Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
184. Aku boleh cemburu?


__ADS_3

Hari pun berganti.


Di sebuah pulau eksotis, yang harus dijangkau melalui jalur darat setelah turun dari pesawat. Masih harus menaiki kapal untuk sampai di lokasi. Namun, semua perjalanan panjang itu terbayar. Resort mewah dengan bangunan vila yang besar dan kokoh. Walaupun mereka berjumlah banyak, kamar-kamar di vila seperti masih tersisa saking banyaknya kamar untuk mereka tempati.


Hamparan laut biru yang memanjakan mata, pasir pantai yang putih tersapu ombak, air datang menggulung tepian. Semua itu, sudah menjadi obat bagi jarak tempuh yang mereka lalui. Mata yang dimanjakan oleh pemandangan yang indah. Hembusan angin yang membelai di sela-sela rambut, memberi kesejukan sekaligus kedamaian bagi hati.


Semua lupa dengan perjalanan untuk menuju ke tempat ini, karena keindahan yang tertangkap mata, langsung membuat mereka takjub.


Indahnya, gumam semua orang yang melihat hamparan biru di depan mata mereka. Ombak menggulung, menampar pasir putih. Hanya terlihat beberapa orang yang memang bertugas menjadi pelayan dan penjaga resort. Ya, ini vila pribadi.


Resort pribadi ini dipinjam Presdir dari kakak laki-lakinya, kakak kembarnya tepatnya. Ya, keluarga Rion memiliki garis keturunan kembar dari Presdir. Tempat liburan mewah yang biasanya dipakai keluarga besar kakaknya untuk berlibur. Demi memberikan pengalaman yang luar biasa bagi karyawannya yang sudah bekerja keras, Presdir sampai meminjam resort milik kakak kembarnya ini, sebenarnya punya istrinya. Dan Presdir terlihat sangat puas, saat melihat bola mata berbinar orang-orang. Apalagi melihat menantunya yang terlihat sangat bahagia.


Ya, tidak masalah aku sampai memohon-mohon kemarin gumam Presdir sambil merangkul istrinya. Kakak adik kembar, yang bukan hanya mirip di wajahnya, tapi juga sifatnya. Tidak semua si kalau kata orang, dia mewarisi sebagian besar sifat ibu yang ceria, dan kakaknya mewarisi sifat dingin ayah. Ya, mungkin, cara mereka mencintai istri yang sebagian besar diturunkan oleh ayah mereka. Baiklah, itu sekilas cerita tentang siapa yang sudah meminjamkan resort mewah ini untuk dinikmati oleh karyawan Andez Corporation yang beruntung bersama keluarga mereka. Selebihnya rasanya tidak perlu diceritakan.


Dan kemarin setelah sampai, mereka melepas lelah dan makan siang bersama, Rion dan Serge langsung menyelesaikan urusan pekerjaan mereka. Meninggalkan pulau menuju kota XX. Untuk bertemu dengan klien mereka. Ya, sebenarnya Serge menyeret Rion secara paksa.


"Biarkan Mei bermain bersama teman-temannya hari ini, nanti malam dan besok, kalian bisa menghabiskan waktu bersama sepuasnya."


Walaupun merengut dan menatap Serge kesal, akhirnya Rion dan Serge berangkat juga.


Sementara yang ada di resort langsung bersuka cita dengan segala permainan air yang tersedia. Yang muda-muda, ganti pakaian dan langsung berenang di laut. Permainan air yang lengkap benar-benar memanjakan mereka.


Dan bagaimana yang lebih tua, Ibu Rion memimpin rombongan keluarga yang termasuk orangtua, mengajak mereka berbelanja lebih dulu. Ke area pertokoan yang ada di pulau. Banyak sekali penjual oleh-oleh di sana. Bahkan selepas senja mereka baru kembali, membawa banyak sekali belanjaan. Presdir dengan setia menemani istrinya, berbaur dengan keluarga para pegawainya.


Mereka benar-benar merasa takjub dengan keluarga Presdir, orang yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita anak-anak mereka, hari ini kebaikan keduanya mereka lihat langsung.


Begitulah cerita hari kemarin. Dan hari ini, sudah selepas sarapan. Orang-orang sudah melakukan aktivitasnya sendiri-sendiri. Berkumpul antar keluarga, tapi ada juga yang saling berbaur dan bermain bersama. Berfoto dengan pemandangan indah, baground laut serta spot foto banyak sekali, rugi rasanya kalau tidak diabadikan dan pamer di sosial media.


Ada juga yang sedang makan-makan, memang tidak ada penjual makanan, namun juru masak dan para pelayan vila, seperti sudah sangat berpengalaman. Mereka memasak aneka macam hidangan, baik makanan utama, minuman atau pun camilan. Dan tentu saja, pemandangan lain dari arah laut, apalagi kalau bukan bermain air.


Serge keluar dari pintu vila, meregangkan tangan ke atas, sambil mengeluarkan suara ******* lelah. Dia baru selesai dengan pekerjaannya. Matanya berkeliling, mencari keberadaan seseorang. Seseorang yang bisa menjadi obat lelahnya.


Semalam, aku bahkan hanya bicara sekilas dengan Dean. Hari ini, aku mau mengajaknya pergi kencan berdua. Dada Serge sudah berdebar-debar sendiri, karena banyak hal yang ingin dia lakukan berdua bersama Dean.


Naik jet ski pasti seru, dia mau nggak ya? Berjalan tanpa alas kaki di bibir pantai, sambil bergandengan tangan. Rasanya hatinya sudah mau meledak walaupun baru membayangkan saja.


Serge berjalan menuju tempat Mona dan Baim duduk. Mereka sudah basah, habis foto-foto dengan ombak dengan berbagai gayanya. Serge bahkan melihat Mona tiduran di pasir tadi dan difoto dengan berbagai gaya oleh Baim.


Baru mau duduk, laki-laki itu tersentak, padahal tidak ada yang mengagetkannya, Aku kan, mau menyusun rencana untuk mengajak Dean menikah. Belum melamar si, tapi dia ingin mengajak Dean bicara serius, tentang hubungan mereka yang ingin naik tingkat. Kata-kata Rion kemarin, semakin memprovokasinya.


Bagaimana aku bisa lupa hal yang sangat penting itu. Aaaaa! Aku harus menyiapkan apa ya? Bunga, cincin, atau hadiah apa ya? Apa aku ajak dia berbelanja saja, kemarin nyonya juga berbelanja kan, pasti beliau tahu, tempat di mana aku bisa membeli bunga dan cincin. Saat sudah berfikir begitu, keraguan datang lagi. Tapi, kok aku sudah seperti mau melamar sungguhan ya. Bagaimana kalau Dean merasa ini terlalu buru-buru.


Akhirnya, rencana dadakan itu pun kembali dia pikir ulang. Manusia plin plan yang selalu kebingungan melangkah. Itulah Serge, jangankan lamarannya sendiri, untuk sekedar bicara pada Mei saja dia dulu maju mundur kan.


Serge memilih bertemu dulu dengan belahan hatinya.


"Mona! Kalian melihat yang lain nggak?"


"Siapa? Mei, sepertinya dia belum keluar dari tadi. Saya juga belum melihat Tuan Rion."


Jangan tanya mereka, aku juga tahu di mana mereka. Serge memutar kepala, mencari gadis tinggi semampai dengan rambut panjang tergerai itu. Saat sedang berkeliling melihat, malah yang muncul senior Mei. Gadis itu menundukkan kepala dan tersenyum, lalu lari kecil berjalan menuju Serge.


"Kak Ge, selamat pagi." Saat di luar jam kerja, sang senior memang terlihat mulai bicara santai.


"Pagi, sudah sarapan?"


"Ia Kak, sudah. Kak Ge juga sudah sarapan?" Gadis itu terlihat tersipu sambil menjawab.

__ADS_1


"Aku sudah. Bagaimana keluarga mu, mereka nyaman dan senang kan?" Sedang mode perhatian sebagai seorang atasan yang perduli pada bawahannya. "Oh, itu ya?" Serge menunjuk keluarga senior Mei yang sedang bercengkerama sambil menikmati makanan.


"Ia Kak, Kak Ge ingat ya?" Padahal mereka cuma sekedar bertukar salam, gumam senior Mei semakin salah tingkah. Karena merasa Serge perhatian padanya.


Deg.. deg..


Serge menanggapi dengan senyuman, karena dia memang selalu mengingat orang yang dia temui. Efek bekerja pada CEO yang tidak perduli pada keadaan sekitar.


Baim menarik Mona menjauh setelah lirik-lirik melihat Serge dan senior, karena Baim juga melihat ombak yang menggulung pantai sedang agak tinggi dan cantik untuk menjadi baground foto.


"Kak Ge masih sibuk bekerja ya? Saya dengar malah kalian mendapat proyek baru dari Mei. Saya bertanya pada Mei, karena tidak melihat Kakak kemarin."


"Semua sudah selesai kok. Hari ini, aku juga sudah bisa menikmati liburan." Serge merentangkan tangan sambil berteriak. "Laut aku datang bersiaplah." Suaranya nyaring terbawa angin.


"Lucunya." Senior Mei gumam-gumam sendiri, sambil melirik Serge. Deg.. deg.. dadanya berdebar kencang. Dia sedang mengumpulkan keberanian. "Kak, apa Kak Serge suka snorkeling, kata penjaga pantai ada spot yang cantik sekali untuk menyelam di dekat sini. Kita cuma perlu naik kapal sebentar, di belakang pulau." Gadis di depan Serge menunjuk tempat yang kemarin diberi tahu para penjaga pantai. Sambil tertawa malu. "Apa Kak Ge, mau pergi ke sana?"


Wajah merona malu senior Mei terlihat dengan jelas, hari ini dia bertekad mau mengajak Serge pergi berdua. Menyelam dia pakai sebagai alasan. Entah kenapa, sering bertemu dengan Serge, membuat hatinya berdebar. Padahal dulu, saat di perusahaan Game dia mengenal Serge, sepertinya laki-laki di depannya tidak memancarkan pesona semenarik ini.


"Ayo pergi berdua Kak, aku bilang penjaga untuk menyiapkan kapal dan peralatan ya." Lagi-lagi gadis itu paham kelemahan Serge yang tidak enakan. Kalau diserang terus, Kak Ge pasti tidak akan menolak.


Serge tidak mendengar kalimat yang baru diucapkan gadis di depannya, karena dia melihat sebuah mobil yang melaju dari arah gerbang depan. Sepertinya melesat cepat ke arahnya.


"Eh, itu Dean. Maaf aku tidak dengar, tadi kamu bilang apa?" Serge tersenyum senang, saat memastikan siapa yang ada di dalam mobil. "Tadi mau ke mana? Mengajak menyelam?"


"Sayang!"


Sebuah suara nyaring yang bukan hanya membuat Serge hampir loncat, tapi juga membuat senior Mei tersentak kaget. Sampai matanya melotot mau keluar.


Dia bilang apa? sayang? Bukannya dia temannya Mei. Sambil masih kebingungan, dia melihat seorang gadis keluar dari mobil, membawa tas besar.


"Sayang, kau sedang bicara dengan siapa?" Dean mendekat dan langsung melingkarkan tangan di lengan Serge. Wajah laki-laki itu langsung merah padam seperti tersengat lebah. Kepala Dean bersandar di lengan Serge. "Sayang, siapa dia, kau tidak mau mengenalkan aku."


"Dean, dia karyawan Andez Corporation yang membantu Mei membuat film promo. Dulu, dia junior ku waktu aku bekerja bersama Rion di perusahaan game. Kamu ingat kan, aku pernah membicarakannya dengan mu." Serge tertawa canggung dengan gadis di depannya. "Dia Deandra, pacar ku."


Dean menjabat tangan gadis yang terlihat shock di depannya. Dalam hati Dean bicara, aku tahu yang kau pikirkan. Aaaaaaa! Aku sudah melihatnya sejak kemarin, kau mencuri pandang terus ke arah Kak Ge. Dan kalau ada kesempatan, kau selalu berusaha bicara dengan Kak Ge.


Senior Mei melepaskan tangannya, agak sakit. Karena sepertinya Dean menggenggamnya dengan erat.


"Kalian sedang membicarakan apa?" Dean menatap tajam gadis di depannya, lalu nyengir dengan wajah full senyum saat dia menoleh melihat Serge.


"Ah, dia bilang, ada spot menyelam di dekat pulau. Kau suka menyelam? Ayo pergi sama-sama, pasti seru."


Manusia tidak peka yang bahkan tidak menyadari kecanggungan sang senior Mei, dan tatapan mengancam Dean. Sedang berusaha menebar kebaikan di setiap waktu.


"Kak, sepertinya aku tidak jadi pergi. Tiba-tiba perut ku agak sakit." Senior Mei bicara tiba-tiba dengan suara keras sambil memegang perutnya. "Maaf ya Kak, padahal aku yang mengajak tadi. Kalian bisa pergi berdua saja, pasti lebih seru."


"Lho, kamu sakit? Mau aku panggilkan dokter?"


Senior Mei melihat ada api berkobar di dekat Serge. Lalu dia buru-buru mengibaskan tangan menolak, dan bilang akan istirahat. Dia menundukkan kepala pada Serge dan Dean lalu berlari menjauhi kedua orang itu. Dia tersengal, wajahnya memerah karena malu sekaligus merasa kesal.


Kenapa pacar Kak Ge menyeramkan begitu si. Memang aku tahu kalian pacaran. Kalau Kak Ge sudah pacaran, kenapa dia baik sekali dan perhatian pada ku. Gadis itu terduduk di pasir pantai berkumpul lagi bersama keluarganya. Dia masih menatap Serge dan Dean, kenapa kau perhatian pada ku kak?


Sebenarnya dia tidak perhatian pada mu, tapi dia memang perhatian pada semua orang. Korban Serge yang berjatuhan tanpa laki-laki itu menyadarinya.


Tanpa di sadari, orang-orang yang ada di bawah. Di atas balkon vila.


"Dasar Serge bodoh!"

__ADS_1


Rupanya Rion dan Mei menonton semua kejadian, sambil pacaran mereka melihat perseteruan yang sayang untuk tidak ditertawakan.


"Aku semakin percaya, dia tidak menyadari kau dulu menyukainya." Rion tertawa, sambil mencium belakang kepala Mei.


"Ah, Kakak, kenapa membicarakan itu lagi." Mei mendongak lalu mencium bibir Rion. "Jangan ngambek lagi ya, biasanya kalau membicarakan itu, Kakak langsung ngambek."


Rion mendengus. Tapi saat bibir Mei menempel, dia sudah tertawa. Mereka berciuman lama, lalu melihat lagi pemandangan di bawah.


"Ge.. Ge.. kenapa kau bodoh sekali si."


"Haha, Kakak, jangan mengejek Kak Ge terus."


...🍓🍓🍓...


Menyusuri bibir pantai tanpa alas kaki sambil bergandengan tangan.


Ah, momennya pas ini. Sesuai rencana ku, apa aku ajak dia bicara serius sekarang ya. Tentang hubungan kami. Maju mundur hati Serge, tangannya bahkan berkeringat saking tegangnya.


"Kak.."


Ada ombang menggulung kaki mereka. Serge jadi tersadar dari lamunan.


"Jangan terlalu baik pada perempuan lain."


"Hah? Maksudnya?"


Dean menghela nafas, aku ini kenapa si. Padahal aku jatuh cinta pada Kak Ge, karena hatinya yang hangat. Karena kepribadiannya yang baik pada Mei.


"Maaf Kak..."


"Lho kenapa? Kenapa kamu minta maaf."


"Aku cemburu Kak."


Serge menghentikan langkah, Dean juga begitu. Mereka memutar tubuh dan saling bertatapan.


"Aku cemburu kalau Kak Ge bicara dengan perempuan lain sambil tertawa, apalagi sampai membuat gadis lain tersipu-sipu. Makanya aku bilang, jangan terlalu baik pada semua orang, nanti kalau para wanita itu jatuh cinta pada Kakak bagaimana."


Serge bengong dengan rentetan kalimat Dean. Tapi kemudian dia tertawa dengan keras.


"Kenapa Kak Ge malah tertawa! Aku serius tahu!"


"Haha, maaf. Dea, tenanglah, selama ada Rion di samping ku. Semua orang, mata para gadis itu hanya tertuju pada Rion. Haha, kau ini, aku itu cuma lelaki biasa. Yang sangat beruntung mendapatkan hati wanita secantik kamu."


Mau kesal Dean sebenarnya tapi tidak jadi, karena gombalan Serge.


"Maaf, kalo membuat mu kesal aku bicara dengan junior ku tadi. Karena dulu kami dekat, jadi kami bicara dengan santai. Tapi ke depannya aku akan lebih berhati-hati."


Aaaaaa! Kenapa kau tidak menyadarinya si Kak, kau itu tampan, kau itu punya pesona sejuta kali lipat dari suaminya Mei. Tangan Dean bergoyang. Serge meraih tangan itu, lalu mencium punggung tangan Dean.


"Aku juga boleh cemburu kan? Kalau kau bicara dengan laki-laki lain."


Aaaaaa! Kenapa kau menggemaskan sekali Kak. Dean menjerit dalam hati. Untung saja hpnya berdering, dia jadi bisa menghentikan dirinya yang ingin mencium Serge.


"Hallo, bagaimana?"


"Semua siap."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2