Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 111 Flash Back 2


__ADS_3

Romi tidak habis pikir, Syafi mau menampakkan diri 5 bulan kemudian.


"Kamu tidak kangen sama Dirga?"


"Kangen, dan itu syaratku yang berikutnya."


"Pertama, rahasiakan kepulanganku dan kehadiranku. Aku kembali, dan aku ingin tempat tinggal dekat dengan Dirga, agar mataku bisa melihatnya, tapi dia tidak bisa melihatku. Bagaimana caranya, aku serahin sama kalian."


"Kenapa harus menunggu 5 bulan?"


"Biar ada kejutan saat aku muncul, karena perutku nanti sudah besar."


Romi mematung. "Kamu?"


"Iya, akhirnya kami diberi hadiah dalam pernikahan kami."


"Kalau begitu, sebentar aku akan minta bantuan sama Tuan Sam."


Romi langsung menelepon Sam, dia menceritakan semua permintaan Syafi, termasuk kehamilan Syafi.


"Dirga malah meminta batuanku untuk memantau Bandara pula, kenapa kebohongan seperti Virus? Yang satu bohong sampai aku ikut bohong!"


Romi hanya tertawa. Akhirnya Sam menemukan cara, dengan meminta Syafi mengenakan baju panjang dan kerudung lebar yang menutup seluruh wajahnya.


Rencana matang, Syafi dan Romi langsung menuju Banjarbaru, mereka menginap di hotel yang terdekat dengan Bandara, karena penerbangan mereka pagi.


Penerbangan lancar, pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di kota mereka.


Syafi dan Romi di sambut anak buah Sam, Syafi mengikuti mereka untuk rencana lanjutan, sedang Romi langsung keluar menemui Dirga.


Takdir Syafi memang harus bersama Dirga, tanpa sengaja, Dirga menabrak troli yang dia dorong.


Melihat Dirga, hati Syafi sangat bahagia. Ingin rasanya memeluk laki-laki yang sangat banyak memberinya cinta.


"Maafkan saya." 


Kekaguman Syafi buyar, dia hanya menganggukkan kepalanya, dan segera melangkahkan kakinya mengikuti anak buah Sam yang berperan sebagai suaminya, demi menghilangkan kecurigaan Dirga.


Syafi diantar ke sebuah Apartemen. Di sana sudah ada Resa, Mayfa, Sam, dan Athan.


"Selamat datang kembali, Syafi." Sambut Resa.


"Syafi?" Mayfa dan Athan masih bingung.


Saat wanita itu melepas kerudung lebarnya, hanya tersisa kerudung pashminanya, Mayfa dan Athan sangat terkejut.


"Terima kasih sudah mau kembali ke sini, Fiy." ucap Sam.


"Saya juga berterima kasih, karena kalian semua membantu dan mendukung saya untuk menghukum Dirga, 6 bulan dia membohongi kita semua, maka 6 bulan juga hukuman buat dia, dan sekarang tinggal 5 bulan lagi."


"Hukuman yang tepat, semoga dia jera," ucap Resa.


"Kamu nggak rindu aku tante ning?" Syafi maksud adalah Mayfa.


"Tante Ning?" Mayfa bingung.


"Tinggal pilih, ma'e artinya mama May, Aunty, atau tante Ning? Emm mungkin kamu lebih suka dipanggil acil?"

__ADS_1


Mayfa dan Athan masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Syafi.


"Di sini, ada calon pewaris kemanisan aku." Syafi membelai perutnya yang masih rata.


"Lu?" Mayfa seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Dua," ucap Syafi.


"Selamat …." Mayfa langsung berlari mendekati Syafi dan memeluknya.


"Selamat Fiy …." ucap Athan.


Mereka berlima terus merencanakan kejutan mereka yang akan mereka laksanakan saat resepsi pernikahan Romi.


Selama 5 bulan kedepan, Syafi akan tinggal di Apartemen yang berada tepat berseberangan dengan Apartemen Dirga. Syafi di Apartemen itu di temani mbak Adah.


Perundingan selesai, hanya tertinggal Mayfa, Syafi dan mbak Adah di sana.


"May, kayaknya aku ngidam, aku pengen makan di Restoran tempat kita rayain ulang tahun kamu waktu itu," rengek Syafi.


"Yakin bisa? Bagaimana kalau ketahuan Dirga?"


"Nggak bakal, aku kan pakai pakaian begini, kamu aja nggak ngenalin apalagi Dirga."


Akhirnya Syafi dan Mayfa menuju Restoran yang Sayfi maksud.


Sesampai di restoran itu, keduanya terlihat asyik berbicara, 2 minggu tidak berkomunikasi lewat handphone, rasanya serasa 2 tahun.


"Dirga …." Bisik Mayfa.


"Di sini?" Syafi panik, kalau Dirga menemukan dirinya, kejutan terancam gagal.


"Kita masuk dulu, bagaimana nantinya kita sambil mikir." Syafi menarik Mayfa memasuki restoran itu.


Sesampai di restoran itu, Syafi dan Mayfa melihat Athan bersama rekan menyanyinya.


Mayfa langsung mendekati 2 orang tersebut. "Beruntung kalian di sini, gue mau minta tolong."


Mayfa mulai menjelaskan pertolongan apa yang dia minta.


"Fiy, lu pakai baju lain kan di dalam?" tanya Mayfa.


Syafi menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, kalian ke toilet gih," usul Athan. "Fiy tunggu." Athan mengambil tasnya, dan meraih sesuatu dari sana.


"Takut ada yang mengenali kamu nanti di dalam, setelah kamu lepas baju luar kamu, kamu pakai topi ini dan masker ini." Athan memberikan 2 benda itu pada Syafi.


"Terima kasih, Than."


Syafi dan Rena segera menuju toilet. Di sana Rena selesai lebih dulu, dia keluar menemui Athan dan Mayfa, namun hanya ada Mayfa di sana, keduanya pun berusaha santai.


Tidak berselang lama, sosok Dirga muncul, dan mencurigai wanita yang menutup bagian wajahnya itu adalah Syafi.


Dirga langsung duduk di salah satu kursi yang mengitari meja yang Mayfa tempati. Mayfa memasang raut wajah keheranan karena kedatangan Dirga.


"Kak Dirga? Mau ngapain?" tanya Mayfa.

__ADS_1


"Nggak usah pura-pura May, aku tau kalau wanita ini adalah sahabatmu dan kembaranmu." Dirga menatap tajam pada wanita yang berada tepat di depan matanya, mengenakan berpakaian serba hitam.


Tidak jauh dari Dirga berada, ada Syafi yang asli, wanita itu posisinya membelakangi Dirga, dia seolah sibuk memandangi menu yang terpampang dalam buku menu Restoran ini.


"Sahabat, kembaran? Maksud lu Syafi?" Mayfa berusaha menahan tawanya.


Syafi yang asli di belakang elu bang. 


Namun Mayfa tidak akan mengatakannya.


"Dia Rena, teman bernyanyi Athan yang baru, mendengar dia bernyanyi, kerinduan gue pada Syafi terasa sedikit terobati," terang Mayfa.


"Aku tidak percaya, sebelum melihat wajahnya." Tatapan Dirga begitu tajam tertuju pada wanita itu.


Syafi semakin tersenyum, perasaan Dirga begitu tajam.


"Ren, kan gue udah bilang, di sini mah kagak asa Fans elu, ngapain lu pakai penutup wajah begini!" Protes Mayfa.


Perlahan wanita itu melepaskan penutup wajahnya. "Tadi gue mau latihan May, siapa tahu nanti laki gue sultan gitu, yang sukanya sama cewek pakai cadar, nah gue ini mau latihan, andai suami gue maunya ane begini, ane sudah siap lahir batin."


Dirga terdiam, ternyata wanita yang dia pikir adalah Syafi bukan Syafi, tapi orang lain.


"Sudah percaya?"


Pertanyaan Mayfa mengejutkan Dirga dari lamunannya.


"Maaf ya mbak, maaf juga May, aku hanya sangat rindu pada Syafi, bahkan hatiku mengatakan dia ada di kota ini, di tempat ini." Dirga menyisir pandangannya pada seisi restoran.


Jantung Syafi seakan melompat dari tempatnya. Sulit untuk berhenti tersenyum merasakan kebahagiaan ini.


Aku juga sangat rindu kaka.


Sabar kak, semoga kita sama-sama kuat menunggu 5 bulan lagi.


"Kangen susulin sono!" Oceh Mayfa 


"Dia sudah pergi lagi, kemaren Romi datang ke sana, seperti dugaan aku, kalau ada yang mencoba membujuknya, yang ada dia kabur dan kabur lagi." Dirga segera berdiri dan mengembalikan posisi kursi pada semula. "Aku pamit dulu May."


"Gue faham sama perasaan lu, karena gue juga merasakan rindu pada sosok yang sama, hanya saja kerinduan gue ada sedikit penawar, dengan dengarin ini nyanyi." Mayfa meng-isyarat pada Rena.


"Gue nyanyi di taman kota bareng Athan," ucap Rena.


"Tempat Syafi nyanyi 2 tahun lalu," gumam Dirga.


"Hooh, makanya saat berada di sana, gue ngerasa dia ada di samping gue."


Dirga segera pergi dari sana, keyakinan hatinya saat ini sangat menyiksanya, tapi dia tidak bisa membuktikan kalau Syafi kembali ke kota ini.


Setelah Dirga pergi, Syafi segera bergabung dengan Mayfa dan Rena.


"Ini nggak mimpi kan May?" tanya Syafi.


"Bukan mimpi, lu juga kenapa pakai acara 5 bulan lagi  hadeh …." gerutu Mayfa.


"Kalau calon anak gue yang mau, gue bisa apa?" Syafi balik bertanya.


"Au ah burem!" Dumel Mayfa.

__ADS_1


Syafi dan Mayfa memilih membungkus makanan sana, daripada menikmati di sana ketemu Dirga atau orang lain yang mengenali Syafi.


Hari demi hari berlalu, keinginan Syafi terkabul, bisa melihat wajah Dirga saat pagi ketika laki-laki itu akan pergi bekerja, atau sore saat laki-laki itu pulang.


__ADS_2