Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
70. Panggilan Tak terjawab


__ADS_3

Ruangan yang sepi menyambut kepulangan Merilin. Rumah yang baru beberapa hari dia tempati. Sekarang sudah tidak terasa asing lagi. Aroma ruangan yang wangi, hidungnya seperti sudah menyesuaikan diri. Dia menyukai aroma pewangi yang dipakai bibi untuk mengharumkan ruangan, terasa segar namun juga menenangkan.


Menyeret langkah setelah masuk ke dalam rumah dengan menjatuhkan tubuh ke atas sofa.


Saat masih leha-leha melepas lelah di atas sofa, mata Merilin mengerjap kaget. Dia teringat sesuatu, hal penting yang harus ia lakukan, segera dia berlari ke dalam kamar. Padahal di dalam mobil tadi rencananya akan langsung ke kamar mengambil hp, tapi malah tertarik dengan sofa yang melambai padanya.


Merilin jatuh tersungkur di atas tempat tidur, tangannya merayap di bawah bantal. Syukurlah, masih ada. Karena masih mati sepertinya Rion tidak menemukannya.


Menghidupkan hp sambil bergulingan di tempat tidur. Terlentang, merentangkan tangan. Bunyi pesan masuk setalah hp menyala.


Kenapa banyak sekali pesan masuk.


Merilin melemparkan hpnya karena kaget, ada banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk ke hpnya. Dengan gemetar diraihnya hp, dia takut kalau Rion yang menghubunginya. Bisa mengamuk pasti manusia itu kalau sampai dia tidak mengangkat panggilannya.


Lega, karena bukan Rion. Tapi jadi bingung, kenapa Kak Serge meneleponnya banyak sekali, dan Deandra. Kalau Dean hanya dua kali panggilan. Buru-buru Mei membuka pesan Dean.


"Mei, kamu nggak papa? aku mau menanyakan perihal arsitek taman, Andez Corporation punya arsitek taman terbaik di kota ini kan? bujet mereka berapa ya hehe.?"


Lega karena pertanyaan Dean seputar pekerjaan. Sekarang Merilin beralih pada pesan yang dikirim Kak Serge di bawahnya, ada banyak juga pesan selain panggilan tak terjawab darinya. Merilin sambil terlentang mengangkat hp di depan wajahnya.


Kenapa Kak Ge ya? Apa Kak Rion menyuruhnya, tidak mungkin, kalau memang perintah Kak Rion pasti dia sudah menghubungi telepon kantor.


Pesan Kak Ge, diawali dengan emot menangis, dan stiker permohonan maaf. Deg, kenapa tiba-tiba pesan Kak Ge sangat emosional begini. Merilin mendorong hpnya, menarik nafas pelan menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membaca pesan selanjutnya. Dia duduk, meraih bantal ke atas pangkuannya.


Ada perasaan takut yang langsung menguar.


Apa Kak Ge sudah tahu aku menyukainya, dan alih-alih membalas perasaanku, dia marah dan sedih pada dirinya sendiri. Benar, kalau Kak Ge pasti bisa memiliki perasaan seperti itu, merasa bersalah karena Merilin menyukainya. Merasa bersalah karena hanya bisa menganggap Merilin sebagai adik dan sudah mengecewakan Mei.


Tapi tunggu, darimana dia tahu aku menyukainya. Harven? Tapi tidak ada pesan dari Harven, sudah membuktikan kalau adiknya tidak terlibat apa pun. Merilin menarik hpnya lagi setelah berhasil menenangkan hati. Sudah bersiap membaca pesan Kak Ge apa pun itu.


Deg..deg... tapi setelah dibaca semakin membuat bingung.


"Mei, maafkan kakakmu yang tidak berguna ini, maafkan aku Mei 😭😭"

__ADS_1


Lho, kenapa Kak Ge minta maaf si, memang salah dia apa.


"Kau marah padaku ya Mei? jadi kau tidak mau membalas pesanku😭, kau juga tidak mau mengangkat panggilanku. Maafkan aku Mei, aku tidak tahu akan terjadi hal seperti ini. Maafkan aku Mei, aku mohon jangan membenci kakakku yang tidak berguna ini, aku merasa bersalah dan berdosa Mei, bagaimana caranya aku menebus semua kesalahanku padamu."


Merilin semakin kebingungan dengan pesan panjang yang tuliskan Kak Ge, yang intinya dia menangis karena merasa bersalah dan minta maaf. Tapi, minta maaf untuk apa. Yang jadi frustasi malah Merilin sekarang.


Minta maaf dan jangan membenci Kak Ge, mana mungkin aku bisa membenci Kak Ge.


"Mei, bagaimana ini? Aku merasa sangat berdosa padamu. Apa yang harus kulakukan sekarang pada Rion. Kau tahu kan, aku juga takut pada si gila itu. Maafkan aku Mei."


Kondisi yang sebenarnya dari kiriman pesan Serge yang berderet-deret itu adalah, Serge sudah menyadari kalau tanda kecup-Kecup yang ada di tubuh Rion bukan disebabkan oleh Amerla. Tapi semua tanda itu muncul karena Rion sudah melakukan sesuatu pada Merilin. Rion sudah menyentuh Merilin secara paksa di tempat tidur. Dan Mei yang tidak berdaya pun akhirnya pasrah. Merilin yang marah karena sudah disentuh Rion tidak mau membalas pesan Serge, bahkan telepon Serge pun tidak mau diterima Merilin. Hingga Serge sedang membuat pengakuan dosa dan permohonan maaf.


Intinya Serge merasa berdosa karena telah menjerumuskan Mei dalam pernikahan.


Tapi, karena Serge bicara berbelit-belit dan tidak pada intinya, malah membuat Merilin semakin bingung.


Apa sih! Kenapa dengan Kak Rion? apa mereka bertengkar? kenapa? Karena mantan pacar Kak Rion yang dia temui semalam. Merilin malah pikirannya mengarah ke sana. Saat jarinya mau menekan nomor Serge untuk bertanya, Dean memanggil. Merilin terlonjak langsung mengangkatnya


Dean bicara sambil berteriak, marah dan khawatir karena Mei tidak bisa dihubungi.


"Kau tidak apa-apa kan?" Masih terdengar cemas.


"Ia, aku nggak papa, aku baru sampai rumah dan baru menghidupkan hp."


Setelah Dean mulai tenang dan cemasnya hilang, dia mulai bicara tentang taman kantornya yang akan di renovasi ulang, dan dia adalah penanggung jawab utama.


"Kau punya kenalan yang bisa mengambil proyek ini di luar nama Andez Corporation?" Karena bujet kantornya untuk taman juga tidak terlalu besar.


"Itu tidak boleh, artisek yang ada di dalam Andez Corporation dilarang mengambil proyek berbayar di luar, kalau ketahuan mereka bisa kena pinalti kontrak. Pengecualian untuk proyek amal dan keluarga." Mei langsung menjawab sesuai dasar informasi yang diketahui semua orang di perusahaan.


"Ah, sayang sekali. Sepertinya perusahaanku tidak mungkin memakai jasa kalian." Dean sendu di sebrang sana bicara. "Baiklah aku akan cari perusahaan menengah saja."


"Eh, mau aku tanyakan pada Kak Ge? aku dengar dari beberapa orang kalau kau mendapat rekomendasi dari petinggi di Andez Corporation kau bisa mendapat potongan harga." Angin segar untuk Dean.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Tapi aku nggak janji ya, aku cuma mendengar pembicaraan salah satu rekan kerjaku kapan itu."


"Nggak papa Mei, kau mau membantu aku juga sudah senang." Setidaknya masih ada harapan pikir Dean.


"Aku kirimkan nomor Kak Ge ya, nanti kamu tanyakan sendiri, tapi, aku tanyakan dulu padanya setelah itu aku baru kirim nomor Kak Ge."


"Baiklah Mei sayang. Terimakasih ya."


Sambungnya sudah mau terputus, tapi Merilin memanggil nama Dean dengan suara pelan, membuat Dean yang di sebrang sana menjadi tegang dan cemas.


"Mei, kenapa?"


"De, aku benar-benar minum pil kontrasepsi tanpa persetujuan Kak Rion."


Perihal pil kontrasepsi memang hanya Merilin konsultasikan pada Deandra, meminta pendapat gadis itu, sebenarnya berbagi beban juga, supaya dia tidak ketakutan sendiri.


"Mei, tapi kamu lebih tenang kan sekarang? Kalau ia nggak papa. Nanti setelah hatimu siap kamu bisa mengatakannya baik-baik pada suamimu, aku yakin dia bisa memahami kondisimu." Dean memberi penghiburan.


"Ia, aku masih takut untuk hamil sekarang."


"Kalau begitu nggak papa, tenanglah, suamimu pasti mengerti kalau kau menjelaskan nanti dengan baik-baik."


Akhirnya sambungan terputus, setelah Merilin selesai curhat tentang pekerjaan dan munculnya gunjingan orang-orang yang membicarakannya. Dean berapi-api memarahi orang-orang itu, menyuruh Mei menegakkan kepala.


"Wahhh, aku menantikan hari suamimu mengumumkan pernikahan kalian, biar mulut mereka langsung kicep."


"Haha."


"Memang apa urusannya kau membawa mobil, kau punya baju baru dan tas baru. Dasar iri dengki." Lagi-lagi suara berapi-api Dean terdengar. Merilin tertawa mendengar kemarahan Deandra.


Pembicaraan dengan Dean memang selalu berhasil mengusir kegelisahan di hati Merilin. Dia menjatuhkan tubuh di tempat tidur lagi, meringkuk. Teringat tentang hari di mana dia memutuskan minum pil kontrasepsi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2