ada yang berbisik-bisik. Ada yang melirik takut ke arah CEO, curi-curi pandang dengan wajah bersemu malu. Bahkan ada yang diam-diam mengambil foto Selfi. Kapan lagi kan bisa berfoto dengan CEO. Tubuh Merilin kaku berdiri tepat di depan Rion, karena dia dan Mona adalah orang ketiga yang masuk ke dalam lift. Jadi posisinya yang paling dekat dengan Rion.


Belakang kepala Merilin rasanya panas. Seperti ada api yang menjilati punggungnya. Dia menangis dalam hati karena tubuhnya cuma bisa berdiri kaku. Melirik Kak Serge sebentar, memperhatikan luka di pipinya. Merasa kasihan dan bertanya-tanya kenapa sampai Kak Serge terluka.


Aaaaaaa! Apa yang dia lakukan!


Saat mata Merilin melihat kakinya, sepatu Rion yang terangkat menggesek kakinya. Baru saja kaki itu berhenti, sekarang tangan Rion menyentuh bahunya. Menyusup di balik rambut, memilin telinganya. Gadis itu mengepalkan tangan geram, sekarang dia tahu kenapa Rion naik lift karyawan.


Dia mau mengganggu bonekanya. Dia sakit apa ya, kalau melihat bonekanya hidup dengan tenang.


Saat Merilin sedang berusaha menahan hatinya yang bergemuruh, campuran tegang dan kesal. Mona berbisik lagi ditelinganya, sambil menyodorkan hpnya. Foto-foto laki-laki yang tidak dikenali Merilin.

__ADS_1


Orang gila!


Merilin bukan memaki Mona. Tapi makian itu tertuju pada siapa lagi kalau bukan Rion.


Sekarang, tangan Rion sudah menyentuh pinggang Merilin. Dia tusuk-tusuk dengan jarinya pinggang Merilin.


"Ikut yuk, kencan buta. Lihat dia tampan kan?" Berbisik memang, tapi yakin Rion mendengarnya. Apalagi tubuh tinggi laki-laki itu, bahkan bisa melihat dengan jelas apa yang sedang ditunjukkan Mona pada Merilin.


"Awwww!" Merilin menutup mulutnya. Yang lain langsung menoleh padanya, lalu tersipu malu-malu saat melihat ke sudut ruangan. Merilin menjerit karena pinggangnya di cubit Rion setelah Mona mengajaknya ikut kencan buta. "Maaf, kakiku kesemutan." Wajah Merilin merah karena malu, menjerit tiba-tiba.


Akhirnya pintu lift terbuka, satu persatu orang keluar. Merilin segera beringsut menarik Mona untuk mendekat ke pintu. Saat pintu terbuka lagi di lantainya, mereka menundukkan kepala pada Rion, lalu Mei menarik Mona keluar.


Merilin masih menangkap senyum Rion yang terkembang, bersamaan dengan lift yang tertutup.


Dasar orang gila aneh!


Sementara di dalam lift, wajah Serge merah padam antara kesal bercampur kaget. Apalagi Rion yang terlihat sangat tenang, bahkan masih sempatnya senyum-senyum.


"Hah! Aku sampai kehilangan kata-kata, kau sudah gila ya!" Karena tidak tahan, akhirnya makiannya keluar.


"Apa?" Rion cuma mengeryit dan melengos acuh.


Apa-apa, kalau dilihat orang kau menyentuh pinggang Mei, orang akan berfikir kau melakukan pelecehan tahu! Rasanya tengkuk Serge jadi tegang. Kepalanya berdenyut, menghadapi bos yang tidak tahu maunya sebenarnya apa.


Aku pikir kenapa kau mau naik lift karyawan, biasanya kan kau paling benci berdesakan di ruangan sempit. Ternyata kau mau menggangu Mei.


Serge yang melihat semuanya tadi dari awal, dari Rion menggesekkan kakinya. Menyentuh rambut Mei, bahkan sepertinya menyentuh telinga Mei. Sampai cubitan yang membuat Merilin menjerit tadi. Serge sampai panik melihatnya, sementara pelakunya malah senyum-senyum seperti orang habis mendapat hadiah begitu.


"Lucu juga, haha."


"Hah! Apa! Jangan lakukan lagi!"


Lift terbuka, sampai di lantai tertinggi, ruangan Presdir, ayah Rion.


Rasanya setiap ke lantai ini Serge selalu senam jantung.

__ADS_1


Dia itu kenapa sih, dia sengaja menggangu Mei karena terhibur, karena lucu. Jadi dia tidak membenci Mei kan? Ah, bingung aku jadinya, ah, sudahlah, nanti aku tanya pada Mei sebenarnya hubungan mereka bagaimana. Karena yang penting sekarang adalah ini.


Deg. Pintu ruangan Presdir terbuka.


__ADS_2