
Setelah pergi dari dapur, Dirga duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan.
"Bila aku dimadu, abang diracun aku mau, daripada hatiku, sakit-sakit karenamu …."
"Bila aku dimadu, abang diracun, aku mau … daripada melihatmu dengan istri barumu."
Dirga masih sangat jelas mendengar nyanyian Syafi. Keringat tiba-tiba keluar membasahi wajah Dirga. Dirga terbayang saat Syafi menendang ke udara, dan mengacungkan pisau ke arahnya.
Kehebohan di dapur mulai hening, suara musik juga sudah tidak terdengar lagi. Pertanda Syafi sudah hampir selesai dengan kegiatannya.
"Mbak Adah …." Suara Syafi menggema di arah dapur.
"Iya Non!" Samar terdengar sahutan dari Adah.
"Kesini dulu, kita nyemil bareng-bareng!" teriak Syafi.
Syafi menaruh mangkuk besar yang berisi bakso dan sayuran. Bakso kuah salah satu makanan kesukaan Syafi. Sedang Mayfa membawa beberapa mangkuk dan menyusunnya diatas meja.
"Kalau asin, ini bukan aku ya kak," gerutu Syafi.
"Lah, yang masak elu, gue cuma ngaduk, kalau asin ya perbuatan elu!" Gerutu Mayfa.
"Mana ada, kalau asin itu garam, nah kalau aku ini lebih manis dari gula." Syafi memasang senyuman termanis yang dia buat-buat.
"Iya, kamu itu paling manis! Pengen tak jilat!" Gumam Dirga.
"Eh masakan duo kembar di coba dulu." Syafi meraih mangkuk dan mengisinya dengan masakan yang dia masak bersama Mayfa.
"Kalau aku dimadu, abang ku racun, lala lallaaaa, nanaa nanaaa nanananaanaaa."
"Dikasih racun ya yank?" Dirga berusaha bercanda.
"Kalau mau ku kasih racun, sana nikah dulu. Masa belum dimadu abang dah ku racun." balas Syafi.
"Kalau Tuan nikah lagi, nanti saya bantu racunin Non, lumayan laki-laki yang menyebabkan wanita patah hati angkanya berkurang." Adah tiba-tiba datang dari arah belakang, dia langsung duduk di samping Mayfa.
"Haa ha haaa!" Dirga tertawa kaku.
"Aku suka gaya mbak Adah!" Mayfa memeluk erat wanita yang ada di sampingnya.
"Sudah ishh, ayo ini dinikmati." Syafi memberikan mangkuk yang berisi bakso kuah pada Dirga terlebih dahulu, kemudian dia memberikan dua mangkok yang lain pada Adah dan Mayfa juga. "Mari kita coba …." Syafi menarik satu mangkuk dan mulai menikmatinya.
"Kalau kak Dirga nikah lagi, enaknya racunnya jenis apa Fiy?" Tanya Mayfa.
Ngekkk!
Dirga menelan bulat-bulat bakso yang ada dalam mulutnya.
"Sianida atau racun tikus mah gak sebanding, cukup dengan aku pergi dari kehidupan kak Dirga, maka itu lebih hebat dari racun manapun. Memang kak Dirga hidup, tapi batinnya--" Syafi menggantung ucapannya.
"Tersiksa …." Sambungnya dengan nada lagu dari Erie Susan yang berjudul 'Sekali Lagi Tidak.'
"Dan dia akan mati pelan-pelan …." Bisik Syafi.
__ADS_1
Dirga memandangi wajah Syafi. "Itu adalah racun yang tidak ada penawarnya dan cara ampuh untuk membunuh yang sangat halus."
"Ummm manis banget, nggak mau pisah sama aku ya?" Syafi mencubit gemas kedua pipi Dirga.
"Dalam mimpi pun tidak mau, apalagi di alam nyata ini." Dirga sangat serius.
...Ya Tuhan … tolong bantu aku lepas dari pernikahan semu antara aku dan Lala, aku tidak mau kehilangan Syafi, dia adalah anugrah terindah darimu yang aku dapat....
...Dirga hanya bisa menjerit dalam hati....
"Fiy, boleh nambah? Tumben lu masak enak?" Mayfa sengaja merubah arah pembicaraan.
"Boleh thayank …." Sahut Syafi.
Mereka berempat menikmati masakan Syafi.
Hari semakin sore, sejak tadi Dirga memandangi handphone-nya. Sedang Syafi dan Mayfa berusaha bersikap masa bodoh dengan Dirga.
Tlink!
Notifikasi handphone Mayfa terdengar, gadis itu membuka pesan yang masuk.
"Fiy, taksi online-ku sudah datang, aku pamit ya," ucap Mayfa.
"Iya yank, terima kasih selalu ada untukku saat senang maupun sedih."
"Sampai jumpa besok yank, di sekolah." Mayfa berpamitan pada Adah dan Dirga, dia pun segera melangkah menuju pintu.
"Siap yank." Mayfa segera masuk kedalam taksi, taksi itupun perlahan mulai meninggalkan halaman rumah Dirga.
Syafi kembali ke dalam rumah, berusaha menguatkan batinnya, jangankan mendekati Dirga, melihat wajahnya saja segala pengkhianatan Dirga menari-nari dalam benaknya. Syafi masih ingin memberi kesempatan pada Dirga, itulah yang menguatkan hatinya.
Syafi duduk di samping Dirga, dan merebahkan kepalanya di paha Dirga, dengan senang hati Dirga memberikan kedua pahanya untuk jadi bantal Syafi.
"Sebentar lagi ulang tahun kakak," gumam Syafi.
"Iya, bersamamu, rasanya usiaku baru 18 tahun, ternyata sebentar lagi akan genap 35 tahun." Jemari Dirga mengusap lembut pucuk kepala Syafi.
Perlahan Dirga melepaskan kain yang membalut kepala istrinya, dia lebih senang melihat rambut Syafi tergerai saat berduaan seperti ini di rumah.
"Kakak mau kado apa?" Tanya Syafi.
"Kakak cuma mau kamu, nggak mau apapun lagi." Dirga mendaratkan ciumannya diantara kedua alis Syafi.
"Ulang tahun kakak nanti, bagaimana konsepnya?"
"Tidak muluk-muluk, tetap seperti ide kalian, memakai tema putih, tamu yang datang memakai baju putih."
"Apa tidak memberatkan, kak?" Syafi memandangi wajah Dirga, semampunya dia berusaha menampakkan rasa bahagia dan menepiskan rasa sakitnya.
"Yang datang hanya orang-orang dekat saja. Mereka yang hanya memiliki ikatan denganmu, denganku, atau dengan TAG, orang lain tidak diundang."
"Owh."
__ADS_1
Syafi dan Dirga menghabiskan waktu sore dengan kebersamaan mereka. Dirga sangat bahagia, akhirnya momen yang sempat hilang 10 hari terakhir akhirnya kembali. Walau bucinan mukidi Syafi belum kembali menghujani hatinya. Tapi ini lebih dari cukup.
Sedang Syafi, dia berusaha bahagia, walau rasa sakit, sedih, dan kecewa menggerogoti hatinya, saat dirinya menyadari Dirga selalu memperhatikan layar handphone-nya.
"Kak, aku mau ke belakang dulu, mau pipis," kilah Syafi.
"Jangan lama-lama, aku kangen loh."
Syafi terus mengukir senyuman di wajahnya.
...Hilih bilang aja yang lama, biar kamu puas teleponan. ...
Tapi Syafi tidak berani mengatakan itu, dia langsung pergi menuju kamar mandi yang ada di lantai dasar. Setelah jauh dari Dirga, Syafi hanya bersembunyi, karena niatnya hanya ingin memberi Dirga waktu untuk menghubungi wanita itu.
Drettt ….
Akhirnya panggilan yang Dirga tunggu-tunggu masuk juga. Secepat kilat Dirga meraih handophone-nya.
"Bagaimana tante?" Dirga langsung mengutarakan pertanyaan setelah menggeser icon berwarna hijau. Sedari tadi dia menunggu kabar tentang perkembangan Romi.
"Ada kabar baik, juga kabar buruk, kamu mau dengar yang mana?" Tante Karla balik bertanya.
"Kabar buruknya apa tante Karla?"
Sedang di bagian belakang Syafi begitu jelas mendengar ucapan Dirga.
Owh … nama wanita itu Karla.
Dirga masih menunggu cerita tante Karla.
"Romi membaik, itu kabar baiknya."
Seketika Dirga merasa bahagia, jika Romi membaik, waktu yang tepat mengantar Lala dan putranya pada Romi, dan rumah tangganya akan selamat dari badai kehancuran.
"Kabar buruknya?" Dirga mempersiapkan hati untuk mendengar lanjutan cerita dari tante Karla.
"Kabar buruknya, Romi masih belum sadar, hanya saja ada sedikit perkembangan setelah kedatangan kalian."
"Semoga Romi semakin membaik tante."
"Iya, itu harapan tante. Maafkan tante, karena selama ini menutupi keberadaan Romi, jujur tante masih sangat takut."
"Iya tante, aku faham."
Dirga dan tante Karla menyudahi panggilan telepon mereka. Romi sedikit membaik itu sangat melegakan. Dirga sangat takut kalau Romi tiada, bagaimana nantinya dia menyerahkan Lala dan putranya.
...Dasar kadal buntung! Bini sendiri dipanggil tante! Gerutu hati Syafi....
Syafi melangkah menuju cermin, dia latihan untuk tersenyum, rasa sakit barusan membuat kedua bibir Syafi terasa kaku, sulit untuk mengukir sebuah senyuman.
***
Nggak tau bisa up lagi atau enggak, jempolku terlalu sibuk mencet anu 🤣
__ADS_1