Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
116. Terungkap Fakta


__ADS_3

"Apa! Datang bulan!"


Mei ketakutan melihat reaksi Kak Rion.


Rion langsung bangun dari tempat tidur. Jalannya cepat menghampiri Mei, dan dalam sekejap mata, tangan Rion menangkap tubuh Mei, membuat gadis itu menjerit takut. Mei berfikir, Rion marah karena dia malah datang bulan dalam situasi mereka menginap di hotel. Padahal suasana romantis sudah tercipta sejak makan malam, dia bisa memahami kalau Kak Rion kecewa. Tapi ini juga kan diluar kehendaknya. Dia juga tidak tahu kalau dia akan datang bulan. Walaupun Mei sendiri bersyukur karena dia datang bulan.


Ah, bagaimana si, aku memang senang Kak, tapi ini juga bukan terjadi atas kemauanku.


"Maaf Kak, aku benar-benar minta maaf." Mei sampai memejamkan mata. Karena takut melihat kemarahan Kak Rion.


"Kenapa kau minta maaf?"


Eh, dia bicara dengan suara lembut.


Rion menggendong Mei, membawanya naik ke atas tempat tidur. Ekspresi gadis itu kebingungan. Dia juga tidak tahu mau menjawab apa dari pertanyaan Rion.


Hanya bisa menarik selimut dan memperhatikan setiap gerakan tubuh Kak Rion. Rion berjalan menuju telepon lalu membuat panggilan dengan bagian pelayanan hotel. Mei bisa mendengar Kak Rion meminta air hangat untuk mengompres, minuman madu dan jahe hangat bahkan pembalut juga. Membuat Mei mendelik kaget saat Kak Rion menyebut kata pembalut tanpa merasa malu atau pun aneh.


Ke, kenapa ini, dia tidak kesal atau pun terkejut dengan situasi tiba-tiba begini. Kenapa malah sepertinya dia sudah tahu apa yang harus dilakukan.


"Sejak kapan?"


Mei menggeleng, dia tidak tahu sejak kapan. Tapi sepertinya saat dia ke kemar mandi di kantor tadi belum. Karena saking gelisah dan tegangnya tadi saat makan malam, dia tidak terlalu merasakan ketika bagian bawahnya terasa basah dan lembab.


"Bodoh!" Rion menuding kening Mei dengan telunjuknya. "Karena ini kamu tidak mau menginap di hotel, seharusnya bilang dari tadi."


Bukan Kak, aku tidak mau menginap karena pil kontrasepsi! Hiks, tapi mungkin ini cara Tuhan membantuku.


"Maaf Kak, aku tidak tahu kalau tiba-tiba akan datang bulan."


Biarkan saja dia salah paham Mei, kesalahpahamannya akan menyelesaikan masalah.


"Kenapa minta maaf?" Merapikan rambut Mei yang berantakan dan masih agak lembab.


"Karena aku tidak bisa berterimakasih dengan benar, padahal Kak Rion sudah memberiku banyak sekali kejutan hari ini. Kita sudah menginap di hotel juga. Tapi malah, jadi begini. Maaf, aku membuat Kak Rion kecewa." Mei terlihat tulus bersedih, wajahnya menjadi sendu.


Maaf karena sebenarnya aku bahagia karena datang bulan Kak. Maaf Kak. Maaf, benar-benar maaf!


Rion malah berasa gemas sendiri melihat istrinya yang ketakutan begitu.


"Haha, bodoh sekali kau Mei. Memang aku akan marah kalau istriku datang bulan." Saking gemasnya Rion jadi menciumi bibir dan kening Mei. Berulang-ulang sampai Mei kegelian. Dia akhirnya berhenti menghujani Mei dengan ciuman saat istrinya gelagapan mendorong tubuhnya. "Ya, mungkin ayah dan ibu yang akan sedih," ujar Rion lagi.


Muah...muah, kecup-kecup lagi karena Mei semakin lucu saat kebingungan.


"Kenapa jadi ayah dan ibu Kak?"


Kenapa ayah dan ibu jadi sedih?


"Mereka kan ingin sekali segera punya cucu dari mu."


Deg. Rasa bersalah langsung menelisik di hati Mei. Ayah dan ibu maaf! Tunggu, kalau Kak Rion sendiri bagaimana tentang anak. Apa aku coba tanya saja ya. Mei jadi penasaran dengan pendapat Rion tentang anak.


"Kak..."


"Hemm..."


Bersamaan dengan ketukan pintu kamar. Membuat Mei tidak jadi bertanya lagi. Layanan kamar datang membawa apa yang diminta Kak Rion. Setelah meletakan meja dorong yang dia bawa, pelayan itu menundukkan kepala dan keluar tanpa menimbulkan suara.


Mei turun dari tempat tidur, mengambil pembalut dan menyambar tas pakaian. Dia masuk ke dalam kamar mandi. Selang tidak lama, dia keluar. Wajah Mei memerah.


Apa aku pakai piayama handuk saja tadi. Aaaa, baju ini seksi sekali, bagaiman kalau memancing Kak Rion.


Rion menjentikkan jarinya dan menepuk tempat tidur, menyuruh Mei naik lagi. Secepat kilat gadis itu sudah duduk di tempat tidur, baru mau menarik selimut.


"Buka."


"Kak!"


Entahlah, apa yang dipikirkan Mei, kata buka baginya sekarang selalu menjurus ke adegan dewasa. Membuatnya menarik selimut menutupi seluruh tubuh kecuali kepala. Kenapa buka, kan tahu aku sedang datang bulan.


Rion menyeringai saat melihat ketakutan di wajah Mei. Dia mengangkat alat kompres air hangat di tangannya. Menyodorkan ke depan wajah Mei.


"Kau pikir aku akan melakukan apa Mei? Wahh, sepertinya imajinasimu sudah tidak tertolong lagi ya."

__ADS_1


"Kak!"


Cuma bisa bisa menutupi wajah dengan kedua tangan saking merasa malunya. Bahkan Kak Rion yang menarik tali baju tidurnya sampai melorot, lalu menempelkan alat kompres di perutnya. Hangat, gumam Mei.


Deg..deg... Yang dikompres perut tapi yang berdebar-debar dada Mei.


"Minumlah, madu hangat supaya perutmu lebih nyaman."


Mei meraih gelas yang disodorkan Kak Rion. Lalu menggengam gelas itu dengan kedua tangan. Sementara Kak Rion sudah duduk di dekatnya, memegang alat kompres yang menempel di perutnya. Rion menunduk, mencium perut Mei. Lalu mengusap-usapnya dengan tangan.


"Masih sakit? Apa kita pulang saja sekarang, supaya kau nyaman tidur di rumah?"


Mei meneguk isi gelasnya, lalu menatap Rion dengan tatapan haru. Hatinya sangat tersentuh dengan semua yang Kak Rion lakukan hari ini. Bukannya marah dan kecewa malah dia seperti sudah tahu harus melakukan apa.


"Nggak papa kok Kak, nggak sakit juga."


Mei memang tidak mengalami nyeri datang bulan. Dia hanya merasa tidak nyaman dan letih saja kalau beraktifitas. Jadi sebenarnya dia juga tidak pernah mengompres perutnya kalau sedang datang bulan. Ini pertama kali dalam hidupnya selama dia datang bulan. Apalagi yang melakukannya suaminya sendiri. Rasanya ada perasaan geli dan bahagia karena mendapat sentuhan perhatian seperti ini.


"Kau Rion tidak kecewa kan?" Mei bicara pelan, sambil menatap wajah laki-laki di depannya.


"Lumayan, tapi kau kan bisa membayar hutangmu nanti. Aku akan menagihnya dengan bunga juga. Jadi bersiaplah." Bicara dengan nada yang serius, seperti para penagih hutang yang minta tunggakan setoran. "Kau dengar itu?"


Mei tertawa sambil mengusap pipi Kak Rion.


"Ia Kak, aku membayarnya dua kali lipat. Hehe. Tapi, dari mana Kak Rion tahu semua ini? kompres air hangat, pembalut sampai air madu?"


Eh, kenapa dia jadi kesal. Aku kan cuma bertanya. Mei jadi serba salah, ketika wajah Rion menjadi cemberut dan menekan alat kompres di atas perutnya.


"Ya, dulu pengalaman dengan mantanku." Rion mendengus. Sebenarnya tidak suka membicarakannya. Karena berhubungan dengan Amerla. Dia tidak mau membuat Mei tidak nyaman. Tapi dia menjawab jujur juga.


Ini adalah buah dari pengalamannya bersama Amerla.


Kalau Amerla sedang datang bulan dulu, dia biasanya akan malas-malasan bekerja, katanya perutnya nyeri, kepalanya pusing dan sering lelah. Jadi saat datang bulan dia memang berangkat ke kantor tapi hanya bermalas-malasan atau tiduran di sofa ruang kerja Rion. Minta dimanja dan diperhatikan. Ya dari situlah dia tahu apa yang harus dilakukan. Saat itu apakah Rion marah, tentu saja tidak. Dia senang hati meladeni apa pun yang diinginkan Amerla. Ya, Rion memang memperlakukan wanita yang dia cintai bak ratu. Caranya bersikap memang mirip seperti ayahnya mencintai ibunya.


"Amerla ya Kak?" Mei malah menyebut nama itu.


"Cih, kenapa kau menyebut namanya."


Padahal aku selalu cemburu kalau kau menyebut nama Serge, tapi kau sepertinya biasa saja kalau nama mantan gila itu disebut. Kau benar-benar belum punya perasaan padaku ya sampai sekarang. Menatap dengan kesal. Mei yang ditatap dengan sorot mata begitu langsung tersentak.


Sepertinya nama Amerla masih menyisa di hati Kak Rion, entah rasa cinta atau benci. Kalau sudah biasa saja, dia pasti tidak akan perduli aku menyebut namanya kan.


"Sudahlah jangan menyebut namanya lagi."


"Baik Kak."


"Aku juga sering melihat ayah melakukannya saat ibu ini datang bulan dulu. Apalagi ibu punya sedikit masalah di kandungannya, jadi kalau ibu sudah datang bulan biasanya akan terjadi kehebohan di rumah."


Rion mengusap-usap perut Mei, memberikan kehangatan. Bagi Mei, sentuhan tangan Kak Rion jauh lebih nyaman dari pada alat kompres.


"Tidak sakit kan? Kau mau tetap tidur di sini?"


Mei mengganguk tersenyum dengan hangat. Mengusap pipi Kak Rion.


Kak, sebenarnya bagaimana Amerla melukaimu dulu, sampai kau bisa berubah.


Saat ini, Mei seperti melihat sosok Kak Rion yang pernah ibu ceritakan padanya. Laki-laki berhati hangat yang sangat mencintai ibunya. Kak Rion memang laki-laki baik, dia sebenarnya sangat baik, dia memperlakukan aku yang hanya sebatas boneka ini dengan cara sangat baik sampai bisa membuat orang salah paham.


Apa yang sudah dilakukan Amerla sampai membuatmu terluka Kak?


"Kenapa? Aku tampan? Aku tahu, kau tidak perlu melihatku dengan ekspresi mau menangis begitu."


"Hehe, ia Kak Rion tampan." Mei meraih tangan Rion yang masih menempel di perutnya. "Terimakasih Kak, untuk semua yang sudah Kak Rion berikan padaku. Aku akan membayarnya, sampai..."


Sampai Kak Rion mendorongku. Aku akan pergi kalau Kak Rion membuangmu.


"Sampai apa?"


"Sampai Kak Rion bosan padaku. Hehe. Aku akan melindungi Kak Rion." Rion tertawa mengejek mendengar kata-kata Mei. "Benar, aku akan melindungi Kak Rion dari wanita jahat seperti Amerla! Aku tidak akan membiarkan dia bisa mendekati kakak lagi. Aku akan mensucikan tubuh Kakak kalau dia menyentuh Kakak lagi. Tidak! Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh Kak Rion." Berapi-api bicara karena cemburu dan marah.


Mei merasa marah pada Amerla, karena wanita itu sudah merubah seseorang yang sebenarnya baik hati dan berhati hangat seperti Kak Rion. Hal jahat apa yang sudah dia lakukan padamu Kak, gumam Mei. Sampai kau menjadi laki-laki dingin dan acuh pada semua orang.


"Wahh, aku bisa mengandalkan mu." Meraih belakang kepala Mei. Lalu mendekatkan bibir Mei ke wajahnya. "Sekarang sebelum melindungiku, cium aku."

__ADS_1


Deg.. deg..


Tapi, kalau tidak ada wanita jahat seperti Amerla apa aku punya kesempatan untuk bersama Kak Rion seperti sekarang. Aaaaa! Entahlah! Di sisi lain, hati kecil Mei berterimaksih. Sungguh sikap yang sangat aneh gumam Mei kesal sendiri pada dirinya.


"Hemm, hemm."


Ciuman masih berlanjut saat hp di atas meja bergetar. Rion melepaskan bibir Mei, sambil melihat hp dengan wajah masam. Mei merangkak meraih hpnya. Kaget saat melihat layar hp.


"Kak, ibu, vidio call!"


Mei segera menarik bajunya yang melorot. Mengikat talinya asal-asalan. Merapikan rambut. Membetulkan piayama handuk yang dipakai Kak Rion dengan tergesa.


Eh, apa!


Rion menarik tubuh Mei untuk ada dalam dekapannya. Lalu membuka panggilan. Untung saja Mei sudah sempat menarik selimut menutupi dadanya. Gadis itu seperti berkejaran dengan waktu dan senam jantung.


"Ibu, hallo. Hehe, apa kabar Bu?"


Ibu terlihat terkejut melihat posisi duduk Mei yang ada dalam dekapan anaknya. Wanita itu tersenyum, dan tertawa kecil sambil menutup mulut.


"Hoho, ibu menggangu kalian ya Nak? Maafkan ibu ya, ibu kangen sama Mei."


Hp sudah berpindah ke tangan Mei. Rion senang aja, karena tangannya bisa bergerak sesukanya sekarang. Sambil mengobrol dan bicara menanggapi ibu, tangannya menyusup ke bawah selimut. Mere*as sesuatu, remas lagi dan lagi membuat Mei menggeliat geli. Bahkan mencubit pinggang Mei dengan nakalnya. Setelah itu mencium tengkuk Mei berulang kali. Semua gerakan itu tidak tertangkap layar hp. Sebenarnya mau kelihatan ibu juga, pasti Kak Rion tidak perduli pikir Mei.


Kak Rion!


"Baiklah, ibu tidak akan menggangu kalian, bersenang-senanglah, jangan tidur terlalu larut, besok kalian bekerja kan?" Ibu melambaikan tangan sebelum menutup panggilan. "Sampai bertemu nanti Mei."


Saat panggilan sudah di tutup, Mei cuma bisa mengelus dada dengan keisengan Kak Rion tadi.


"Sekarang, ibu bahkan lebih merindukanmu Mei." Mencium bahu yang sudah terbuka, selimut sudah melorot. "Sekarang, yang dia ajak pergi bukan aku lagi, tapi kamu." Terus mencium bahu, dan bergeser sampai ke leher. Tapi karena ibu yang mengajak, dia tidak boleh terlalu cemburu kan.


"Hehe, padahal ibu selalu membicarakan Kakak kalau denganku. Awwww. Kak! Aku sedang datang bulan."


Kau tidak lupa itu kan!


"Aku tahu, aku kan cuma menciumi tubuhmu. Aku juga tahu batasannya, tapi. Buka! Biar aku lebih mudah menciumnya." Dengan tidak tahu malu menggigit tali baju Mei. Tapi dia tidak mau membukanya sendiri.


Pelan-pelan, Mei menarik tali baju yang sembarangan dia pasang tadi. Saat mau menggeser tubuh, Kak Rion yang ada di belakangnya sudah menjatuhkan diri. Bagian bahunya tersingkap, piayama handuk turun sampai ke lengan.


Kenapa si Kak? Kenapa kau seksi sekali! Aaaaa! Merilin gila, kau yang harus mengendalikan hasrat dan pikiranmu.


"Sekarang, Buka, pakai bibirmu." Menunjuk tali handuk yang juga diikat sembarangan oleh Mei tadi.


Apa! Tidak!


Dalam sekali tarikan ternyata sudah bisa terlepas, Mei mendongak, melihat seringai di bibir Rion.


"Cium aku, boleh kan kalau cuma cium?" Tertawa mengusap bibir Mei, lalu menggoyangkan dagu. "Tapi semua bagian."


Aaaaaa! Sudah kuduga, kau tidak akan melepaskan ku Kak.


Penutup


Sementara itu di kediaman Presdir Andez Corporation.


Bibi mengetuk ruang kerja ayah Rion, setelah mendengar suara kepala pelayan menyahut dia membuka pintu. Tuan besar menutup map laporan di atas meja.


"Di mana istriku?"


"Nyonya sedang menelepon tuan muda dan nona. Ehm." Meremas jemari ragu. "Maaf Tuan, saya ingin melaporkan sesuatu perihal tuan muda."


Bagi ayah Rion semua hal tentang anaknya jauh lebih penting daripada yang sedang dia baca.


"Bicaralah, kenapa dengannya."


"Sepertinya nona muda minum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan tuan muda."


"Apa!"


"Mohon maaf Tuan, sebaiknya Anda tanyakan kepastiannya dulu pada tuan muda."


Bibi bisa merasakan suhu ruangan menjadi lebih dingin dari saat dia masuk tadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2