
Hari bahagia itu tiba, Mayfa tengah dirias oleh tim perias pengantin di kamarnya. Di sampingnya ada ketiga Kakaknya dan kedua Adiknya. Mayfa tidak bisa berharap banyak, dia berharap Syafi ada di sini, tapi keadaan Syafi yang memiliki 2 bayi baru lahir tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.
"Kawin ... kawin ... hari ini Mayfa kawin ...."
Kesedihan Mayfa seakan sirna mendengar suara yang membuat perutnya bagai diaduk-aduk itu.
"Tieee yang mau nikah ...."
Pandangan Mayfa tertuju kearah pintu, dia bahagia melihat Syafi ada di depan matanya. Melihat hal itu Mayfa meminta tim perias berhenti meriasnya, dia beranjak menghampiri Syafi.
"Fiy ... bagaimana lu bisa ...." Mayfa tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya.
"Bisalah, Tuan Sam meminjamkan Jet Pribadinya buat keluarga kecil kami, Mbak Adah juga ikut."
"Selamat menempuh hidup baru Non Mayfa." Sosok perempuan yang menjadi teman bercanda Mayfa menampakan diri dari sisi Syafi.
"Makasih Mbak Adah ...."
"Selesaikan riasanmu sana, aku mau lepas rindu dulu sama saudara kamu." Syafi segera mendekati 5 saudara Mayfa. Sedang Mayfa kembali dirias oleh perias pengantin.
"Kak Eren, kalian semua apa kabar?" sapa Syafi.
"Baik Fiy, kamu sendiri?"
"Alhamdulillah baik Kak."
"Anakmu mana Fiy?" tanya Astri.
"Ada Kak, di bawah sama pengasuh mereka."
"Kak Eren, kak Astri, sama Kak Marcelina sudah punya bontot berapa?" tanya Syafi.
"Aku alhamdulillah punya 3 Fiy," ucap Eren.
"Aku 2 sepasang," sahut Astri.
"Aku juga sepasang Fiy," sela Marcelina.
"Kalau Nazwa sama Shofia bagaimana nih? Kan Kak Mayfa dah nikah, ada keinginan mempercepat?" goda Syafi pada kedua adik Mayfa.
"Doakan semuanya lancar ya Kak," sahut Nazwa.
Di Bawah.
Athan dan rombongan datang lebih awal sesuai permintaan Pak Said. Saat keluarga Athan tengah menikmati jamuan, Pak Said membawa Athan ke kamar yang sudah di siapkan.
"Apakah saya melakukan kesalahan?" Athan merasa takut karena berduaan dengan calon mertuanya.
"Kamu tidak melakukan kesalahan, hanya saja aku ingin berbicara denganmu, sebelum tugasku pada Mayfa anakku berpindah padamu."
"Apa itu?" Jantung Athan terasa bekerja lebih lambat menantikan hal apa yang ingin Pak Said utarakan.
"Sejak anak-anakku hadir dalam rumah kami, aku sangat berharap mereka adalah calon penghuni surga, bahkan aku mendidik dengan cara tegas kalau masalah agama. Mimpi seorang Ayah aku ingin mengantar Anak-Anakku sampai ke surga."
"Mayfa akan menjadi tanggung jawabmu, kamu bawa dia tinggal dikolong jembatan pun aku tidak akan menuntutmu, karena kamu adalah laki-laki pilihannya. Tapi jika kamu menyesatkan jalannya hingga dia tidak bisa menuju surga nanti, aku akan menuntutmu." Sepasang mata Pak Said berkaca-kaca setelah mengucapkan kata panjang itu.
"Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa Ayah, demi umurku, sebisaku aku dan Mayfa sama-sama berjuang untuk menuju surga Allah."
"Setelah Akad, kamu bertanggung jawab penuh atas Anakku Mayfa, dunianya juga Akhiratnya."
__ADS_1
"Mohon doanya Ayah, semoga rumah tangga yang kami bangun sakinah, Mawaddah, warohmah."
"Selalu." Pak Said menepuk pundak Athan berulang kali.
"Apalagi Ayah? Aku takut ada pikiran yang bukan-bukan kalau kita terlalu lama ngamar."
"Melakukan akad nikah dengan calon yang kita cintai merupakan sebuah anugerah dari Allah yang patut kita syukuri. Oleh karena itu, selain bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan kalimat hamdalah, kita juga dianjurkan untuk melakukan shalat sunah sebelum melangsungkan akad nikah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarh al-Minhaj."
"Sebagain orang menyebut shalat sunnah pengantin? Maaf maksud saya shalat sunnah yang dilakukan oleh mempelai pria dan wali dari pihak wanita," ucap Athan.
"Benar sekali Nak. Sholat sebelum akad ini termasuk shalat yang mempunyai sebab di akhir. Kamu boleh mengerjakannya sebelum akad nikah asal bukan pada waktu yang dimakruhkan. Dan boleh membaca surah apa saja. Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami berkata, ‘Sepatutnya shalat ini dilakukan oleh mempelai pria atau wali perempuan saja, bukan mempelai wanitanya. Juga sebaiknya keduanya melakukan shalat ini di majlis akad sebelum akad dilakukan. Di sini, aku mengajakmu menunaikan sholat ini, apakah kamu tau caranya?" Pak Said memastikan.
"Pernah belajar Yah, tapi alangkah bahagianya saya, jika Ayah berkenan mengajari saya."
Pak Said mulai mengajari Athan untuk sholat sebelun akad nikah. Setelah memastikan Athan bisa, mereka berdua mulai mengerjakan sholat sunnah itu.
Di dalam kamar keadaan sangat khusuk, sedang di luar tempat acara, banyak yang bertanya-tanya apa yang dilakukan Ayah pengantin dan mempelai pria di kamar itu. Pertanyaan yang terus berputar itu seketika lenyap, kala melihat Pak Said dan Athan keluar dari kamar itu. Keduanya terlihat sangat bahagia, bahkan wajah keduanya seakan memancarkan kebahagiaan.
"Sebab itu saya meminta kamu untuk tidak dirias, karena saya akan memintamu wudhu untuk sholat tadi," ucap Pak Said pada Athan.
"Iya Yah, terima kasih."
"Sana kamu temui dulu Asisten yang merias kamu."
Saat Athan menuju ruangan untuk mengganti bajunya, tak sengaja dia melihat Dirga, namun tidak ada waktu lagi untuk menyapa suami dari temannya itu, Athan segera mempercepat langkah untuk mengganti pakaiannya.
Detik demi detik menegangkan pun semakin dekat. Athan saat ini sudah duduk di depan penghulu dan Ayah Mayfa. Setelah bermacam rangkaian acara, Mayfa pun diminta untuk segera turun.
Kala Mayfa yang diapit kedua adiknya menuruni tangga, perhatian Athan hanya tertuju pada wanita cantik yang mengenakan kebaya modern berwarna putih. Sumpah demi apapun, Athan tidak pernah bermimpi melihat Mayfa begitu cantik.
"Tahan pandangannya, belum halal untuk dipandangi lama-lama," goda Penghulu.
Rasanya ketegangan yang sejak tadi membelenggu Athan, seketika ketegangan itu lepas oleh candaan. Kini Mayfa duduk di samping Athan.
"Saya ingin menikahkan langsung," sahut Pak Said.
Pak Said dan Athan mulai berjabat tangan, kalimat saya nikahkan pun mulai Pak Said lafazkan, setelah sekali sentakan tangan, dengan lancar Athan mengucapkan kalimat Akad nikahnya dengan Mayfa.
"Bagaimana Saksi?" tanya Penghulu.
"Sah!"
Athan bisa menarik napas lega, mendengar kata Sah dari kedua saksi.
"Mayfa, kini kewajibanmu berbakti pada kedua orang tuamu, kini berpindah pada laki-laki di sebelahmu. Kerjakan sholat wajib yang 5 waktu, tunaikan puasa wajib saat bulan ramadhan, dan berbakti juga patuh pada suamimu, maka Allah akan mempersilan dirimu untuk memasuki pintu surga, lewat pintu manapun yang kamu mau." Pandangan Pak Said kini tertuju pada Athan.
"Than, ku serahkan anakku padamu, jika suatu saat dia tidak kamu inginkan, antar dia padaku baik-baik, jangan kau sakiti dia hanya karena kamu tidak menyukainya lagi."
Kelegaan yang baru saja berhembus, seketika berubah menjadi suasana haru, kala sepasang pengantin diminta untuk sungkeman pada kedua orang tua mereka.
Prosesi sungkeman selesai, kini acara lebih santai dan sangat kekeluargaan. Mayfa dan Athan berjalan bersama mendekati Syafi dan Dirga. Mayfa langsung memeluk Syafi, sedang Athan langsung memeluk Dirga.
"Terima kasih Dirga, karenamu mata hatiku terbuka kalau Mayfa sangat berarti untukku," ucap Athan.
"Terima kasih Fiy atas setiap pengalaman yang kita lewati bersama, setelah ini aku jarang nemenin kamu, jangan marah ya ... walau sebagian besar waktuku adalah Athan, hal ini tidak menghilangkan kamu dari hatiku," ucap Mayfa.
Acara akad nikah yang dilangsungkan di kediaman Mayfa berjalan sangat lancar, saat semua prosesi selesai, para tamu segera meninggalkan kediaman Mayfa, begitu juga Syafi, dia segera pamit, karena ingin menemui keluarga bibi Kamal.
Sedang di kediaman Mayfa kini hanya tersisa anggota keluarga inti.
__ADS_1
"Yakin May malam ini tidur di rumah saja?" goda Eren.
"Yakinlah sis ...." sahut Mayfa.
"Awas lu kalau bikin anak gue kebangun!" ledek Eren.
Mayfa tidak menggubris godaan dari saudara-saudaranya.
***
Hingga malam pun menyapa, antara mimpi dan nyata saat ini dia dan Athan melakukan perkenalan yang tidak pernah keduanya bayangkan sebelumnya. Akhir dari petualangan indah itu membuat keduanya larut ke alam bawah sadar.
Jam menunjukan pukul 4 pagi, Athan berusaha membuka kedua kelopak matanya yang masih betah terpejam. Dia segera menuju kamar mandi untuk mandi. Athan mengenakan handuk dan berjalan menuju Mayfa yang masih tenggelam di alam mimpi.
"May ...." Athan menggoyangkan pelan tubuh May.
Mayfa masih tidak bergeming, Athan mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Mayfa. "Asholatu khairum minannaum. Bangun May, bentar lagi subuh ...."
Perlahan Mayfa menggeliat. Saat Mayfa berhasil membuka kedua matanya, refleks dia berteriak.
"Aaak! Ngapain lu di kamar gue!" Mayfa histeris.
"Sabar May, kau lupa kita udah nikah? Nggak cuma itu, kita udah saling salam pada anggota tubuh masing-masing," ledek Athan.
"Ya ampun, kok iso yu gue lupa."
"Sudah sana bangun, mandi, habis itu kita Sholat subuh berjamaah. Aku sampai kebawa mimpi loh."
"Mimpi imamin aku sholat?" sela Mayfa
"Mimpi dimarahi Ayahmu, karena aku gagal membawamu ke sorga."
Mayfa tersenyum mendengar keluhan Athan.
"Ayo sana mandi cepet, kita Sholat bareng."
Mayfa segera bangun dan melangkah menuju kamar mandi.
Terima kasih Ya Allah, engkau memberiku laki-laki terbaik untukku, batin Mayfa.
Mayfa selesai mandi, wajahnya terlihat begitu segar dan bercahaya.
"Masya Allah cantiknya ratunya bidadari," puji Athan.
Mayfa tersenyum kecil, dia meraih mukena dan bersiap menjadi makmum sholat. Athan memulai sholat mereka. Saat selesai salam, Athan menadahkan kedua telapak tangannya dan melapazdkan doa.
Setelah menyapukan kedua telapak tangan ke wajah, Mayfa mendekati Athan dan salim pada suaminya. Athan mencium pucuk kepala Mayfa. Setelah Mayfa menegakan tubuhnya, Athan memegang kedua telapak tangan Mayfa.
"Hubungan suami istri itu bagai segitiga, di mana di puncak sudut segitiga atas itu adalah Allah, semakin kita dekat pada Allah, semakin dekat pula ikatan kita." Pandangan Athan begitu teduh membuat Mayfa tidak mampu mengalihkan pandangan matanya.
"May ... kita saling bantu dan saling mengingatkan ya, bantu aku memenuhi harapan terbesar Ayahmu, harapan terbesar beliau adalah kamu bisa mencapai surga."
"Bismillah, kita berjuang menuju Ridha Allah, agar kita bisa mendapatkan tiket ke surga bersama." Mayfa mencium kedua telapat tangan yang memegang erat kedua telapak tangannya.
"Amiin." Athan langsung menarik Mayfa kedalam pelukannya.
***
Bhoncap habis. Cukup Sekian ya, terima kasih yang berkenan mamapir menemani Mayfa dan Athan.
__ADS_1
**
Tentang sholat menjelang akad, sumber aku copas dari Googel. Seperti dialog Ayah Said aku juga ambil dari goo-gle.