Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 112


__ADS_3

Dirga masih tidak berdaya menggerakkan kedua kakinya. Melihat Syafi dengan perut besarnya, rasanya itu menyedot habis tenaga yang dia miliki.


Terlihat diatas panggung Syafi di sambut oleh kedua orang tua Arnaff, ibu Sam dan mama Resa. Mereka begitu bahagia melihat Syafi.


Pandangan mata Dirga sedikitpun tidak teralihkan.


"Kenapa diam sob? Peluk sana!" ucap Arnaff.


"Aku tidak bisa berdiri," jawab Dirga.


Sam tertawa mendengar pengakuan Dirga. "Sini aku bantu." Sam langsung melingkarkan tangan Dirga di pundaknya, Arnaff tidak tinggal diam, dia segera membantu Sam.


Akhirnya Dirga bisa berdiri, walau masih sedikit oleng. Dengan senang hati Sam masih memegangi tangan Dirga agar sahabatnya itu tidak jatuh.


Mata Dirga terus memandang ke arah Syafi, wanita itu berjalan kearahnya bergandengan dengan Mayfa dan Resa.


Senyuman juga terukir di wajah Syafi. Syafi berdiri tepat di depan Dirga.


"Kenapa tangan kak Dirga tuan pegang?" tanya Syafi pada Sam.


"Dia tidak berdaya berdiri sendiri, makanya kami bantu," terang Sam.


"Peluk bro!" bisik Arnaff.


Kedua mata Dirga berkaca-kaca, rasa bahagia dan kejutan ini membuat lidahnya kelu, dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata jua pun.


"Bini aku hamil bro!" Hanya kalimat itu yang terlepas dari mulut Dirga. Kedua matanya terus tertuju pada Syafi.


"Kita semua sudah lama tau," sela Mayfa.


"Kalian semua juga bekerja sama dengan Syafi?" Dirga memandangi wajah-wajah lain yang ada di dekatnya.


"6 bulan kakak bohongin aku, dan mereka, 6 bulan hukuman buat kakak!" 


"Aku janji, aku tidak akan bohong lagi," ucap Dirga.


"Nggak mau peluk nih?" Ledek Resa.


"Dibawa pulang aja boleh nggak? Aku nggak mau peluk sekarang, maunya bawa pulang sekarang," ucap Dirga.


Sam menepuk pundak Dirga. "Tapi nanti pelan-pelan ya, lagi hamil, bahaya, isinya tu di dalam penghuninya ada 2."


Sontak kedua bola mata Dirga membulat sempurna. "Kembar?"


Semua orang menganggukkan kepala mereka bersamaan.


"Aaaaa …." Dirga tidak tahan lagi menahan kebahagiaannya, dia langsung menarik Syafi ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku hanya minta kamu kembali sayang, ternyata Allah kasih kita bonus!" Dirga semakin mengencangkan pelukannya.


Saat perutnya dan perut Syafi saling menempel, Dirga merasakan ada pergerakkan dari perut Syafi. "Apa itu yank?" 


"Pergerakan anak kita," ucap Syafi. "Sepertinya mereka juga sangat bahagia, karena 5 bulan ini, mereka hanya bisa melihat papa mereka dari kedua mata mama mereka."


"Kita harus beneran pulang yank, kamu menghukum aku seberat ini, aku juga ingin menghukum kamu." Dirga menarik Syafi meninggalkan tempat acara itu, tanpa berpamitan pada siapa-siapa.


"Kira-kira, hukuman seperti apa ya yang Syafi terima?" 


Tiba-tiba Athan berdiri di samping Mayfa.


"Paling main petak umpet sama si kembar," sela Sam. Sam menarik Resa dan mereka segera pergi dari sana.


"Petak umpet? Kan anak mereka masih dalam perut Syafi?" gerutu Athan lagi.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Athan, Arnaff juga pergi dari sana.


"May, petak umpetnya gimana caranya?"


"Au ah, burem!" Mayfa juga pergi dari sana.


***


Syafi dan Dirga sampai di Apartemen Dirga.


Sangat sulit mempercayai semua ini kalau ini nyata, namun pergerakkan kedua bayi itu menyadarkan Dirga, kalau ini memang nyata.


"Sudah berapa bulan?" tanya Dirga.


"Sebentar lagi 7 bulan."


"Kapan kamu tahu kalau ada mereka?" 


"Saat pingsan di acara Reuni."


"Maafkan aku." Dirga merebahkan kepalanya di pangkuan Syafi.


"Aku juga minta maaf." Syafi membelai lembut rambut kepala Dirga.


"Hari terburuk dalam hidupku setelah kepergian paman dan bibi, adalah saat kau pergi dari hidupku. Aku tidak bisa merasakan kebahagiaan lagi saat kamu pergi Fiy."


"Aku juga, sekeras apapun aku berusaha bahagia, semua itu sulit, karena kebahagiaan aku itu kakak."


"Hidup ini adalah ujian, seberat apapun ujian kita, berusahalah agar selalu berdiri bersamaku Fiy."


"Insya Allah, kak."

__ADS_1


"Tadi kan hal terburuk dalam hidupku, ada lagi hal yang terbodoh yang aku lakukan." Dirga menahan ucapannya, dia menegakkan kepalanya dan memandangi lekat wajah Syafi. "Tahu hal bodoh apa yang aku lakukan?" Tanya Dirga.


Syafi hanya tersenyum rasanya dia tahu jawabannya.


"Kamu malah tertawa."


"Hal terbodohku, yaitu saat aku mengijinkan istriku pergi meninggalkanku."


"Aku tau, itu karena aku cerdas dan kakak--" Syafi menahan ucapannya.


"Sudahlah, cukup di rasa jangan diucap." Dirga naik keatas Sofa dan menarik Syafi agar bersandar di dadanya yang bidang.


"2 bulan lagi, kita akan menjadi orang tua, kak, semoga kita bisa mengarahkan kedua anak kita ke jalan yang benar."


"Amiin."


"Beberapa hal yang paling aku takutkan dalam hidup," ucap Syafi.


"Apa itu?"


"Takut kehilangan cinta kakak, takut kehilangan sahabat dan keluarga, juga aku takut kalau aku tidak bisa menjadi ibu yang baik buat anak-anak kita."


"Kamu wanita yang luar biasa sayang, aku yakin, kamu adalah istri dan ibu yang terbaik." Dirga mendaratkan ciumannya begitu dalam di pucuk kepala Syafi.


"Kata orang, orang hamil itu bisa ngidam, kamu pernah ngidam? Terus Ngidamnya apa?" tanya Dirga.


"Ngidamku mudah, hanya ingin melihat wajah kakak, makanya setiap pagi dan sore aku di taman, aku bahagia bisa melihat kakak."


"Nakal!" Dirga mencubit gemas hidung Syafi.


***


END


***


******* yang aku bikin, cuma sampai syafi hamil, jadi kalau tidak puas maafkan Author🙈


***


Terima kasih sudah mewarnai hari-hariku dengan komentar-komentar kalian, terima kasih atas semua dukungan yang kalian berikan untukku yang suka menghayal ini. 


Sampai jumpa di next karya yang akan datang, kapan ada? Belum tau, tapi kalau ada aku pasti kasih pengumuman.


Jaga kesehatan semua, dan bahagia selalu.


Karena mulai hari normal, makanya aku juga harus batasi kegiatan mojok aku sama laptop.

__ADS_1


__ADS_2