Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 77


__ADS_3

Dirga panik melihat Syafi seperti itu, sangat jelas terlihat wanita itu menahan rasa sakit yang teramat. Dirga bangun dan menyambar minyak kayu putih yang ada di dekat Syafi, membalur beberapa bagian tubuh Syafi dengan minyak kayu putih, berharap dia bisa membantu mengurangi rasa sakit wanita pujaannya.


Tapi, segala tindakan Dirga tidak berpengaruh apa-apa. Syafi semakin terisak.


"Sayang ... kita ke Rumah Sakit," bisik Dirga.


"Abah ... Mama ... aku kangen ...." jerit Syafi.


"Sayang ... buka matamu, sekarang kamu bersamaku, Dirga suamimu."


"Pulang ... aku ingin pulang ...." Syafi terus meringis, tapi kedua matanya masih terpejam rapat.


"Okey, kamu boleh pulang, tapi sama aku." Dirga memeluk Syafi begitu erat.


"Lepasin ... aku mau pulang ...."


"Pulang sama aku boleh, tapi lepasin kamu tidak akan pernah." Dirga semakin mengencangkan pelukannya.


Syafi diam, helaan napasnya juga mulai normal. Perasaan Dirga juga menjadi lebih tenang. Perlahan dia melepaskan Syafi dan memperbaiki posisi rebahan Syafi.


"Besok kita ke dokter, aku takut kamu kenapa-napa Fiy."


Dirga kembali berbaring di samping Syafi, sebelah tangannya melingkar diatas tubuh Syafi. Keduanya pun hanyut ke alam mimpi.


*****


Suara kajian subuh yang samar terdengar, membuat Syafi perlahan tersadar dari alam bawah sadarnya. Rasanya punggungnya begitu hangat, hembusan napas yang terpantul di daun telinganya membuat wanita itu sepenuhnya sadar, kalau dirinya berada dalam pelukan. Perlahan Syafi melepaskan diri dari pelukan Dirga, setelah berhasil dia segera menuju lemari pakaian, mengambil handuk dan baju ganti di sana. Syafi berjalan berjinjit menuju pintu, dia belum siap mengobrol langsung dengan Dirga, saat ini menghindar secara halus membuat perasaannya tidak terlalu hancur.


Dirga menggeliat, entah kenapa tiba-tiba pelukannya terasa kosong. Tangan Dirga meraba bagian sisi tempat tidur tempat Syafi berbaring, wilayah itu kosong. Sontak membuat kedua bola mata Dirga terbuka sempurna. Syafi sudah tidak ada ditempatnya.


Dirga segera bangun, dia melangkah cepat menuju kamar mandi. "Sayang ...." Sedang tangannya membuka handle pintu kamar mandi. Tidak ada seorangpun di sana.


"Kemana dia?"


Dirga melangkahkan kaki meninggalkan kamarnya, tujuannya saat ini dapur, biasanya kalau pagi-pagi sibuk, wanita itu pasti sibuk di dapur.


Sesampai di dapur tidak ada seorang juapun di sana. Kamar tamu, hanya itu yang Dirga ingat. Dirga kembali melangkahkan kakinya menuju kamar tamu. Sesampai di sana, terlihat pintu sedikit terbuka. Perlahan Dirga mendorong pintu kamar tersebut.


Dia bisa bernapas lega, ternyata Syafi tengah menunaikan kewajibannya. Dirga segera kembali ke kamarnya dan menunaikan kewajiban yang sama.


Hawa dinginnya pagi masih terasa menusuk permukaan kulit. Selesai melakukan tugas subuhnya Dirga kembali menuju kamar tamu, waktu yang indah untuk menghangatkan diri dengan ratu hatinya, khayalannya dia ingin menghabiskan waktu pagi bersama Syafi.


Lagi-lagi khayalannya hanya sebatas angan, di kamar tamu itu tidak ada lagi sosok Syafi. Hidung Dirga di sambut wanginya aroma makanan, hal itu lantas membuat senyuman terukir di wajahnya. Dia segera menuju dapur.


Sesampai di dapur, terlihat seorang Aurelia Syafitri tengah memasak bersama pelayan rumah ini. Syafi belum menyadari kehadiran Dirga, tapi Adah menyadarinya.


Dirga memberi Isyarat pada Adah agar pergi dari sana, Adah pun mengangguk, dia perlahan undur diri dari tempat itu.


Jemari Syafi mematikan api kompor, masakannya sudah matang. "Oh ya mbak, ini sudah selesai, nanti kalau kak Dirga mau sarapan tolong siapin ya, aku buru-buru soalnya." Syafi memasukkan masakannya ke dalam tempat bekal yang akan dia bawa nanti.


"Sejak kapan pekerjaanmu lebih penting dari aku?" Dirga melingkarkan kedua tangannya di pinggang Syafi, membuat wanita itu tak bisa menghindar.


Dirga menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Syafi, mengendus bau harum wanita itu.


"Selamat pagi kak." Syafi berusaha bersikap biasa saja.


Dirga menghentikan kegiatannya. "Kak?" Terkejut dengan panggilan Syafi, biasanya Syafi selalu memanggilnga bee. "Sejak kapan kamu memanggilku Kak lagi?"

__ADS_1


"Keberatan?"


"Enggak, aku lebih bahagia kamu panggil bee."


"Aku memanggilmu seenak yang aku mau, bisa abi, bisa papi, bisa dady, juga ... bisa Ayah." Nada ucapan Syafi melemah saat menyebut kata Ayah.


Dirga tidak bisa menangkap aura kesedihan dari pancaran mata Syafi, saat ini dirinya merasa sangat bahagia, karena bisa memeluk erat istrinya. Berbeda jauh dengan wanita yang terkurung dalam pelukannya. Syafi merasakan rasa sakit yang teramat dalam.


"Kenapa diam?" Dirga melepaskan pelukannya, dan memutar tubuh Syafi agar menghadap kearahnya. "Kenapa sayang?"


"Tidak apa-apa."


"Kita periksa ke dokter ya, tadi malam kamu kesakitan."


"Aku sudah ke dokter kemaren, diantar Mayfa dan Athan, kata dkter aku tidak apa-apa, hanya maag ku saja kabuh."


"Oke kamu tidak apa-apa, tapi kenapa kau hanya menunduk? Apakah keramik rumah ini lebih tampan dariku?"


Syafi hanya diam.


"Kenapa diam sayang?"


"Tidak apa-apa, tapi ... karena kamu aku kemungkinan terlambat 15 menit, sekarang harusnya aku sudah rapi dan siap berangkat," kilah Syafi.


"Sepagi ini?"


Syafi hanya diam, kedua matanya masih setia menunduk memandangi porselen dapur itu, tidak memandang wajah Dirga sedikitpun.


"Maafkan aku, silakan bersiap." Dirga merasa bersalah, karena Syafi terlihat begitu serius.


Menit demi menit berlalu, Dirga masih duduk di meja makan seorang diri, tidak berselang lama suara langkah kaki terdengar menapaki anak tangga.


"Dhani sebentar lagi sampai," sela Dirga.


"Tidak perlu, karena taksi online ku sudah menunggu di luar." Syafi berlalu begitu saja.


"Sayang ...." panggil Dirga.


Percuma, Syafi berjalan begitu cepat menuju pintu utama.


Dirga membuang kasar napasnya, dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama menyusul Syafi, tidak seperti biasanya Syafi nyelenong begitu saja, tanpa salim padanya. Tapi mobil taksi yang menjemput Syafi juga sudah menghilang dari sana. Dirga hanya memandang kosong halaman rumahnya. Tangannya meraih handphone yang tersimpan di saku celananya. Tidak berselang lama, panggilannya terhubung.


"Sebentar lagi Tuan saya sampai rumah Anda." Jawaban itu langsung menyapa telinga Dirga.


"Tidak usah Dhan, istri saya sudah berangkat, nanti saat jam kerja, kamu langsung ke kantor saja."


"Maafkan saya Tuan, saya terlambat ya?"


"Bukan salah kamu, maaf ya pagi-pagi bikin kamu repot." Dirga menyudahi panggilannya.


Ada yang aneh, tapi dirinya tidak tahu hal apa itu.


"Nona sudah berangkat ya, Tuan?" Pertanyaan itu menyadarkan Dirga dari lamunan kosongnya.


"Iya."


"Mbak, siapin sarapan saya di kotak bekal saja, saya juga mau berangkat pagi."

__ADS_1


"Siap Tuan."


Adah merasa ada yang berbeda dari pasangan ini. Biasanya setelah Dirga kembali dari luar kota, keduanya malah tidak keluar dari kamar, andai keluar kamar pun paling cepat jam 7 pagi, kali ini pagi-pagi Syafi sudah berkutat di dapur, dan jam 6 Syafi sudah pergi dari rumah. Adah mengusir segala pemikirannya tentang majikannya, dia segera menuju dapur mempersiapkan bekal sarapan majikannya. Sedang Dirga terlihat manaiki anak tangga menuju kamarnya.


***


Tidak ada yang bisa Dirga lakukan di rumah, biasanya dia menghangatkan diri bersama istrinya, bercanda, membicarakan apa saja. Dirga selesai mengenakan setelan kerjanya seorang diri, biasanya Syafi yang membantunya, bahkan tingkah iseng wanita yang penuh dengan keceriaan itu selalu mewarnai paginya, kali ini semua terasa sepi.


Dirga segera berangkat menuju gedung TAG. Sesampai gedung itu, semua masih terlihat sepi, hanya beberapa petugas kebersihan yang mulai melakukan tugas mereka. Petugas kebersihan kantor heran melihat Dirga masuk kantor sepagi ini.


Sedang di sisi yang lain ....


Mobil taksi yang Syafi tumpangi melaju menuju kost sahabatnya, sesampai di kost-an Mayfa, Syafi langsung menuju kamar sahabatnya itu.


Tokkk! Tok! Tok!


Punggung telapak tangan Syafi mengetuk pintu berwarna coklat tersebut.


Ceklakkk ....


Pintu terbuka, terlihat wajah cantik seorang Mayfa.


"Aku nggak sanggup May lihat wajah Dirga, hatiku sakit ...." Diiringi isak tangis yang semakin dalam.


Mayfa menarik sahabatnya agar masuk kedalam kamar kostnya.


"Gue tau lu sakit banget, selain memberi bahu buat lu bersandar, apalagi yang bisa gua bantu?"


"Itu cukup." Syafi langsung memeluk Mayfa dan menumpahkan tangisannya dalam pelukan sahabatnya.


"Tadi malam Dirga nelepon gua, sue ... lihat namanya dilayar handphone, pengen gua banting aja tu hp, kesel tau nggak!" omel Mayfa. "Tapi pan yang rugi gua, kalau tu hp gua banting, ya udah nggak jadi banting, stok lem merah ma biru gua buat masa depan, bukan buat beli hp."


Terselip tawa diantara isak tangis Syafi mendengar omelan Mayfa.


"Gua kesel ini Fiy, bukan ngelawak, lu malah ketawa."


"Gajih kita jadi guru lumayan May, gajih sebulan cukup buat beli logo apel digigit."


"Iya, tapi habis itu, sebulan puasa! Andai gak puasa pun, mending buat tabungan masa depan."


"Iya, gajihku selama ini ku tabung, dan sekarang tabunganku juga lumayan, cukuplah buatku menyambung hidup di desa nanti."


"Lu bakal pulang?" Mayfa melepaskan pelukan mereka, wajah Mayfa dipenuhi dengan gurat kesedihan. "Kalau lu pulang ke kampung, gua gak bisa nyumbang bahu lagi buat lu bersandar, bahu gua nggak selebar itu, gue di sini, lu disana, mana sampai sebelah bahu gue ke desa lu."


"Nggak apa-apa nggak ada bahu buat bersandar, kan masih ada sajadah untuk tempat bersujud."


"Jangan bersandar lagi lah, wudhu sana!" omel Mayfa.


"Sekarang kan ada bahu, pinjem bahu dulu." Syafi kembali memeluk erat sahabatnya.


*****


Sebenarnya aku masih sibuk, tapi aku kangen nulis, jadi andai aku gak update, artinya lagi sibuk, apalagi besok aku bisa gak update, karena ada acara 40 harian keluarga.


Terima kasih semua sobat onlineku, yang terus memberikan like pada setiap karyaku, terima kasih juga segala komentarnya.


Love you all, 🙈

__ADS_1


__ADS_2