
Hari yang ditunggu.
Matahari cerah di ufuk timur, seirama dengan semangat semua orang yang sudah datang sejak temaran malam berganti cahaya keemasan. Kendra dan staf laki-laki dari bagian promosi datang paling awal. Karena merekalah yang bertanggung jawab untuk semua masalah teknis hari ini.
Bibi dan para pelayan lain sudah menyiapkan sarapan pagi dan juga kopi. Selain itu para pelayan laki-laki juga diperbantukan. Memindahkan barang atau menggotong barang dari dari dalam rumah. Mereka menarik kain penutup satu persatu, yang menutupi semua properti dari embun dan udara malam, setelahnya membersihkan debu atau dedaunan yang menempel. Mensterilkan tempat yang akan dipakai foto dan wawancara.
Melihat mereka dibantu para pelayan Presdir, Kendra saja ingin menangis saking terharunya, karena kalau tidak ada mereka, semua pekerjaan berat ini pasti jatahnya dan Baim. Dan tahu sendiri kan bagaimana Baim, dia pasti yang pekerjaannya paling banyak dari semua orang.
Tidak, tidak, jangan mengeluh. Kendra memarahi dirinya sendiri. Karena kalau dia bukan bawahan pimred Merilin, seumur hidup dia mungkin tidak akan punya rumah di perumahan milik Andez Corporation. Jadi, seberat apa pun pekerjaannya, dia akan menganggapnya sebagai berkah.
Yang datang selanjutnya, Mona dan Baim. Mereka datang bersamaan dalam satu mobil. Mona masih memakai jaket tebal karena katanya dia kedinginan. Muncul dari gerbang utama dengan bergandengan tangan. Langsung melepaskan tangan saat Kendra melihat ke arah mereka.
Staf bagian keuangan muncul bersamaan dengan kedatangan sekretaris Serge. Laki-laki itu datang untuk memastikan semua sesuai dengan standar. Setelahnya, gadis itu terlihat bicara dengan Serge sambil mengambil sarapannya. Serge ikut mengambil kopi dan sandwich, dia juga belum sarapan tadi.
Mereka duduk berdua karena Kendra dan temannya sudah selesai sarapan dan mulai bekerja. Mona dan Baim seperti orang pacaran, ketawa ketiwi serasa jadi pemilik bumi. Membuat orang yang melihat, malas untuk nimbrung di antara mereka. Jadinya ya Serge duduk berdua dengan staf keuangan yang juga teman lamanya ini.
"Kau yang ditunjuk membantu Mei rupanya, kemampuanmu dulu memang luar biasa." Sambil menggigit roti di tangannya.
Gadis itu menundukkan kepala dan tersenyum, lalu dia melihat ke kanan dan ke ke kiri sebentar. Memastikan tidak ada yang mendengar. Karena yang ingin dia tanyakan bisa mempengaruhi nasibnya di Andez Corporation.
"Kak, Saya mendengar dari Mei tentang Amerla, apa benar, dia yang bertanggung jawab dengan kasus di kantin kantor waktu itu?"
Dia bergumam, kenapa aku penasaran si, karena dia sendiri juga sudah tidak berhubungan dengan Amerla. Tapi entah kenap saat bertemu Serge dia jadi ingin bertanya.
"Mei bilang ya? ya begitulah. Tapi tidak usah mengungkitnya lagi, karena Tuan Rion sudah menyelesaikan masalah ini." Sudah habis satu roti dan setengah gelas, tapi saat melihat kamar Rion di kejauhan tirai kamar itu belum terbuka.
"Apa Anda tidak terkejut?" Serge menghabiskan isi gelas kopinya sambil melihat gadis di depannya. "Melihat Tuan Rion menikah dengan Pimred Merilin. Ah, bukan maksud saya Pimred Merilin tidak pantas untuk Tuan Rion. Karena dia sangat baik dan manis menurut saya, tapi dia kan sangat berbeda dengan Amerla."
"Haha, kau melihat itu juga ya. Aku saja terkejut apalagi kau. Cinta antara mereka berdua memang mengejutkan dan tidak bisa diprediksi sebelumnya. Tapi begitu kan cinta." Serge tertawa dan bicara dengan sok tahu tentang cinta. Padahal ya, padahal, boro-boro jatuh cinta. Tahu kalau orang jatuh cinta padanya saja tidak. "Cinta itu bisa merubah seseorang, jadi jangan heran, kalau mungkin saja nanti Rion mengenalimu. Hehe." Serge bangun karena sarapannya sudah selesai. "Selamat bekerja ya, aku mau memberi salam pada Presdir dan nyonya."
Gadis itu bangun dari duduk juga, lalu menundukkan kepala.
"Anda juga Kak, semangat."
Dia sama sekali tidak berubah, gumam gadis itu. Tetap hangat kalau bicara, senyumnya ramah dan selalu mengingat nama orang dengan baik. Mungkin yang sangat berbeda dengan dulu hanya cara berpakaiannya. Penampilannya tambah keren membuatnya juga makin tampan. Eh, aku ini malah ngapain si. Malah terpesona pada pada Sekretaris Serge. Dia segera membereskan gelasnya, menghampiri yang lain dan memulai bekerja.
Sementara itu mari bergerak ke dalam rumah. Melewati ruang makan di mana Serge memberi salam pada Presdir dan nyonya yang baru mulai makan. Alhasil Serge ikut duduk lagi karena ditawari. Tidak mungkin kan dia menolak. Lagi-lagi Serge tidak menemukan Rion dan Mei di meja makan. Dia malah meladeni cerita nyonya tentang Rion yang katanya makin hari makin manis seperti menantunya.
Dan di lantai atas, tepatnya di kamar Rion.
"Ahhh, Kakak si, aku kan jadi terlambat. Rekan kerjaku sudah datang semua Kak!" Mei mengintip di balik tirai setelah itu merapikan pakaiannya. Bahkan bisa jadi dia belum bangun kalau bibi tidak mengetuk pintu mengantarkan pakaian.
Rion menguap. Masih malas untuk bangun. Efek dia tidak langsung tidur semalam saat masuk ke kamar setelah ketahuan Pak Kun. Dia masih menjahili Mei walaupun gadis itu sudah terlelap dalam dekapannya.
"Aku kan masih mengantuk Mei." Bicara dengan suara manja minta dikasihani.
Kalau mengantuk ya tidur aja sendiri Kak, kenapa mengajakku. Hiiiih! Mei rasanya ingin mencubit pipi yang malah tersenyum meledek itu. Kak Rion kan cuma perlu mandi dan bersiap-siap, sedangkan dia kan hari ini harus bekerja. Tapi sepertinya laki-laki itu bodo amat, walaupun Mei telat turun sekalipun. Dia tidak terlalu perduli. Toh masih banyak waktu pikir Rion.
"Kau sudah mau turun?" Bertanya lagi walaupun tahu jawabannya.
__ADS_1
"Ia Kak, aku kan mau membantu rekan kerja dan bersiap-siap."
Aku bahkan belum merapikan rambut.
"Cih, turun saja denganku nanti." Rion bangun juga akhirnya, duduk dengan kaki menggantung di pinggir tempat tidur. "Memang ada yang berani protes kalau kau turun denganku." Sedang pamer kekuasaan.
Aaaaa!
"Hehe." Mei tertawa sambil mendekat ke samping tempat tidur. Mencium kening dan pipi Rion. "Aku duluan ya Kak, nanti kita bertemu di bawah. Aku kan harus melakukan persiapan." Cium lagi, supaya luluh. Mei mundur dua langkah setelah gurat wajah Rion mengendur. Gadis itu memutar tubuh sambil mengangkat dress yang dia pakai. "Kak, apa aku harus pakai baju ini, nanti kan keliatan aku jadi seperti satu keluarga dengan Kakak?"
Mei sudah berusaha menolak kemarin, dia janji akan memakainya setelah selesai wawancara untuk foto bersama. Tapi ibu malah jadi ngambek dan sedih, akhirnya Mei yang menyerah dan berjanji akan memakainya saat wawancara.
"Kau kan memang istriku." Dengan entengnya Rion cuma menjawab begitu. Bukannya membantu membujuk ibu. "Aku suka baju itu, jadi menyerahlah dan pakai saja."
Memang, kalian ibu dan anak benar-benar sehati.
Mei sudah selesai merapikan pakaian, kalau rambut dan riasan dia akan berdandan di bawah di bantu Mona. Tapi, baru saja mau pamit, Rion menjentikkan jarinya menyuruh Mei mendekat. Apalagi si Kak, ciuman selamat pagi kan sudah tadi. Mei melihat jam dinding. Masih satu jam memang dari jadwal wawancara.
"Cium aku, katamu kita harus profesional nanti. Jadi cium aku dulu sampai aku senang sekarang."
"Hah?"
Ada ya orang sepertimu ini Kak. Belum apa-apa sudah minta bayaran lebih. Mei masih tergelak di tempatnya belum bergerak mendekat.
"Kalau tidak mau, sepertinya aku akan mengganggumu nanti saat wawancara."
Dan begitulah akhirnya, Mei menekuk lututnya di pinggir tempat tidur. Eh, eh, ambruk di tubuh Kak Rion karena dia menjatuhkan tubuh sambil tertawa. Sedikit kecup-kecup basah bibir Mei, untuk menyenangkan Kak Rion, kecupan mampir di beberapa bagian tubuh yang ditunjuk Kak Rion. Laki-laki itu tertawa puas baru melepaskan Mei keluar dari kamar.
"Semangat Mei, aku mendukungmu." Wajah Mei masih memerah saat teringat kata-kata itu diucapkan Kak Rion, dia berlari menuruni tangga sambil senyum-senyum sendiri. Menyentuh bibirnya.
...πππ...
Ternyata ibu memanggil penata rias khusus ke rumah untuk berdandan. Alhasil Mei juga ikut di dandani tangan profesional. Mona yang tadinya bertanggung jawab memegang riasan Mei, bersorak senang karena satu beban pekerjaannya selesai. Dia sedang membantu Baim membuat postingan sosial media. Setelah memastikan semua properti aman dan siap dipakai.
Kendra dan rekannya mengecek lagi semua peralatan. Kamera yang dipakai merekam dan kamera foto. Ada dua kamera yang merekam, dan dua kamera foto. Pencahayaan juga. Beruntung, alam mendukung.
Sambil menunggu, mereka melihat hasil foto dan vidio yang kemarin dan memilahnya satu persatu. Senior Mei sudah berkutat dengan laptopnya sejak tadi. Dia meneguk gelas kopinya yang kedua.
Mei muncul sudah dengan persiapan maksimal, baik pakaian maupun riasannya. Dia mendekap draf pertanyaan, yang kemudian dipegang Mona.
"Mona, bagaimana ini, ibu tetap menyuruhku memakai baju ini. Aku jadi keliatan aneh nggak si?" Mei memutar tubuh di depan Mona.
"Kak Mei cantik banget kok." Baim yang spontan memuji langsung menutup mulut, dan melihat ke arah Mona. Ekspresinya mengatakan dia hanya keceplosan dan merasa bersalah. "Sumpah Kak, kebiasaan." Jangan marah, dia bergumam pelan.
Mona merengut, tapi kemudian tertawa dan menepuk kepala Baim. Sambil bilang apa sih, jangan menangis, aku tahu kok.
Sementara Mei cuma berfikir, wahh Baim semakin akrab ya dengan Mona. Dia jadi kehilangan junior yang dulu selalu mengikutinya.
"Aku jadi terlihat seperti keluarga Presdir, masak pakaianku sama dengan ibu. Untung saja modelnya berbeda." Mei bicara lagi.
__ADS_1
Ya, memang tidak ada yang aneh dari penampilan Mei. Pakaian yang dia pakai hari ini cantik sekali, menyempurnakan wajahnya yang semakin terlihat cantik dengan riasan dan tatanan rambutnya. Kalau dilihat dari situ memang tidak ada yang aneh. Tapi....
Jreng...jreng...
Saat dari arah rumah utama, tiba-tiba seperti ada lampu sorot yang menerangi mereka. Mulailah, terlihat ada sesuatu yang mengganjal dari pakaian Mei. Dia kan posisinya sebagai pewawancara, tapi malah terlihat seperti keluarga Presdir. Ya memang si dia kan menantu Presdir. Mona bergumam sendiri. Tunggu, ini bukan isyarat terselubung Presdir ingin mengumumkan status Mei kan? Tiba-tiba pertanyaan seperti itu muncul di kepala Mona. Dia jadi berdebar sendiri.
Dia ingin bertanya, pada Mei, tapi malah takut akan membuat suasana berubah. Jadi dia menyimpan praduga itu untuk dirinya sendiri. Dia akan bilang pada Baim nanti, cuma pada Baim.
Presdir dan nyonya berjalan dengan bergandengan tangan. Selalu tampak romantis seperti yang diketahu semua orang. Sementara Rion di samping ibu, dia berjalan dengan angkuh dan percaya diri seperti biasanya. Sinar yang lebih menyilaukan berasal dari senyum cerah di sampingnya. Milik Sekretaris Serge. Orang yang akan bersinar dengan cara berbeda dengan laki-laki yang selalu mendapat sorotan dan perhatian di sampingnya.
Semua langsung bangun dari duduk dan mendekat ke arah Presdir. Mei juga, bersikap menjadi bawahan. Lupa kalau yang berdiri di depannya sekarang ayah mertuanya. Satu persatu memberi salam dan menundukkan kepala. Mona dan Baim jujur saja baru pertama kali ini mereka sedekat ini dengan Presdir. Mereka paling lucu saat memperkenalkan diri dengan suara bergetar.
Sementara yang lain sedang fokus mengantri menyapa Presdir dan nyonya, Rion menggeser tubuh ke samping Mei. Menggerakkan sikunya menyenggol gadis itu. Laki-laki itu nyengir sementara Mei salah tingkah dan panik, lalu Rion dengan santainya menaikan tangannya di bahu Mei, sampai gadis itu miring dan hampir jatuh. Tapi ditangkap Rion, gadis itu mau marah tapi melihat Kak Rion tertawa tanpa suara dia jadi meringis gemas. Tidak ada yang melihat adegan itu kecuali senior Mei. Senior wanita itu sampai bengong melihat semua yang dilakukan Rion pada istrinya.
Dia lebih parah isengnya daripada saat bersama Amerla, gumam senior Mei. Gadis itu langsung berdiri tegak panik saat Rion secara tidak sengaja bertemu pandang dengannya. Dan dia hampir jatuh, saat CEO Rion tersenyum padanya. Dia membalas dengan menundukkan kepala. Apa benar yang dibilang Sekretaris Serge, kalau mungkin saja aku diingat.
Cinta memang bisa merubah segalanya, sepertinya syair lagu itu benar-benar bisa menggambarkan kondisi CEO Rionald sekarang. Senior Mei memalingkan wajah, tidak melihat ke arah Mei lagi, karena takut bersitatap dengan CEO. Dia mengalihkan fokus, melihat ke arah Presdir dan nyonya.
"Terimakasih atas kerja keras kalian, aku dengar kalian sampai lembur dan pulang larut. Ayo selesaikan semuanya hari ini dengan semangat. Kalau edisi spesial majalan bulan ini sudah terbit, aku akan memberi bonus pada kalian semua atas kerja keras kalian." Presdir dengan suaranya yang tenang dan berwibawa langsung membuat semua orang mendapat suplai semangat berlipat ganda. Bonus juga sepertinya menstimuli.
Mei yang bertepuk tangan lebih dulu walaupun agak malu, kemudian dia mengucapkan terimakasih. Yang lain ikut secara berurutan. Lagi-lagi Mei bisa merasakan tangan Rion menoel-noel bahunya.
Kak Rion! Kau kan janji tidak akan menggangu ku!
Mereka sudah mau kembali ke posisi saat ibu meraih tangan Mei. Dan bicara dengan suara lembut.
"Tolong bantu dan jaga menantu kami ya, ibu senang sekali karena Mei bekerja dengan rekan kerja seperti kalian. Semangat ya hari ini, kita selesaikan semuanya dengan baik." Ibu sedang menunjukkan kepada semua orang, betapa berharganya Mei bagi keluarga mereka.
"Baik Nyonya, pimred Merilin juga rekan kerja sekaligus atasan kami yang sangat luar biasa, saya dan teman-teman senang bisa bekerja di bawah kepemimpinannya. Dan terimakasih untuk semuanya. Maafkan kami yang sudah merepotkan selama kami bekerja di sini." Kendra mewakili semua orang, karena dia yang paling normal bicara.
Semua orang bertepuk tangan dan menundukkan kepala hormat, lalu kembali ke posisi mereka masing-masing.
Serge menatap Mei dengan penuh kebanggaan. Baik melihat gadis itu yang bekerja dengan baik dan dihormati bawahannya. Maupun melihat Mei yang begitu disayangi Presdir dan nyonya.
Mei sendiri wajahnya tersipu malu, karena dari tadi seperti mendapatkan pujian dari segala arah. Rion disampingnya mengusap kepala gadis itu.
"Kak..."
"Kau memang hebat pimred Merilin, aku menantikan wawancara hari ini." Sempat-sempatnya mencium pipi Mei, sebelum berjalan menuju tempat pengambilan foto profil.
Aaaaa! Kak Rion!
Dan setelah pengambilan foto profil masing-masing, wawancara pun dimulai.
Bersambung
Jangan lupa nonton iklan ya man teman semua, yok bisa yok, sehari nonton 10 iklan untuk kasih gift 100 poin buat MeiπRion. Habis baca sempatkan nonton iklan ya semuanya.
Makasih ππ
__ADS_1