
Di malam yang sudah larut, ibu terbangun, dia bermimpi lagi bertemu suaminya.
Dan sekarang, wanita itu sedang duduk di lantai sambil bersandar di tempat tidur. Dia menyelimuti putra bungsunya yang sedang terlelap dengan tenang. Dalam keremangan lampu tidur, ibu meraih sesuatu dari dalam laci di samping tempat tidur.
Foto keluarga lengkap mereka. Dan satu foto suaminya, yang sedang berdiri di depan meja kerjanya dengan papan nama di atas meja, menunjukkan posisinya di perusahaan.
Ibu terisak dengan suara lirih, supaya tidak membangunkan Harven.
...🍓🍓🍓...
Matahari masih malu-malu, sudah terdengar denting sendok di dapur. Suara menggoreng juga. Aroma masakan menyeruak. Ibu hampir merampungkan pekerjaannya, dia memasak bahan makanan yang kemarin dibeli Harven dan Sherina. Dari pintu belakang, sinar matahari menerobos masuk.
Mei keluar dari kamar mandi, dia sudah mandi, rambutnya basah dia Gelung dengan handuk kecil. Mengintip sebentar di kamar, suaminya Rion masih terlelap dengan posisi kesukaannya. Baru mau melangkah ke dapur di pintu kamar Harven muncul, dia berbisik, memanggil Mei. Gadis itu tengok kanan dan kiri lalu masuk ke dalam kamar Harven. Sambil membuka handuk di kepalanya. Rambut ikalnya terlihat lurus kalau basah.
Kenapa batin Mei, Harven mau bicara apa si sampai sembunyi-sembunyi begini.
Beberapa saat dia di dalam kamar bicara dengan Harven, keduanya bicara dengan suara pelan. lalu ketika keluar kamar wajahnya Mei terlihat sedih. Memang semua butuh waktu Mei gumamnya, bersabarlah. Ibu kan baru saja ingat tentang ayah, dia pasti terguncang. Dan sedang berusaha berdamai dengan kenyataan. Harven bilang tadi, semalam ibu menangis diam-diam di tengah malam. Membuat hati Mei langsung sedih.
"Aku memang pura-pura nggak dengar Kak, takut ibu semakin sedih. Tapi aku juga nggak tidur karena takut ibu kenapa-kenapa."
Malam itu, ibu baru berhenti menangis dan naik ke tempat tidur saat Harven pura-pura bergumam, merubah posisi tidur sampai selimutnya melorot. Ibu menutupi tubuh Harven lalu dia ikut berbaring di samping Harven. Dan ibu berhenti menangis sambil tangannya mengusap kepala Harven.
Begitulah yang dikatakan Harven tadi, membuat hati Mei berdenyut sakit. Melihat punggung wanita yang dicintainya, sedang membersihkan meja dapur. Kepulan asap tipis terbang dari mangkuk-mangkuk sayur dan lauk yang sudah selesai dimasak ibu.
"Wahhh ibu sudah selesai memasak. Maaf, aku malah baru bangun." Mei memeluk ibunya dari belakang. Tersenyum dengan ceria supaya menerbangkan kegelisahan ibu. "Ada yang bisa Mei bantu Bu?"
"Sudah selesai semua. Panggil Harven dan Nak Rion untuk sarapan. Suamimu sudah bangun?" Mei menggeleng sambil nyengir, mengatakan kalau Kak Rion masih tidur. Mei meraih pinggang ibu. Memeluk ibu. "Kenapa? haha, kamu ini kenapa Mei?" Ibu tertawa saat putrinya bermanja-manja.
Mei tepat uyel-uyel walaupun ibu kegelian. Lalu dia berhenti, dan menatap wajah ibu.
"Bu, kita ke makam ayah yuk. Ibu kangen kan sama ayah? Mei juga kangen. Maaf selama ini Mei sibuk bekerja sampai jarang datang ke makam ayah. Ayo kita pergi ke makam ayah Bu. Ibu mau kan?"
Bola mata ibu langsung terlihat berkaca. Dia memang sangat ingin pergi ke makan suaminya. Tapi, takut merepotkan Mei jadi dia akan berkunjung besok atau lusa saja sendirian. Banyak yang ingin dia katakan juga pada suaminya. Dan sekarang, malah Mei yang menawarinya. Tentu saja hatinya diliputi kebahagiaan.
"Tentu saja ibu Mau Mei, ayo kita ke tempat ayahmu. Nggak merepotkan Nak Rion kan?"
"Aku tanya Kak Rion dulu ya Bu, kita bisa pergi jam berapa. Kalau nanti Kak Rion ada acara, aku akan minta izin supaya bisa mengantar ibu dan Harven."
Aku akan memohon sampai diizinkan, Mei bergumam, karena dia takut sudah bicara seperti ini pada ibu, Kak Rion malah melarangnya.
"Ia Mei. Ibu mau siap-siap juga."
Tidak tahu apa yang akan ibu siapkan, tapi dia terlihat masuk ke dalam kamar. Mungkin ibu mau menyiapkan baju yang akan dia pakai nanti.
Ah, ibu terlihat senang sekali. Dan sekarang, Mei menatap pintu kamar. Masalahnya ada di dalam sana. Bagaimana kalau Kak Rion tidak mau? Dia kan biasanya akhir pekan hanya senang bermalas-malasan di tempat tidur.
Kalau dia tidak mau, aku minta izin untuk mengantar ibu dan Harven. Pokoknya Mei, kau harus memohon-mohon.
Pokoknya Mei harus mendapatkan izin karena dia sudah memberi ibu harapan, dia tidak mau melihat kesedihan dan kekecewaan ibu kalau tidak jadi pergi.
Mei masuk kamar, sudah dengan pikiran akan ditolak, jadi dia menyiapkan hati untuk tidak tersinggung, dan akan langsung memohon sebisanya.
Dan sekarang, gadis itu sudah duduk di tepi tempat tidur. Menusuk pipi Kak Rion dengan telunjuknya. Laki-laki itu masih terlelap, bergumam pun tidak. Dia benar-benar masih tidur, bagaimana ini. Di lengan telanjang dan berotot itu Mei membuat sketsa tak berbentuk, berharap Rion akan terbangun dan menggeliat dengan coretan jari telunjuknya. Masih diam. Tusuk-tusuk lagi. Dan tetap masih terlelap.
Hah! Dia benar-benar masih terlelap. Bagaimana ini?
"Kak, Kak Rion?" Mei mengusap kepala Rion. Rambut lembut Kak Rion bergoyang. "Kenapa rambut Kakak bagus banget si, aku baru menyadarinya." Mei mendekatkan hidungnya, mencium rambut Kak Rion.
Halus dan lembut, dan juga wangi, sangat kontras dengan rambutku. Kenapa kau sempurna sekali Kak!
__ADS_1
"Kak..." Agak berteriak Mei di dekat telinga.
"Hemm, kenapa?" Gadis itu tersentak saat dengan santainya Rion menjawab. Hidungnya sampai terbentur kepala karena sedang menciumi rambut.
Lengan yang tadi dilukis Mei melingkar dengan cepat, meraih tubuh Mei. Gadis itu sudah jatuh terjerembab dalam pelukan Rion.
"Kau menggangu, aku masih mengantuk." Bahkan mata Kak Rion benar-benar belum terbuka. "Ayo tidur lagi. Pejamkan matamu. Kalau tidak, kau pasti menyesal Mei."
Aaaaaa! Kita kan tidak sedang di rumah Kak! Apa yang mau kau lakukan!
"Kak Rion, ini di rumah ibu." Pelukan erat itu mengendur, sepertinya Rion lupa di mana dia sedang tidur sekarang. Efek kantuk masih menempel di matanya. Dan mendengar Mei bicara begitu dia jadi tersadar kalau dia menginap di rumah ibu Mei. "Ibu sudah selesai memasak, dan mau sarapan bersama." Terdengar Rion menguap malas, tapi dia akhirnya melepaskan pelukan. Dan merubah posisi tidurannya. "Hehe, sekarang sudah bangun kan Kak?" Mei bergerak ke pinggir tempat tidur.
Rion menguap lagi.
"Baiklah, aku mengalah kali ini."
"Hehe, terimakasih Kak. Tapi."
Rion bangun, mengusap wajahnya. Menunggu apa yang mau dikatakan Mei dengan penuh keraguan begitu.
"Ibu mau pergi ke makam ayah. Ehm, apa aku boleh mengantar ibu hari ini. Ehm, Kakak pasti sibuk kan hari ini, atau mau istirahat di rumah. Tolong izinkan aku untuk mengantar ibu ya Kak, boleh kan Kak." Bibir Mei bergetar tidak meneruskan kata-katanya. Laki-laki di depannya sepertinya terlihat marah.
Apa dia tersinggung.
"Kau tidak mau mengajakku?"
Hah! Aku! Aaaa! Bagaimana ini!
"Apa? Bukan begitu Kak, aku ingin sekali Kak Rion pergi bersamaku. Tapi, kalau Kakak tidak bisa juga tidak apa-apa." Sebenarnya mau mengajak, tapi takut yang diajak tidak mau dan tersinggung. Karena Mei ingat dengan jelas kalau Kak Rion tidak mau terlibat terlalu jauh dengan keluarganya.
"Jadi, kau mau aku ikut pergi atau tidak?" Menatap Mei tajam.
"Kak, apa Kakak mau ikut, pergi ke makam ayahku, bersama ibu dan Harven? Aku mohon." Sambil tangan Mei terulur menyentuh lengan Kak Rion. "Aku senang sekali kalau Kak Rion mau ikut."
Hah! Kenapa dia membingungkan si, jadi sebenarnya dia mau ikut atau tidak tadi. Ah, bodo amatlah, yang penting Kak Rion senang. Mei mengambil handuk menyerahkan pada Rion yang sedang berdiri di depan pintu. Bukannya membuka pintu dia malah menarik Mei sampai gadis itu terdorong merapat ke pintu. Dan kaki Rion terangkat, mengunci pergerakan Mei.
"Kak..." Memalingkan wajah.
"Tapi, cium aku dulu. Karena menginap, kau sampai lupa dengan ciuman selamat pagi." Membenturkan keningnya ke kening Mei. "Aku baru mau keluar."
Aaaaaa! Memang tidak ada yang gratis sama kamu Kak!
Kecupan dan ciuman selamat pagi hari ini jauh lebih lama dari biasanya.
...🍓🍓🍓...
Area pemakaman.
Ayah dimakamkan di pemakaman umum, dekat dengan rumah yang mereka tinggali dulu. Tempatnya cukup luas, dan terawat, walaupun memang berdempetan antara makam yang satu dengan yang lain karena memang banyaknya jumlah makan.
Mei menemui penjaga makan, dan menyebutkan nama ayahnya. Laki-laki tua penjaga makam menganggukkan kepala lalu memeriksa catatan di buku besarnya, lalu dia mengantar mereka ke pusara ayah. Sudah banyak makam baru di sekitar makam ayah Mei sejak terakhir kali dia datang.
Tangan ibu gemetar memegang lengan Harven saat berjalan menuju pusara.
Saat mereka sudah di pusara ayah, Mei melihat taburan bunga di atas makam. Masih terlihat segar. Bahkan ada satu tangkai mawar yang mungkin baru diletakan kemarin, karena kelopaknya masih menempel terlihat segar.
Siapa ya? Siapa yang mengunjungi makam ayah. Kak Brama kan sedang diluar kota. Mei memperhatikan dengan seksama, bunga-bunga itu benar-benar masih terlihat baru.
Ibu duduk bersimpuh di samping makam. Sambil meletakan rangkaian bunga dan menebarkan bunga di atas pusara. Membuang batu-batu kecil yang ada di atas pusara. Harven juga duduk di samping ibu, mengusap bahu ibu sambil memegang tangan ibu. Ikut menebarkan bunga.
__ADS_1
Sejenak mereka terdiam meresapi kesedihan dan membayangkan wajah ayah mereka, lalu bapak penjaga makam memimpin doa. Setelahnya dia berlalu setelah menundukkan kepala. Mei mulai mendengar, suara Isak ibu. Dia juga jadi ingin ikut menangis. Saat bahunya juga bergetar, tangan Rion yang lebar merengkuhnya dari belakang.
"Kau tidak mengenalkan aku pada ayahmu?" Mei bisa merasakan bibir Kak Rion yang hangat mengecup keningnya. "Katakan pada ayah, aku suamimu yang keren dan tampan."
"Haha, Kak, apa si." Mei jadi tertawa, saat tangan besar Kak Rion menghapus airmatanya, dia terhenyak. Rupanya Kak Rion sedang menghiburku ya. Dia tersenyum, dan menunjukkan tatapan hangat untuk Kak Rion. "Ayah, ini Kak Rion. Suami Mei yang luar biasa. Suami yang sangat Mei cintai."
Deg...
Aku bicara apa si!
Mei pura-pura tidak sadar dengan kata-katanya. Menunduk sambil mencabut rumput liar yang terselip di bawah kelopak bunga.
Sementara Rion memalingkan wajah, karena sekarang wajahnya sedang memerah karena senang. Entah Mei sadar atau tidak dengan yang dia ucapkan, tapi laki-laki itu senang mendengarnya.
Ibu bilang, dia ingin sendirian sebentar saja. Dia mau bicara dengan pusara suaminya sebentar. Jadi mereka menjauh. Harven hanya berjalan sekiranya beberapa langkah. Tapi apa yang ibunya katakan, masih terdengar jelas di telinganya.
Sementara Mei dan Rion berjalan menuju tempat penjaga makam. Mei memberikan amplop yang diterima penjaga makam, dia terimakasih.
Lalu penjaga makam menceritakan, kalau sudah dua bulan ini ada laki-laki yang sudah cukup berumur sering datang ke makam ayah Mei. Dia bahkan pernah melihat pengunjung itu menangis dengan keras. Biasanya seminggu sekali, atau paling lama dua Minggu sekali dia datang. Dan baru dua hari lalu dia juga datang.
Penjaga makam mendeskripsikan ciri-ciri pengunjung makam ayah Mei, tapi gadis itu tidak ada bayangan apa pun di kepalanya. siapa kira-kira laki-laki itu.
"Katanya dia teman lama dan baru tahu kalau ayah Nona sudah meninggal."
Deg. Mei memandang Kak Rion. Laki-laki itu juga menggengam tangannya. Entahlah, kenapa Mei jadi kepikiran, siapa yang meletakan bunga di atas pusara ayahnya. Teman ayah? Siapa ya?
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan." Rion menghibur kegelisahan Mei, mengajak gadis itu mencari tempat duduk sambil menunggu ibu selesai. "Mungkin dia teman lama ayahmu yang terkejut mendengar kabar kematian ayahmu Mei."
"Ia Kak."
"Bersandarlah." Mereka sudah menemukan tempat duduk. "Dada suamimu yang kau cintai ini cuma milikmu Mei. Pakailah." Mei tersenyum, Kak Rio pasti sedang berusaha menghiburnya.
Tapi kenapa pakai menyindir kata-kataku tadi si!
"Hari ini gratis." Menepuk dadanya.
"Haha, apa si Kak." Mei menjatuhkan kepala di dada Rion. Lalu tangan lebar itu merengkuhnya. Kecupan di kening dan kepalanya terasa hangat.
Ayah, inilah Kak Rion, suamiku. Laki-laki yang aku cintai Ayah. Gumam Mei sambil melihat ibu dan Harven di dekat pusara ayah.
Penutup
Ibu yang bersimpuh di pusara suaminya. Mengusap tetesan airmata yang membasahi pipi.
"Suamiku, maafkan aku baru datang sekarang." Mengusap ujung matanya lagi. "Apa kau datang ke mimpiku untuk berpamitan suamiku, supaya aku ikhlas dan jalanmu di sana tidak terbebani. Maafkan aku suamiku, aku bukannya merawat anak-anak dengan baik malah menyusahkan mereka."
Ibu Mei merasakan kalau kedatangan suaminya dalam mimpi adalah cara Tuhan menyelamatkan hidupnya, kalau dia akhirnya ingat semuanya, adalah pertanda, supaya dia bisa berdamai dengan semua takdir yang diberikan Tuhan. Untuk hidup dengan baik bersama anak-anaknya.
Terimakasih suamiku, kau memberiku tiga orang buah hati yang luar biasa, sekarang, tenanglah di sana. Aku akan melanjutkan hidup bersama anak-anak.
Dia memang bisa bicara dengan tenang dalam hati, namun, tangis ibu semakin mengeras, isaknya semakin sesenggukan.
Biarkan aku menangis sekarang suamiku, sungguh, ini terakhir kalinya aku menangis, setelah ini aku tidak akan menangis seperti ini lagi. Hiks, hiks.
Harven datang memeluk ibu dari belakang. menahan tubuh ibu yang terguncang.
"Ibu, ikhlaskan ayah Bu, supaya ayah tenang di sana."
Ibu menjawab kata-kata Harven dengan tangis yang mengeras.
__ADS_1
Bersambung
Tangkap tisyu 🥺