
Bagi Rion, kecemburuan adalah bahasa lain dari cinta. Tidak perlu dikatakan, tapi terlihat dengan mudahnya. Dia ingin merasakan kecemburuan Mei yang tertuju untuknya. Seperti halnya dia selalu cemburu, saat sedikit saja Mei menyebut Serge dengan bibir mungil dan merona.
Jendela kaca balkon tertutup. Setelah angin malam semakin menusuk.
Mei mendekap Rion, dalam gendongan laki-laki itu. Wajahnya memerah saat menempelkan kepalanya di bahu Rion. Lalu mereka keluar dari teras masuk ke dalam kamar tidur.
Saat tubuh Mei jatuh di atas tempat tidur, Rion menunduk menarik tali baju Mei dengan bibirnya. Dia menyeringai setelah berhasil melepas tali pita. Membuat gadis yang duduk di tempat tidur merona semakin malu. Bisa tidak si, tidak perlu drama waktu membuka baju. Mana dia terlihat tampan dari jarak sedekat ini lagi. Cuma itu yang terlintas di kepala Mei sekarang. Saat wajah Rion yang mendekati wajahnya semakin terlihat berbinar karena ketampanannya.
Apalagi saat dia tersenyum begitu. Dia kelihatan sangat tampan dan bersinar. Apa karena sedekat ini dan selalu melihatnya, aku jadi bergabung dengan perkumpulan penggemar CEO Rionald. Aaaaa! Merilin, jantungmu lemah sekali. Saat senyum itu terlukis lagi di bibir Rion, yang tertuju untuknya, gadis itu seperti meleleh. Benar-benar mirip dengan anggota fans bar-bar pengagum CEO Rionald.
Tiga kecupan mendarat mulus di bibir Mei menjadi serangan Rion selanjutnya setelah tersenyum. Namun, setelahnya, Rion tidak melanjutkan serangannya. Padahal baju Mei sudah melorot jatuh di pangkuan.
Dia kenapa si! Membuat orang malu saja.
Saat Mei meraba-raba dan menarik selimut untuk menutupi tubuh, Rion hanya melihat dengan sorot mata biasa, tidak mencegah gerakan tangan Mei, padahal gadis itu menarik selimut untuk menutupi dadanya. Menempelkan selimut di depan dadanya, walaupun punggungnya tetap terbuka.
Kenapa malah melihatku si! Biasanya langsung menyerang? Membuat malu saja.
Mei menggerutu sendiri karena bingung, Rion yang biasanya sat set, malah diam dan menatapnya saja.
"Aku mau kau cemburu." Rion malah tiba-tiba bicara, ternyata pembicaraan di teras balkon belum selesai gumam Mei. Padahal dia sendiri belum tahu yang diinginkan Rion sebenarnya apa.
Apa aku bertanya saja, dia maunya apa. Belum membuka mulut, kata-kata Rion sudah menjadi jawaban pertanyaan di kepala Mei.
"Aku mau kau cemburu padaku. Cemburu saat mendengar aku membicarakan wanita lain, aku mau kau cemburu saat kau melihat aku bicara dengan wanita lain. Aku mau kau cemburu, bahkan hanya karena wanita lain melihatku. Dari kejauhan sekalipun."
Mulut Mei terbuka, bengong, bingung. Maksudnya apa.
Apa itu masuk akal! Kenapa aku harus cemburu kalau melihat wanita melirikmu, itu artinya kan, kau mau aku cemburu pada semua karyawan perempuan di kantor. Bahkan pada Mona! Mereka kan setiap hari membicarakan mu dan memikirkan mu.
Mei mau protes, tapi langsung sadar diri dengan posisinya.
Tapi, karena aku hanya boneka Kak Rion, maka aku tidak punya pilihan lain kan. Ini hanyalah perintah, dari sekian banyak hal yang ingin Kak Rion lihat dari bonekanya. Perintah untuknya adalah cemburu, maka Mei pun harus melakukannya.
"Baik Kak."
"Aku juga tidak suka kalau ada laki-laki yang bicara padamu." Tangan Rion mengusap bibir Mei. Maju mundur mengusap bibir. Menjalar ke pipi, dan berakhir memainkan telinga sampai telinga Mei memerah dengan sendirinya. "Aku tidak mau ada yang menyentuhmu dan menginginkanmu, karena kau milikku."
Dalam situasi ini, Mei langsung teringat dengan kata-kata Serge, tentang hak paten kepemilikan Rion. Laki-laki itu tidak suka, miliknya disentuh orang lain.
Ya, karena Kak Rion paling benci, milik Kak Rion disentuh orang lain. Karena aku boneka milik Kak Rion. Baiklah aku paham Kak, aku akan cemburu karena ini perintah Kak Rion.
Dih, padahal kau sudah cemburu dari kemarin, tapi sok melakukannya karena perintah Kak Rion. Syalala lalala tralala, Merilin sedang cari alasan lagi malah diganggu nyanyian hatinya sendiri. Entah dari mana suara hati menyebalkan itu muncul. Tapi langsung menampar pipi Mei dengan kesadaran. Kalau selama ini sudah kerap beberapa kali dia cemburu pada Rion. Apalagi saat berhubungan dengan nama Amerla. Hati kecilnya menunjukkan fakta yang susah payah dia ingkari.
"Kau tidak menjawab?"
Saat Rion menarik ujung rambut ikal Mei, gadis itu tersentak bangun dari lamunan. Melihat wajah tampan di depannya. Glek. Dia menelan ludah sendiri, entah kapan Rion membuka baju, tapi sekarang dia sudah tidak memakai apa pun, bahkan celana yang dia pakai tadi entah sudah ada di mana.
Kapan kau melepas baju Kak!
Ternyata sudah jatuh di lantai, tidak jauh dari sandal mereka.
__ADS_1
"Baik Kak, aku akan cemburu mulai sekarang."
"Tunjukkan kalau kau cemburu." Menggoyangkan dagu ke kanan dan kekiri. Mei sampai memejamkan mata, setelah itu dia merasakan kecupan di bibirnya.
"Bagaimana caranya Kak?"
Apa aku boleh berteriak marah di depan hidungmu atau menuding keningmu untuk jangan memikirkan Amerla. Kalau aku boleh begitu, sepertinya aku akan menjadikan cemburu sebagai ajang balas dendam padamu. Hehe. Aku mohon, jawab bagaimana aku harus menunjukkan kecemburuan.
"Pikir saja sendiri."
Dih, dasar!
Rion mendorong kepala Mei dengan kepalanya, mereka beradu kening sampai Mei jatuh terjerembab ke atas tempat tidur.
"Memang kau belum pernah pacaran? Sampai tidak tahu cemburu."
Rion duduk di samping pinggang Mei yang sudah berbaring. Selimut yang tadinya menutupi tubuh gadis itu, sudah dibuang Rion.
Mei menggelengkan kepala memberi jawaban, dia hanya tahu caranya mencintai dalam diam. Eh, aku mencintai siapa ya? Pikiran gadis itu blank beberapa saat. Astaga, bisa-bisanya aku nggak kepikiran Kak Ge. Ya, aku mencintainya dalam diam. Kak Serge, laki-laki yang hanya menganggapku adiknya. Sekarang, perasaan dianggap adik oleh Kak Ge, tidak terasa menyakitkan, Mei bergumam. Dengan tangan yang tanpa sadar mengusap perut berotot milik Kak Rion.
Usap-usap, merayap sampai ke dada yang bidang. Toel-toel tanpa sadar di dada Rion. Laki-laki itu terlihat tersenyum dengan kelakuan Mei. Yang terlihat tanpa sadar menikmati tubuhnya.
Karena ada Kak Rion, aku bahkan tidak teringat Kak Serge lagi. Aaaaaaa! bisa-bisanya, sekarang aku cemburu karena Kak Rion mencintai Amerla, padahal itu sudah dulu. Padahal aku juga mencintai Kak Serge dulu. Dulu, dulu. Kata dulu langsung bergema di kepala Mei. Itu kan dulu, hany masa lalu.
Apa perasaanku pada Kak Ge sudah memudar sekarang? Mei sambil melamun mengusap perut Rion lagi. Apa sekarang, aku mulai menyukai Kak Rion! Tidak Mei! Jangan! Kau hanya boneka Kak Rion.
Rion memegang tangan Mei yang sedang mengusap-usap tapi dengan tatapan tidak fokus.
Lampu tidur padam, bersamaan dengan gigitan di bahu Mei yang menyadarkan gadis itu. Dia tersentak karena sedang perang batin, dari penolakan dirinya sendiri tentang perasaan yang berusaha dia singkirkan. Kalau ada celah dihatinya yang sudah dimasuki Kak Rion selama ini.
"Kau memikirkan siapa?"
Aaaaaaa!
Mei memejamkan mata sambil menjerit dalam hati.
Sentuhan jemari tangan yang menyisir area sensitif, lidah yang menari di dekat telinga, ciuman yang membekas noktah merah, mulai membanjiri tubuh Mei. Silih berganti, dengan hembusan nafas. Rion sedang berpesta di atas tubuh istrinya.
Sepertinya dia lupa, kalau dia sedang menghadiahkan tubuhnya ðŸ¤
"Kau memikirkan laki-laki lain?" Bertanya lagi dengan nada agak meninggi, karena Mei tidak menjawab pertanyaannya tadi.
Rasanya kecupan di atas dada Mei semakin keras dari sebelumnya. Tapi rasanya tidak menyakitkan, malah ada kenikmatan tersendiri yang dirasakan Mei. Kenikmatan itu memudar, saat mendengar Rion bicara dengan suara ketus lagi.
"Beraninya kau memikirkan laki-laki lain!"
Rion sudah berubah posisi, bertumpu dengan lututnya, sudah ada di atas tubuh Mei. Dalam keremangan lampu tidur, Mei bisa merasakan kemarahan dari sorot mata itu.
Aaaaaa! Apa kau tahu yang aku pikirkan Kak, sampai cemburu!
"Aku hanya memikirkan kakak." Suara lemah Mei terdengar, sambil tangannya merayap di paha Rion. "Apa aku boleh cemburu pada Amerla yang bilang kalau dia akan merebut Kak Rion. Aku hanya memikirkan seandainya Kak Rion mencintaiku seperti Kakak mencintai wanita itu." Mei memalingkan wajah ke kanan. Dia bicara setenang mungkin, berharap Rion tidak melihat bibinya yang bergetar. "Apa aku boleh cemburu dan menunjukkan kecemburuanku karena wanita itu? Kak Rion, tolong jawab aku. Seperti apa aku boleh menunjukkan kecemburuanku itu?"
__ADS_1
Rion menunduk, dan langsung mencium bibir Mei. Dalam sekali hisapan, mulut Mei yang terbuka membuatnya mendorong lidahnya masuk. Perseteruan kecil di mulut mereka memantik hasrat yang lain semakin memanas.
Jadi, jawabannya aku boleh kan cemburu? Aku boleh cemburu sesuka hatiku kan. Kalau aku bertemu Amerla yang masih saja sombong itu.
Saat ciuman panjang itu berakhir, Mei tersengal sambil menarik nafas. Mendorong sedikit tubuh Rion supaya ada udara bergerak di sekitar mereka.
"Jadi, kau sengaja tadi saat bilang aku kenal wanita itu di depan ibu?"
Deg. Mei jadi merasa ketahuan sekarang. Rion menunggu jawaban sambil kecupannya turun dari leher ke bagian dada. Dia mendongak sebentar menyuruh Mei bicara.
"Ia." Mei, memalingkan wajah lagi, tidak mau bersitatap. "Ah, ah, Kak, awww."
"Kenapa? sakit?" Rion malah tertawa, karena dia memang sengaja melakukannya
Tentu saja sakit, kau menghisap atau menggigit si! Apa kau sedang menghukumku sekarang. Aaaaaa!
"Tunjukkan kecemburuanku seperti itu, aku mau kau melakukannya di depan semua orang. Tunjukkan kalau kau mencintaiku. Tunjukkan kalau kau istriku, yang berhak atas diriku." Kedua paha Mei bergeser. "Kau paham? Karena aku akan menunjukkan hal yang sama."
Ah, sekarang Kak Rion jadi sering menyebutku istri, ketimbang menyebutku boneka.
"Ah, ia Kak."
Aaaaaaa!
Rion menyelesaikan urusannya.
Mata Mei terpejam, tangannya meremas seprei. Ketika Rion menyelesaikan urusannya, pikiran gadis itu hanya melayang kemana-mana. Tubuhnya semakin yang semakin memanas, saat aktivitas bibir Rion kembali dimulai. Merayap di atas tubuhnya.
Aaahhhh, Ahhh, Kak Rion. Aku menyukaimu. Eh. Mei mendelik sendiri lalu menutup mulutnya. Aku tidak mengucapkannya kan. Aku tidak mengakui perasaanku kan. Jangan Mei, Jangan sampai terucap dari mulutmu.
Bukannya kau ahlinya menyimpan perasaan dalam diam. Bukankah kau sangat mahir menyembunyikan perasaanmu. Jadi lakukan dengan baik sekarang. Mei memarahi dirinya sendiri.
Saat Hasrat keduanya menuju titik puncak, tidak ada yang bicara, hanya ******* nafas keduanya yang menderu menjadi bahasa tubuh yang dimengerti satu sama lain. Kalau mereka menikmati malam ini.
Peluh yang keluar, mata yang mengantuk, setelah hasrat tersalurkan.
"Kak Rion...."
"Mei..."
"Jangan buang aku Kak. Aku mohon, jangan buah aku."
Hemmm. Gumam, gumam.
Saat Rion membuka mata memastikan, ternyata gadis dalam pelukannya sudah jatuh tertidur.
"Lucunya, kau kelelahan ya? Jangan mimpi untuk lari dariku Mei." Rion mencium bibir dan pipi Mei berulang. Menarik selimut, lalu memeluk istrinya. "Istriku, Merilin."
Malam semakin sunyi. Rion pun jatuh tertidur.
Bersambung
__ADS_1