
Lala mempercepat langkah kakinya. Dirinya bukan sakit melihat kemesraan Dirga dan Syafi. Sebagai perempuan, dirinya membayangkan bagaimana jika diposisi Syafi. Air mata Lala tidak berhenti menetes.
"Tuhan ... kenapa harus Dirga yang kau kirim sebagai penyelamatku?!
"Rumah tangga mereka sangat indah, kenapa harus ada hama sepertiku yang mengusik kebahagiaan mereka!" Saat ini Lala membenci dirinya sendiri.
Lala terus berlari meninggalkan hotel itu. Di kegelapan malam kedua kaki indah itu menapaki trotoar seorang diri.
"Apa karena dosaku yang begitu besar, hingga KAU tempatkan aku pada posisi ini?"
"Apa nasibku tidak cukup tragis sebelumnya? Malam itu Romi membeliku, memperlakukanku sebagai pemuas nafsunya! Hanya saja akhirnya dia jatuh cinta padaku ...." Lala tersungkur di trotoar yang dia lalui, mengenang awal pertemuan dia dengan Romi.
Kakak yang harus melindunginya malah menjualnya. Deritanya belum berakhir, karena kedua orang tua Lala hanya mementingkan uang. Hanya uang, uang dan uang.
Takdirnya perlahan menjadi lebih indah, kala Romi benar-benar mencintainya, hanya saja Romi belum berani membawa Lala pada keluarganya. Hingga malam itu Romi memberi kabar kalau dirinya mendapat restu, hati Lala bahagia, pikirannya takdirnya akan indah seperti cinderella, ternyata malah menjadi duri dalam kehidupan orang yang lain.
Lala berusaha bangkit. Dia menyetop mobil taksi yang lewat. Sepanjang perjalanan pulang, Lala terus menangis.
Aku memang bukan hamba yang taat Ya Allah, tapi aku mohon, jangan pernah engkau pisahkan Dirga dan Syafi, izinkan mereka terus bersama.
Sesampai di rumahnya, mata Lala sembab, karena sepanjang jalan dia menumpahkan air matanya.
"Nona, kenapa Nona menangis?" Jumi sangat khawatir melihat keadaan Lala.
"Bi, bantu aku membereskan semua barang-barangku, dan barang Fattah, aku ingin pergi dari sini." Lala membuka tasnya. Dia mengambil beberapa lembar uang jatah bulanan yang selalu dia dapat. "Ini bonus buat bibi, terima kasih selama ini menemani saya dan Fattah."
"Memangnya kenapa Non?" Jumi sangat tidak mengerti dengan sikap Lala.
"Malam ini ulang tahun kak Dirga, di sana aku melihat betapa besar rasa cinta mereka berdua. Melihat hal itu, rasanya cermin besar terpampang jelas di depan mataku, aku adalah--" Lala terisak semakin dalam.
"Aku adalah penghancur kebahagiaan kak Dirga, jika istrinya tau akan pernikahan ini, hatinya pasti hancur, cinta yang begitu besar itu juga hancur." Lala semakin kacau membayangkan segala kemungkinan terburuk yang terjadi. "Sebelum itu terlambat, aku ingin meng-akhiri semua ini."
Bi Jumi ikut menangis mendengarkan cerita Lala.
"Aku bukan siapa-siapa kak Dirga, Fattah juga bukan darah daging kak Dirga, sudah cukup pertolongan kak Dirga untuk aku dan Fattah."
"Bibi buatkan teh manis hangat ya, semoga perasaan Nona setelah ini lebih baik."
Lala menganggukkan kepalanya, dia menyetujui usul bi Jumi.
Bi Jumi segera menyeduh teh manis untuk majikannya. Dia segera membawa gelas yang berisi teh manis itu untuk Lala.
"Terima kasih bi." Lala langsung menikmati minuman hangat dan manis itu.
"Tuan Dirga kan kesini hanya sebulan sekali, mending malam ini Nona istirahat, kita berkemas besok," usul Bi Jumi.
"Baik bi, tubuhku juga sangat lelah. Kita besok berkemas seadanya saja."
"Energi baru, pikiran kita juga lebih baru," bi Jumi berusaha menyemangati Lala.
__ADS_1
"Fattah rewel?"
"Enggak, dia sangat pintar."
Setelah menghabiskan satu gelas mimuman itu, Lala segera ke kamarnya.
Sedang di hotel tersebut, bermacam rangkaian acara ulang tahun Dirga terus berjalan. Semua acara yang Sam dan Resa rancang berjalan mulus. Kini para tamu undangan perlahan meninggalkan tempat acara. Hanya tersisa Sam, Resa, Arnaff, Dirga, Syafi, Athan dan Mayfa.
"Penampilan kamu luar biasa sayang," puji Dirga, ciuman juga terus menghujani sisi telinga Syafi.
"Itu semua rencana Nona Resa, dan Tuan Sam," sahut Syafi
Dirga melangkah mendekati Sam, lalu memeluk tubuh tegap itu. "Terima kasih banyak Tuan."
"Aku juga sangat berterima kasih padamu Dirga. Kau sahabat juga pekerjaku yang paling setia."
Dirga dan Sam segera mengakhiri upacara teletubies mereka.
"Mayfa dan Athan ke sini naik apa?" Arnaff bertanya pada Mayfa dan Athan.
"Athan pakai motornya, jadi pulang saya nebeng sama dia," jawab Mayfa.
Luka yang Arnaff toreh pada Syafi 3 tahun yang lalu, sepertinya masih mengefek pada Mayfa, terlihat wanita itu begitu dingin dan judes padanya. Tapi pada yang lain, Mayfa bersikap manis dan ramah.
"Kalau begitu saya pulang duluan, selamat ulang tahun Dirga." Arnaff menyalami Dirga. "Kamu hebat Fiy, penampilan kamu barusan seperti penyanyi profesional," puji Arnaff.
"Kami juga pamit pulang," pamit Mayfa. Mayfa mendekati Syafi dan memeluk sahabatnya itu. "Kamu kuat?" tanya Mayfa.
"Kuat apanya?" Dirga merasa heran dengan pertanyaan Mayfa.
"Kami ini kembaran, kemana-mana selalu bersama, makanya aku nanya Syafi, dia kuat nggak pisah sama aku?" oceh Mayfa.
"Owh ...." gumam Dirga.
"Kuat yank, walau kamu tidak ada di mataku, kamu lebih dulu masuk kesini." Syafi meng-isyarat hatinya.
"Iya, gue tau duluan gue jadi penghuni hati lu ketimbang dia!" Mayfa meng-istarat pada Dirga.
Mereka semua mngucapkan salam perpisahan. Kini di ballroom hotel itu hanya ada Dirga dan Syafi. Yang lainnya sudah lebih dulu meniggalkna hotel tersebut.
"Kita pulang yank?" tanya Dirga.
"Tapi aku belum kasih kamu hadiah." Syafi berusaha bersikap manis.
"Aku tidak mau hadiah, aku maunya kamu." Dirga menarik tubuh Syafi hingga menempel di tubuhnya.
"Yah ... padahal aku sudah capek-capek siapin, mahal pula!" gerutu Syafi.
"Karena kamu sudah suapin, kalau begitu mana hadiah kamu?"
__ADS_1
"Tapi, kakak harus libur kerja besok, karena aku sudah persiapkan semua ini, aku juga libur masuk sekolah besok."
"Apa sih yang enggak buat kamu? Lautan aku seberangi demi kamu, tapi pakai kapal, kalau berenang aku nggak kuat," rayu Dirga.
"Yakin mau terima hadiahku?"
"Sangat yakin."
"Tapi tutup mata dulu!"Syafi mengambil kain penutup mata, dia menutup mata Dirga.
Dirga mengikuti kemanapun Syafi menariknya.
Mereka berdua sampai di ruangan yang begitu indah.
"Kakak buka penutup matanya setelah aku kode ya," pinta Syafi.
"Iya sayang ...."
"Jangan mengintip!"
"Iya ...."
Dirga pasrah mengikuti kemauan Syafi. Namun rasa bosan mulai menyapanya, kakinya mulai terasa pegal karena terlalu lama berdiri.
"Silakan kakak buka kain penutup mata kakak."
Mendengar suara Syafi mengizinkannya membuka kain penutup mata, Dirga segera membukanya.
Serrrrr!
Darah Dirga seakan mengalir lebih cepat dari ujung kaki hingga kepalanya. Saat melihat Syafi duduk diatas tempat tidur yang bertabur kelopak bunga mawar merah.
Pose Syafi yang seakan minta diterkam membuat otak Dirga kehilangan kendali. Saat ini dirinya hanya ingin menerkam buruannya.
Bagai magnet yang menarik besi, di luar kesadarannya Dirga terus melangkahkan kaki mendekati Syafi. Hingga posisinya tepat disisi tempat tidur yang berukuran besar itu.
Syafi bangkit, dia menaruh kedua lengannya di pundak Dirga. "Kata kakak hanya ingin diriku bukan?"
Mulut Dirga tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata. Dia tersihir melihat Syafi dengan gaun malam yang sangat minim. Padahal ini bukan pertama kali Syafi berpenampilan seperti ini, hanya saja ini sangat berbeda. Dirga menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Syafi.
Fokus Dirga saat ini hanyalah wajah istrinya.
"Hadiahku buat kakak, diriku sendiri." Syafi menyatukan bibirnga dengan bibir Dirga. Hingga membuat Dirga semakin mendalami keinginannya. Malam itu pun mereka lewati bersama dengan alunan nada dan koreo yang lain.
*****
Skip atuh jangan detil, othor kagak faham 😁😁😁
Besok Othor mau mojok sama akang-akang di pasar, jadi gak yakin bisa update lagi. Tadi siang hujan sampai sore, makanya belanja kebutuhan dapurnya kepending besok.
__ADS_1