Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bonchap 4


__ADS_3

Mobil yang membawa Mayfa dan kedua orang tuanya perlahan berhenti di sebuah rumah dengan gaya minimalis. Samar terdengar tangisan bayi dari arah rumah itu.


"Ini rumah Syafi Fa?" tanya Pak Said.


"Bukan, ini rumah tetangganya." Mayfa segera turun dari mobil.


"Lah, kalau rumah tetangganya ngapain ke sana Fa ...." protes Pak Said.


"Lah iya rumah Syafi lah Yah, masa rumah orang." Mayfa langsung menekan bel rumah itu.


"Ayah ih kayak nggak tau anaknya gimana aja!" sela Rosalina.


Samar terdengar suara kunci yang berderak, dan sesaat kemudian pintu rumah itu terbuka.


"Assalamu'alaikum," salam Pak Said.


"Wa'alaikum salam." Dirga tersenyum bahagia melihat 3 orang yang datang berkunjung ke rumahnya. Dia langsung menyalami Ayah Mayfa.


"Pak Said, bu Rosalina. Ya salam ... Aku sangat bahagia melihat kalian," sambut Dirga.


"Apa kabar Dirga?" tanya Pak Said.


"Alhamdulillah sangat baik dan sangat bahagia. Ayo semuanya masuk." Dirga mengajak ketiga tamunya masuk.


Saat memasuki rumah itu, sebuah foto Dirga dan Syafi yang berukuran besar menyapa pandangan mereka.


"Masya Allah, itu Syafi?" Rosalina terpukau melihat Syafi dengan gaun pengantin.


"Iya bu, itu foto saat resepsi pernikahan kami."


"Maaf ya Dirga, kemaren pas resepsi kami tidak bisa hadir, saat itu kami mempersiapkan pernikahan kakak pertama Mayfa dan kakak kedua Mayfa."


"Harusnya saya yang minta maaf, karena itu Mayfa tidak bisa pulang lebih awal," sesal Dirga.


"Eh ada tamu ya?" Syafi terlihat menuruni tangga. Seketika sepasang matanya berbinar melihat 3 orang yang ada bersama Dirga.


"Ayah Said, Bunda Ros ...." Syafi mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Rosalina.


"Aku terharu lihat kalian mengunjungi kami," ucap Syafi.


"Selamat ya Fiy, kamu diberi anugrah terindah dari Allah, sepasang bayi kembar yang cantik." Pandangan Rosalina tertuju pada 2 bayi yang tengah digendong oleh 2 babysitter.


"Alhamdulillah bunda."


"Gue serasa anak tiri, baru beberapa menit ketemu Syafi, bunda sudah lupa aja ama anaknya," protes Mayfa.


"Ah biasa May, kan pesona orang baru luar biasa, apalagi kek aku ini," ucap Syafi.


"Ya salam, Narsisnya Syafi nggak ilang juga toh ...." ucap Pak Said.


"Nggak bakalan ilang yah, malah lebih parah!" ucap Mayfa.


"Ayah udah, jangan natap aku terus, sekarang aku sudah ada yang punya, salah Ayah sendiri kemaren nolak aku, padahal aku sudah kasih diskon 99 persen buat Ayah," goda Syafi.


"Aku baik, aku manis, aku imut, aku kalem, anggap ni makhluk nggak ada," oceh Mayfa.

__ADS_1


Dirga tersenyum dan menarik Syafi kedalam pelukannya. Dia tidak bisa marah, karena inilah Syafinya. "Eh sudah, ayo Pak kita duduk," ajak Dirga.


Mereka semua duduk santai di ruang tamu, Adah datang menjamu tamu majikannya.


"Mbak Adah, ini kedua orang tuaku," ucap Mayfa.


"Non Mayfa jadi nikah toh ...." goda Adah.


"Amiin nikah bi, tapi belum ada calon. Kedua orang tuaku datang ke sini karena nikahan sepupu aku, bukan aku," ucap Mayfa.


"Kirain mau lamaran neng Mayfa di sini," goda Adah.


"Kata saudara Kamal, Syafi ada pulang ya saat hamil?" sela Rosalina.


Syafi seketika tertawa kaku, dia teringat kepulangannya saat dia dan Dirga mengalami masalah. "Ah iya bund, maaf ya nggak mampir, karena aku kangen ... Banget sama kampung halaman Nenek aku, jadi pulang buru-buru."


"Bunda kira kamu lupa sama kami Fiy."


"Mana mungkin aku lupa sama kalian, kalian adalah dunia Mayfa, dan kalian juga jadi bagian kisah aku dan Dirga."


Syafi menunduk sejenak, merasa bersalah karena tidak mengunjungi keluarga Mayfa saat kembali ke Banjarmasin.


"Iya, tidak masalah Fiy, yang penting kita saling mendoakan," ucap Rosalina.


"Tidak menanyakan kabar bukan berarti tidak kangen bunda, tapi ada kesibukan, maaf ya bund ...." sesal Syafi.


"Bunda, menurut Bunda tu bocil ada yang mirip Syafi nggak?" Mayfa mencoba merubah pembicaraan, karena kepulangan Syafi waktu itu bukan hal yang bahagia.


"Sepertinya keduanya mirip Dirga," ucap Rosalina.


"Kamu itu juga cantik," puji Dirga pada Syafi.


"Cantik di mata lu Dir, di mata gue kagak!" celoteh Mayfa.


"May ... Semua ciptaan Tuhan itu indah, cantik, elok ...." tegur Pak Said.


"Iya maaf cing abdel ...." ucap Mayfa pada Ayahnya.


"Mai ... Itu Ayahmu loh ...." ucap Dirga.


"Beuh ... Belum tau dia, bagi anaknya, seorang Ayah itu bukan hanya sekedar Ayah, tapi teman dekat, teman gelud, sahabat, apalagi ya?" Mayfa berusaha mengingat kata-kata bijak tentang seorang Ayah.


"Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya," sambung Syafi.


"Tapi maaf Yah, Engkau bukan cinta pertamaku," ucap Mayfa.


"Song oung kamu May, sama Ayah sendiri gitu ...." oceh Syafi.


"Song oung an elu lah fiy dari gue." Pandangan Mayfa kembali tertuju pada kedua bayi Syafi.


"Semoga kelakuannya ngademin kayak Dirga nggak ngeselin kayak elu!" omel Mayfa.


"Hilih, walau aku ngeselin, omonganku pedes, nasihatku dianggap julid, pikiranku sering sesat, tapi aku kan selalu yang kamu rindukan," protes Syafi.


"May, Fiy ... di dekat kalian saat ini ada dua manusia suci yang baru memulai hidup mereka, usahakan perkataan kalian yang baik ya, jangan dibiasakan berkata yang rada kasar di dekat anak kalian. Nanti dia mengira itu suatu hal yang biasa," tegur Pak Said.

__ADS_1


"Maaf Ayah ...." ucap Mayfa dan Syafi bersamaan.


"Aku selalu berusaha menjaga kata-kataku di depan anak-anak, sekesal apapun semarah apapun, aku berusaha agar tidak mengucapak kata yang jelek dan kasar, tapi lihat sendiri tanpa aku berkata kasar tapi anakku yang satu ini masya allah kalau lagi kesel atau ngomel," keluh Pak Said.


"Bahkan aku mendapat aduan, katanya bahasa anakku seperti preman," Pak Said tertawa membayangkan kala orang dekatnya mengeluh tentang anaknya, apalagi Mayfa termasuk anak yang paling bandel.


"Iya maaf, besok pas resepsi anak bibi, Mayfa janji jadi anak manis," ucap Mayfa.


"Aku ragu, paling kata kamp--"


"Fiy ...." tegur Pak Said. Beliau sangat tahu apa yang ingin Syafi ucapkan.


"Iya Ayah, mode solehah seorang Aurelia Syafitri, on!"


"Oh ya Dirga, tentang laki-laki yang kamu bawa kemaren itu, serius dia ingin melamar Mayfa?" ucap Pak Said.


"Hah? Melamar?" Mayfa terkejut mengetahui ada seseorang yang melamarnya.


"Iya, ada seorang pemuda yang ingin melamarmu, insya Allah nanti dia akan hadir di acara resepsi sepupumu," ucap Pak Said.


"Fa, ini bukan perjodohan, kami tidak memaksamu untuk menerima orang itu, tapi beri kami alasan untuk menolak jika kamu tidak menginginkan pemuda itu," ucap Rosalina.


"Ketiga Kakakmu sudah menikah Fa, kedua adikmu juga akan menikah, bahkan mereka sengaja menunda pernikahan hanya karena tidak mau mendahului Kakaknya," ucap Pak Said.


"Adik menikah lebih dulu dari Kakak bukankah itu biasa yah?" ucap Mayfa.


"Biasa, tapi kedua adikmu berharap menikah setelah kamu juga menikah," ucap Rosalina.


Mayfa membuang wajah kearah lain. Keadaan seketika canggung karena pembicaraan lamaran itu.


"Setidaknya bertemu dulu May baru memutuskan," usul Syafi.


"Ayah Said menyukai pemuda yang aku bawa tempo hari?" sela Dirga.


"Aku hanya mengutamakan agamanya, ku selidiki dia setelah pertemuan itu, agama pemuda itu baik, aku tidak punya alasan untuk menolak, andai Mayfa menolaknya, setidaknya dia memberi kami alasan kenapa dia menolak, hingga bisa kami ucapkan untuk menolak lamaran itu."


"Tunggu, kapan Kakak pergi ke Kalimantan?" Syafi menatap Dirga penuh selidik.


"Beberapa hari setelah kamu lahiran, ada hal darurat hingga aku harus ketempat proyek, saat yang sama ada temanku yang minta temani untuk menemui kedua orang tua Mayfa," jawab Dirga.


"Kok iso yo?" gumam Mayfa.


"Apanya Fa?" tanya Rosalina.


"Kok iso Dirga bawa orang langsung ke Ayah Bunda, bukan kenalin sama aku dulu gitu."


"Kan ingin menghalalkan anak gadis orang temui kedua orang tuanya May, bukan rayu anaknya!" ucap Dirga.


"Eh Kak, bagaimana perasaanmu saat ada pemuda yang datang pada kita, dan pemuda itu ingin melamar salah satu putri kita?" ucap Syafi.


"Ya ampun Fiy ... Anak baru lahir udah dibayangin jodoh aja!" protes Mayfa.


"Aku hanya ingin tahu May, bagaimana perasaan seorang Ayah saat ada pemuda yang melamar putrinya."


"Lah kau tanya Ayahku, malah nanya lakimu!" omel Mayfa.

__ADS_1


__ADS_2