Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
50. Shopping Time


__ADS_3

Angin berhembus perlahan, menerbangkan sampah daun yang berserak setelah gugur karena daunnya mengering. Kendaraan yang lewat di jalanan semakin terlihat padat. Berbarengan dengan waktunya para pekerja kantoran pulang.


Merilin dan Jesi sedang duduk menunggu di tepi jalan. Mereka sedang menunggu Harven. Mei akan mengajak Harven berbelanja, membelikan Harven beberapa barang yang dia butuhkan untuk rumah baru. Mei belum tahu, kalau semua sudah disiapkan Serge untuk adiknya. Jesi yang sudah selesai dengan deadline dengan senang hati pergi bersama Mei.


Penampilan Jesi sangat santai seperti biasanya. Rambutnya dia ikat sekenanya dengan jepit rambut di bagian kepala.


Ketika sebuah mobil berhenti di dekat mereka berdua, selintas Jesi terlihat menoleh, tapi kemudian bicara menanggapi Mei lagi. Yang mereka tunggu bus, tapi ternyata Harven malah yang keluar dari mobil, di belakangnya muncul seorang gadis membuat Merilin dan Jesi terkejut.


"Ven..." Merilin bangun meraih tangan adik yang menghampirinya.


"Kak Mei maaf terlambat, sudah lama menunggu ya?" Merilin menggeleng, mengatakan baru lima menit dia menunggu. Gadis itu beralih pada gadis yang berdiri di samping Harven. Jesi juga penasaran siapa dia.


"Kamu sama siapa?"


Sherina langsung maju, meraih tangan Merilin. Membuat Mei menatap Harven dengan tanda tanya. Sherina mengenalkan namanya dan mencium tangan Merilin. Agak kaget dengan tindakan Sherina. Saat melihat Harven yang tersipu, Merilin jadi mendapat pencerahan.


"Dia yang pernah kamu ceritakan waktu itu? hubungan kalian sudah lebih akrab sekarang?"


Harven melengos semakin terlihat malu. Sementara Sherina dengan semangat memperkenalkan diri sebagai teman sekolah sekaligus pacar Harven. Gadis itu menduga kalau Harven sudah menceritakan tentangnya.


Sherina yang ceria dan mudah bergaul dengan gampang memikat hati semua orang.


Mereka meneruskan obrolan di dalam mobil. Merilin, Harven dan Sherina duduk di belakang. Sementara Jesi duduk di depan. Harven langsung nyeletuk memperkenalkan sepupu palsu sebagai pembaca komik dan Jesi sebagai author komik. Keduanya saling pandang lalu berjabat tangan dengan malu-malu. Sekedar info Arman sudah membaca komik buatan Jesi karena rekomendasi Harven.


Mobil melaju memecah jalanan kota.


Merilin bertanya bagaimana kabar adiknya, apa rumah barunya nyaman. Apa ada sesuatu yang dia butuhkan. Sambil sekali lagi minta maaf karena harus membiarkan Harven tinggal sendirian.


"Rumah Kak Ge nggak jauh kok Kak, jadi Kak Mei jangan khawatir. Kak Ge bilang, aku juga boleh menginap di rumahnya kalau aku takut tinggal sendirian."


Mendengar itu Merilin jadi merasa tenang.


"Kak Mei, rumahku juga nggak jauh dari rumah Harven kok." Harven langsung mendelik, menyuruh Sherina jangan bicara yang aneh-aneh. "Jadi Kak Mei jangan khawatir, apa sih, aku cuma mau bilang begitu kok."

__ADS_1


"Terimakasih ya Sheri, sudah membantu Harven."


Merilin memperhatikan setiap ekspresi adiknya, menerka sejauh apa hubungan keduanya. Pacaran ya, gadis itu tidak menduga sebenarnya kalau Harven akan pacaran, apalagi untuk saat ini. Apalagi persiapan masuk ke universitas sudah ada di depan mata.


"Sekolah lancar kan Dek."


"Ia Kak, semua lancar. Jangan khawatir."


Sementara yang di kursi belakang bicara kemana-mana, yang di kursi depan lirik-lirikan dengan canggung.


Mobil yang terus melaju, akhirnya sampai ke tujuan.


Mereka sampai ke area parkir Gardenia Pasifik Mall.


Merilin berjalan di tengah, Jesi di samping kanannya. Harven disamping kiri, Sherina di samping Harven. Kakak sepupu berjalan kesepian sendirian di belakang. Wajahnya terlihat sedang menunjukkan kalau isi kepalanya sedang berfikir keras. Bagaimana memulai obrolan dengan natural dengan gadis itu.


Sebagai penikmat komik, dan seorang pembuat komik. Ah, sialan, aku tidak tahu harus mulai dari mana, gumamnya. Apa aku tunjukkan akun baca komik ku padanya ya. Apa aku perlu minta tanda tangan. Saat ini status Arman pada Jesi murni kekaguman pada seseorang yang sudah membuat komik keren yang dia baca.


Mereka keluar dari lift, menuju area lantai tiga.


Sherina yang mendengar apa yang dikatakan Merilin menggengam tangan Harven dengan erat, apalagi saat laki-laki itu terlihat mengusap ujung matanya. Walaupun tidak menangis, namun Harven terlihat sedih.


Kak Mei yang selalu mengedepankan kebutuhan Harven ketimbang untuk dirinya sendiri. Selalu membuat hati Harven merasa sesak dengan rasa bersalah.


"Aku nggak perlu apa-apa kok Kak. Kak Ge sudah menyiapkan semuanya. Kak Ge juga bantu pindahan kemarin, barang-barang yang dirumah lama juga sudah pindah ke rumah baru. Sekarang Kak Mei belanja untuk Kak Mei aja." Harven tersenyum dengan ceria, menghapus kesedihan di hatinya karena belum bisa memberikan apa pun untuk Kak Mei.


Jangan pikirkan aku Ven, aku akan belanja hari ini pakai kartunya Kak Rion. Tapi maaf, aku tidak bisa membeli milikmu dengan kartunya juga. Bahkan membeli kopi untuk Kak Ge saja tidak boleh.


Mereka masuk ke dalam toko pakaian terlebih dahulu. Baju-baju kantor yang akan dipakai Merilin bekerja. Sherina dan Harven melihat-lihat bagian pakaian casual, sementara Jesi dan Mei di bagian pakaian kantor.


"Mei, katamu kau pakai kartunya suamimu, jadi aku boleh pilihkan sesuka hati tanpa melihat harga kan?" Jesi sudah memegang satu setel baju. Merilin mendorong baju yang diberikan Jesi saat melihat tag harga. "Kau bilang selera suamimu itu level dewa, kau harus mengimbanginya kan."


Mendengar itu ditariknya lagi baju yang diberikan Jesi.

__ADS_1


Benar, orang itu kan agak gila. Kalau dia tidak suka dengan baju yang aku beli dan menyuruhku membuangnya lagi bagaimana. Akhirnya Merilin menganggukkan kepala dengan semua pilihan Jesi. Beberapa setel pakaian kantor, baju tidur, baju rumah. Dress selutut dipilih Merilin, karena kata Kak Serge Rion lebih suka pakaian model begini.


Merilin keluar masuk ruang ganti, mencoba ini dan itu. Bahkan difoto oleh Jesi dikirimkan pada Dean. Si perfeksionis itu akan memberi saran begini dan begitu. Itu tidak cocok untuk Mei, pilih yang ini, dan pilih yang itu. Sampai Vidio call segala Dean akhirnya.


Walaupun terlihat terkejut karena belanjaan Merilin banyak sekali, namun Harven ikut berpartisipasi, pilih-pilih sesuka hatinya, setelah tahu uang suami Kak Mei yang akan dipakai untuk membayar semuanya.


Hiks, akhirnya aku melihat Kak Mei membeli baju baru untuknya. Saking terbawa suasana, Harven memilih tiga setel baju tidur untuk Merilin.


Merilin menghela nafas ketika melihat belanjaannya. Setelah membeli baju, beralih ke toko tas dan sepatu. Akhirnya setelah sekian lama tas pemberian Kak Serge tergantikan. Ada bagian hati Merilin yang terluka, kalau mengingat tas yang sudah menemaninya selama ini.


Banyak sekali! Apa tidak apa-apa aku membeli semua ini.


"Jesi, apa aku sudah gila karena selama ini nggak pernah belanja?"


"Haha, kau ini." Jesi memeluk Merilin. "Anggap ini reward atas semua kesabaran dan perjuanganmu selama ini Mei. Ah, aku bahkan saking bahagianya melihatmu belanja begini aku mau menangis Mei, Dean juga pasti senang melihatmu menghabiskan uang sebanyak ini." Jesi tertawa melihat semua tas belanjaan Merilin. Bahkan kakak sepupu Sherina sampai membantu membawakan.


Setelah membeli semua kebutuhannya, Merilin beralih pada Harven.


"Ven, apa ada yang mau kamu beli? Kak Mei juga mau beli hadiah untuk teman kantor Kak Mei."


Mereka memasuki sebuah toko aksesoris. Banyak benda lucu-lucu yang dipajang di etalase. Harven, Merilin dan Sherina sedang memilih barang. Sementara Arman mendekat ke arah Jesi.


Arman menyodorkan hp miliknya. Jesi yang terkejut cuma menatap hp. Dia mau apa si, pikir Jesi.


"Maaf, kenapa ya?"


"Saya pembaca komik Anda."


"Hah!"


"Ini akun membaca saya, dan beberapa komentar yang saya tulis di komik Anda."


"Apa!"

__ADS_1


Bertemu langsung dengan pembaca sekaligus penggemar belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga Jesi bingung bagaimana harus bereaksi.


Bersambung


__ADS_2