Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bochap 8


__ADS_3

Sepanjang jalan Syafi terus mengomel, karena Dirga tega menyembunyikan kabar penting ini darinya.


"Kamu dan May itu terlalu dekat, kalau kamu tahu berita ini, pasti kamu akan terus menggoda Mayfa," ucap Dirga.


"Kapan Kakak membawa Athan melamar Mayfa?"


"2 hari setelah kamu melahirkan, kata Athan, rasanya matahari menghilang dari hidupnya saat dia jauh dari Mayfa. Dia juga melakukan sholat istiqharah, dan selesai sholat dia terus terbayang wajah Mayfa, sebab itu dia mantap untuk melamar Mayfa."


"Aku marah sama Kakak, Kakak tega sama aku!"


"Ini permintaan Athan."


"Andai aku tidak ketemu mamanya Athan, aku tidak akan tahu kalau Athan yang melamar Mayfa."


"Maaf ... coba fahami posisi Kakak."


"Karena Kakak melalukan yang terbaik, aku memaafkan Kakak." Syafi tersenyum bahagia. "Terima kasih karena membantu mereka. Kakak tahu? Mayfa juga merasakan perasaan yang sama untuk Athan."


Selesai acara sepupu Mayfa, Pak Said dan istri segera kembali ke Banjarmasin, untuk mengatur hari baik bagi Mayfa dan Athan.


Kabar kalau Mayfa menerima lamaran yang datang langsung tersebar. Semua keluarga sangat bahagia mendengarnya. Mayfa dan Athan sama-sama mulai mengurus cuti mereka untuk persiapan Akad nikah mereka di Banjarmasin.


Mayfa dan Athan terkejut melihat sosok Sam dan istrinya di ruang kepala Sekolah.


"Sudah kubilang kalian itu cocok, aku sangat senang akhirnya kalian memantapkan hubungan kalian," ucap Sam.


Mayfa dan Athan kompak membisu, keduanya hanya memberikan senyuman pada Sam dan Resa.


"Kalian mengurus izin cuti kan?" tanya Resa.


"Iya Nona," sahut Mayfa.


"Cuti kalian 3 bulan," ucap Sam.


"Ha, 3 bulan?" ucap Mayfa dan Athan kompak.


"Iya, aku sudah menerima guru pengganti yang aku kontrak selama 3 bulan di sini sebagai pengganti kalian selama kalian cuti." Sam memandangi Athan dan Mayfa bergantian. "Apakah terlalu singkat?"


"Tidak Tuan, ini lebih dari cukup," sahut Mayfa cepat.


"Yakin? Karena bagi pengantin baru--"


"Papa ...." Resa memotong ucapan Sam.

__ADS_1


"Iya, maaf." Sam mengedipkan matanya pada Resa.


"Surat izin cuti kalian sudah kami setujui," ucap Resa.


"Terima kasih banyak Nona ...." Mayfa tidak tahu harus mengucapkan apalagi.


"Saat ini aku mengusir kalian, sana pergi siap-siap pulang, dan ini tiket buat kalian."


"Terima kasih banyak, Tuan Sam." Athan mengulurkan tangannya pada Sam.


"Semoga acara kalian lancar, kami tunggu undangan kalian." Tangan kanan Sam menjabat tangan Athan, sedang tangan kirinya menepuk bahu pemuda itu.


Semua urusan selesai, Athan dan Mayfa meninggalkan Sekolah T.A School, mereka segera menuju kediaman Syafi. Sesampai di sana mereka hanya menjumpai Syafi, sepasang putri kembarnya dan 3 orang yang membantu Syafi di rumah itu.


"Alhamdulillah, neng Mayfa berjodoh sama Athan, bagi mbak ya, kalian ini serasiii banget!" ucap Adah.


"Terima kasih mbak," sahut Athan.


"Sudah atur tanggal pernikahan kalian?" tanya Syafi.


"Belum, ini kami mau pulang buat atur tanggal baiknya," sahut Mayfa.


"Secepatnya ya Mai?" Syafi sedih, karena tidak mungkin membawa bayinya yang belum berumur 1 bulan.


Mayfa dan Athan saling pandang, mereka memahami keterbatasan Syafi.


"Andai tidak bisa, kamu jangan sedih ya, doaku selalu bersamamu walau kita dipisahkan oleh jarak yang jauh." Syafi berusaha menyemangati Mayfa.


"Misal akad nikah kami adakan di sini, bagaimana Fiy?" sela Athan.


"Jangan! Kalian asli dari kota itu, keluarga kalian banyan ada di sana, masa hanya 1 orang asing sepertiku kalian rela menyakiti keluarga kalian yang tidak bisa ke kota ini, padahal mereka hanya ingin menyaksikan hari bahagia kalian."


Athan dan Mayfa sama-sama diam.


"Sudah urus izin cuti di Sekolah?" tanya Syafi.


"Izin kami dapat selama 3 bulan, jadi kami bisa mengatur hari baik kami tanpa tertekan waktu," ucap Athan.


"Acara manggung kamu bagaimana Than?" tanya Syafi.


"Untuk manggung aku sudah mengajukan pengunduran diri, setelah mengajar waktuku ya buat kami."


"Tieee ...." goda Syafi.

__ADS_1


"Kami cuma sebentar Fiy, mau siap-siap pulang kampung," ucap Athan.


"Aku nggak bisa anter kalian ke Bandara."


"Nggak usah repot-repot Fiy, mentahnya aja boleh," ucap Mayfa.


"Yakin mau?" tantang Syafi.


"Maaf bu bos, bercanda," ucap Mayfa.


Setelah berpamitan pada Syafi, Athan dan Mayfa segera bersiap untuk kembali ke Banjarmasin, dan mereka terbang menuju Banjarmasin pada malam harinya.


***


Sesampai di Bandara Banjarbaru, Mayfa dan Athan dijemput oleh keluarga mereka masing-masing yang sudah menunggu kedatangan mereka. Setelah Athan dan Mayfa menampakan batang hidung mereka, kedua keluarga segera menuju kediaman Pak Said. Di sana kedua belah pihak menentukan hari baik bagi Athan dan Mayfa.


Untuk akad nikah, mereka sepakati diadakan dikediaman Mayfa. Sedang resepsi akan diadakan di sebuah gedung.


"Nak Mayfa, mau mahar apa?" tanya Hafsya.


"Saya tidak meminta apa-apa, apapun yang kalian beri, akan saya terima dengan ikhlas."


Akad nikah pun disepakati akan dilangsungkan 1 bulan dari sekarang. Kedua belah pihak sama-sama ingin mempersiapkan segala persiapan untuk hari bahagia anak-anak mereka.


**


Hari demi hari berlalu begitu saja, tidak terasa hari bahagia itu semakin dekat. Kediaman Mayfa saat ini mulai di dekorasi oleh tim WO kepercayaan keluarga Mayfa. Nuasa putih begitu menyejukan mata.


"Kamar tamu yang ada di lantai bawah tolong kosongkan, jangan menaruh atau menyimpan barang apapun di sana," titah Pak Said pada Asisten yang membantunya menata rumah.


"Emang buat apa Yah?" tanya Rosalina.


"Aku ingin berbicara 4 mata dengan Athan sebelum dia mengucapkan ijab, seperti yang pernah aku lakukan dengan Ayahmu ketika aku akan menghalalkanmu."


Rosalina terbayang detik-detik indah semasa pernikahannya dengan suaminya dulu, dia langsung masuk kepelukan suamimya. "Tidak terasa Yah, rumah ini tidak lagi ramai, semua putri kita akan membangun rumah sendiri."


"Anak-anak hanya titipan, saat sudah waktunya, mereka akan dijemput oleh takdir mereka. Sebab itu aku selalu mengutamakan dirimu dari anak-anak, karena yang menemaniku saat tua seperti ini hanya dirimu."


"Hilih Yah, romatisan kok tengah umum gini, ngamar sana!" ocehan Mayfa seketika membuarkan suasana Romatis yang terjalin.


"Kamu ini Fa, sebentar lagi akan pergi meninggalkan Ayah-bundamu, nggak mau manis-manis dulu gitu sama Ayah?" ucap Pak Said.


"Maaf Yah, aku nggak bakat ngomong yang manis-manis, bakatku ngomong yang pedes-pedes dan pahit-pahit."

__ADS_1


"Terserahmu lah, suatu saat Ayah adalah orang yang paling kamu rindukan," ucap Pak Said.


"Owh tidak seperti itu, justru Ayah yang paling merindukan aku, kan aku anak yang paling Ayah sayang." Mayfa pergi begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya.


__ADS_2