Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
193. Kemunculan Si Penipu


__ADS_3

Persiapan acara resepsi pernikahan Mei dan Rion semakin menyita waktu, Nyonya Yurika terjun langsung mengawasi. WO yang dipilih bersinergi dengan semua pihak, untuk mewujudkan setiap detail yang diinginkan oleh nyonya Andez Corporation itu. Banyak tamu penting yang akan diundang, membuat mereka melakukan sebaik mungkin, jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun.


Begitulah sang waktu bergulir.


Karena semakin dekatnya hari resepsi, ibu Mei pun terlihat bahagia namun juga serba salah. Dia yang hanya bisa membantu sebatas berdoa agar semua lancar sampai harinya nanti. Walaupun Mei dan menantunya mengatakan, kalau tidak perlu memusingkan apa-apa, doa ibu saja sudah cukup. Dia tetap merasa malu. Demi mengusir kegelisahan hatinya, hari ini dia dan Harven mau berziarah, mengunjungi makam suaminya. Selain melepas rindu, dia ingin melaporkan kalau dia hidup dengan baik bersama anak-anaknya.


Dan sampailah ibu Mei dan Harven di tempat ayah dan suami bersemayam, saat langkah kaki ibu sudah memasuki jalan setapak makam, dadanya sudah bergemuruh. Ujung matanya juga sudah panas. Selalu, kerinduan dan kenangan berlarian. Seperti kembali terlihat nyata. Senyum suaminya yang selalu bekerja keras, hari-hari bahagia saat kejadian penipuan itu belum terjadi.


Harven dan ibu sudah duduk berjongkok di samping pusara. Membersihkan dedaunan kering dan rumput yang tumbuh di pusara. Sambil mengusap batu nisan, ibu bercerita tentang liburan mereka. Hari-hari bahagia yang ia lalui bersama Mei dan keluarga menantunya. Harven senyum-senyum sendiri, mendengar ibu yang bercerita dengan ceria, terkadang tersenyum ataupun tersipu malu, seperti ayah sedang benar-benar mendengarkan.


Syukurlah, ibu terlihat senang gumam Harven sambil mencabut rumput.


Setelah cerita tentang liburan selesai, cerita ibu merambat pada persiapan resepsi pernikahan Mei. Kalau dia merasa malu, karena tidak bisa membantu apa-apa. Ibu juga membahas tentang baiknya keluarga menantunya.


"Mei hidup dengan bahagia suamiku, bersama Nak Rion. Brama juga, katanya sebentar lagi, kita akan punya cucu pertama, karena menantu sedang hamil muda. Dan juga, sini Ven." Ibu melambaikan tangan, menyuruh Harven mendekat. "Anak mu ini sudah punya pacar juga."


"Ibu! Kenapa ngomongin aku juga si." Malu karena ibu membicarakannya di depannya langsung. Ibu tersenyum sambil mengusap bahu Harven. "Baik-baik sama Sheri ya Nak, contoh kakak mu sama istinya, dan juga kakak ipar mu yang menyayangi Mei."


"Ibu apa sih, kami kan masih pacaran." Dengan kikuk, Harven menyambar air dalam botol yang sudah dia siapkan, dia membersihkan nisan dan menyiramkan air di tanah makam. Dia masih bisa merasakan tangan ibu yang mengusap bahunya. Wajahnya jadi memerah karena memikirkan Sheri.


Setelah membersihkan makam, bercerita pada ayah, lalu keheningan tercipta. Ibu dan Harven memanjatkan doa, untuk ayah yang sangat dia rindukan, dan untuk suami yang sangat dicintai.


Saat doa sudah melangit, Isak tersisa diujung tenggorokan. Ibu menyapu wajahnya dengan kedua tangan. Wanita itu menoleh, saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Terlihat, seorang laki-laki berjalan ke arah mereka, pandangan ibu yang buram karena airmata, membuatnya tidak melihat dengan jelas siapa yang datang.


Dia memalingkan wajah dan mengusap pusara suaminya, menghapus sisa tangis juga, sebelum mengajak Harven pergi. Kalau lebih lama lagi di sini, tangisnya pasti tidak bisa dibendung, rasanya dia menjadi lebih cengeng setiap berada di dekat suaminya.


"Suamiku kami pergi ya, nanti kami datang lagi. Brama dan Mei juga nanti akan ikut datang." Suara ibu lirih terdengar, sambil ia mengusap nisan.


Tiba-tiba saat ibu dan Harven sedang berpamitan dengan pusara ayah, laki-laki yang tadi terlihat berjalan ke arah mereka, benar-benar berhenti di dekat makam. Ibu menoleh sekali lagi. Memastikan, siapa yang datang, apa penjaga makam gumam ibu.


Tapi...


Deg... Wajah ibu langsung berubah. Awalnya terkejut, namun kemudian bibir ibu terlihat bergetar. Kakinya limbung, ibu shock. Harven bergerak cepat menangkap ibu.


"Ibu! Ibu kenapa?" Harven yang panik karena dia sendirian, tentu dia yang bertanggungjawab pada kondisi ibu. Apalagi, mereka pergi ke makam tanpa memberi tahu Kak Mei. "Dia siapa Bu? Ibu kenal?"


Tidak terdengar jawaban ibu. Tangan ibu hanya mencengkeram kuat lengan Harven.


"Maaf, Anda siapa ya?" Akhirnya Harven bertanya langsung. Tapi, tidak ada jawaban juga yang didapat Harven. Hanya tatapan sedih. Bersamaan angin yang bertiup lembut ke arah mereka.

__ADS_1


Tiba-tiba...


Laki-laki yang berdiri itu, menjatuhkan kedua kakinya, berlutut di tanah, tepat di dekat pusara ayah Mei. Wajahnya tertunduk, kedua telapak tangannya menyentuh tangan. Harven bisa merasakan, semakin kuat tangan ibu yang mencengkeram lengannya.


"Ibu..."


"Nyonya, apa kabar?" Suara yang bergetar terdengar. "Ampuni saya Nyonya, maafkan saya." Sambil terbata-bata, dia membenturkan kepalanya di tanah. Harven terkejut, namun saat melihat ibunya, sorot mata ibu berisi kepedihan dan amarah. "Saya berdosa, saya bersalah. Ampuni saya Nyonya."


Siapa dia? Harven semakin tidak bisa menebak.


"Maafkan saya..."


Perkataan laki-laki itu terpotong, oleh suara ibu yang bergetar.


"Kenapa kau datang ke mari? Pembunuh! Kau sudah membunuh suamiku! Kau sudah menghancurkan hidup suami dan anak-anakku, beraninya kau muncul dengan tidak tahu malunya, di makam suami ku."


Belum pernah ibu semarah ini sebelumnya, bahkan saat ayah masih hidup sekalipun. Harven mencerna kemarahan ibu, dan menduga, siapa yang sedang berlutut di hadapannya. Entah karena bingung bagaimana harus bersikap, Harven meraih hp di sakunya. Menelepon Brama. Saat dia sedang bicara dengan Kak Brama, ibu berjalan mengambil botol minuman yang airnya sudah habis untuk menyiram pusara tadi.


Dan, diluar dugaan Harven, ibunya yang selalu bersikap sabar dan hangat, seperti berubah. Entah darimana ibu mendapatkan tenaga itu. Ibu memukuli laki-laki yang sedang berlutut itu dengan botol air yang dia pegang.


"Kurang baik apa suamiku pada mu selama dia hidup. Kenapa bisa kau jahat sekali." Pukul lagi dan lagi. Sementara laki-laki yang sedang dipukuli ibu hanya diam sambil tertunduk mencium tanah. Entah sakit atau tidak, tapi Harven bisa melihat ibu memukulnya sampai ibu sendiri terlihat lelah dan kehabisan tenaga. Dia yang sedang bicara dengan Kak Brama, malah melihat ibu dengan takjub, tidak mendengar teriakan Brama di hp. Dan kembali ke teriakan ibu. "Pembunuh! Gara-gara kamu, anak-anakku juga menderita. Dasar tidak tahu malu! Beraninya kau mendatangi suamiku!"


Dasar tidak tahu malu! Beraninya kau muncul di depan ibu dan di depan makam ayah! Walaupun bukan tipe anak yang suka adu jotos dalam menyelesaikan masalah, tapi amarah Harven yang terkumpul di dadanya, membuatnya ingin memukul laki-laki di depannya. Tapi seperti tahu, ibu segera meraih tangan Harven. Wanita itu menggelengkan kepala.


"Ibu, biar saya yang memukulnya untuk ayah. Lepaskan Bu."


Ibu yang bercucuran airmata malah memeluk Harven, dia tidak mau anaknya meledak emosinya. Kalau sudah terjadi, dia takut Harven akan terlalu jauh meluapkan amarah, dia tidak mau masa depan anaknya hancur karena membalas dendam suaminya.


"Ibu.. lepaskan."


Tangis ibu semakin pecah, saat menenangkan Harven.


Suara makian dan cercaan yang entah Harven lihat dari siapa terlontar, seperti peluru yang menghujani pelaku penipuan. Ibu memang memeluknya, tapi dia mengeluarkan amarah dengan caci dan maki.


"Maafkan saya, maafkan saya." Lagi-lagi, laki-laki itu membenturkan kepalanya ke tanah.


"Kau pikir, ayahku bisa hidup lagi dengan penyesalan mu!"


Harven meraih botol yang sudah penyok di dekat kaki ibu, lalu melemparkannya, mengenai bahu laki-laki itu.

__ADS_1


"Kenapa Anda datang? Mau minta maaf pada ayahku? Mau berlutut dan memohon pengampunan ibuku? Supaya rasa bersalah yang menghantui hidup mu berkurang. Iya?" Sinis Harven bicara, sedikit pun tidak ada rasa iba dalam hatinya. Walaupun laki-laki itu mengucapkan kata maaf sambil berlutut mencium tanah sekalipun. "Seharusnya Anda tidak usah datang!"


Ya, seharusnya kau tidak perlu muncul. Kami sudah hidup dengan baik merelakan semuanya. Kenapa kau datang? Dan Harven menebak, kalau kemunculan laki-laki di depannya ini sekarang, hanya karena beban rasa bersalah. Karena apa, toh dia dan keluarganya tidak pernah mencari penipu itu lagi. Seharusnya dia bersembunyi, dan mengubur dosa-dosanya dalam keheningan. Kemunculannya hanya membuka luka, memunculkan kemarahan lagi. Seperti yang ia rasakan sekarang.


"Kak Mei hidup menderita karena mu sialan! Kami bahkan harus pura-pura tidak kenal saat Kak Brama menikah sialan! Ibu ku sakit!" Suara amarah campur tangis Harven. Ibu gemetar memeluk Harven, menenangkan anak laki-lakinya.


"Kau merasa bersalah?" Suara ibu yang sudah selesai terisak terdengar.


"Maafkan saya Nyonya, saya berdosa, saya juga baru tahu kalau beliau sudah meninggal. Maafkan saya Nyonya."


Hah! Ibu menghela nafas, mengusir perasaan marah yang membuncah di dadanya. Dia benar-benar tidak pernah mengingat penipu ini lagi, dia sudah menyerahkan balasannya kepada Tuhan. Biarkan hukuman Tuhan dia terima dengan seadil-adilnya. Tapi kenapa? Kau tidak tahu malu muncul di makam suamiku.


"Kenapa? Kenapa kau tega melakukan itu? Padahal kalian teman baik. Suamiku sering sekali memuji-muji kerja mu. Teman baiknya. Kenapa kau tega sekali."


Dan sambil bercucuran airmata, penipu itu bicara. Terbata-bata, sambil sesekali masih membenturkan kepalanya di tanah.


Anaknya sakit parah saat itu, butuh pengobatan dan biaya operasi yang tidak sedikit. Dia dan istrinya sudah menjual harta benda yang bisa mereka jual. Mencari pinjaman ke sana kemari, tapi tidak ada yang mau membantu juga. Dan akhirnya, dia yang frustasi tidak bisa berfikir lagi. Dan entah setan dari mana yang menghasutnya, dia menipu teman baiknya.


"Anak saya tidak tertolong, rumah tangga saya hancur akhirnya. Istri saya kabur membawa sisa uang. Saya semakin frustasi nyonya, maafkan saya. Maafkan saya, saya bersalah pada keluarga kalian. Tuhan membalas saya, saya kehilangan anak dan istri. Sekarang, saya cuma gelandangan." Laki-laki itu terbata-bata bicara sambil membenturkan kepalanya lagi di tanah. Terlihat, luka di keningnya karena sudah beberapa kali dia melakukan itu.


"Kau membunuh ayah ku dan menghancurkan keluarga kami!" Harven berteriak keras. Apa alasannya bisa membenarkan semua yang dia lakukan. "Anak Anda memang berharga, sama seperti ayahku juga!"


Aku tidak akan memaafkan mu, kau datang hanya untuk menghapus dosa? Supaya kau hidup dengan tenang. Ia kan, gemetar tubuh Harven menahan marah.


"Ibu, ayo pergi, jangan meladeninya. Biarkan saja seumur hidup dia menanggung dosa-dosanya."


Harven meraih tangan ibunya, memapah ibu untuk berjalan menjauh. Tapi, tiba-tiba, laki-laki itu merangkak dan meraih kaki ibu, mencium kaki ibu, walaupun ibu menjerit dan bahkan menendang bahkan sampai terkena wajahnya.


"Ampuni saya Nyonya."


"Lepaskan kaki ibu ku!


Dari kejauhan penjaga makam berlari mendekat, dia sudah menghubungi nomor yang pernah ditinggalkan sekretaris CEO Andez Corporation, dan sekarang dia diperintahkan menahan laki-laki yang sedang memegangi kaki seorang pengunjung itu. Nafasnya terengah, karena mendengar teriakan wanita yang datang bersama anak laki-lakinya tadi.


Sementara itu, Brama meninggalkan kantornya, melajukan kecepatan mobilnya. Masih berusaha menelepon Harven, walaupun adiknya tidak mengangkat.


Dan ditempat lain, Rion sedang memeluk bahu Mei yang terguncang. Orang yang terlupakan, kenapa muncul lagi sekarang. Kedatangannya hanya membuka luka dan memunculkan kemarahan. Erat, gadis itu merasakan pelukan Kak Rion menenangkannya. Serge yang membawa mobil seperti orang kesetanan, kecepatan yang jarang dicapai kalau dia sedang membawa mobil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2