Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 53 Terserah


__ADS_3

Saat pergi dari Rumah Sakit, Mayfa diantar Athan sampai kost-nya. Athan berpesan kalau dirinya akan menjemput lagi setelah ba’da isya. Sesampai kost, Mayfa segera mandi dan menunaikan kewajiban lain. Selesai semua tugas, Mayfa segera bersiap untuk kembali ke Rumah Sakit. Dia membawa sedikit keperluan untuk bermalam di sana. Mayfa masih berdiri di depan kost-an, menunggu Athan menjemputnya menuju Rumah Sakit menjenguk Syafi. Tidak lama motor Athan berhenti di dekat Mayfa, tanpa bicara lagi, Mayfa menerima helm yang Athan berikan padanya, segera naik ke motor Athan.


Sesampai di Rumah Sakit, Mayfa langsung menelepon Dirga. Menanyakan di mana mereka sekarang. Mengetahui di mana kamar Syafi. Athan dan Mayfa langsung menuju ruangan itu. Mayfa mengetukkan pungggung telapak tangannya di pintu itu, setelah mengetuk tidak lama pintu terbuka, terlihat Dirga diantara pintu itu.


“Masuk,” ucap Dirga.


Athan dan Mayfa segera masuk ke dalam ruangan, di sana terlihat perempuan yang terbaring, yang masih betah memejamkan kedua matanya.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Mayfa dan Athan, pada Dirga begitu kompak.


“Kata dokter, tidak ada yang serius, dia masih belum sadar karena dirinya sendiri yang tidak ada semangat untuk bangkit.” Dirga menatap sayu kearah ranjang Rumah Sakit itu.


“Ucapan Arnaff pasti sangat melukai dia, dia semakin terluka karena hubungan kalian,” sela Athan.


“Kau sudah di tolak Syafi, tolong terima itu,” ucap Dirga.


“Dia menolakku karena statusnya, apa kamu tidak berpikir? Ikatan kalian ini yang membuatnya malas bangun,” balas Athan.


“Cukup!” Tegur Mayfa.


Dirga maupun Athan sama-sama diam. Mereka ambil posisi yang nyaman, tidak ada yang bisa mereka lakukan.


“Untuk malam ini, kalian boleh menginap, tapi jika besok malam Syafi belum juga sadar. Kalian silakan datang berkunjung saja,” ucap Dirga.


Hening, hanya helaan napas dan suara monitor yang terdengar di ruangan itu, malam semakin larut, Mayfa, Dirga, dan Athan bergantian menjaga Syafi, berharap ada keajaiban terjadi. Tapi sayang, wanita itu masih betah memejamkan matanya. Dirga terus memainkan handphonenya, meminta Pak Ajah mengantarkan sarapan untuk tiga orang besok pagi, juga mengabari Sam atas kejadian yang menimpa Syafi. Dirga lega, Sam sendiri yang akan mengurus izin Syafi, setidaknya tugasnya untuk mengurus izin tidak perlu dia lakukan.


Kamu fokus menjaga Syafi. Jika Syafi masih sakit, kamu tidak perlu masuk kerja. Jangan lupa tampakkan perasaanmu, wanita itu bukan nujum yang bisa membaca isi hatimu. Pesan Sam yang Dirga terima.


Dalam alam bawah sadar Syafi, Syafi menenggelamkan dirinya dalam pelukan paman dan bibinya, pelukan yang selama ini sangat dia rindukan.


***


Suara adzan subuh mulai terdengar, Mayfa segera menuju kamar mandi untuk bersiap melakukan tugas subuhnya, selesai Mayfa, sekarang Athan yang berkuasa di kamar mandi itu. Saat Athan keluar dari kamar mandi, Mayfa sudah selesai dengan kewajibannya yang dua rakaat, dia meminta Dirga untuk menunaikan kewajibannya, sedang dirinya lanjut menjaga Syafi. Wajah-wajah itu terlihat letih, ketiganya tidak bisa tidur.


Matahari semakin menampakkan cahayanya, suara ketokkan pintu memecah keheningam, Dirga segera melangkah menuju pintu, terlihat Pak Ajah membawa kantong makanan. Dirga tersenyum melihat pelayan setianya sudah datang sangat cepat.

__ADS_1


“Pak Ajah, ayok sarapan bareng di dalam,” ajak Dirga.


“Tidak perlu Tuan. Saya langsung pergi saja.” Pak Ajah langsung undur diri dari hadapan Dirga.


Setelah Pak Ajah pergi, Dirga segera menghampiri Mayfa dan Athan. “Maaf, izin libur hanya ada buat Syafi, jadi … ayok kita sarapan, kalian harus kembali mengajar, bukan?” tanya Dirga.


Tanpa banyak bicara, mereka bertiga segera menikmati sarapan pagi mereka. Selesai menyantap sarapan, Athan dan Mayfa izin pergi. Tugas utama menanti mereka.


***


Suasana kelas Nadira terlihat sepi, saat yang datang bukan guru kesayangan mereka. “Miss, miss Aurel kemana?” tanya Nadira, pada guru yang menggantikan Aurel.


“Miss Aurel sakit, jadi beberapa hari kedepan, miss Flo dulu yang mengajar ya ….” Ucap Florita guru pengganti yang menggantikan Syafi.


Semua anak-anak diam, mereka terlanjur nyaman dengan guru mereka sebelumnya. Apa daya, mereka hanya anak-anak, tidak mengerti urusan orang dewasa.


Bel istirahat terdengar, Gavin, Gilang, Nadira dan tiga teman barunya langsung berlari menuju taman. Mereka langsung mendekati Mayfa.


“Miss upp, Miss Aurel sakit apa?” Nadira langsung bertanya pada Mayfa.


“Kami boleh menjenguk miss Aurel, Miss upp?” Nadira bertanya kembali.


“Anak-anak, tidak boleh ke Rumah Sakit, kalian tahu kenapa?” Mayfa balik bertanya.


“Banyak virus dan penyakit di sana.” Jawab anak-anak itu kompak.


Tugas Arnaff tidak banyak, dia bukan lagi seorang Manager, saat ini dia hanya pegawai biasa, itupun kerjanya di mulai minggu depan, Arnaff bingung tidak ada kesibukkan, sedang Alvi masih sibuk menghabiskan jadwal pemotretannya. Arnaff ,melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sebentar lagi Nadira pulang, dia segera melajukan mobilnya menuju sekolahan Nadira. Perkiaraan Arnaff tepat, baru saja dia memerkirkan mobilnya, anak-anak sekolah itu sudah mulai berlarian meninggalkan sekolahan mereka.


Arnaff melambaikan tangannya, saat melihat putri kecilnya terlihat di depan pintu keluar. Nadira ‘pun segera berlari mengejar papanya.


“Papaaaa.” Suara Nadira terdengar lemas.


“Anak papa yang cantik kenapa?” Arnaff berjongkok di depan putrinya.


“Miss Aurel sakit, aku kangen miss Aurel, papaaaa.”

__ADS_1


“Bagaimana sayang, miss Aurel sakit. Nadira do’a-kan miss Aurel segera sehat kembali, biar bisa mengajar lagi,” bujuk Arnaff.


Gadis kecil itu terlihat menyetuji perkataan papanya. Arnaff segera membantu Nadira masuk ke dalam mobil melingkarkan sabuk pengaman pada putri kecilnya. Arnaff segera menuju kemudinya, dan perlahan mobil yang dia kendarai meninggalkan area sekolahan.


*****


Sepulang dari Sekolah, Mayfa dan Athan langsung menuju Rumah Sakit untuk menjenguk Syafi, sekaligus membawakan Dirga makan siang. Mereka  langsung masuk kedalam ruangan Syafi, di dalam sana, terlihat Dirga duduk santai di sofa yang dekat dengan ranjang Syafi.


“May,” sapa Dirga.


“Bagaimana?” tanya Mayfa.


Dirga menggelengkan kepalanya. “Tidak ada kemajuan.”


“Kita makan siang dulu kak, memang berat rasanya menelan makanan, tapi kalau kita juga sakit, siapa yang jaga Syafi?”


Ucapan Mayfa benar, rasanya tidak nafsu sama sekali untuk makan, tapi dirinya harus kuat untuk menjaga Syafi. Mereka bertiga segera menikmati makan siang mereka. Hari semakin sore, mau tak mau Athan harus pergi, untuk manggung rutin di lapangan, sedang Mayfa memilih untuk tetap tinggal.


Di ruangan itu, hanya ada Dirga dan Mayfa, sesekali perawat datang untuk memeriksa keadaan Syafi. Sabar, hanya kata itu sebagai penyemangat diri menanti Syafi membuka kedua matanya.


“Kasihan murid-murid Syafi, apalagi Rara, jam istirahat tadi dia menemuiku, dia sangat sedih mengetahui Syafi sakit.” Mayfa membuka pembicaraan.


“Iya May, Syafi sosok yang luar biasa, orang sangat mudah jatuh cinta dan sayang padanya.”


“Termasuk—”


“May ….” Potong Dirga cepat.


“Kalau kakak mencintai seseorang dalam diam, bagaimana orang itu tahu perasaan kakak, usaha dong kak!” bujuk Mayfa.


“May, saat ini yang penting Syafi sadar dulu,” sela Dirga.


“Terserah kakak.” Mayfa segera menghempaskan tubuhnya ke sofa yang tidak jauh dari Dirga, keduanya kompak diam dan asyik dengan handphone mereka masing-masing.


*****

__ADS_1


Maaf sobat, baru bisa update aku, mohon maaf jika cerita ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian. 😘


__ADS_2