Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
105. Rencana Rion


__ADS_3

Di dalam ruang kerja CEO Andez Corporation.


Rion sudah duduk di sofa, dia menyapu ruangannya sekilas. Menatap sudut lemarinya yang tidak terlihat dari arahnya duduk. Melihat kaca jendela, udara siang yang sepertinya terasa panas di luar sana. Dia menghela nafas, mencoba meredakan amarah yang entah kenapa sedikit demi sedikit semakin meletup. Saat waktunya pertemuan semakin dekat. Ketika kedatangan Amerla sudah dikonfirmasi oleh Serge melalui pesan singkat di hpnya. Ada yang menelisik di hatinya, semakin menguat, rasa kesal.


Hari ini dia sengaja menelepon Amerla. Gadis itu senangnya bukan main saat dia bilang dia ingin bertemu.


Benar-benar tidak tahu malu. Sedikit pun dia tidak punya rasa malu. Walaupun dia sudah melupakan kesalahan masa lalunya, tapi, seharusnya dia ingat kan dia sudah menikah. Benar-benar menjijikkan. Rion tidak bisa menyamarkan kebencian yang terlihat jelas menggumpal di wajahnya.


Rion bahkan bernegosiasi dengan senior Mei yang kemarin diinterogasi di ruang HRD. Dia tetap akan dipecat dari Andez Corporation tanpa pesangon. Tapi, dia tidak akan masuk daftar hitam, asalkan dia mengikuti perintah Rion.


Benar-benar sialan, untuk memutus rantai ini aku bahkan mengalah dengannya.


Semua rencana ini ia susun demi Mei, demi gadis itu tidak tergores sedikit pun. Bahkan hanya dari gosip yang bisa saja dilakukan lagi oleh Amerla.


Tugas senior Mei adalah meyakinkan Amerla kalau Rion tidak perduli dengan Merilin. Dan perusahaan hanya fokus pada gosip yang menyeret nama Presdir. Intinya, membuat Amerla berfikir Rion tidak mencintai Merilin dan mengabarkan kalau Rion tidak mengakui Merilin sebagai istrinya kepada para karyawan Andez Corporation. Begitulah yang harus dia lakukan.


Dan sepertinya itu berhasil, karena gadis itu sangat riang menjawab teleponnya tadi pagi. Bahkan sepertinya tidak curiga sama sekali. Amerla yang berbunga-bunga karena berfikir Rion merindukannya.


Dan sekarang waktunya.


Pintu terbuka, membuat Rion menoleh. Dia tertawa geli saat melihat penampilan Amerla yang berjalan mendekatinya. Apa dia pikir aku akan tergoda kalau dia memakai baju begitu. Dasar gila! Bukan kasihan atau apa. Rion semakin jijik karena melihat Amerla semakin tidak tahu malu.


"Kak Rion!"


Amerla semakin mendekat, senyumnya mengembang, aroma parfum menguar. Dia mengibaskan rambut. Sementara di dekat pintu yang tertutup Serge melihat dengan tatapan khawatir.


"Akhirnya Kakak memanggilku juga, aku sudah menunggu Kak." Dengan tidak tahu malu dia duduk di samping Rion. Rion bisa merasakan bau parfum yang menusuk dari setiap gerakan tubuh Amerla. Gadis yang ada di hadapannya memang bukanlah wanita yang dulu dia cinta. Dulu, Amerla tidak begini. Dia imut dan manis, bukan gadis dengan penampilan seronok dengan parfum menyengat. "Kak Rion, Kakak akan kembali padaku kan?" Amerla dengan gerakan tangan cepat, menggengam tangan Rion. "Kakak memanggilku karena merindukanku kan?" Amerla mencium punggung tangan Rion yang dia genggam.


Yang kaget bukan hanya Rion, semua yang ada di dalam ruangan terkejut dengan tindakan agresif Amerla.


"Singkirkan tanganmu!" Suara dingin itu langsung merubah senyum merekah di bibir Amerla. Gadis itu menarik tangannya dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


"Hiks, apa Kak Rion masih marah padaku? Maafkan aku Kak, aku salah. Seharusnya aku mendengarkan Kak Rion dulu dan tidak menuruti keinginan orangtuaku." Terisak sambil menyeka sudut mata yang bahkan tidak mengeluarkan airmata. "Kakak tahu kan, dulu aku tidak punya pilihan. Aku masih sangat menyukai Kak Rion."


Rion tergelak sinis, tidak punya pilihan. Padahal dia ingat sekali hari itu, dia membawa sekoper uang, sambil memohon-mohon seperti pengemis pada Amerla untuk membatalkan pernikahan. Bukankah tidak tahu malu seharusnya ada batasannya.


"Kak Rion, kembalilah padaku Kak. Aku masih sangat mencintai Kak Rion."


Cih, kau mencintai uang Rion kan sekarang. Serge mendengus sengit. Si plin plan. Di satu sisi dia kasihan dengan Amerla yang akan dipermalukan, dilain pihak dia juga kesal bukan main pada gadis yang tidak tahu malu itu.


"Erla, kau atau pun aku sudah menikah." Rion berusaha menekan suaranya, supaya tidak terlihat emosi.


Amerla menutup mulutnya, terdengar suara tawa, seperti gadis malu-malu tertawa. Suaranya yang manis dan dibuat-buat mulai mengisi udara di ruang kerja.


"Kakak malu juga kan dengan Merilin, gadis seperti itu bisa-bisanya jadi istri Kak Rion. Sampai hari ini saja Kak Rion tidak mengakuinya kan?" Sekali lagi Amerla mendekatkan tangannya, kali ini menyentuh kaki Rion. "Untuk itulah Kak Rion memanggilku kan. Karena Kak Rion masih mencintaiku. Aku Erla Kakak, sampai hari ini juga begitu Kak." Tangan Amerla bergerak mengusap paha Rion. "Merilin itu bahkan tidak pantas berdiri di sebelah Kak Rion."


Sudah jelek, penampilannya pun kampungan, gumam Amerla.


"Lalu suamimu?" Rion masih berhasil menekan suaranya.

__ADS_1


"Aku akan meninggalkannya, dia tidak bisa dibandingkan dengan Kak Rion." Setelah merasa Rion tidak menolak sentuhannya, Amerla menggeser tubuhnya, semakin mendekat. Dia mengusap-usap paha laki-laki di depannya lagi. Dalam hati dia tertawa, memang ada yang bisa menolak wanita secantik dia. Saat tubuhnya tinggal sejengkal lagi, tangan Rion bergerak dengan kasar menepis tangannya.


Amerla tersentak, padahal tinggal sedikit lagi dia bisa memeluk Kak Rion, rencananya setelah memeluk dia akan menangis tersedu-sedu. Tidak perduli dengan pandangan Serge di dekat pintu yang menatapnya dengan muak, dia akan mencium Kak Rion. Tapi, tapi kenapa dia malah mendorongku lagi.


"Jadi, karena pernikahanmu tidak bahagia, kau mau kembali padaku?" Kata-kata sinis Rion kembali. Amerla tergagap. "Kau sampai memfitnah Mei istriku?" Suara dingin yang menyayat seperti ucapan Kak Rion diawal tadi, langsung membuat tengkuk Amerla merinding. "Kau bahkan membawa nama ayahku, untuk menjatuhkan nama baik Merilin? Benar begitu?"


Amerla mundur menggeser tubuh. Tangannya bergetar. Dia memutar otak dengan cepat, berusaha mencari alasan.


"Apa? Gosip Merilin, yang Kak Rion maksud gosip apa? Aku tidak ada hubungannya dengan itu, aku saja tidak tahu apa yang Kak Rion bicarakan." Kenapa ini, bukannya dia tidak perduli dengan gosip tentang Merilin sialan itu. Amerla mulai diserang cemas. Tidak, tidak, aku harus tenang. Tidak ada bukti apa pun kalau aku terlibat. "Kak, aku datang kemari karena undangan Kak Rion kan? Aku tidak tahu gosip apa tentang Merilin."


Rion mengangkat tangannya. Lalu Serge terlihat membuka pintu. Saat pintu terbuka, muncullah seorang gadis dengan wajah tertunduk dia masuk ke dalam ruangan. Tangan dan kaki Amerla semakin gemetar ketika mengenali siapa yang baru saja masuk.


"Si, siapa dia Kak?"


"Kau tidak kenal dia? Padahal dia bilang, dia mendapatkan gosip Merilin simpanan petinggi perusahaan darimu."


"Apa!" Amerla bangun dari duduk. Seperti orang kesetanan dia tiba-tiba menyerang senior Mei. Satu tamparan mendarat di pipi senior Mei, setelah itu tubuhnya di dorong dan jatuh terduduk. "Dasar wanita sialan! Apa kau dibayar Merilin untuk memfitnahku. Aku tidak kenal dia Kak. Aku tidak tahu siapa dia!"


Serge sampai bingung mau berekspresi bagaimana saking terkejutnya. Perempuan yang berkelahi memang menyeramkan gumamnya Belum rampung dengan rasa kaget, senior Mei bangun dari jatunya, menyalak marah, dan menampar balik Amerla, menjambak rambut panjang Amerla. Amerla menjerit-jerit. Keduanya dorong-dorongan dan saling menjambak. Kekuatan keduanya sepertinya seimbang.


"Dasar sialan kau Amerla, gara-gara kau aku harus kehilangan pekerjaanku. Wanita sialan! Sekarang kau bilang aku mengfitnahmu. Wanita iblis, wanita jahat, sialan kau!" Senior Mei sampai lupa dia ada di mana. Matanya yang digelapkan emosi tidak melihat Rion maupun Serge.


"Awwww, awww. Lepaskan." Amerla menjerit kesakitan.


Bukannya melepaskan, tarikan rambut malah semakin mengeras. Jeritan kesakitan keduanya yang memenuhi ruangan sekarang. Serge yang panik, sementara Rion hanya melihat tak bergeming. Dia hanya memiringkan kepala, lalu bertopang dagu. Dasar sialan! kau malah menonton! Serge memaki kesantaian Rion. Serge bingung mau melerai dari mana.


"Berhenti!" Serge yang menjerit dengan suara melengking. Membuat yang sedang berkelahi membeku. Mereka melepaskan tangan satu persatu lalu mundur. Masih mengaduh kesakitan sambil memegangi kepala. Amerla bahkan sampai jatuh terduduk menahan sakit yang menjalar dari kepala ke seluruh tubuh.


"Kak, aku tidak pernah bilang kalau Merilin punya hubungan dengan ayah Kak Rion. Aku bersumpah Kak."


"Dasar wanita tidak tahu diri, kenapa kau diam saja saat aku bilang Mei simpanan Presdir, padahal kau tahu Merilin istri Tuan Rion." Senior Mei menyalak lagi. Dia sudah hancur, dia pun ingin melihat Amerla hancur bersamanya.


"Kak Rion. Hiks. Hiks, aku mohon Kak. Aku melakukannya karena aku mencintai Kak Rion. Aku mau Kak Rion kembali padaku. Aku tidak rela, wanita jelek seperti Merilin yang menjadi istri Kak Rion. Aku melakukannya demi Kak Rio juga Kak."


Rion tertawa menanggapi kalimat panjang Amerla. Lalu dia melihat Amerla dengan tatapan jijik dan muak.


"Padahal kau tahu, sikapmu bisa menghancurkan Kerja sama yang sedang dilakukan Andez Corporation dan Andalusia Mall milik suamimu."


"Aku tidak perduli dengannya Kak, aku muak dan benci pada Ibram."


Kata-kata Amerla membuat Rion teringat dengan kejadian hari itu, apa dulu aku juga semenyedihkan ini saat memohon padanya. Cih, Rion dimasa lalu kau sungguh menyediakan sekali. Rion di masa sekarang benar-benar sangat malu pada dirinya sendiri saat itu.


Senyum samar muncul dibibir Rion setelah dia mengatai dirinya sendiri.


"Anda sudah dengar kan sekarang, alasan saya ingin membatalkan kerja sama kita?" Rion menatap lemari yang ada di ruang kerjanya.


Amerla mengikuti arah pandangan Rion kemana tertuju. Saat dia melihat sebuah sepatu menyembul, dia tersentak, ternyata selain Kak Serge masih ada orang di dalam ruangan ini. Saat wajah orang yang bersembunyi itu terlihat, wajah Amerla langsung pucat seperti orang kehabisan darah.


Ibram suaminya berdiri dengan tubuh gemetar menahan amarah, wajahnya merah karena ledakan emosi yang masih berusaha dia tahan.

__ADS_1


"Kak, Kak Ibram." Amerla gemetar.


Rion bangun dari duduk. Berjalan menuju meja kerjanya, mengeluarkan draf kerjasama yang sudah mereka tanda tangani.


"Sekarang Anda tahu kan, karena alasan apa saya mau membatalkan kerja sama ini, dan tidak bersedia membayar pinalti kontrak sepersen pun." Rion sinis bicara sambil membanting map ditangannya. "Istri Anda sudah menggoda saya dengan tidak tahu malunya, hanya karena dia pernah menjadi mantan saya di masa lalu, istri Anda sudah memfitnah istri saya, bahkan dia sudah mencoreng nama baik ayah saya yang seorang Presdir Andez Corporation." Rion bisa merasakan amarah yang meluap-meluap dari CEO Andalusia Mall. Tapi, memang itu tujuannya bicara seperti ini. "Saya tidak menuntut ganti rugi bukankah Andalusia Mall sudah beruntung."


Amerla tidak punya keberanian untuk melihat ke arah suaminya. Senior Mei yang melihat dan mendengar semua yang dikatakan Rion ikut tersentak kaget, rupanya dia terseret ke dalam permainan Amerla. Rasanya dia semakin ingin menjambak dan mencakar wajah gadis itu.


"Bawa istri Anda dari sini, dan sebaiknya peringatkan dia dengan baik. Kalau sedikit saja dia berani menyentuh istri saya Merilin, akan aku pastikan kalian hancur bersama-sama. Bukan hanya dia, tapi juga Andalusia Mall. Sekretaris Serge akan mengurus pembatalan kerja sama. Aku tidak mau terlibat apa pun dengan kalian."


Dengan wajah malu, bahkan tidak bisa membela diri Ibram menundukkan kepala dengan tubuh tertunduk di depan Rion.


"Maafkan saya Tuan, ini kesalahan saya yang tidak bisa mendidik istri saya. Terimakasih dengan kebesaran hati Anda tidak menuntut Andalusia Mall." Sekali lagi dia menundukkan kepala, dengan rasa malu yang teramat sangat.


Kenapa Ibram bisa semalu itu? Karena tadi dia sudah sesumbar. Bahkan menantang Rion saat laki-laki itu mau membatalkan kerja sama. Rion yang memakai alasan Amerla, tentu baginya alasan itu sangat dibuat-buat.


"Istri saya tidak mungkin seperti itu Tuan Rion, Amerla tidak akan melakukan hal seperti itu. Dia itu gadis baik hati dan jujur."


Sekarang, seperti kotoran dilemparkan kewajahnya. Karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri semua kelakuan Amerla.


Rion tidak bereaksi, bahkan saat Amela yang diseret paksa keluar oleh Ibram masih memanggil namanya dengan memohon-mohon. Saat Ibram menarik rambut Amerla supaya gadis itu berhenti berteriak dan mengikutinya keluar, Serge yang merasa kasihan bicara.


"Tuan Ibram!"


"Ge..."


Akhirnya Serge hanya diam saja, melihat Amerla yang ditarik paksa keluar.


"Aku, aku hanya kasihan padanya. Kau kan tidak perlu sekejam ini padanya."


Rion melihat senior Mei yang masih mematung, dia shock melihat Amerla yang dijambak suaminya.


"Kau, keluar!"


"Ba.. baik Tuan." Dia menunduk lalu melesat keluar.


Setelah keheningan itu Rion menatap Serge. Laki-laki berhati lembut itulah Serge. Dalam hal apa pun. Bahkan pada musuhnya sekalipun, Rion percaya, kalau Serge bahkan bisa mengalah pada musuhnya.


"Kau kasihan padanya?"


Serge tidak menjawab, tapi dari wajahnya yang sendu saja sudah jadi jawaban.


"Dia sudah menyakiti Mei, kalau aku tidak bertindak sejauh ini, entah apa yang bisa dia lakukan pada Mei."


Serge tetap membisu, dan akhirnya mengiyakan. Bahkan berterimakasih karena Rion sudah melindungi Merilin.


"Pekerjaanmu akan semakin banyak Ge, kau bahkan akan ikut memakinya nanti." Rion tertawa memukul setumpuk draf di depannya. Bahkan desain dari para arsitek pun sudah beberapa yang masuk. "Aku mau menjemput Mei."


Ah, sialan! Kau Amerla! Serge bahkan sudah memaki sekarang, melihat tumpukkan pekerjaannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2