
Hampa, semeriah apapun, seramai apapun keadaan dunia di sekitar Dirga, baginya semua itu tidak berarti.
Tidak ada warna, warna apapun yang menghiasi bumi ini, bagi Dirga itu semua abu-abu. Karen segala warna itu adalah Aurelia Syafitri.
"Pagi om Dirga …."
Anak kecil salah satu penghuni di gedung ini menyapanya, dia seumuran Nadhira. Dirga hanya melambaikan tangan dan melempar senyuman pada anak itu.
Ini lah pagi Dirga, bertegur sapa dengan siapa saja yang berpapasan dengannya, asal anak kecil, laki-laki, atau wanita lanjut usia, kalau wanita muda, laki-laki itu sengaja bersikap masa bodoh.
Tangan Dirga terhenti dari niatnya ingin membuka pintu mobil, kala sepasang matanya melihat wanita berpakaian serba tertutup berada di taman Apartemen yang dia tinggali.
"Pak Wafa, wanita itu penghuni baru?" Dirga meng-isyarat pada seorang wanita yang asyik menikmati keindahan taman.
"Oh itu, dia bu Firliy, baru menempati Apartemen ini kemaren, dia baru datang menyusul suaminya, kata pemilik apartemen, suaminya lumayan lama tinggal di apartemen ini, makanya dia memilih tinggal di sini. Terus wanita itu tengah hamil, tau sendiri kemauan ibu hamil harus segera di turuti."
"Owh …."
"Tuan Dirga naksir sama bini orang?"
"Enak saja! Saya juga masih punya istri."
"Barangkali saja, selama ini mana ada perempuan muda yang bisa menarik perhatian Tuan Dirga, bu Firliy malah Tuan tanyakan."
"Apartemen dia berseberangan dengan apartemen saya, makanya saya tanya."
"Bu Firliy, saya yakin orangnya cantik, dengar sapaan dia saja adem rasanya hati." Pak Wafa juga ikut memandang kearah taman.
Dirga lebih memilih pergi bekerja daripada berdebat dengan Pak Wafa yang gemar bercanda.
*****
Hari-hari Dirga tidak ada yang berubah, hanya saja ada orang baru yang Dirga lihat selama 5 bulan terakhir di gedung ini, tapi Dirga tidak pernah berkenalan dengan wanita itu.
Walau tidak pernah saling bicara, tidak saling kenal, bisa memandang wanita itu pagi dan sore hari, Dirga sudah sangat bahagia. Tidak tau kenapa, hanya dengan melihat rasa bahagia itu muncul seketika.
5 bulan berlalu.
Bayi mungil yang dulu hanya setia tidur dalam box nya, kini sudah mulai belajar merangkak.
Fattah, bayi itu sekarang berusia 8 bulan, sangat aktif membuat pengasuh Lala extra kerja keras mengurus bayi itu.
Pernikahan Lala dan Romi akhirnya akan dilaksanakan. Setelah menggelar akad nikah di kediaman orang tua Lala, sore harinya Romi mengadakan resepsi pernikahan di sebuah ballroom hotel.
Pesta pernikahan, hal itu sangat Dirga hindari, selama 5 bulan ini, dirinya hanya ke kantor dan menjelajahi kota tanpa tujuan. Namun hari ini, Dirga harus bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya.
Langkah kakinya mengayun begitu lemas. Saat dirinya menutup pintu, waktu yang bersamaan tetangga misterius yang selalu membuat perasaan Dirga tenang ketika melihatnya juga keluar, namun saat ini ada 2 orang laki-laki yang mengawalnya.
Dirga tersenyum sendiri, siapa wanita itu saja dirinya tidak tau, tapi hatinya tidak rela melihat Firliy bersama laki-laki lain.
"Dasar orang gila!" Dirga memaki dirinya sendiri.
Dia segera mempercepat langkah kakinya menuju hotel tempat Resepsi Romi dan Lala.
Keadaan Ballroom hotel terlihat ramai, banyak orang-orang yang Dirga kenal berkeliaran di sana, tidak terkecuali atasannya Sam dan Resa. Tangan laki-laki itu seakan ikut terjahit di gaun yang dikenakan istrinya.
Mata Dirga terpaku satu arah, dia melihat sosok yang sering bersama istrinya. "Mayfa?" Wanita itu terlihat sangat cantik dengan gaun panjang yang membalut tubuhnya. Dirga mempercepat langkahnya dan duduk di kursi yang ada di samping Mayfa.
Sontak hal itu menjadi perhatian tamu undangan yang lain, 5 bulan ini Dirga sangat tidak perduli dengan wanita muda, sekarang malah mendekati.
"Hai May." Dirga begitu santai duduk di sana.
__ADS_1
"Kak Dirga?" Mayfa terkejut.
"Kamu datang sama siapa?" tanya Dirga.
"Sama Athan, dan Syafi kw."
Dirga tersenyum mendengar kata 'Syafi KW'
"Bagi kalian mungkin ada fotocopy blur-nya sosok Syafi, tapi bagi aku, Syafi hanya satu."
"Sebenarnya malas hadir, tapi gue mau lihat pertunjukkan pentasnya Rena."
"Aku juga malas hadir, tapi Romi sahabatku, aku harus hadir."
Athan dan Rena memulai penampilan mereka, alunan-alunan lagu romantis memanjakan telinga para tamu undangan.
Mata mereka juga disambut dengan tampilan slide foto prewedding Romi dan Lala, yang tampil di layar besar yang ada di beberapa sudut ruang acara tersebut.
Beberapa lagu yang dibawakan oleh Rena dan Athan sudah berlalu. Rena maju kebagian panggung paling depan. Dia mulai mendekatkan mik ke mulutnya.
"Selamat pada Lala dan Romi, semoga langgeng terus, saling dukung dan saling terbuka, kejujuran dan kepercayaan adalah hal yang sangat penting, jujurlah, walau kejujuran itu pedih, daripada bohong hanya untuk menyenangkan perasaan pasangan, namun akhirnya hanya menghancurkan kepercayaan yang sudah berdiri kokoh."
Dirga merasa tersentil dengan ucapan Rena. Karena kebohongan yang dia lakukan, dia memanen rasa pahit kehilangan Syafi hingga kini.
"Kenapa lu? Ginjal lu ada yang cubit?" Oceh Mayfa.
"Aku ngerasa yang bicara di depan sana adalah Syafi."
"Emang itu Syafi." Mayfa menjawab dengan expresi mengejek.
"Tidak berlama-lama lagi, satu buah lagu dari saya, 'Cinta Sejati' semoga cinta kalian berdua semanis kisah cinta Habibie dan Ainun."
Musik pembuka lagu Cinta sejati mulai mengalun.
...Menggeliat mengusik renungan...
Foto-foto Lala dan Romi masih mengiasi layar yang ada.
...Mengulang kenangan...
...Saat cinta menemui cinta...
...Suara semalam...
...Dan siang seakan berlagu...
...Dapat aku dengar...
...Rindumu memanggil namaku...
Dirga terpaku, suara ini sangat menyiksa batinnya. Hatinya berkata ini suara Syafi, tapi kenyataannya kedua bola matanya melihat kalau yang bernyanyi itu Rena.
...Saat aku tak lagi di sisimu...
...Kutunggu kau di keabadian...
Slide foto yang tayang bukan lagi foto prewedding Romi dan Lala, tapi foto-foto romantis milik Dirga dan Syafi.
"Huuuuhhhh!" Keadaan tiba-tiba menggemuruh diiringi riuhnya tepukkan tangan kala tamu undangan melihat foto-foto yang begitu mesra itu.
...Aku tak pernah pergi...
__ADS_1
...Selalu ada di hatimu...
...Kau tak pernah jauh...
...Selalu ada di dalam hatiku...
...Sukmaku berteriak...
...Menegaskan kucinta padamu...
...Terima kasih pada Mahacinta...
...Menyatukan kita...
...Saat aku tak lagi di sisimu...
...Kutunggu kau di keabadian...
...Cinta kita melukiskan sejarah...
...Menggelarkan cerita penuh sukacita...
...Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu...
...Cinta kita sejati...
Saat yang sama wanita yang mengenakan pakaian tertutup dan kerudung besar, dan selalu menutup seluruh wajahnya dengan bagian kerudungnya, berada di tengah panggung.
Rena tidak lagi bernyanyi,karena dari tadi wanita yang berkeruung itu yang menyanyikan lagu Cinta Sejati. Sekarang Rena terlihat sibuk, membantu wanita itu melepaskan kerudung lebarnya, dan pakaian bagian luarnya, hingga tampaklah sosok seorang Aurelia Syafitri mengenakan gaun cantik dan menampakkan perut besarnya.
...Saat aku tak lagi di sisimu...
...Kutunggu kau di keabadian...
Dirga mematung melihat pemandangan itu.
"Syafi …." Hatinya sangat bahagia, istrinya tepat di depan matanya, dan saat ini wanita itu tengah hamil.
Dirga tidak mampu menggerakkan kakinya untuk melangkah. Padahal dirinya ingin sekali berlari dan langsung memeluk wanita itu. Namun semuanya kaku tidak mampu digerakkan.
Kilasan 5 bulan terakhir berputar di-ingatannya. Wanita yang berpakaian panjang itu selalu ada di-sekitarnya, ternyata Syafi ada didekatnya selama ini.
...Cinta kita melukiskan sejarah...
...Menggelarkan cerita penuh sukacita...
...Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu … cinta kita sejati....
...Cinta kita sejati ….....
Syafi menyerahkan mik pada Rena, dia berhenti bernyanyi, dia terus tersenyum kearah Dirga yang mematung memandanginya.
****
Lanjutannya nanti ya, karena itu flashback kejadian kebelakang.
__ADS_1
Sampai jumpa di next bab.