
Ibu menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan bibir berdecak. Dipukulnya bahu Rion, karena tahu sumber ketelatan Mei pasti dari dia. Sebenarnya ibu tidak terlalu kaget Mei datang dengan Rion, karena bibi sudah memberitahu, kalau mereka keluar berdua. Makanya dia menelepon nomor Rion tadi bukan Mei.
Sementara anaknya cuma cengengesan sambil memeluknya dan minta maaf. Tidak lupa mencium pipi ibunya beberapa kali, biar tidak ngambek.
Dan pemeriksaan kesehatan dilakukan di tempat terpisah. Memasuki ruangan yang berbeda. Mei ditangani oleh dokter kandungan perempuan dan para perawat perempuan, dia diambil darah sampai urinenya juga. USG perut dan diminta mengisi form tentang riwayat kesehatan. Mau tidak mau gadis itu menuliskan riwayat pemakaian pil kontrasepsi. Semua ditanyakan, dari kapan minum, berapa lama meminumnya, ada efek samping yang dirasakan setelah minum, sampai datang bulan lancar atau tidak, bahkan merek pil yang dia konsumsi juga dia tulis.
Ibu menenangkan Mei, kalau dia sudah mengatakan kepada dokter untuk jangan menyinggung masalah pemakaian pil kontrasepsi di depan Rion, dengan menjelaskan sedikit alasan, dokter wanita itu mengangguk.
Di ruangan terpisah, Rion juga menjalani pemeriksaan yang sama, tidak jauh seperti prosedur yang dialami Mei. Mengisi form dengan rentetan pertanyaan seputar riwayat kesehatan. USG untuk memantau kesehatan organ reproduksi serta mengecek ada kelainan atau tidak. Dan tentunya pengambilan sampel ******, untuk mengetahui kualitas serta bentuk dan pergerakan ******. Rion lebih lama keluar dari ruangan ketimbang Mei. Karena saat Rion selesai, ibu dan Mei sudah duduk di ruang tunggu.
Hah! Ternyata cukup memakan waktu, gumam Rion, mereka bahkan sudah melewati tengah hari untuk melakukan pengecekan saja.
"Bu, kita makan dulu saja." Rion mengulurkan tangannya, Mei yang masih berdiri di dekat ibu langsung berlari mendekat. Dan menggengam tangan Rion. "Semua berjalan dengan baik kan? Jangan mengkhawatirkan hasilnya."
Mei tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Dan akhirnya mereka keluar dari RS, ibu menggandeng tangan kanan anaknya, sementara Mei menggelayut di lengan kiri Rion. Sambil membicarakan pemeriksaan apa yang dia jalani tadi.
Rion diapit, dua orang paling berharga dalam hidupnya saat ini.
Mereka berjalan keluar RS.
"Kalau Kakak, tadi diperiksa apa saja?"
"Entahlah." Menjawab dengan gampang, karena saking banyaknya dia malas menjelaskan.
Plak! Ibu memukul lengan anaknya karena menjawab seenaknya.
"Apa si Bu, di dalam tadi aku cuma memikirkan Mei, sambil ditanya ini dan itu, sambil mengisi form riwayat kesehatan. Sama saja denganmu Mei." Rion membenturkan kepalanya miring ke kiri, pada gadis yang berjalan sambil merangkul lengannya itu. "Yang aku ingat, cuma saat memikirkan mu saja."
"Kenapa Kakak malah memikirkan ku?"
Mei jadi merasa bersalah, karena saat pemeriksaan tadi, dia hanya fokus menenangkan diri dan mengusir ketakutan dan ketegangannya. Tidak sempat memikirkan Kak Rion. Tapi sekarang dia tidak mau mengaku, takut Kak Rion marah karena dia tidak memikirkannya.
Rion tertawa sambil melirik ibunya, yang ikut tertawa. Sepertinya ibu tidak sepolos Mei, jadi tahu alasan kenapa Rion memikirkan Mei ketika di dalam ruangan tadi. Sementara Mei, cuma bergumam, apa si, kenapa kalian berdua tertawa? Kalian menertawakan apa? Aku juga mau ikut tertawa. Tambah bingung, karena sepertinya ibu nyambung dengan alasan tertawanya Kak Rion.
Dan seperti itulah mereka mengisi waktu menunggu hasil pemeriksaan, makan di sebuah restoran yang dekat dengan Gardenia Pasifik Mall. Setelah selesai makan, mampir dulu ke mall. Ibu seperti biasa, gelap mata kalau sudah mendadani Mei. Ada saja yang di matanya terlihat lucu dan pas sekali kalau di pakai menantunya.
"Kak, tolong bilangin ibu. Sudah." Mei memohon pada Rion untuk membuat ibu berhenti. Entah berapa uang yang sudah dibelanjakan ibu hanya untuknya
__ADS_1
"Bilang saja sendiri, haha." Rion cekikikan, karena dia sendiri senang dan menikmati semua yang dilakukan Mei. Apalagi saat ibu membelikan beberapa stel baju tidur baru. "Kalau itu, kau tidak perlu mencobanya sekarang Mei, coba nanti saat di rumah."
"Kakak!"
Siang itu rasanya Mei benar-benar jadi bonekanya ibu, ah, mungkin karena ibu hanya punya Kak Rion, jadi dia melampiaskan semua imajinasinya tentang mendadani anak perempuan pada Mei. Akhirnya gadis itu pun pasrah, menuruti semua kemauan ibu. Wajah bahagia ibu, mertua yang menerima apa adanya dirinya, yang tulus menyayanginya, kalau hanya seperti ini sih, tidak masalah baginya. Karena inilah wujud cinta dan sayang yang bisa dia berikan pada ibu. Walaupun kakinya gontai keluar masuk kamar ganti.
Cukup lama mereka berada di Gardenia Pasifik Mall, bahkan terlewat satu jam dari jadwal hasil pemeriksaan. Masih degan senyum kebahagiaan Mei dan ibu serta tawa Kak Rion, mobil melaju kembali ke RS.
...🍓🍓🍓...
Ruang dokter.
Ternyata yang menyampaikan hasil pemeriksaan adalah dokter laki-laki yang memeriksa Rion tadi. Sementara dokter wanita, berdiri tidak jauh bersama para perawat.
Lembaran kertas ada di depan dokter, kalau dari ekspresi wajahnya, dokter laki-laki itu terlihat tenang. Semoga hasilnya semua baik, Mei bergumam dalam doa di hatinya. Sebaik, wajah tenang sang dokter ini. Berulang kali Mei berdoa.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Nyonya, kondisi putra dan menantu Anda, semua dalam keadaan sehat dan baik." Dokter berbicara dengan menatap ibu, lalu bergantian tersenyum pada Mei dan Rion. "Hasil tes baik." Dia mangut-mangut.
"Ah, syukurlah. Ibu lega sekali." Ibu mengusap punggung Mei yang duduk di antara dia dan Rion. "Semuanya sehat Mei, jadi jangan khawatir." Sepertinya kebahagiaan ibu karena memikirkan dirinya dulu yang sulit untuk punya anak. Hingga dia merasa bersyukur sekali, anak menantunya sehat. "Syukurlah, semua sehat-sehat. Berarti kita semua tinggal menunggu hadiah yang dikirimkan Tuhan."
"Benar Nyonya, semua kita serahkan pada kehendak Tuhan. Tentu dengan kerja keras Tuan Rion dan istri tentunya. Haha." Dokter tertawa, saat Mei yang terlihat tersipu malu.
"Benar Dok, katakan padanya untuk jangan cemas. Tadi, mau datang kemari saja dia tegangnya bukan main. Mei, seperti yang ibu bilang, anak itu hadiah dari Tuhan." Rion mendekatkan bibir ke telinga, berbisik sampai hanya dia dan Mei yang mendengar. "Kita hanya harus berusaha keras." Tergelak saat tangan Mei memukul pahanya.
Dunia serasa milik berdua, diantara keramaian orang, itulah dua orang itu.
Dokter kembali menjelaskan tentang hasil pemeriksaan yang dia baca di kertas ditangannya lebih terperinci, sambil menunjukkan data angka-angka pada ibu. Ibu mangut-mangut walaupun tidak bisa membaca hasil USG yang diberikan dokter, karena bagi ibu, semua baik, itulah jawaban yang dia harapkan. Mengusir semua ketakutannya. Berarti pemakaian pil kontrasepsi, tidak ada efeknya di tubuh menantunya.
"Untuk Nona Mei, jangan terlalu cemas, Anda juga kan tidak minum pil kontrasepsi dalam jangka waktu lama, dengan vitamin dan makanan bergizi jika ingin program hamil, itu bisa membantu proses pemulihan."
Deg...
Telinga Mei rasanya langsung terbakar, padahal dia sedang meladeni keusilan tangan Rion tadi. Tangan Rion juga berhenti bergerak, bibirnya yang berbisik juga terdiam.
"Dokter, pil kontrasepsi!" Ibu langsung panik setelah dokter menyelesaikan kata-katanya. Dia tadi memang hanya bicara dengan dokter perempuan, karena berfikir dokter itulah yang akan menjelaskan. "Rion..." Melihat anaknya.
"Aku yang menyuruh Mei meminumnya." Suara datar dan kaku terdengar dari bibir Rion.
Ibu dan Mei tersentak kaget. Tangan Rion menggengam tangan Mei yang gemetar di bawah meja. Sementara lengan laki-laki itu mencengkeram bahu Mei.
__ADS_1
"Maaf Bu, aku tidak mengatakannya pada Ibu. Aku cuma berfikir untuk menundanya karena Mei masih sangat muda. Kami juga tidak mau buru-buru."
Apa ini? Pil kontrasepsi, apa kau minum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuanku? Suara Rion yang bicara melindungi Mei dari Ibu terdengar agak bergetar. Karena pikirannya juga sedang kebingungan.
Tangan Rion yang menggengam tangan Mei semakin mencengkeram kuat. Rasanya Mei bisa merasakan suhu panas tubuh Kak Rion yang meningkat. Dia sedang menahan amarah gumam Mei takut, dengan dada berdebar kencang.
"Rion, ini semua..."
Dia ingin melindungi Mei, gumam ibu. Rion pasti marah dan kecewa, tapi disini dia malah melindungi Mei karena takut aku ataupun ayahnya marah. Ya Tuhan, baiknya anakku. Malah ibu terpesona sesaat dengan perilaku Rion.
"Yang penting kondisi kesehatan Mei bagus kan Dok?" Rion mengalihkan perhatian ibu pada Mei dengan pertanyaan baru.
"Ia, ia. Seperti yang saya jelaskan tadi semua normal, semua baik. Kalian sudah bisa melakukan program kehamilan kalau mau." Dokter laki-laki itu sepertinya lumayan peka, kalau ada sedikit ketegangan. Saat dia melihat Mei yang hanya bisa tertunduk, dia semakin yakin.
Sementara dokter perempuan yang sedang berdiri, terlihat pias. Ini salahnya, ini kesalahannya karena dia tidak memberi tahu dokter. Bagaiman ini! Kalau nyonya marah dan membuat keluhan.
"Kalau begitu, semua sudah selesai kan? Kami sudah bisa permisi?"
"Sudah, semuanya sudah selesai. Anda pasti sibuk. Saya akan resepkan vitamin dan obat, nanti akan saya kirimkan ke alamat Nyonya."
Buru-buru seorang perawat mendekat, lalu memasukkan semua hasil tes kedalam map. Dengan hati-hati dia meletakan kembali di meja, langsung disambar tangan Rion.
"Terimakasih Dok."
Rion mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Ibu menggandeng tangan Mei yang sedari tadi terdiam. Mereka keluar dari ruangan dokter.
"Hah!" Rion mengusap wajahnya, mendorong rambutnya sambil menghela nafas lagi. Kali ini yang takut bukan hanya Mei yang sedari tadi membisu, ibu juga mulai diserang cemas. Kalau saja suaminya di sini. Paling tidak suaminya pasti bisa menenangkan Rion. "Ibu, kita cari tempat duduk dulu. Ada yang mau aku bicarakan."
"Rion..."
"Jangan bicara dulu Bu, aku sedang Menenangkan diri."
"Baik Nak."
Rion masih meraih tangan Mei, menggandengnya untuk berjalan di sampingnya. Sambil matanya mencari kursi taman.
Kenapa? Apa kau segitu membenciku dulu saat kita menikah? Apa secinta itu kau pada Serge sampai jijik dan tidak mau melahirkan anakku. Kenapa Mei? Kenapa kau sampai minum pil kontrasepsi tanpa izin dariku.
__ADS_1
Wajah Mei seperti kehabisan darah, karena seirama dengan pikiran Rion yang entah sedang memikirkan apa, semakin kuat dia mencengkeram tangan Mei.