Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 84


__ADS_3

Kelompok pertama yang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan itu sudah berada di dalam ruangan sana. Sedang sisanya menunggu giliran sambil duduk manis di kursi yang berjejer yang ada di depan ruangan tersebut.


Mayfa masih sibuk membalas pesan Athan.


Lu di mana?


Tidak berselang lama, Mayfa mendapat pesan balasan dari Athan.


Nggak usah nunggu gue, kalian langsung aja ke lantai yang gue maksud.


Mayfa segera menyimpan handphone-nya dan menarik Syafi berjalan menuju lift.


"May …." Syafi kaget, tapi tetap mengikuti kemana temannya itu menarik dirinya, hingga mereka berada dalam lift.


"Kita mau kemana?" tanya Syafi.


"Mencari Dirga." jawab Mayfa singkat.


Mayfa menekan angka 9 di tombol lift itu, hingga lift yang mereka masuki mengantar mereka ke lantai tujuan mereka. Keduanya keluar dari lift dan mulai menjelajahi lantai itu.


"Kok gue ngerasa salah karena ngintilin kak Dirga." Syafi mengikuti kemana Mayfa menariknya.


"Kepo untuk menyelamatkan diri dari kebodohan itu perlu Fiy. Kalau lu kagak tau di mana Dirga dan dia ngapain, yang ada lu hanya terus dibodohin!"


"Makanya kita cari tau tu orang lagi apa penting, biar lu bisa lihat dan kagak di bodohin sama kata-kata cinta dia, kalau hanya elu yang dia cinta." sambung Mayfa.


Mayfa tersadar kalau ucapannya begitu kasar dan memprovokasi. Mayfa memandangi wajah Syafi, terlihat mata Syafi berkaca-kaca. "Maaf Fiy, bukan maksud gue kompor."


Pandangan mata Syafi terus ter-arah lurus kedepan. Membuat Mayfa semakin merasa bersalah. "Maafin gua Fiy."


"Lu bener, dan lu nggak salah." Terlihat air mata mulai menetes dari ujung mata Syafi.


Melihat sahabatnya seperti ini, Mayfa memandang kearah pandangan mata Syafi tertuju, hingga matanya bisa melihat jelas dua orang yang tengah berpelukan di depan mereka.


Napas Mayfa memburu, terlihat wanita itu sangat marah, dan ingin menerkam targetnya.


"Hmmmppp!" Mayfa tidak bisa melepaskan suaranya. Telapak tangan Syafi sudah membungkam mulutnya. Wanita itu juga menarik Mayfa agar pergi dari tempat itu, sebelum dua orang yang masih berpelukan tersebut menyadari keberadaan mereka.


Setelah kembali ke dalam lift, Syafi melepaskan tangannya yang sedari tadi membungkam mulut Mayfa. Dia menekan lantai di mana ruangan rekan gurunya yang melahirkan berada.


"Lu napa narik gua?! Gua mau bejek-bejek tu 2 orang!" Mayfa sangat marah.


Syafi masih berusaha mengusap air mata yang terlanjur menetes. "Jangan pakai cara kasar, pakai cara gue aja. Cara yang anggun dan manis."


"Uwekkkk!" Ledek Mayfa.


"Kalau suatu saat gue ambil tidakan bodoh, setidaknya gue pernah beri kesempatan beberapakali."

__ADS_1


"Lu ngga kesel lihat barusan?" Mayfa menatap tajam pada sahabatnya.


"Kesel, kecewa, marah, sakit. Aku hanya manusia biasa, yang serakah akan cinta Dirga, gue nggak rela berbagi cinta dengan mahkluk manapun yang ada di muka bumi ini. Halah ... aku pake lu-gue, kan ngikut-ngikut kamu jadinya gaya bahasaku."


"Terus, kita bagaimana?" Tanya Mayfa.


"Ya jalanin lagi, ini baru sekali, aku akan beri kesempatan sampai hatiku benar-benar tidak kuat lagi untuk percaya."


"Ya udin … gue ngikut lu." Mayfa masih berusaha menenangkan dirinya, saat ini dia benar-benar kecewa pada Dirga.


Keduanya terdiam. Mereka segera kembali berkumpul dengan teman-teman mereka. Saat Mayfa dan Syafi kembali, sudah giliran mereka menengok langsung rekan mereka yang baru melahirkan.


Berada di ruangan itu, perasaan Syafi makin memburuk, dari hatinya yang paling dalam, dia juga ingin memiliki bayi yang lahir dari rahimnya sendiri. Apa daya, takdir hidupnya seperti ini.


Melihat bayi mungil itu, luka Syafi kian menganga lebar. Teringat akan pernikahan kedua Dirga yang sudah dikaruniai seorang bayi.


Wajah Syafi mengukir senyuman, tapi kehancuran hatinya lebih dahsyat dari apapun.


Mayfa memandangi wajah sahabatnya, dia sangat yakin saat ini Syafi tersiksa oleh rasa sakit.


"Kami pulang duluan ya, selamat atas kelahiran bayinya. Semoga menjadi anak yang sholeh, patuh pada orang tua, dan penolong di akhirat kelak," ucap Mayfa.


Kedua sahabat itu keluar bersama dari ruangan itu.


"Kalian mau pulang?" Tanya salah satu rekan guru.


"Iya bu, kami mau pulang," jawab Mayfa.


6 orang yang menunggu di luar mengikuti Syafi dan Mayfa, mereka pulang bersama-sama.


8 orang itu berada di pintu utama gedung Rumah Sakit itu, beberapa memainkan handphone mereka untuk memesan taksi.


Sedang Mayfa memainkan handphone-nya, menanyakan keberadaan sahabat mereka yang satunya, Athan, sedari tadi laki-laki itu belum kelihatan batang hidungnya.


Di lantai atas.


Lala kembali ke ruangan Romi, dia berpamitan pada Romi dan Karla, karena tidak bisa lama-lama meninggalkan bayinya. Setelah berpamitan, Lala dan Dirga segera meniggalkan ruangan Romi.


Selama dalam lift, Dirga maupun Lala sama-sama kompak membisu. Melihat keadaan Romi seperti ini, otak menjadi sangat buntu.


Tink!


Suara pintu lift yang terbuka mengagetkan keduanya. Dirga dan Lala segera keluar dari lift. Baru beberapa langkah melangkah keluar dari lift, langkah kaki Dirga dan Lala terhenti saat melihat Syafi ada di dekat pintu utama.


"Bukankah itu istri kakak?" tanya Lala.


Dirga menelan saliva-nya, dia belum siap memberi tahu Syafi apa hubungan dia dengan wanita yang kini bersamanya. Dirga hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi pertanyaan Lala.

__ADS_1


"Kakak hampiri istri kakak, bilang saja kalau kakak menengok sahabat kakak, itu tidak membohongi dia kan?" usul Lala.


"Kamu bagaimana?"


"Biar aku pulang naik taksi saja." Lala berusaha tersenyum.


"Baiklah, hati-hati ya La."


"Tapi kakak keluar duluan, aku belakangan saja."


Tepat dibelakang Dirga, pintu lift yang lain terbuka, Athan mau keluar dari lift, tapi Dirga dan Lala tidak mengetahui sepasang mata yang memandangi mereka dengan tatapan kemarahan yang teramat besar. Rahang Athan mengerat, rasanya ingin sekali memukuli Dirga tanpa ampun. Tapi ini belum saatnya. Dia menutup pintu lift itu kembali.


"Aku duluan keluar La." Dirga segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


"Aurel, bukannya itu suami kamu?" Salah satu teman Syafi menujuk kearah Dirga.


"Mana ehem dia?" Bisik Mayfa pada Syafi.


Syafi memberikan senyumannya, saat matanya memandang kearah Dirga. "Jangan bahas ehem, kamu ikut aku ke rumah ya, aku butuh kamu," bisik Syafi.


"Mau bantuan buat mutilasi Dirga?" bisik Mayfa lagi.


"Hihihi …. Syafi berusaha tertawa. "Nanti kita bahas yank, yang penting kamu ikut dulu."


Dirga semakin dekat dengan mereka.


"Kakak, kenapa kakak ada di sini?" Syafi berusaha menyambut Dirga dengan ramah dan senyuman palsu terus menghiasi wajahnya.


"Sahabatku sakit, aku menengok dia. Kalau kamu? Kenapa bisa rombongan gini?"


"Jenguk teman yang baru melahirkan," jawab Syafi.


"Sekarang mau kemana?" tanya Dirga.


Syafi melihat istri kedua Dirga berjalan kearahnya, jiwa normalnya ingin sekali menampar dan menjambak wanita itu, kenapa dia hadir ditengah rumah tangganya dengan Dirga. Dalam khayalannya Syafi menarik wanita itu, menjatuhkannya ke lantai dan menumpahkan seluruh kekuatannya menampar dan meninju wajah wanita itu.


"Sayang …."


Pangilan Dirga menyadarkan Syafi dari khayalan sesatnya.


"Mau kemana?" Dirga mengulangi pertanyaannya.


"Maunya ke hati kamu, tapi aku sudah terkunci di sana, jadi aku gak bisa kemana-mana." Syafi sengaja berkata demikian.


Lala terus berlalu, dia mendengar jelas ucapan Syafi.


"Jadi, kita ke mana nih?" tanya Dirga.

__ADS_1


"Pulang." Jawab Syafi. "Tapi setelah kereta kencana teman-temanku sampai."


"Oh oke ratuku," jawab Dirga.


__ADS_2