
Keduanya masih terdiam. Bingung harus mengambil Langkah apa. Sesekali keduanya beradu pandang, merasa kaku, sama-sama membuang pandangan kearah lain lagi.
“Aku belum pernah jatuh cinta pada lawan jenis, aku juga tidak mengerti apa itu cinta,” ucap Syafi, memecah kecanggungan yang ada.
“Aku juga tidak tahu apa itu cinta?” ucap Dirga.
“Apa tujuan kita untuk menikah? Sedang diantara kita sama-sama tidak ada rasa cinta.”
“Menunaikan keinginan terakhir paman.” Dirga masih memandangi wajah wanita yang ada di depan matanya.
“Bagaimana kehidupan kita, setelah kita menikah?”
“Aku tidak memintamu jadi istriku, kau bisa jadi pendampingku di tengah umum. Tapi saat di rumah kau adalah keluargaku, bagaimana?”
“Aku hanya sebatas pendamping bagi kakak?”
“Itu kalau kamu tidak keberatan.”
“Dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Saat kakak jatuh cinta, lepaskan aku, dan nikahi wanita yang kakak cintai. Kalau perlu aku yang melamar dia untuk kakak.”
Bagaimana aku jatuh cinta lagi, Fiy. Kamu sudah mencuri semua hatiku. Dirga memandangi wajah Syafi.
Syafi mengulurkan tangannya pada Dirga. “Aku setuju, kalau kakak hanya jadikan aku sebatas pendamping.”
Dengan berat hati Dirga menerima uluran tangan Syafi. Keduanya berjabat tangan, menyetujui kesepakatan mereka. Merasa obrolan mereka selesai, keduanya segera menemui Ardhin. Di arah tepat tidur sorot mata Ardhin
tertuju pada pasangan yang baru masuk. Keduanya melempar senyuman pada Ardhin. Syafi dan Dirga langsung mendekati Ardhin.
Dirga meraih tangan yang masih tampak lemah. “Paman … aku dan Syafi bersedia untuk menikah.”
__ADS_1
Wajah tua itu berusaha tersenyum, walau berat. Kini pandangan mata Ardhin tertuju pada Pak Said, yang tidak jauh berdiri dari ranjang tempat dirinya terbaring. “Pak Said … mau-kah Anda menolong saya?”
“Tolong apa, Pak?”
“Maukah Anda membantu jalannya pernikahan Aul dan Dirga? sebagai perwakilan keluarga,” pinta Ardhin.
Pak Said tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya. “Tentu saya bersedia, Pak.”
Perlahan mata sendu itu terpejam Kembali. Mereka yang ada di ruangan itu tidak bisa berbuat banyak. Pak Said memandang kearah Dirga. “Persiapan pernikahan besok, apakah sudah di batalkan Arnaff?” Pak Said bertanya pada Dirga.
“Setau saya belum, Pak.”
Pak Said langsung mengambil ponselnya, kakinya terus melangkah menuju kearah pintu, perlahan punggung itu menghilang di balik pintu. Lumayan lama, akhirnya Pak Said Kembali lagi masuk kedalam ruangan itu. “Beruntung belum di batalkan, saya hanya minta bantuan teman saya untuk mengganti nama mempelai pria saja, secara semua persiapan sudah selesai, akan sulit jika memulai dari awal pendaftaran lagi,” terang Pak Said.
Syafi mendekati pamannya, medaratkan ciuman lembut di pipi pamannya. “Paman, bertahan ya … insya Allah, besok anak kesayangan Paman akan menikah, dengan laki-laki yang sering paman puji-puji selama ini,” bisiknya.
Pemandangan itu sangat memilukan. Dirga hanya bisa menundukkan wajahnya. Waktu terus berjalan, Ardhin masih betah menutup matanya. Malam semakin larut, Pak Said dan Mayfa segera pulang untuk membantu akad nikah besok pagi. Di Rumah Sakit tinggal Syafi dan Dirga. Dirga meminta Syafi tidur di sofa Panjang, sedang dirinya berbaring leseh di lantai ber-alaskan selimut.
Syafi larut dalam tidurnya, dia melihat sosok paman dan bibinya. Kedua sosok yang sangat Syafi sayang itu tersenyum padanya. Keduanya memeluk Syafi. Perlahan keduanya melepaskan pelukannya. Kamal memasangkan kerudung persegi pada kepala Syafi.
“Kamu sayang pada mama-Abah?” Keduanya menatap sendu wajah Syafi.
Syafi menatap keduanya bergantian. “Pertanyaan apa ini? Aku sangat sayang kalian.”
Sekarang Ardhin yang memakaikan kerudung persegi di kepala Syafi. “Selangkah seorang anak perempuan muslim yang keluar rumah tanpa menutup Aurat-nya, maka selangkah pula dia mengantarkan Ayahnya ke Neraka.” Tatapan itu sulit diartikan.
Syafi menunduk sambil memegangi kerudung yang terpasang di kepalanya. Bingung dengan keadaan ini. Saat menegakkan wajahnya, Paman dan bibinya sudah pergi meninggalkan dirinya seorang diri. “Abah … Mamaaa!” Syafi berteriak. Ingin mengejar Paman dan bibinya. Tapi tangannya di pegang seseorang, saat Syafi menoleh wajahnya samar.
“Aul … Aul ….” Hanya kata itu yang dia dengar.
Syafi menoleh lagi kearah Paman dan bibinya yang semakin jauh. “Abah … mamaaa!” teriaknya lagi.
“Aul … Aul ….”
__ADS_1
Suara itu menyadarkan Syafi dari alam tidurnya. Saat membuka matanya dengan sempurna, terlihat sosok Dirga yang ada di depan matanya.
Dirga memberikan sebotol air mineral pada Syafi. “Kamu berteriak tadi, saya jadi kaget. Kamu mimpi buruk?”
Syafi menggelengkan kepalanya, dia meraih botol air mineral yang Dirga berikan, perlahan menegak air dari dalam botol itu. Merasa hausnya hilang, Syafi menoleh kearah Pamannya. Menatap dalam kearah itu, pikirannya masih terbayang akan mimpinya barusan.
“Kak Dirga … aku ingin seperti Mayfa, apakah kakak keberatan?”
Dirga bingung dengan pertanyaan Syafi. “Maksudnya?”
“Andai aku ingin memakai kerudung seperti Mayfa, apakah kakak keberatan?”
Dirga mematung mendengar pertanyaan Syafi. “Lakukan apa saja yang kamu suka, selama itu tidak menyakiti dirimu dan tidak melanggar hak orang lain.” Dirga memberikan senyumannya, dia melangkah kembali menuju hamparan selimut itu, berbaring di sana, untuk berlarut Kembali ke alam mimpi.
Samar terdengar sayup-sayup suara kajian. Dirga berusaha membuka matanya. Tubuhnya terasa pegal, tidur tadi malam juga tidak nyenyak, karena beberapa kali dia terbangun, saat perawat memeriksa keadaan Ardhin. Dirga menoleh kearah kamar mandi, terlihat dari sana Syafi baru keluar dari kamar mandi. Dia hanya menunduk. Dirga tidak ambil pusing, dia segera meraih handuk dan bajunya dan langsung menuju kamar mandi.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, jam juga sudah menunjukan jam 06:00. Keadaan terasa kaku, Dirga dan Syafi sama-sama bungkam. Suara ketukkan pintu memecahkan kecanggungan mereka. Syafi dan Dirga sama-sama menoleh kearah pintu. Terlihat Mayfa dan kelima saudarinya datang. Syafi langsung berlari kearah mereka, menyambut mereka dengan pelukan.
“Sudah jangan lama-lama ikutan jurus teletubies, pelukan melulu,” ucap Mayfa. Tapi tidak ada lagi sambutan ceria dari wajah yang dulunya selalu riang itu.
“Sudah, ayok kita sarapan sama-sama, setelah ini Syafi sama Mayfa harus ke Salon, sedang kak Dirga harus ikut aku, Ayah sama Bunda menunggu di KUA saja,” terang Eren.
“Kalian enak bisa lihat akad nikah kak Syafi, sedang kami berempat harus menunggu di sini,” rengek Asti.
“Jangan protes, ayok kita sarapan sama-sama,” ajak Eren.
Mereka semua duduk di lantai mengelilingi makanan yang ditata Mayfa dan saudarinya. Syafi memandangi makanan yang ada. “Kak Dirga sepertinya tidak bisa ikut sarapan.” Matanya masih memandangi menu makanan yang ada. “kak Dirga tidak biasa makan berat seperti ini.”
“Ciyeee istri sholehah ….” ledek Mayfa.
“Paman selalu cerita, apa yang kak Dirga suka dan apa yang tidak disukai kak Dirga.” Syafi menoleh kearah ranjang Rumah Sakit itu, di mana pamannya belum membuka matanya.
“Jangan pikirin aku, kita ada di kota, bukan di hutan.” Dirga menoleh kearah Eren. “Nanti mampir di minimarket, untuk beli roti tawar,” ucapnya.
__ADS_1
Eren mengacungkan jempolnya, menaggapi ucapan Dirga. Sedang Dirga meraih gelas yang ada di depannya, menikmati teh manis hangat.