Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 47


__ADS_3

Jam pelajaran di mulai, semua guru langsung menuju kelas  mereka masing-masing. Tak terkecuali Syafi. Dia segera masuk ke kelasnya. Semua muridnya terlihat manis. Tapi satu yang terlihat mendung, Syafi berusaha santai, menaruh buku pelajaran yang dia bawa keatas meja. Mata Syafi masih tertuju pada Nadira. Anak itu kehilangan keceriaannya lagi. Mata Syafi memandang kearah pojokan, di mana tas anak-anak di simpan. Hatinya seketika kesal, melihat boneka beruang mini yang jadi gantungan tas Nadira sudah tidak ada. Syafi tidak jadi mengajar, dia


langsung keluar dari kelas. Tidak lama Syafi kembali bersama Kepala sekolah dan satu guru yang lain.


Syafi memandangi anak-anak yang masih asyik dengan imajinasi mereka. “Anak-anak, tolong ambil tas kalian masing-masing. Setelah itu, kalian berbaris ya … sepertinya di kelas ini ada yang nakal. Miss tidak suka anak-anak kesayangan miss jadi orang nakal.”


“Baik miss.” Semua anak-anak begitu semangat melangkah mengambil tas mereka masing-masing.


Satu per sat utas anak-anak didiknya Syafi periksa. Hatinya terasa nyeri melihat boneka beruang kecil warna biru ada di tas murid yang lain. bukan cuma itu, Syafi menemukan wadah berisi sandwich yang sebelumnya dia berikan pada Nadira, malah dia temukan di tas anak yang lain lagi, belum juga cukup kejutan yang dia temukan. Dia menemukan boneka beruang mini milik Nadira dalam tas murid yang lain.


*Ya salam … bagaimana masa depan anak-anak ini, masa kecil mereka saja seperti ini. Ingin sekali berteriak, tapi mereka anak-anak*.


Syafi menoleh kearah Kepala sekolah dan satu guru lainnya. “Bagaimana ini bu. Barang


ini milik Nadira.” Syafi memperlihatkan barang yang dia temukan pada tas murid yang lain.


“Kita tidak bisa menuduh sembarangan miss Aurel, barangkali Nadira yang memberikan langsung pada teman-temannya,” sela guru yang lain.


“Mari kita pastikan miss Corine,” tantang Syafi. Syafi langsung mengambil tiga tas itu, mengangkatnya ke udara. “Siapa pemilik tas ini, akan miss kasih hadiah, ayok pemilik tas … ambil tas kalian,” ucap Syafi.


Terlihat di sana tiga orang anak cantik berjalan kearahnya. “Itu punya saya miss,” ucap tiga anak itu bersamaaan.


Syafi menurunkan tangannya, dia mendekatkan yang tadi dia pegang pada tiga anak itu, masing-masing anak mengambil tas mereka masing-masing.


“Mahza, kenapa kamu bawa dua bekal?” tanya Syafi.


“Lagi pengen saja miss,” jawabnya.


“Bawa dari rumah atau di kasih teman?” tanya Syafi lagi.


“Bawa dari rumah miss.”


“Mahza boleh kembali, nanti hadiahnya miss kasih besok ya ….”

__ADS_1


“Iya miss.” Mahza segera kembali ke kursinya.


“Cordelia, boneka beruang pink kamu cantik banget, beli di mana sayang?” tanya Syafi.


“Momy dan dady yang belikan, miss.”


“Kalau Aresya?” Syafi bertanya pada anak yang satunya.


“Aku juga di belikan papa mama, miss.”


Syafi tersenyum, dia mempersilakan anak-anak itu kembali. Syafi menoleh kearah dua guru yang ada di sampingnya. “Saya tidak asal menuduh bu. Sandwich itu saya yang kasih buat Nadira, Nadira bilang bekalnya dia mabil trio itu.” Syafi meng isyarat pada tiga anak yang tadi dia tanya. Syafi melangkah menuju mejanya. “Ini buktinya, sandwich yang sama dan label yang sama. Untuk lebih jelas lebih baik ibu panggil orang tua keempat anak itu.”


Kepala sekolah dan Corin terlihat bingung.


“Sebelum ini menjadi, lebih baik kita tegas sekarang. Usul saya, ibu tanya saja orang tua murid apakah benar mereka memberikan barang ini, demi memastikan. Masalah anak-anak, saya akan tangani dengan cara saya,” ucap Syafi.


Kepala sekolah dan miss Corin segera pergi dari kelas Syafi, sedang Syafi meneruskan mengajarnya yang seharusnya dia mulai sejak tadi. Tak ada gangguan selama Syafi mengajar, tidak terasa bel tandanya waktu istirahat berbunyi. Semua anak segera menuju tas mereka mengambil bekal mereka, sedang beberapa anak lain langsung keluar kelas. Terlihat pemandangan baru, Gavin dan Gilang juga menenteng bekal mereka.


“Mama sakit miss, kata papa mama sakit karena menunggu kedatangan adik bayi buat kami.”


“Owh, Wah Gavin dan Gilang akan punya adek ya, selamat sayang.”


Kedua anak laki-laki itu segera pergi meninggalkan kelas. Syafi mengambil wadah yang berisi sandwich, dia segera memberikannya pada Nadira. “ Mau menikamti bekal bersama miss?” tawar Syafi.


“Bekal aku diambil mereka lagi,” ringis Nadira.


“Masih ada bekal ini buat anak cantik.” Syafi menggoyangkan wadah yang dia serahkan.


“Tapi pinn dan pinky di ambil mereka juga.”


“Pin dan Pinky nanti pasti kembali, Nadira harus semangat dong ….” Syafi terus berusaha membujuk anak itu, akhirnya anak itu mau ikut dengannya. Akhirnya Nadira luluh dengan rayuan Syafi. Mereka segera menuju taman, menikmati bekal yang mereka bawa.


Suara teriakkan anak-anak dan tawa mereka terdengar di penjuru arah, Anak-anak sultan ini banyak yang tidak di tunggu oleh pengasuh atau orang tua mereka.

__ADS_1


“Waw, kamu memang wanita idamanku, Fiy. Sekarang saja kamu sudah latihan jadi ibu yang baik.”


Syafi menoleh kearah suara itu berasal, terlihat Athan berjalan bersama Mayfa menuju kearahnya.


“Enak saja, aku ini babysitter kalian, ini anak kalian dan aku yang mengasuhnya,” oceh Syafi.


Athan duduk di samping Nadira, kini posisi Nadira berada di tengah-tengah antara Syafi dan Athan. “Potret bayangan keluarga Bahagia,” gumam Athan.


“Athan … jangan ganggu aku, aku ini sekarang—”


“Selama hubungan kalian hanya sebatas pendamping, selama itu pula aku akan berjuang meraih cinta kamu Fiy,” ucap Athan.


Syafi terdiam, dia berusaha tidak memerdulikan ucapan Athan. Athan mengalihkan keadaan canggung ini, dia meng akrabkan diri dengan Nadira, keadaan di sana menjadi lebih santai. Nadira terlihat ceria bisa berteman dengan tiga gurunya.


Keceriaan menyelimuti keadaan taman itu, kebagaiaan juga tampak jelas terlihat dari wajah Nadira. Berbeda jauh dengan keadaan di ruangan kepala sekolah. Orang tua ketiga anak itu menghadap kepala sekolah, sangat malu dan kecewa dengan perbuatan anak mereka.


“Maafkan kami, Nyonya Leti, kami tidak tau sama sekali.” Ucap salah satu orang tua anak itu.


“Jangan di marahi bu, nasehati secara halus, saya sedih bukan karena barang yang diambil, tapi anak sepolos mereka bisa berlaku demikian.” Leti mengusap wajahnya.


Urusan para orang tua juga selesai, pihak sekolah merasa malu kejadian seperti ini terjadi di lingkup sekolah dan mereka tidak menyadarinya. Tiga anak itu terbukti mengambil barang Nadira, setelang mendengar langsung cerita dari orang tua anak-anak itu dan cerita nenek Nadira, kalau boneka Nadira selalu hilang. Menindak tegas juga sulit, mereka masih anak-anak.


*


Di taman sekolah.


Mata Syafi tertuju kearah trio usil bermain, sesekali matanya ter-arah pada Nadira yang bermain bersama Gavin dan Gilang. Syafi mulai menceritakan kejadian di kelasnya pada Mayfa. Syafi meminta bantuan Mayfa untuk menakuti secara halus trio centil itu.


“Ini yang aku pikirin dari tadi, memberi pelajaran secara halus, tapi mereka fahami kalau perbuatan mereka itu salah. Menakuti tapi tidak membuat mereka ketakutan berlebihan,” ucap Syafi.


“Aku akan datang ke kelas kamu, bagaimana caranya, nanti kamu ikutin aja, kamu ‘kan miss drama. Pasti faham dengan Drama aku nanti.”


Jam istirahat berakhir, Syafi dan Mayfa mengajak murid-murid mereka segera masuk ke kelas.

__ADS_1


__ADS_2