Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 89


__ADS_3

Di rumah Lala, Dirga menceritakan keadaan Romi. Memikirkan rencana supaya Lala bisa kesana tanpa dicurigai oleh siapapun. Tapi keduanya tidak menemukan ide.


"Setiap pagi, kamu kirim video keseharian kamu dengan Fattah, ingat perkirakan jamnya saat aku sudah di kantor, aku tidak mau istriku melihat ada wanita lain dalan handphone-ku,"pinta Dirga.


"Maafkan aku kak, tadi pagi aku terlalu dini mengirim foto dan video."


"Nggak apa-apa La, aku pulang dulu, sudah sore, istriku pasti menungguku di rumah."


Dirga segera pergi dari rumah Lala. Mobil yang dia kendarai melaju santai, memikirkan cara untuk menyadarkan Romi.


****


Syafi dan Mayfa.


Mayfa meminta supir taksi mengantar mereka ke alamat rumah Dirga terlebih dulu. Sepanjang perjalanan Syafi hanya diam, dia terus bersandar dalam dekapan Mayfa.


Perlahan mobil taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah sesuai aba-aba dari Mayfa.


"Fiy, sudah sampai." Mayfa menepuk pundak Syafi lembut.


"Ya sudah aku turun ya."


"Butuh gue?" tanya Mayfa.


"Kamu pulang aja istirahat."


"Kalau butuh gue, lu telepon aja."


Syafi memberikan senyuman kecil pada Mayfa. "Pasti aku telepon kamu. Syafi membayar lebih ongkos taksi mereka, agar saat turun nanti Mayfa tidak perlu membayar lagi 


"Terima kasih banyak bu." Supir taksi sangat bahagia.


"Sama-sama Pak, anter teman saya ke alamat dia ya."


"Siap bu."


Setelah Syafi turun dari taksi, mobil itu segera melaju kembali mengantar penumpang yang satunya.


Langkah kaki Syafi baru sampai di depan pintu, namun langkahnya terhenti saat mobil Dirga memasuki halaman rumah mereka.


Syafi berusaha bersikap normal, dia tersenyum meyambut kedatangan Dirga.


Melihat senyuman Syafi, Dirga sangat bahagia, dia segera turun dari mobil dan berlari menghampiri istrinya. "Baru pulang juga sayang?" Kecupan lembut mendarat di alis Syafi.


"Iya kak, beberapa hari kedepan aku rada sibuk."


"Sibuk enggak apa-apa, tapi tetap jaga kesehatan."


"Kakak sendiri?" 


"Owh, hari ini aku ada beberapa urusan di luar kantor."


"Owh, yuk masuk kak, aku gerah mau mandi."


Keduanya masuk kedalam rumah sambil bergandengan. Terlihat begitu mesra seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.


"Sayang, kamu tadi pagi membuka pesan di handphone kakak?" Dirga teringat kalau ada satu pesan yang terbuka.


"Nggak sengaja kak, tapi aku nggak lihat, langsung aku kunci layarnya, itu kan privacy kakak."


Nggak lihat sedikit, tapi lihat banyak!


Syafi berusaha tersenyum menutupi lukanya dan kebohongannya.


Dirga juga membalas senyuman Syafi, dia merasa lega, karena Syafi tidak melihat foto-foto yang Lala kirim padanya.


***


Dirga menjalani kesehariannya seperti biasa, hanya saja setiap pulang kantor dia mampir di Rumah Sakit menemani Romi. Sedang Syafi menghabiskan waktu untuk latihan vocal dan koreo demi acara ulang tahun Dirga.

__ADS_1


Acara ulang tahun yang mereka rancang akhirnya tiba.


Ballroom sebuah hotel nampak indah dengan segala dekorasi nuansa putih yang terpajang di sana. Persiapan begitu matang, malam ini adalah acara puncak mereka.


Selesai tugas Isya, Syafi, Mayfa, dan Athan masih berkumpul di ruangan khusus panitia acara.


"May, kamu mau nonton pertunjukanku?" Athan membenahi penampilannya.


"Enggak, bosen gue dengar suara lu, tiap hari dengar kalian latihan, sampai-sapai gue bisa kenalin suara kalian walau dari jarak 1000 meter persegi."


"Ya sudah, gue kedepan duluan, gue tugas menghibur tamu yang datang.


Di ruangan itu hanya tertinggal beberapa panitia acara, juga Syafi dan Mayfa.


Samar terdengar suara Athan bernyanyi sambil menyambut tamu undangan yang hadir.


"Gue kedepan ya, mau ngintip." Mayfa beranjak dari tempat duduknya. Dia mengintip ruangan tempat acara berlangsung, terlihat mulai ramai oleh tamu undangan.


Mayfa pun kembali dan duduk di samping Syafi. "Nggak terlalu banyak emang tamu yang datang."


"Baguslah, kalau banyak yang ada aku demam panggung."


"Kamu sudah persiapkan kado buat Dirga?"


"Sudah."


"Kadonya apa?"


"Kepo lu!"


"Idih …."


Syafi dan Mayfa terus berbincang santai, sambil menunggu waktu.


"Ternyata kalian di sini? Ayo bergabung dengan tamu yang lain." 


Kedatangan seorang wanita cantik mengenakan gaun putih dan aksesoris silver membuat obrolan Mayfa dan Syafi terhenti.


"Gampang itu." Resa menarik Mayfa dan Syafi, mereka bertiga melangkah bersama menuju tempat acara.


Saat Syafi, Mayfa, dan Resa memasuki Ballroom hotel itu, sorotan pasang mata dari semua yang ada di ruangan itu tertuju pada tiga bidadari yang berjalan bersama.


Dirga tersenyum bahagia melihat Syafi, istrinya begitu cantik dengan gaun panjang serba putih. Dia segera melangkah menyambut istrinya 


"Kamu sembunyi di mana? Aku tidak bisa menikmati acara ini tanpa kamu." Tanpa malu-malu Dirga langsung memeluk Syafi dan mencium pucuk kepala istrinya.


"Lagi dandan," kilah Syafi.


"Kita ke tempat duduk kita yukkk," ajak Resa.


Mereka berempat segera menuju meja yang khusus buat mereka.


1 meja, untuk Dirga, Syafi, Mayfa, dan Athan.


Sedang meja yang satunya hanya untuk 2 orang, siapa lagi kalau bukan milik Resa dan Sam.


Mereka semua menikmati pertunjukan Athan yang tengah berlangsung.


"Penampilan Athan makin waw hari ini, walau ini bukan kejutan, tapi bagiku ini kejutan, pertama kali aku melihat Athan bernyanyi dengan koreo yang sangat memukau." Mata Dirga masih tertuju ke arah pentas.


"Ini belum seberapa, adalagi penampilan yang buat kamu terpana," sela Mayfa.


"Wah … aku semakin penasaran." Dirga bertepuk tangan saat Athan selesai membawakan sebuah lagu.


Athan berdiri di depan panggung, kedua matanya memandang kearah Dirga. "Selamat ulang tahun pada Tuan Dirga, semoga selalu bertambah kebahagiaan dan segala keinginan bisa terwujud." Lagu 'Selamat Ulang Tahun' dari Gellen pun Athan nyanyikan.


Semua tamu undangan sangat terhibur dengan penampilan Athan, mata-mata itu hanya tertuju kearah panggung.


"Tiada yang bisa ku beri … hanya do'a dan rasa cinta, yang tulus dariku tuk dirimu …." Athan mematung di akhir lagu, dia lupa akan tabahan lagu yang sudah dirancang sebelumnya.

__ADS_1


Kedatangan dua tamu yang baru saja memasuki Ballroom membuat fokus Athan pecah.


Hal itu membuat Syafi dan Mayfa juga memandang kearah pandangan mata Athan tertuju.


Syafi tersenyum kecil, melihat dua tamu yang baru masuk, dua orang itu melangkah kearahnya.


"Maaf Tuan Dirga, saya terlambat," sesal salah satu wanita itu.


Wajah Dirga terlihat sangat terkejut, melihat sosok yang datang bersama bu Miya. Wanita itu juga terkejut menyadari dirinya menghadiri pesta ulang tahun Dirga.


"Terima kasih atas kedatangannya di acara ulang tahun suami saya," sela Syafi.


"Sama-sama Nona," ucap Miya. Miya segera menarik Lala untuk menuju tempat duduk mereka.


"Dia lagi, dia lagi, dia lagi, dia lagi nongol di mari." Mayfa bernyanyi pelan, namun suaranya penuh kekesalan.


Dirga sesekali menoleh kearah Lala, menyadari hal itu Syafi semakin tersiksa.


"Pesta ulang tahunku nanti, hanya dihadiri orang-orang yang penting bagiku, bagimu, dan bagi The Alvaro Group.


Ucapan Dirga kala itu terngiang di benak Syafi.


"Fix, dia bagian penting dari hidup kamu kak, 1 kali lagi kesempatan yang aku beri, setelah itu aku tidak kuat lagi.


Syafi mengusao air mata yang terlanjur menetes di ujung matanya, sebelum orang lain menyadarinya. Tapi, sahabatnya Mayfa mengetahui hal itu.


Mayfa meraih tangan Syafi dan menggenggamnya begitu kuat, memberi semangat pada sahabatnya itu.


"Lu kuat?" Mayfa bertanya hanya dengan gerak bibirnya.


Syafi berusaha tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


***


Flash back.


Lala dan pelayanya menghabiskan waktu sore di depan rumah. Kedatangan tetangga mereka membuat obrolan keduanya berhenti.


"Ibu Miya." Lala tersenyum menyambut tetangganya yang menghampirinya.


"Tumben ibu pulang secepat ini, biasanya sore banget," sela Jumi.


"Malam ini ada pesta ulang tahun bos saya, makanya karyawan diminta pulang cepat," terang bu Miya.


"Bagus dong bu," ucap Lala.


"Nggak bagus, karena saya tidak punya banyak teman diacara itu." Wajah Miya terlihat sedih. "Acara itu dihadiri oleh kerabat inti bos saya saja, makanya tidak ada rekan kerja saya yang lain di sana."


"Terus?" Lala begitu serius mendengari cerita bu Miya.


"Temani aku ya La. Aku sudah dapat izin dari bos besar, kalau boleh ajak siapa saja," pinta bu Miya.


"Tapi--" Lala bingung, ingin menolak, tapi dirinya merasa berhutang nyawa dengan bu Miya, bu Miya lah yang menolongnya saat dirinya akan melahirkan, kedua orang tuanya entah di mana, padahal kala itu Dirga memberi banyak uang agar kedua orang tua Lala menemani Lala yang hamil tua. Bu Miya yang mengantar Lala ke Rumah Sakit bersalin. 


"Tapi, bagaimana Fattah?" Lala berusaha tidak menghancurkan perasaan pahlawannya.


"Kamu siapin stock ASI, acaranya nanti malam, tolong ya La …." Bu Miya memohon.


"Baik bu."


"Nanti malam jam 9, ini gaun buat kamu, pesta malam ini tema putih, tamu yang datang harus memakai baju putih." Bu Miya begitu ceria, dia memberikan paperbag yang sedari tadi menggantung di jemari tangannya.


"Kasih kado apa ya bu, buat yang ulang tahun?" Lala menerima paperbag yang diberikan bu Miya padanya.


"Tidak usah bawa kado, itu ide istri yang ulang tahun, katanya bukan masalah nilai uangnya, tapi kasian otak yang mikir mau kasih kado apa."


"Istrinya begitu peka, memang benar cari kado itu susahnya mikir, mikir mau kasih apa."


"Sampai ketemu jam 9 ya La, aku mau istitahat dulu." Bu Miya pergi dari halaman rumah Lala.

__ADS_1


*****


Besok lagi ya lanjutannya, gak kuat aku mijit keayboard mulu, cucian lagi nunggu aku di belakang, maklum neng-neng berdaster mojoknya ma piring kotor ma baju kotor🙈🙈🙈


__ADS_2