
Bersamaan dengan itu di kantor pusat Andez Corporation.
Merilin berjalan dengan tegak, menenteng empat gelas kopi yang dia beli di cofeeshop, tas baru juga terselip di lengannya hasil pilihan Jesi. Hari ini, terakhir dia memakai baju lamanya. Besok dia juga akan memakai baju baru.
Semoga tidak akan ada yang menyadari tas dan sepatuku, Merilin sebenarnya masih merasa malu memakai barang yang dia pakai hari ini. Harganya yang terlampau mahal, bahkan tidak akan pernah dia impikan dulu. Mungkin hanya berani sebatas memandangnya di etalase toko.
Merilin berjalan menuju lift. Menundukkan kepala ketika berpapasan dengan beberapa atasannya dan rekan kerja yang ia kenal.
Termenung sendiri tidak memperhatikan sekitar ketika sudah di depan pintu lift. Dia sedang berfikir. Masih termenung juga saat berdesakan masuk ke dalam lift.
Hari ini apa aku bisa bertemu dengan Kak Serge ya, aku ingin bicara dengannya. Banyak yang ingin aku tanyakan juga. Mei yang tidak bisa bergabung dengan grup fans CEO lagi, membuatnya malah tidak tahu info terbaru mengenai Kak Serge.
Tunggu, kenapa aku tidak bergabung saja, kalau ketahuan Kak Rion, aku kan bisa berdalih, aku di dalam grup untuk mendapat foto terbarunya. Haha, benar-benar, dia kan tidak mungkin curiga. Asalkan aku tidak mengcrop foto Kak Serge pasti aman kan.
Semangat kembali berlayar naik. Untuk sembunyi-sembunyi melihat Kak Serge.
Merilin sampai di depan ruangannya. Sudah pada datang ternyata rekan kerjanya. Tumpukan majalah masih ada yang tersisa, belum terkirim semua. Hari ini rencananya Kendra dan Baim akan menyebarkan seluruh majalah ke relasi eksternal perusahaan yang kemarin belum terkirim. Dan sementara itu, dua majalah yang ada di mejanya seperti sedang mengejek menunggu dia sentuh.
Hah, aku sampai lupa! Aku kan yang harus memberikannya langsung ke ruangan Presdir dan CEO. Padahal selama ini Merilin bahkan belum pernah memasuki ruang kerja keduanya. Karyawan rendahan sepertinya mana punya kesempatan naik ke lantai tertinggi gedung ini.
"Mei, ada angin apa kau membeli kopi?" Mona menerima gelas kopinya ketika Merilin menyodorkan padanya. "Terimakasih ya, aku akan menikmatinya dengan senang hati." Merilin nyengir menjawab kata-kata Mona. Karena biasanya Mei hanya minum kopi instan yang ada di dapur divisi mereka.
Kendra dan Baim mengambil satu-satu. Khusus untuk Baim, Merilin menyodorkan satu kotak tambahan. Ada merk dagang di atas kemasan.
"Hadiah ulang tahun, maaf ya terlambat. Maaf juga kalau cuma makanan. Selamat ulang tahun Baim."
Baim membuka kotak di tangannya, isinya churros. Makanan ini termasuk camilan kesukaannya.
"Makasih Kak Mei, mau apa pun itu aku akan menerima dengan senang hati. Wahhh, tas sama sepatu Kak Mei baru ya?" Merilin yang sedikit terkejut karena Baim memperhatikan sampai sejauh itu. Gadis itu tertawa, lalu mengganguk. Mona jadi ikut antusias bangun dari duduk untuk melihat tas yang dipakai Merilin. Gadis itu melihat tas Mei lalu membalik tas itu beberapa kali.
"Mei..." Mona berbisik. "Wahhh, Mei, tasmu kan edisi terbaru bulan ini. Ini asli." Mona tahu persis berapa harganya. Mona menarik tangan Merilin, menjauhi Kendra yang sudah sibuk bekerja dan Baim yang sedang foto-foto kopinya dan churros hadiah Merilin. Selain update status sosial media perusahaan, Baim memang cukup eksis di sosial media.
Setelah merasa aman dari jangkauan pendengaran Kendra dan Baim, Mona bicara lagi.
"Katanya kau datang membawa mobil ya? mobil kelas A lagi."
Deg, Aaaaa, kenapa ada yang melihat si. Padahal Merilin keluar dari mobil setelah memastikan tidak ada orang tadi. Selama ini di divisinya dia memang dikenal sebagai gadis yang paling biasanya saja, jadi tidak heran kalau gosip dengan mudahnya menyebar. Apalagi kalau nanti ditambah tas mahal, dan sepatu baru yang dia pakai.
"Mei..."
Dia tidak bisa mengaku pada Mona kalau dia sudah menikah, tapi dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan.
"Kamu menang lotre Mei?"
__ADS_1
Hah, apalagi si!
"Wahhh gila, pantas kau membelikan kami kopi, mobil baru, tas baru, sepatu baru." Melihat pakaian Merilin. "Kenapa bajumu masih baju yang lama?" Mona mengguncang bahu Merilin, gadis itu sudah sangat hafal baju kerja yang dipakai Merilin.
Bagaimana ini! Aaaaaa!
Kalau Mona tahu, bisa saja anggota divisi yang lain juga tahu dan sudah membicarakannya di belakang. Ini perihal dia datang dengan membawa mobil. Dan entah, pembicaraan apa yang terselip diantara berita dia membawa mobil.
Mei si miskin pemimpin redaksi majalah membawa mobil mewah ke kantor, padahal baju dan tasnya saja nggak pernah ganti. Jangan-jangan dia. Mei malah jadi overthingking sendiri sekarang.
"Aku tidak menang lotre, jadi berhentilah berfikir yang aneh-aneh."
"Lalu apa? kau tidak menikah kan? Dan itu bukan barang yang diberikan suamimu kan. Haha." Tawa dibibir Mona lenyap saat melihat garis wajah Merilin yang mengeras. "Kau beneran sudah menikah?" Mona memukul bahu Merilin karena terkejut.
Bagaimana bisa! Gadis yang bahkan menolak walaupun dipaksa-paksa untuk kencan buta. Yang katanya tidak punya pacaran dan hanya mau fokus bekerja mencari uang. Tidak mungkin, gadis yang tidak pernah sesumbar bicara tentang cinta tiba-tiba menikah. Isi kepala Mona yang berasap.
"Mei... kalau kau mau bercanda jangan kelewatan. Aku bahkan lebih percaya kalau kau menang lotre!"
Merilin menutup mulut Mona. Kendra dan Baim menoleh bersamaan saat teriakan Mona memenuhi ruangan.
"Siapa yang menang lotre Kak? Kak Mei? Haaaa, pantas Kak Mei mentraktir kita kopi. Tas baru dan sepatu baru juga." Baim bersorak senang mendengarnya, tanpa perlu mengkonfirmasi fakta, kalau Kak Mei yang menang dia akan ikut bahagia.
"Bukan, sudah kerja lagi sana!" Merilin mengibaskan tangan kuat-kuat ke arah Kendra dan Baim. Membuat kedua orang itu kembali ke pekerjaan mereka lagi.
"Kenapa, mereka nggak boleh tahu tentang pernikahanmu?"
"Bukan begitu, aku hanya merasa itu masalah privasi yang tidak perlu disebar luaskan. Karena pernikahanmu juga sederhana, cuma antar keluarga."
"Kenapa begitu Mei? pernikahanmu dirahasiakan?"
Kepala Merilin rasanya berdenyut sekarang. Dia lupa dengan siapa dia bicaranya. Ini kan Mona, ratunya informasi. Kang gosip begitulah label di belakang namanya. Dia memutar otak mencari jawaban. Tidak mungkin kan dia menjawab, Rion itu suaminya, bisa-bisa Mona pingsan karena saking kagetnya.
Akhirnya Merilin duduk di sofa. Masih bicara berbisik. Menjelaskan.
Intinya pernikahan mereka terjadi karena perjodohan. Bukannya tidak mau mempublikasikan, tapi memang belum waktunya. Dia menunggu ibunya sehat baru akan mengadakan pesta pernikahan nanti. Yang ini ngarang, tidak akan ada pesta selanjutnya, toh Mona juga tidak akan menagihnya kan. Yang penting sekarang bebas dulu dari cercaan pertanyaan Mona.
"Mei, kau tidak menikah dengan bapak-bapak tua kan? Ah maaf Mei." Mona memeluk Merilin memohon maaf lagi. "Maaf, aku pasti kebanyakan nonton sinetron sampai berfikir begitu."
Tapi jujur, itulah yang terlintas di kepala Mona. Mei menikah dengan pria tua kaya yang bisa memberinya kemewahan. Mobil bagus dan semua yang dipakai Mei sekarang.
"Nggak kok, suamiku tampan. Setampan CEO Rionald. Haha."
"Dasar kau ini." Mona menyentuh kedua pipi Merilin. "Selamat ya Mei, apa boleh aku memberi tahu yang lain, supaya mereka berhenti membicarakannya."
__ADS_1
Merilin menggeleng dengan cepat. Dia tidak mau informasi tentang pernikahannya menyebar di kantor.
"Kenapa? kau tahu kan ada yang julid padamu. Dih, padahal mereka cuma memandang bagian majalah perusahaan sebelah mata. Tapi saat kau jadi pemimpin redaksi mereka iri juga." Mona bersungut-sungut kesal. Karena bisa jadi gosip tentang Mei yang berangkat naik mobil mewah berasal dari mereka. Orang-orang yang iri dengan posisi yang didapatkan Merilin diusianya yang masih sangat muda itu. "Aku kesal kalau ingat mereka bilang, majalah edisi pertama kau jadi pemimpin redaksi di bilang sampah." Aaaaa, kejadian itu sudah lama memang. Tapi tetap terasa menyebalkan kalau diingat.
"Biarkan saja mereka Mona, kau tahu kan, meladeni orang yang iri dan jahat cuma akan menguras energi. Biarkan Tuhan saja yang membalas kata-kata jahat mereka."
Saat Mei dan Mona belum selesai bicara, panggilan Kendra terdengar.
"Mei, direktur ingin memastikan kau sudah mengirim majalah ke ruangan Presdir dan CEO belum?" Padahal Kendra tahu kalau majalah belum dikirim. "Baik Pak, Mei akan segera naik. Baik, maafkan kami. Baik." Kendra menutup telepon. "Hah, dia mengomeliku."
"Hihi maaf Kak, aku akan segera naik sekatang." Melihat Mona, lalu menempelkan jari di bibir. Gadis itu tersenyum setelah Mona mengganguk dan membuat tanda mengunci mulutnya.
Semoga tidak ada kabar jelek selain aku yang membawa mobil ke kantor pagi ini. Ah, semoga tidak ada gossip apa-apa. Merilin berdoa dalam hati. Dia hanya ingin bekerja dengan tenang sekarang, sambil menikmati hidupnya yang sekarang.
...🍓🍓🍓...
Merilin mendekap majalah dalam pelukannya, dia akan pergi ke lantai paling atas dulu. Ke ruangan Presdir. Dalam hati dia berdoa, semoga Presdir tidak ada di tempat, jadi dia tinggal menitipkan pada staf sekretaris dan langsung kabur.
Maaf Mei, mimpimu ketinggian.
Saat menemui staf sekretaris, wanita cantik di depan Mei, gadis itu meminta Mei mengikutinya, untuk masuk ke ruangan Presdir. Dan menyerahkan majalah langsung.
Di ruangan Presdir dia melihat Kak Serge. Karena Kak Rion entah kebetulan atau apa juga sedang ada di ruangan Presdir. Gadis itu kikuk dan cuma melirik Serge sekilas, lalu menundukkan kepala kepada Presdir.
"Selamat pagi Tuan, saya membawakan majalah edisi bulan ini." Karena sedang ada di kantor, Merilin menggunakan sapaan hormat.
Rion yang sedang duduk di sofa tertawa melihat Mei yang terlihat gugup dan pucat. Tangannya yang menyodorkan majalah ke depan ayahnya juga gemetar.
Kenapa kau tertawa Kak! Kenapa kau ada disini juga. Kau sengaja ya!
"Ini majalah untuk Anda juga Tuan, apa Anda mau menerimanya, atau saya serahkan pada Sekretaris Serge."
Mendengar Merilin yang bicara formal wajah Rion memerah, lalu meledak tawa Rion, sampai dia memegang perutnya. Presdir juga ikut tertawa.
Sepertinya bukan hanya Merilin yang bingung, Serge juga terlihat kaget dengan reaksi ayah dan anak yang tertawa itu.
"Haha, Mei, kemarilah!" Rion mengulurkan tangan, menyuruh Merilin mendekat. Saat Mei berdiri tidak jauh darinya, Rion meraih tangan Mei. Menariknya sampai Mei berdiri di depan Rion. Laki-laki itu memeluk pinggang Merilin yang langsung menjadi kaku. "Haha, kalau kita cuma berdua kau tidak perlu setegang itu dan memanggilku dengan formal begitu." Menyandarkan kepala di paha Merilin yang masih berdiri di depannya. "Ayah, bukankah istriku lucu dan menggemaskan." Menarik pinggang Mei untuk duduk di sebelahnya, lalu setelah Mei duduk, Rion merangkul bahu Merilin, dan mencium pipi Merilin. "Panggil aku Kakak seperti biasnya kalau hanya ada kita."
Serge yang sedang kebingungan mencengkeram tangannya. Rion mungkin sedang akting, tapi sikapnya terlihat sangat natural. Dia kan membenci perempuan, kenapa dia bisa mencium Mei dengan sesantai itu. Deg. Ada perasaan takut yang tiba-tiba menjalar di tubuh Serge.
Bagaimana kau memperlakukan Mei kalau sedang berdua?
Bersambung
__ADS_1