Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 23 Tergantung Niat


__ADS_3

Selesai menikmati sarapan,Syafi dan Dirga segera bersiap. Selesai dengan persiapannya, Syafi mendekati Pamannya. Perlahan mendekatkan wajahnya kedekat telinga Pamannya. “Paman …  aku mohon restu, anak kesayangan Paman ini akan menikah. Insya Allah, mulai hari ini aku akan mulai memakai kerudung, do’a-kan aku Paman. Semoga aku bisa Istiqomah.” Syafi mendaratkan ciuman lembut di bagian alis Pamannya, ciuman begitu dalam, seakan enggan melepaskannya. Merasa air matanya akan lolos, Syafi segera menegakkan wajahnya, dan pergi dari sisi Pamannya sambil mengusap air mata yang terlanjur menetes.


“May … bisa kita pergi sekarang?”


Mayfa menganggukkan kepalanya. “Sis, aku duluan ya ….” Mayfa menoleh kearah Dirga. Laki-laki itu Nampak sibuk mencari sesuatu dalam tas-nya. “Kak Dirga … kami duluan.”


Dirga hanya menganggukkan kepalanya, dia kembali fokus pada tasnya.


“Cari apa, Kak?” tanya Eren.


“Ini ….” Dirga memperlihatkan kotak cincin yang dia temukan dalam tas-nya. “Ini tadinya buat ….” Dirga membatalkan ucapannya, takut keadaan Ardhin memburuk karena teringat Arnaff. Cincin nikah yang Dirga beli untuk Syafi dan Arnaff waktu itu, belum dia berikan pada Arnaff.


Eren tersenyum, dia faham apa maksud Dirga. “Sudah siap kak? Kalau sudah ayok kita berangkat,” ajak Eren.


“Saya akad nikah dengan pakaian ini?” Dirga membuka kedua tangannya memperlihatkan apa yang dia pakai.


“Tenang kak, Ayah sudah persiapkan semuanya tadi malam, semua insya Allah sudah beres.” Nazwa menambahi.


Dirga Kembali membuka tas-nya, wajahnya Nampak cemas. Kini dia mengambil tas laptopnya, wajahnya terlihat sedikit tenang. “Alhamdulillah ….” Terlihat Dirga memegang sesuatu.


“Apa lagi kak?” tanya Eren.


“Mahar, aku tidak punya uang cash banyak, cek saja.” Dirga memperlihatkan buku cek miliknya.


“Ide bagus!” Eren melirik jam tangannya. “Masih ada waktu untuk beli bingkai buat cek itu, ayok kak,” ajaknya.


“Berapa?” tanya Dirga.


“Bingkai Cuma satu aja, masa 10. Kakak mau jual lagi?” tanya Shofia.


“Bukan bingkai, tapi uang untuk mahar, jumlahnya berapa?” Dirga terlihat begitu bingung.


“50juta,” ucap Nazwa.


“100juta,” ucap Marcelina.

__ADS_1


“Apa?” Raut keheranan itu belum pergi juga dari wajah Dirga.


“Kebanyakan ya kak? Ya sudah, 25juta saja,” usul Asti.


“Bukan kebanyakan, 100 juta, apa gak terlalu sedikit?” Dirga masih bingung.


“Jangan pandang mahar kak, yang penting sah!” ucap Eren.


“Beneran 100 juta saja?” Dirga kembali bertanya,


“Ya segitu gak apa-apa kak, daripada 100 Milyar, takutnya Syafi yang jantungan, tu anak jarang lihat duit kak. Kalau dia pingsan ‘ntar akadnya batal!” ucap Nazwa.


Dirga segera menulis nominal 100 juta pada lembaran ceknya, dia dan Eren segera berangkat menuju KUA.


Di salon yang Mayfa percaya untuk merias Syafi, terlihat pekerja salon masih sibuk memoles wajah cantik itu dengan kuas ajaib mereka. Mayfa terus memandangi temannya itu.


“Fiy, hape gua ketinggalan di rumah lu,” oceh Myfa.


“Lah, di tangan kamu hape siapa?”


“Owh, ini hape bututnya si bontot yang gak kepake, sebelum hape aku Kembali, aku pakai hape kentang ini dulu.” Mayfa memperlihatkan hape dia gunakan saat ini.


“Kenapa gak pakai gaun pengantin ….” Mayfa protes.


“Setelah akad nikah, secepatnya kita harus Kembali ke Rumah Sakit. Buang waktu kalau setelah akad ganti baju lagi, kalau nggak ganti baju, aku yang gak nyaman menyusuri Lorong Rumah Sakit mengenakan baju pengantin.”


Alasan Syafi masuk akal, Mayfa pasrah mengikuti keinginan Syafi. Dia mengarahkan mata kamera ponselnya kearah Syafi, mengambil foto Syafi, langsung mengirimnya pada Eren. Berharap kakaknya bisa menyesuaikan baju yang Dirga pakai dengan baju pilihan Syafi saat ini. Mereka segera pergi dari salon, meneruskan perjalanan menuju KUA.


Di sebuah butik langganan Eren. Butik itu belum buka, demi anak sultan langganannya, dia rela melayani pembeli walau belum jam operasional kerja. Eren dan Dirga masih bingung memilih setelan apa buat Dirga pakai. Notifikasi pesan masuk di ponselnya membuyarkan konsentrasi Eren. Seketika kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat dandanan Syafi. Eren izin permisi pada temannya juga pada Dirga. Sesampainya di luar butik, dia segera menelpon Mayfa. Protes dengan penampilan Syafi. Mayfa menjelaskan kenapa Syafi memilih berpenampilan seperti itu. Sama dengan Mayfa, Eren pun menerima alasan Syafi yang memilih setelan yang sudah dia kenakan.


Eren masuk Kembali kedalam Butik, dia memberikan ponselnya pada temannya. “Apa yang sesuai dengan ini?”


Pemilik butik bingung. Dia teringat gaya laki-laki di desanya saat akad nikah. Dia langsung masuk kedalam, tanpa pamit pada Eren. Tidak lama dia Kembali membawa sesuatu.


“Di kampung halaman aku, biasanya kalau akad nikah sederhana, laki-lakinya mengenakan baju koko seperti ini dan pakai peci,” terangnya.

__ADS_1


Ide pemilik butik lumayan juga, mengingat Eren juga sering melihat akad nikah sederhana, terlebih mereka tidak punya banyak waktu. Dirga segera mengenakan baju koko yang di berikan oleh pemilik butik. Dirga menggeleng melihat pantulan dirinya di cermin. Dia membayangkan akad nikah yang indah dengan wanita impiannya. Nyatanya, dia menikah dadakan seperti ini, bahkah bukan pernikahan yang akan berjalan pada umumnya, Syafi hanya sebatas pendamping setelah hari pernikahan nanti. Dirga mengumpulkan kesadarannya. Dia segera keluar dari ruang ganti. Merasa waktu mereka mepet, Eren segera menyelesaikan semua keperluannya, dia dan Dirga langsung pergi dari butik, melanjutkan perjalanan menuju KUA.


Sepanjang perjalanan Dirga menikmati sarapannya, sambil membaca secarik kertas yang  Eren berikan, di kertas itu tertulis nama lengkap Syafi dan nama dirinya, juga kalimat akad nikah. Sedang Eren fokus menyetir.


Tidak terasa perjalan mereka ber akhir, mobil Eren terparkir sempurna, mereka segera turun dari mobil. Di depan KUA terlihat beberapa tetangga Ardhin, Pak Said dan istri, juga beberapa kerabat dekat Kamal dan Ardhin. Satu yang menyita perhatian Dirga, wanita yang mengenakan gamis putih, juga kerudung putih yang sedikit bercorak biru, berhasil menyita perhatian Dirga. Dirga segera menyadarkan diri dari kekagumannya, dia langsung menyalami Pak Said, seraya megucapkan salam. Salam Dirga dan Eren di jawab semua orang yang ada di sana.


Mayfa tersenyum, dia kagum dengan kinerja kakaknya. Perhatian Mayfa yang tadi tertuju pada Dirga ber-alih pada bingkai kecil yang Eren pegang. “Apa itu sis?”


“Ini?” Eren memperlihatkan bingkai yang dia bawa.


“Apalagi? Masa gua tanya sosok yang ada di sebelah lu jenis apaan. Tanpa gua tanya juga, gua tau kalau cowok yang ada di sebelah lu itu, Arjuna yang Allah kirim buat Mantan bidadari somplak!” Yang dia maksud Syafi. Tapi wanita itu benar-benar berubah sendu dan sangat pendiam. Mayfa segera menutup mulutnya, perempuan di sampingnya ini tidak on mode somplaknya.


“Sudah cukup, ayok kita segera ke dalam,” ajak Pak Said.


Beberapa urusan sudah selesai, wali hakim yang di tunjuk oleh KUA juga sudah siap. Semua orang yang di undang Pak Said, sudah duduk manis di tempat yang tersedia. Begitu juga sepasang mempelai pengantin, mereka berdua sudah duduk bersebelahan di meja akad.


Pak Said menerima mic yang di berikan oleh salah satu petugas KUA.  Untuk memberikan nasehat pernikahan buat Syafi dan Dirga.


--


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Salam Pak Said.


“Wa alaikum salam warahmatullahin wabarakatuh.” Terdengar gemuruh sahutan salam.


“Saya hari ini, di minta teman saya untuk menyampaikan nasehat pernikahan pada Ananda Syafi dan Nak Dirga. Saya juga di sini sebagai perwakilan keluarga kedua mempelai.” Pak Said memandang kearah Dirga dan Syafi.


“Nak … sebelum kalian memulai akad nikah ini, mari luruskan dan perbaiki niat kalian untuk menikah. Semoga pernikahan kalian kedepannya nanti menjadi ladang pahala untuk kalian berdua, juga semakin mendekatkan diri kalian kepada Allah, karena nak Dirga, akan menyempurnakan separuh agamanya.”


Pak Said masih memandangi kedua mempelai itu. ”Pernikahan itu hukumnya ‘halal.’ Tetapi ia juga bisa menjadi haram, bisa juga menjadi sunnah, dan bisa juga menjadi makruh. Yang menjadikan suatu pernikahan itu halal atau haram, itu tergantung niat, cara, maupun tujuan mendirikan pernikahan itu sendiri. Seperti yang Ayah bilang, perbaiki dan benahi niat kalian untuk menikah, dengan niat-niat yang Rasulullah sebut dalam hadist, salah satunya adalah  menikah mengikuti sunnah Rasul. Masih banyak lagi, yang Allah sebutkan dalam surah-surah al-qur’an, supaya pernikahan ini dalam kategore halal, dan jadi ladang pahala untuk kalian.”


Seketika dada Syafi sesak, seakan batu besar menghantam dadanya. Syafi mengetik pesan di ponselnya.


Bagaimana ini kak, niat kita untuk menikah saja sudah keliru, apakah perlu kita batalkan saja? Aku takut kak kalau berulah lagi. Dosaku yang lain saja sudah sangat banyak. Pesan Syafi.


Merasa ponselnya bergetar, Dirga segera membuka pesan yang masuk, seketika kedua bola matanya juga membulat sempurna saat membaca pesan Syafi.

__ADS_1


**


Bersambung ….


__ADS_2