Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 31 Doarrr!


__ADS_3

Dirga dan Athan saling berjabat tangan, sambil memperkenalkan diri masing-masing. Dirga ingat di mana dia pertama kali bertemu Athan,


laki-laki yang bernyanyi bersama Syafi di Hotel tempatnya menginap saat menjelang akad nikah Syafi. Athan mulai menceritakan bagaimana dirinya dan Syafi berteman.


“My Fiy, kalau aku lupa aku biasa memanggilnya Fiy ku, ah ... maksudnya sama saja, aku sering memanggil dia seperti itu, dia selalu menyambutku dengan gombalan dia, tapi hari ini, aku baru menggombali dia, bukan mendapat gombal mukidi yang manis, aku malah aku gombalan lima jari yang mendarat di pipiku.” Athan mengelus bagian pipinya yang kena ciuman


lima jari dari Syafi. “Itu bukan Syafi ku, apa yang terjadi pada Syafi ku?”


“Syafi yang dulu hancur, yang ada hanya Syafi jasadnya saja, tapi beda jiwa.” Dirga mulai menceritakan kepahitan hidup Syafi, dari gagal


nikah hingga meninggalnya paman dan bibinya, juga pernikahannya dengan Syafi. “Sejak itu Syafi yang dulu juga seakan mati. Aku sangat berharap Syafi yang lama kembali, entahlah … apakah aku bisa membantunya Kembali menjadi Syafi yang dulu, selama kami menikah dia hanya mengurung diri di kamarnya.”


Athan termenung mendengari cerita Dirga. “Pantas saja ….”


Kedua alis Dirga tertaut, bingung dengan tanggapan Athan. “Pantas apanya?”


“Pantas saja Syafi tadi bilang, dia hanya sebatas pendamping. Pernikahan ini adalah beban baru bagi Syafi, andai Paman Ardhin


tidak meminta dia menikah, dia tidak akan menikah, dengan begitu, untuk bangkit dari duka juga akan lebih mudah baginya.”


“Apa maksudmu?” wajah Dirga mulai terlihat emosi.


“Andai Syafi bukan sebagai seorang istri, dia akan lebih lepas, untuk bangkit juga lebih mudah, misal ... karena semangat dari teman-temannya.”


“Buktikan kalau temannya bisa bantu dia bangkit.”


“Tidak semudah itu, kalau aku berhasil membantu dia kembali seperti dulu, apakah kamu siap melepasnya untukku?” Sorot mata Athan terfokus pada Dirga. "Pertama, yang sulit membuat dia bangkit adalah hubungan kalian.”


“Ternyata tamparan dari Syafi memang tepat buatmu.” Dirga


langsung pergi meninggalkan Athan sendirian di meja itu.


Dirga memacu cepat langkah kakinya menuju toilet wanita, sesampai di depan pintu toilet, Dirga hanya bisa menunggu, berharap Syafi segera keluar. Kedua bola matanya masih memandangi pintu toilet itu. Tapi, pikirannya terbang entah kemana, ucapan Athan membuat Dirga khawatir. Athan


selangkah lebih maju darinya, Athan teman Syafi, sedang dirinya? Syafi hanya menghormati dirinya, dia bukan siapa-siapa bagi Syafi.


Athan benar, andai Paman tidak meminta dia menikah, Syafi tidak akan mau menikah denganku, Ya Tuhan … apakah benar aku beban baru bagi Syafi? Jerit hati Dirga.


Di dalam toilet, Syafi tidak melakukan apapun, dia duduk diatas closet yang tertutup. Menyesali perbuatannya, yang lancang melayangkan tamparan di wajah temannya sendiri. Syafi sadar Athan hanya bercanda, entah kenapa emosi menguasai dirinya, dengan mudahnya melayangkan tamparan ke wajah Athan. Merasa cukup lama berdiam diri, Syafi segera keluar, berjalan menuju westafel, mencuci tangan di sana sambil memandangi pantulan wajahnya pada cermin. “Aku harus minta maaf pada kak Athan.” Syafi memandangi lekat pantulan wajahnya, meraih tas kecilnya, lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat membuka pintu, matanya menangkap sosok Dirga yang berdiri di depan sana.


“Kamu baik-baik aja?” Pertanyaan dari Dirga langsung menyambut Syafi.


“Maaf, kak.”


“Tidak perlu minta maaf, mau pulang sekarang?”

__ADS_1


Syafi menganggukkan kepalanya. Mereka berdua berjalan bersama meninggalkan lorong itu. Sampai di Aula tempat acara berlangsung,


pandangan mata Syafi tertuju ke segala penjuru arah, mencari satu sosok. Sayang, yang dia cari tidak kelihatan batang hidungnya. Syafi dan Dirga meneruskan langkah kaki mereka meninggalkan Gedung tersebut. Saat sampai di parkiran, Syafi melihat sosok yang di acari dari tadi.


“Kak Athan!” Berteriak memanggil nama itu. Yang di panggil sengaja tidak menghiraukan. Syafi langsung berlari kearah Athan.


Dirga mematung melihat wanitanya berlari menuju pria lain. Entah kenapa rasanya dia berada di ruangan yang kedap udara, sesak, engap, seakan kehabisan oksigen. Di depan sana, Athan tetap tidak menghiraukan Syafi, dia sudah pergi menggunakan motornya. Syafi mematung di posisinya, rasa


bersalah kian besar melihat kemarahan dari temannya. Syafi mengumpulkan sisa kesadarannya. Kembali berjalan menyusul Dirga. Segera masuk kedalam mobil.


Melihat Syafi sudah memasang sabuk pengaman, Perlahan Dirga


mulai melajukan mobilnya, menjelajahi jalanan untuk Kembali ke rumah mereka. Kembali seperti semula, tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Sesampai di


rumah pun Syafi tetap diam, langsung masuk lagi ke habitatnya. Dirga tidak ambil pusing, dia segera melangkah menuju lantai dua, menuju kamarnya.


***


Sinar matahari sudah menembus sela-sela gorden, Dirga sudah


rapi mengenakan setelan kerjanya. Melirik sekilas jam sudah menunjukan jam 7, saatnya untuk bekerja. Langkah kakinya begitu cepat menuruni anak tangga.


Langsung menuju ruang makan. Tanpa menoleh keadaan sekitar, matanya fokus memandangi layar handphone yang dia pegang.


dingin kembali berhembus hingga menusuk kedalam hati Dirga.


“Bi Masri sudah pergi ke pasar,” ucapnya. Syafi masih melanjutkan tugasnya menyiapkan sarapan buat Dirga.


Dirga mencubit pipinya, memastikan kalau yang dia lihat sekarang ini bukan mimpi. Di depan matanya Syafi dengan setelan santai, kerudung persegi sederhana menutup bagian kepalanya, gadis itu sedang mempersiapkan sarapan pagi. Sekilas Syafi memberi senyuman pada Dirga.


Seketika lagu ‘Ku Tlah Jatuh Cinta dari Agnes Monica seakan bermain dalam khayalan Dirga. Seakan itu Syafi yang bernyanyi untuknya.


🎶🎶🎶🎶🎶


How wo wo wo woo … yeah


Kini … ku mulai bertanya … Salahkan keinginan ini ...


Ternyata … entah bagaimana … Diriku cinta padamu …


Hanya bila kau tak membantah … Cinta ‘kan jadi milikmu …


Kupastikan hatiku untukmu … Sejak pertama kau tatap mataku …


Karena senyummu mengisi relung hatiku wo ooo Ku ‘tlah jatuh cinta …

__ADS_1


🎶🎶🎶🎶🎶


Dalam khayalan Dirga, Syafi tidak memakai kerudung, sambil mengibaskan rambut, bernyanyi lagu itu untuknya, bergaya menggodanya.


“Kak ….” Panggilan itu seketika membuyarkan khayalan indah Dirga.


“Kak, sarapannya sudah siap,” ucap Syafi.


“I-iyaa.” Dirga langsung menarik salah satu kursi, meraih roti yang Syafi siapkan. Memakan rotinya tanpa memandangi lagi wanita yang ada di depan matanya. Syafi juga meraih sarapannya. Keduanya sarapan bersama.


Alunan nada intro dari lagu 'Ku TLah Jatuh Cinta, masih menggema dalam khayalan Dirga.


Dirga me-lap mulutnya dengan tisu, meraih tas kerjanya. “Fiy … aku berangkat kerja.” Dirga langsung melangkah meninggalkan meja makan.


“Kakak, tunggu!”


Mendengar panggilan itu, Dirga langsung menghentikan Langkah


kakinya. Memutar sedikit arah tubuhnya, terlihat Syafi berlari kearahnya. Syafi mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Dirga. Dirga masih mematung tidak


mengerti dengan keadaan ini.


Syafi meraih tangan Dirga, salim pada suaminya dan mencium punggung telapak tangan itu. “Hati-hati, kak.”


Doarrrr!


Ada yang meledak dalam diri Dirga, seketika keringat membasahi wajahnya mendapat perlakuan demikian dari Syafi.


“Kak ….” Lagi-lagi panggilan Syafi menyadarkan Dirga.


“Um … kakak berangkat.” Dirga langsung pergi. Syafi juga kembali


melanjutkan pekerjaannya.


Dirga terus melangkah menuju mobilnya, tapi pandangan matanya terus tertuju pada punggung telapak tangan kanannya yang di cium oleh


Syafi. Dirga begitu semangat, berhenti memandang punggung telapak tangannya berlari cepat menuju mobilnya, setelah duduk dalam mobil, senyuman begitu


permanen menghiasi wajahnya. Ingin rasanya berteriak meluapkan rasa kebahagiaan ini.


“Huuuh ….” Mengatur Kembali detak irama jantungnya yang tidak menentu karena ledakkan tadi. Dirga mencium punggung telapak tangannya, di mana si sana ciuman dari Syafi mendarat. Senyuman masih tersungging di wajah Dirga. Dirga menggelengkan kepalanya karena kejadian barusan. Dia langsung menghidupkan mesin mobilnya, mobil yang Dirga kendarai mulai melaju meninggalkan rumahnya.


*****


Maaf yups, cuma bisa 1 eps ini.

__ADS_1


__ADS_2