
Lala dan Getra kembali memasuki ruang perawatan Dirga, dengan tenang keduanya kembali ketempat duduk semula.
"Bisa ceritakan semua pada kami?" Tanya Resa.
Lala memulai ceritanya. "Anak saya, bukan anak Dirga, tapi anak sahabat Dirga," ucap Lala.
"Anak kamu Naff?" Sam menyela begitu saja.
"Apa?! Kenal saja tidak bagaimana mungkin anakku!" Arnaff protes.
"Bukan, ayah anak saya adalah Romi," sela Lala.
"Malam itu Romi akan datang menjemput saya, dia ingin menikahi saya, tapi ada sesuatu yang menimpa Romi," terang Lala.
"Romi mau menikah? Itu tidak mungkin! Dia orang yang membenci komitmen pernikahan, bagaimana dia mau menikah? Paling dia kabur dari tanggung jawab!" sela Arnaff.
"Romi yang saya lihat pertama kali, memang Romi seperti itu, sedang Romi yang saya kenal, sangat berubah!" protes Lala.
"Kenapa Dirga yang menikahimu?" tanya Sam.
"Lala maupun Dirga tidak bersalah, keduanya hanya terjebak, dan harus menjalin ikatan pernikahan." Getra mulai menceritakan tragedi yang menimpa Romi malam itu, hingga dia menjebak Dirga, sehingga Dirga dan Lala menikah karena desakan warga yang marah, karena di wilayah mereka ada yang melakukan zina.
"Ternyata Syafi mengetahui pernikahan diam-diam kami sejak lama, pertemuan di jalan, pertemuan di Rumah Sakit, dan bertemu saat malam bday party. Syafi tahu, tapi dia diam," terang Lala.
Resa tercengang, selama ini Syafi menyembunyikan luka dibalik keceriaanya.
"Sebelum pergi, Syafi mendatangi saya, meminta saya membahagiakan Dirga, bagaimana Dirga bisa bahagia jika dia pergi, kebahagiaan Dirga hanya dirinya."
"Malam pesta ulang tahun itu, harusnya saya tidak datang, Syafi pasti berpikir saya ada di sana karena saya istri kedua Dirga." Lala tidak bisa lagi menahan air mata yang ingin lepas dari pelupuk matanya.
"Kenapa malam itu kamu pergi dengan deraian air mata?" Sela Arnaff.
"Saya sakit, terbayang perasaan Syafi kalau dia tau Dirga menikah lagi, sebagai perempuan, walau saya perempuan yang buruk! Tidak akan rela berbagi suami dengan wanita manapun di dunia ini! Saya sakit terbayang rasa sakit itu, dan saya sangat membenci diri saya, kenapa saya jadi racun dalam rumah tangga orang."
Getra mengusap punggung Lala, memberi kekuatan pada adiknya.
"Maafkan saya, saya juga tidak ingin ini terjadi, tapi takdir mempermainkan saya, hingga saya terjebak dalam ikatan ini." Lala mengusap air matanya.
Resa mendekati Lala, duduk di samping wanita itu dan memeluknya. "Aku sangat faham posisi kamu. Aku juga memahami posisi Dirga." Resa menoleh kearah Sam. "Sayang … tolong kamu utus anak buah kamu untuk mencari Syafi."
"Sudah, beberapa anak buahku yang ada di kalimantan sudah siap untuk mengawasi Syafi," jawab Sam.
__ADS_1
"Sekarang, kita pancing musuh Romi keluar, apa kalian mau membantuku?" Tanya Getra.
"Bantuan seperti apa yang kamu inginkan?" Tanya Sam.
Getra mulai menceritakan rencananya.
"Fiy …."
Suara lemah itu terdengar dari arah ranjang Dirga. Semua pun menoleh kearah Dirga.
Arnaff langsung mendekati Dirga. "Hei bangun, masa jagoan gitu aja K'O, gimana kamu memperjuangkan Syafi kalau kamunya masih lemah," ucap Arnaff.
Perlahan Dirga membuka matanya, dia terlihat kaget melihat banyak orang di sekitarnya.
Sam langsung mendekati Dirga dan memeluknya. "Maafkan aku, aku menghakimi mu, tanpa bertanya padamu, aku sangat faham bagaimana tersiksanya dirimu."
"Saya juga yang salah Tuan, saya merahasiakan ini karena tidak ingin melukai hati Syafi dengan duri, karena adanya pernikahan ini, ternyata saya malah melukai hatinya dengan pedang, karena dia tahu rahasia yang saya pendam. Sebelumnya saya berharap, sebelum Syafi tau, saya sudah menemukan Romi, tapi--" Dirga kesulitan bicara, rahangnya terasa sakit digerakkan.
"Ini sudah 3 jam, sebentar lagi Syafi akan mendarat di Banjarmasin." Ucap Sam.
"Handphone kamu, Dirga. Dari tadi berbunyi terus, jangan bilang itu dari istri ketiga kamu!" oceh Arnaff.
"Owh, dari group chat kampus Alumni angkatan Syafi, dua bulan yang lalu, aku membaca ada pesan masuk, pemberitahuan kalau akan ada reuni, aku nggak mau Syafi pulang untuk reuni, aku keluarkan nomer Syafi dari group itu, dan meminta masukkan nomer yang baru."
Sam menepuk jidadnya, karena kelakuan Dirga. "Kalau Syafi tau, dia makin marah padamu!"
"Reuninya kapan?" tanya Arnaff.
"Besok."
"Semoga Syafi tidak tau, kalau dia tau ada reuni kampus dia, maka makin besar kemarahan dia," gerutu Resa.
Hanphone Sam berdering, terlihat beberapa foto kiriman anak buahnya pada handphonen-nya.
"Syafi sudah sampai." Sam memperlihatkan foto Syafi pada Dirga.
"Wajah Syafi sangat pucat, apa dia sakit?" Sela Arnaff.
"Dia sering mabuk perjalanan, kadang menuju sekolah saja dia sering mual dan pusing," sela Dirga.
Foto terakhir, terlihat Syafi muntah di dekat tong sampah.
__ADS_1
Sedang di belahan bumi lain.
Syafi memandangi awan yang terlihat dari kaca pesawat. Kenangan indah bersama Dirga sangat jelas dia lihat, bayangan Dirga dan Lala juga menghiasi pikirannya.
"Aku akan memulai hidupku kak, aku akan berusaha bahagia tanpa kakak." Syafi perlahan memejamkan kedua matanya.
Entah berapa lama Syafi tertidur, saat dia terbangun telinganya disapa suara pengumuman kalau pesawat sebentar lagi akan mendarat.
Syafi sangat bahagia, akhirnya pesawat ini berhenti juga, perutnya sangat lapar, dia segera beranjak, ikut turun dari pesawat, berjejal bersama penumpang pesawat yang lain. Perjuangan begitu extra, badan lemas, kepala berdenyut, dan mual juga masih menyiksanya, padahal isi perutnya sudah tidak ada apapun lagi untuk di keluarkan.
Syafi menghentikan langkahnya, duduk kembali di salah satu kursi penumpang kosong yang dia lewati, dia mengambil kantung muntah, dan terus mengeluarkan muntahan air liur yang terasa sangat pahit. Merasa lebih baik, Syafi meneruskan langkah kakinya.
Angin deras menerbangkan ujung kerudung pashmina yang Syafi kenakan. Kedua matanya terpejam menikmati hebusan angin yang menyambutnya.
"Salamat datang, di Banjarmasin saribu sungai, urangnya ramah, panaguran pangurihingan …." Syafi memantapkan langkah kakinya, memulai langkah hidup baru yang akan dia jalani.
"Emm!" Syafi menahan sesuatu yang berusaha keluar dari mulutnya. Melihat ada tong sampah di depannya, Syafi segera ke sana menumpahkan apa yang tersisa dari perutnya.
Merasa lebih baik, Syafi melambaikan tangannya pada salah satu mobil taksi yang menunggu calon penumpang mereka.
Syafi segera masuk ke dalam taksi. "Paman antarakan ulun ka warung makan paparak sini, parut ulun lapar banar," pintanya.
(Paman, antar saya ke warung makan didekat sini, perut saya sangat lapar.)
"Handak nang di mana ding?" tanya supir taksi.
(Maunya yang di mana, dek?)
"Barang haja paman-ai." Syafi memposisikan dirinya dengan nyaman.
(Di mana aja boleh.)
Mobil taksi itupun perlahan melaju meninggalkan area Bandara. Syafi diantar ke sebuah rumah makan sederhana. Dia segera membayar ongkos taksi, setelah turun dari taksi, Syafi memacu cepat langkah kakinya menuju warung makan yang ada di depannya.
Saat ini dia hanya ingin makan, tidak mementingkan harus menu apa, yang penting nasi hangat dan segelas es jeruk untuk melegakan rasa eneg karena mabuk perjalanannya.
*****
Mohon maaf telat, signal kadang susah di tempat aku.
Mohon maaf juga, kalau mendekati akhir ceritanya hambar atau kurang nendang, inilah kelemahanku dalam menulis susah bikin ending yang berkesan.
__ADS_1