
Wartawan yang mengerumuni Syafi dan Dirga terus bertanya siapa sosok wanita yang Dirga gandeng. Dengan bangga Dirga mengenalkan Syafi kedepan publik sebagai istrinya.
“Sebelumnya, kami hanya mengadakan akad nikah saja, saat menjelang Resepsi, kedua orang tua istri saya meninggal, saat suasana duka berlalu, saya disibukkan dengan aktivitas Perusahaan, secepatnya kami akan mengadakan Resepsi,” terang Dirga.
Merasa puas dengan jawaban Dirga, para wartawan meminta Dirga dan Syafi agar berpose romantis, untuk mereka abadikan. Dengan senang hati Dirga menggandeng Syafi, keduanya mengukir senyuman kebahagiaan di wajah mereka. Entah berapa gaya Syafi dan Dirga beri untuk di-abadikan mata-mata kamera wartawan.
“Bagaimana? Sudah cukup?” tanya Dirga pada awak media yang masih menyoroti mereka.
“Terima kasih Tuan Dirga dan Nona Syafi,” ucap salah satu awak media.
Dirga dan Syafi hanya menganggukkan kepala mereka dan melempar senyuman. Dirga melingkarkan tangannya di pinggang Syafi. Keduanya langsung memasuki tempat acara akan berlangsung. Seorang petugas keamanan langsung membuka akses VIP yang di jaga ketat. Dengan mudah Dirga dan Syafi melenggang memasuki tempat acara, tanpa harus berdesakan dengan tamu umum.
Sesampai di dalam ruangan megah, Dirga dan Syafi langsung menempati meja khusus buat mereka, di mana di sana keluarga besar Sam sudah duduk bersantai di sana. Syafi, Resa, Hayati, dan Ramida, terlihat asyik bercengkrama. Hal ini menjadi sorotan mata-mata yang ada di sana. Hal yang istimewa bisa bergabung dengan keluarga Sam. Keluarga Sam bukan keluarga sombong, tapi susah dekat dengan mereka. Jiwa Intelegen keluarga itu begitu canggih, kalau mendekat hanya ingin menjadi penjilat, mengintai keuntungan, maka itu hanya mimpi bagi mereka untuk bisa dekat.
Suasana di sana sungguh penuh kebahagiaan, berbeda jauh dengan keadaan di sebuah mobil yang masih terparkir di depan sebuah Apartemen. Berulang kali Rinto dan Leti melihat jam tangan mereka, sudah hampir 40 menit berdiam diri di mobil, tapi yang di tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Arnaff, papa dan mama kamu ini sudah tua, tersiksa duduk berlama-lama dalam mobil, kalau Alvi tidak juga keluar dalam 5 menit, kalian berdua naik taksi saja.” Rinto tidak tahan lagi menahan kekesalannya karena menunggu terlalu lama.
“Lagian, kenapa papa Cuma dapat satu kartu akses parkir VIP, andai dapat dua, aku bisa bawa mobil sendiri datang bersama Alvi,” protes Arnaff.
“Hei! Ingat kamu siapa! Kamu bukan siapa-siapa, desak Alvi atau kau turun sekarang!” kecam Rinto.
__ADS_1
Arnaff kembali menelepon Alvi. “Sayang, turun sekarang atau kami tinggal! Papa dan mamaku tidak sanggup menunggu terlalu lama lagi,” ucap Arnaff.
“Kita bareng papa mama kamu?” sahut Alvi di ujung telepon.
“Cepat sayang, bukan protes, kalau 5 menit kamu tidak datang ke parkiran, maaf kami tinggal.” Arnaff langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Dengan perasaan kesal, Alvi mempercepat semuanya, dia segera meraih tas dan berlari menuju pintu, beruntung pintu lift langsung terbuka, tidak menunggu lama dia bisa sampai di bawah lebih cepat. Sesampai di parkiran depan Apartemennya, Alvi melihat lampu mobil yang berkedip, dia faham kalau itu mobil orang tua Arnaff.
Alvi langsung berlari kearah mobil itu, kaca mobil itu terbuka, terlihat kedua orang tua Arnaff duduk di bagian belakang. “Maaf, mama papa aku terlalu lama,” ucap Alvi, berusaha tersenyum walau hatinya sangat kesal karena dandanannya belum maksimal.
“Cepat masuk, kita sudah terlambat,” ucap Leti.
Dasar nenek lampir! Segini aja main desak orang! Gerutu hati Alvi. Dia segera masuk kedalam mobil. Mobil Arnaff pun segera melaju meninggalkan Apartemen Alvi. Berulang kali Alvi membuka pembicaraan dengan kedua orang tua Arnaff, tapi tidak ada respon dari mereka.
Rinto dan Leti berjalan cepat menuju jalur VIP, mereka mengabaikan kilatan dari bliz kamera. Sedang Alvi dengan bangganya berpose agar awak media mengabadikan momen ini. Merasa para wartawan biasa saja, Alvi dan Arnaff segera menuju jalur khusu VIP. Langkah kaki mereka terhenti, saat seorang petugas keamanan mencegat mereka.
“Maaf Tuan, Arnaff. Untuk Acara ini, Anda tidak berada dalam daftar VIP, hanya ada nama Tuan Rinto dan Nyonya Leti,” ucap salah satu petugas Keamanan.
Seketika raut kesombongan di wajah Alvi sirna, menyadari calon suaminya tidak ada di daftar tamu VIP di acara bergengsi ini.
“Jangan bercanda.” Arnaff tidak percaya kalau dirinya tidak ada dalam list tamu VIP. “Kamu tahu siapa aku, bukan?” Nada suaranya sedikit menekan lawan bicaranya.
__ADS_1
“Sangat tahu, maaf Tuan, kami hanya menjalankan tugas kami, mohon maaf tolong menepi, ini ada tamu VIP kami ingin lewat,” ucap petugas keamanan.
“Alvi ….”
Alvi langsung menoleh kearah sumber suara itu, “Ryehna?” Alvi merasa canggung bertemu dengan teman se-profesinya di depan jalur khusus ini. Alvi menoleh kearah laki-laki yang datang bersama Rye. “Pak Geovan?” sapa Alvi.
“Hai Vi, lama sekali kita tidak bertemu.” Sapa laki-laki yang bernama Geovan.
“Iya Pak.” Alvi sungguh merasa canggung.
“Sampai ketemu di dalam ya Vi. Ayo Rye,” ajak laki-laki itu pada wanita yang dia gandeng. Dengan mudahnya Rye dan Geovan masuk ke jalur VIP.
“Kalau aku tahu, kau hanya tamu biasa, tidak sudi aku ikut denganmu!” Alvi sangat kecewa, impiannya untuk berfoto dengan istri kesayangan Tuan Sam tidak terwujud.
Petugas keamanan itu menghampiri Arnaff. “Ada kabar baru, katanya Tuan Arnaff ada di daftar tamu undangan umum, kalau kalian ingin menikmati acaranya, silakan menuju jalur itu.” Petugas keamanan itu menunjuk kearah kerumunan yang masih mengular untuk masuk. “Kalau ingin masuk, silahkan ikut antre, kalau tidak, tolong menjauh dari sini, ini jalur khusus. Maaf, bukan meremehkan kami hanya menjalankan tugas.”
“Bagaimana, apa kita pulang atau—”
“Untuk apa pulang, aku sangat berharap bisa melihat acara besar ini.” Alvi langsung menarik Arnaff untuk ikut berbaris memasuki jalur pintu masuk ketempat acara.
Arnaff sungguh sangat kesal, setiap kali acara besar yang diadakan Sam, dirinya selalu berada di jalur khusus, ini pertama kalinya dirinya berjuang untuk masuk ketempat acara. Wajah Arnaff mulai dibasahi keringat, entah berapa lama lagi sampai giliran mereka.
__ADS_1
Perjuangan Panjang Arnaff dan Alvi akhirnya berakhir juga, sekian lama berbaris bersama pegawai Sam yang lain, akhirnya mereka bisa memasuki tempat acara. Perjamuan untuk tamu VIP sungguh mewah, membuat Alvi ingin menangis karena tidak bisa duduk di sana. Alvi berlari saat melihat dua kursi kosong didekat pagar pembatas antara tamu umum dan tamu khusus, agar dirinya bisa melihat keluarga Sam lebih dekat.
“Tempat yang sempurna,” gumamnya, dengan nyaman Alvi duduk di kursi itu. Alvi kembali memandang kearah di mana keluarga besar Sam berkumpul, senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya sektika lenyap. Saat melihat sosok wanita cantik yang sangat dia benci, terlihat asyik berbincang dengan istri pengusaha sukses itu. “Kenapa miss drama itu bisa ada di sana!” gerutu Alvi.