
Dirga masih berusaha menenangkan Fattah. Tubuh Dirga bergoyang ke kiri dan ke kanan, sedang telapak tangannya yang satu menepuk lembut bagian paha bayi mungil itu. Memberikan rasa nyaman buat bayi mungil itu.
Tidak jauh dari Dirga berada, Wayla mematung melihat pemandangan itu. Wayla, perempuan yang berumur 30 tahun dan akrab di panggil Lala.
Apakah kamu malaikat yang Allah utus untukku?
6 bulan menikah dengan Dirga, Lala bisa merasakan kalau laki-laki itu adalah laki-laki baik. Lala mengetahui sosok Syafi, dan mengetahui seperti apa bidadari hati seorang Dirga. Sederhana dan polos, tapi cinta laki-laki itu sudah tertanam begitu dalam untuk wanita yang bernama Aurelia Syafitri.
Dalam satu bulan, Dirga hanya datang sehari ke rumahnya, hanya untuk memberi nafkah lahir padanya dan putranya.
Dirga hanya suami diatas kertas, Dirga sendiri tidak menganggap dirinya seorang istri, bagi Dirga, seorang Wayla hanya sebatas pendamping saja. Walau di mata masyarakat sekitar mereka adalah pasangan suami istri.
Kala itu ....
Dirga mendatangi sebuah rumah, untuk menolong sahabatnya menjemput seseorang.
Tok! Tok! Tok!
Dirga mengetukkan punggung telapak tangannya pada daun pintu itu.
Bouggggt!
Benda tumpul menghantam bagian punggung Dirga, hingga membuat laki-laki itu tidak sadarkan diri.
***
Dorrr! Dorr! Dor!
"Buka pintu!"
Suara teriakkan bersamaan dengan gedoran pintu itu sangat keras, perlahan Dirga tersadar, keadaan sekelilingnya sangat gelap.
Brukkk! Brukkk! Darrrr!
Suara berisik itu terdengar jelas, tapi kepala Dirga masih pusing, dia belum bisa mengenali keadaan sekitar.
"Ini dia! Pengundang bala! Pelaku Zinah!"
Teriakkan salah satu warga, hal itu seketika menyadarkan Dirga. Dirga melihat keadaan sekitar, banyak orang yang menatap dengan tatapan marah kearahnya. Dirga memandabgi keadaan sekitar, entah kenapa dirinya bisa berada di kasur ini, satu hal yang membuat Dirga terkejut, di sampingnya ada seorang perempuan yang masih memejamkan matanya.
"Dasar anak tidak tahu di untung!" Seorang wanita datang menjambak rambut wanita asing yang berbaring di samping Dirga. "Katanya calon suamimu akan menikahimu, ini bukan menikahi tapi mengawini tanpa nikah!" makinya.
Wanita yang tadi memejamkan mata terlihat begitu terkejut melihat sosok Dirga dan banyak warga yang berada di kamarnya.
"Kita nikahkan mereka saat ini juga!" teriak salah satu warga.
"Setuju! Daripada mereka berzinah lagi!"
Malam itu semua orang mendesak Dirga agar menikahi wanita itu. Dirga tidak mampu mengelak, karena keadaannya yang bertelanjang dan di gerbek saat dia bersama seorang wanita asing.
Alasan dia, siapa yang mau percaya. Dirga putus asa, niatnya menolong teman, malah terjebak oleh keadaan ini.
"Oke, saya akan menikahi dia malam ini juga, tapi bisakah kalian beri saya waktu?"
"Saya ingin berbicara hanya empat mata dengan calon istri saya?" pinta Dirga.
Masyarakat pun memberi waktu pada Dirga dan wanita itu untuk berbicara empat mata sebelum akad pernikahan mereka.
Dirga berusaha meraih pakaiannya yang teronggok di lantai, dan memakainya, sedang wanita itu menarik selimut itu sampai batas dadanya. Mereka berdua sadar tidak melakukan apapun, ini hanya jebakkan.
"Siapa namamu?" tanya Dirga.
"Wayla, panggil aku Lala."
"Apa hubunganmu dengan Romi?" tanya Dirga.
__ADS_1
"Dia ayah bayiku." Wanita itu mengelus perutnya yang buncit.
"Kalian sudah menikah?"
Lala menggelengkan kepalanya. "Romi berjanji padaku, malam ini akan menjemputku dan menikahiku."
"Ya Tuhan ...." Dirga hanya bisa mengeluh.
Dirga meraih handphonenya, berusaha menghubungi Romi, tapi handphone laki-laki itu tidak bisa dihubungi.
Apa Romi menjebakku? Batin Dirga.
"Aku Dirga, teman Romi, tapi satu hal yang harus kamu tau, aku sudah menikah, dan aku sangat mencintai istriku."
"Boleh aku bicara panjang lebar?" tanya Dirga.
"Silakan."
Dirga meraih handphonenya, dia mengetikkan kata pencarian 'Larangan menikahi wanita hamil karena Zina'
Bermacam sumber pun muncul, Dirga memilih salah satunya, dan mulai membacakan untuk Lala.
"Wanita yang hamil karena hubungan seksual di luar pernikahan, dilarang menikah dengan pria yang menghamilinya. Hal ini dikarenakan janin yang ada di dalam kandungan wanita tersebut berasal dari air mani yang haram, sehingga janin itu bukan anaknya meskipun berasal dari air maninya."
"Andai mereka menikah pula, maka keduanya dilarang melakukan hubungan badan, karena tercampurnya darah yang halal juga darah haram, diizinkan menggauili istrinya, saat wanita itu sudah selesai masa nifasnya. Itu jika Romi yang menikahimu. Kalau aku, sampai kapanpun aku tidak akan melakukan itu padamu."
Lala hanya bisa menunduk.
"Dalam fatwa Lajnah Daimah dinyatakan ...." Dirga melanjutkan membaca dari halaman om internet yang dia buka.
“Jika ada wanita yang hamil karena zina maka dia tidak boleh dinikahkan dengan lelaki yang menzinainya maupun lelaki lainnya, sampai si wanita melahirkan. Karena rahimnya sedang ada isinya, berupa janin yang tidak boleh dinasabkan kepada lelaki yang menzinainya, tidak pula kepada orang lain, tetapi dia dinasabkan ke ibunya."
Dirga memandang sayu wajah ayu wanita hamil itu. "Andai kita menikah, maka pernikahan kita tidak sah. Kau dan aku hanya suami istri diatas kertas, sampai kapanpun aku tidak bisa menganggapmu istriku, bagiku kau hanya sebatas pendamping nantinya, apa kamu siap dengan keadaan itu?"
Lala masih terdiam, berusaha mencerna perkataan Dirga, andai bisa menolak, dia juga ingin menolak. "Aku siap kakak anggap apapun nanti setelah menikah nanti."
"Tapi tenang saja, aku akan membiayai hidupmu dan anakmu, bahkan sampai kita menemukan Romi, dan orang yang menjebak kita," ucap Dirga.
Malam itu pernikahan dadakan itu pun terjadi.
****
"La, lala ...."
Panggilan Dirga membuat wanita yang akrab dipanggil Lala itu tersadar dari kekagumannya pada sosok yang berada di depan matanya.
"Maaf kak, aku lama." Lala segera melangkah mendekati Dirga, perlahan dia mengambil Fattah yang masih tertidur dalam gendongan Dirga.
"Dia doyan tidur."
"Bayi memang begini kak, apa bisa dia, cuma minum susu, pup, nangis, dan tidur."
Dirga tersenyum memandangi wajah Fattah yang begitu imut.
"Kakak izin berapa hari sama istri kakak?"
"Seperti biasa hanya sehari, maaf La, aku selalu merindukan dia, berpisah lama dari dia aku yang tidak mampu."
Lala terdiam, hatinya juga ingin dicintai oleh laki-laki, seperti Dirga mencintai Syafi.
"Semoga suatu saat nanti, ada laki-laki yang benar-benar mencintai kamu La."
"Um ...." Lala tersadar. "Entahlah kak, tujuan hidupku saat ini hanya Fattah." Keberadaan Romi yang sampai saat ini tidak diketahui, membuat hati Lala sangat sakit dan kecewa.
Malam itu harapannya Romi datang dan melamar dirinya secara baik-baik, tapi malah Dirga yang datang, hingga pernikahan yang tidak diinginkan ini terjadi.
__ADS_1
"La, malam itu, kamu tau kenapa aku bisa berada di kamarmu?"
"Aku tidak tau kak, malam itu kedua orang tuaku izin pergi untuk membeli kue, karena akan menyambut Romi, malam itu aku memang sedang sakit, aku hanya tiduran di kamarku, saat aku sadar, kakak ada di sana, dan pernikahan itupun terjadi."
"Aku sangat ingin meng-akhiri semua ini La."
"Tinggalkan saja aku kak."
"Aku tidak bisa, karena sampai sekarang aku tidak mengetahui di mana Romi, bagaimana kalau dia dalam bahaya? Dengan menjagamu dan anakmu, aku telah membantu sahabatku."
Romi, hati Lala sangat sakit mengingat nama itu.
"Maaf La, memang pernikahan ini cepat atau lambat akan berakhir. Tapi saat aku melepaskan kamu, setidaknya saat itu jelas bagaimana nasibmu."
"Maafkan aku La, bukan aku mempermainkan pernikahan. Kamu wanita yang baik, tapi aku tak bisa menerimamu sebagai istri, karena aku sangat mencitai istriku, aku tidak bisa mengkhianati dia dengan ikatan yang cuma sah diatas kertas ini."
"Maafkan aku kak."
Lala bingung harus apa, satu sisi dia sangat bahagia mendapatkan suami seperti Dirga, satu sisi yang lain, dirinya menderita, setiap bersama Dirga, dalam hati dan pikiran Dirga hanyalah seorang Aurelia Syafitri. Sebaik apapun dirinya melayani Dirga di meja makan, mulut Dirga selalu kelepasan menyebut nama Syafi.
"Kebutuhan dapur sama kebutuhan Fattah, apa saja yang kurang? Biar aku belikan, soalnya nanti sore aku harus kembali pada kehidupan asliku."
"Um ... itu catatanya diatas meja kak." Lala menunjuk kearah kertas yang bertindih vas bunga.
"Baik, nanti aku belikan."
"Kakak sarapan dulu, diatas meja sudah aku siapkan," ucap Lala.
"Kamu?"
"Iya, kita sarapan sama-sama. Tapi aku menaruh Fattah dulu ke bok dia."
Setelah Lala menaruh Fattah ke bok bayi, Dirga dan Lala segera menuju meja makan, untuk mengisi tenaga mereka.
Lala dengan telaten melayani Dirga di meja makan, kini keduanya masih menikmati sarapan pagi mereka.
"Bagaimana pembantu yang bekerja padamu, kau suka?" tanya Dirga.
"Owh Bi Jumi sangat baik, aku suka."
"Baguslah, aku sering meninggalkanmu, dalam sebulan aku hanya seharian ada di sini." Dirga meneruskan menyuap makananya.
"Bagaimana keadaan istri kakak?"
"Dia baik, dan kami baik-baik saja."
"Baguslah, semoga kita bisa mengungkap semua ini, sebelum istri kakak mengetahui pernikahan kedua kakak."
"Iya, itu harapanku. Setelah semua terungkap, walau pernikahan ini tidak sah, tapi aku akan tetap melepaskan kamu secara baik-baik, dan ku harap, walau kita berpisah, kita masih bisa menjadi teman."
"Tentu kak."
"Siapa yang masak? Enak banget." Dirga menambah isi piringnya.
"Aku, tadi pagi Fattah masih tidur, aku masak saja minta bantuan sedikit sama bi Jumi."
"Waw, hebat juga kamu masaknya, masakan ini rasanya mirip masakan Sya--" Dirga menghentikan ucapannya, walau Lala bukan istri sahnya, tapi posisi Lala saat ini adalah istrinya.
"Maaf La, bukan maksudku membandingkan kalian berdua."
"Santai kak, aku senang, setidaknya bisa mengobati rasa rindu kakak pada istri kakak."
"Maaf ...." Dirga sungguh menyesal.
Lala tersenyum, ini bukan hal baru Dirga menyebut nama Syafi, bahkan Lala sudah siap mendengar nama itu terlepas dari mulut Dirga kapan saja. "Santai kak." Keduanya melanjutkan sarapan mereka.
__ADS_1
****
Hayoo Dirga enggak salah, Syafi tetap segalanya untuknya, yang salah Authornya gabut 😂😂😂