Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 98


__ADS_3

Sam dan Arnaff segera membopong tubuh Dirga menuju mobil, pemandangan itu menyita perhatian orang-orang yang melihat.


"Bawa Dirga ke mobil kamu Naff, aku harus membereskan urusan di Sekolah ini dulu." 


Mereka membawa Dirga ke mobil Arnaff. Arnaff langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Sedang Sam, dengan kemarahan yang menyala dia kembali ke area Sekolah.


Sam memandangi mereka yang melihat kejadian barusan.


"Kalau sampai kabar ini berhembus keluar! Kalian semua akan menerima pelajaran dariku!" 


Semua orang yang ada di sana setia menundukkan pandangan mereka, mereka tidak berani ber-urusan dengan pemilik The Alvaro Group ini.


Selesai memberi peringatan pada mereka yang melihat, Sam menyusul Resa, wanita itu masih berada di ruangan Sam.


"Sayang, mari kita ke Rumah Sakit menemani Dirga," ajak Sam.


"Silakan kamu duluan, aku mau menunggu Gavin dan Gilang, sebentar lagi jam Sekolah mereka berakhir."


Sam memeluk erat istrinya. "Maafkan aku." Banyak kata yang ingin Sam utarakan, minta maaf untuk apa saja. Tapi lidahnya terasa kelu.


"Aku tidak marah padamu, aku hanya marah pada diriku sendiri."


"Nanti temani aku di Rumah Sakit, aku butuh kamu, kamu tahu sendiri bukan? Aku orang yang paling bodoh!"


"Hmm, kau memang sangat bodoh!"


"Kau tau itu" Sam makin mengencangkan pelukannya. "Perusahaan kita berkembang, tidak lepas dari otak cerdas Dirga."


"Iya, tapi masalah perempuan dan cinta, kalian sama bodohnya."


"Temani aku ya …."


"Iya, nanti aku ke sana, sama anak-anak."


Sam melepaskan pelukannya, mendaratkan satu ciuman di pucuk kepala Resa, dan segera bergegas meninggalkan gedung T.A School, dia langsung menuju Rumah Sakit di mana Dirga menjalani perawatan.


***


Satu jam berlalu, Dirga masih setia memejamkan matanya begitu rapat.


"Cedera pada tubuhnya tidak mengapa, tapi sepertinya dia mengalami tekanan yang begitu berat pada batinnya."


Keterangan dokter sebelumnya membuat Sam dan Arnaff kompak membisu. Tidak tau harus berbuat apa. Kini Dirga dibawa ke ruang perawatan. Tidak ada masalah serius, hanya saja laki-laki itu tidak punya semangat untuk bangun.


Sam meraih handphone-nya, dia mengirim pesan pada anak buahnya agar mendatangi istri kedua Dirga, meminta wanita itu datang ke Rumah Sakit. Selesai dengan wanita itu, Sam memerintahkan anak buahnya yang ada di Banjarmasin untuk mengawasi Syafi.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Dirga, sayang?"


Sam tidak menyadari keberadaan Resa dan ketiga anak mereka.


"Dirga seperti itu saja, sepertinya dia sangat bahagia dipukuli."


Ghea meraih tangan Resa dan menggoyangkannya. "Mama, kami boleh main di sana?"


"Boleh sayang." Resa berusaha tersenyum.


Ketiga anak itu berlari menuju sofa dan bermain bersama.


"Kenapa Ghea boleh masuk Area Rumah Sakit?"


"Siapa yang berani melarang istri Sultan?" Ledek Resa.


"Ya, kamu benar, seorang pun tidak berani menolak permintaan istri seorang Samuel."


Sam, Arnaff, dan Resa hanya bisa diam, berharap Dirga mendapatkan keajaiban.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukkan pintu membuyarkan kebisuan di dalam ruangan itu.


"Masuk!" ucap Sam.


"Kamu Lala?" Sam mastikan.


"Iya, saya Lala." Lala terkejut melihat keadaan Dirga, namun dia berusaha untuk terlihat santai, berbeda jauh dengan pemuda yang berdiri di sampingnya. 


Sepasang manik mata milik pemuda itu begitu berbinar, melihat sosok pengusaha yang paling berpengaruh di kota ini. Dia adalah Sam dan Arnaff.


"Jadi malam itu dia ada di pesta ulang tahun Dirga, karena dia istri kedua Dirga?" Arnaff menatap tajam kearah wanita itu. Arnaff sangat ingat segala cerita Mayfa tadi siang, istri kedua Dirga bernama Lala, dan tinggal di sebuah komplek perumahan yang tidak jauh dari mereka.


"Anda salah, saya datang ke pesta malam itu bukan karena saya istri Dirga, tapi karena saya menemani tetangga saya, bu Miya!" ucap Lala.


"Masuk dulu. Dan duduk di sini bersama kami, bisa ceritakan semuanya pada kami, sejak awal?" Resa memberi senyuman manis pada dua tamu yang datang.


Lala dan Getra pun segera duduk bergabung dengan Sam, Resa, dan Arnaff. Sesekali mata Lala mamandang kearah Dirga yang masih tidak sadarkan diri.


"Jangan khawatir, luka pada fisik Dirga tidak parah, tapi luka batinnya," ucap Arnaff sinis.


"Maafkan saya." Lala menunduk, hal ini yang sangat dia takutkan.


Getra tidak lagi mengagumi 2 sosok pengusaha yang ada di depan matanya, namun sepasang mata Getra memandang pada 3 anak kecil yang asyik dengan permainan mereka. Dua anak laki-laki yang lebih besar terlihat begitu menyayangi adik perempuan mereka.

__ADS_1


Getra terbayang masa kecilnya bersama Lala. Dirinya yang tulus menyayangi Lal, tidak mengizinkan siapa saja membuat Lala menangis, bahkan ibu dan papanya juga dia lawan kalau membuat Lala menangis.


Mata Getra berkaca-kaca, melihat Ghea, Gilang, dan Gavin  dia seakan melihat masa kecilnya dengan Lala.


Saat yang sama, Getra terbayang kebejatannya, menjual keperawanan adiknya hanya sebuah kontrak kerja sama dari perusahaan Romi.


"La, kamu bisa ceritakan kepada kami? Semoga setelah tau, kami bisa membantu memperbaiki hubungan Dirga dan Syafi," ucap Resa.


Lala terdiam. Dia terbayang akan ancaman Getra jika dia buka mulut.


Sedang laki-laki yang bernama Getra tersiksa oleh rasa bersalahnya. Getra tidak mampu berdiam diri di sana, dia langsung keluar dari kamar rawat Dirga tanpa pamit pada siapapun.


Lala terkejut melihat Getra berlaku demikian. Dia memandang kearah Sam, Arnaff, dan Resa. "Saya permisi sebentar, saya mau menyusul kakak saya." Lala undur diri dari hadapan 3 orang yang sangat menantikan cerita Lala.


"Kakak!" Lala mengejar Getra, dan masih berusaha menahan suaranya.


Mendengar namanya dipanggil Getra berhenti. Dia membalikkan tubuhnya kearah Lala. Sontak hal itu membuat Lala terkejut, melihat kedua mata Getra mengeluarkan air mata.


"Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tau La, apa pantas aku meminta maaf padamu." Air mata Getra semakin mengalir deras.


"Kakak sakit?" Lala mendekati Getra dan menaruh punggung telapak tangannya di dahi Getra.


"Aku sakit di sini!" Getra memukul keras bagian dada kirinya.


"Ambisiku membuat kedua mataku buta, dan hatiku mati!" Getra terus menangis.


"Niatku mendirikan usaha untuk memberimu kebahagiaan, tapi--" Getra tidak sanggup meneruskan ucapannya.


Melihat anak Tuan Sam, aku teringat akan masa kecil kita yang penuh cinta, bukan tekanan dari papa mama yang terus menekan supaya aku sukses dan berhasil!"


Kini giliran kedua mata Lala yang bocor, Lala sadar selama ini Getra sangat tertekan, sukses, sukses dan sukses, itu saja yang kedua orang tua mereka tekankan, saat Getra jatuh bukan dibantu untuk berdiri, tapi beban Getra malah diperberat dengan kata-kata Andai begini andai begitu.


Lala mengusap rambut Getra, dan masuk ke dalam pelukannya.


"Maafin aku La …." Suara Getra begitu lemah. Seorang kakak yang harusnya jadi pelindung, malah menjual adiknya sendiri. "Maafin aku."


Lala tidak menjawab, dia semakin erat memeluk kakaknya dan terus ikut menangis.


"Masuk ke dalam La, dan ceritakan semuanya, aku juga akan ceritakan semuanya."


Lala melepaskan pelukannya, dia menatap wajah kakaknya dengan tatapan sayu. Lala menganggukkan wajahnya.


"Aku sudah menghancurkan hidup kamu La, dan menghancurkan rumah tangga Dirga."

__ADS_1


"Tapi kita bisa sama-sama menyelamatkan rumah tangga Dirga, kak."


Kakak beradik itu mengusap air matanya, mereka kembali ke ruang perawatan Dirga.


__ADS_2