
Setelah panen bogeman mentah dari papanya. Arnaff segera pergi dari Restoran itu. Di tengah perjalanan handphonenya berdering, terlihat nama Alvi yang memanggilnya. Arnaff segera menepikan mobilnya, untuk mengangkat panggilan dari Alvi.
“Iya sayang ….”
“Yank, jemput aku ….” Alvi menyebutkan alamat dia berada saat ini.
“Owh, tunggu sebentar, aku tidak jauh dari sana.”
Arnaff segera memutuskan panggilan teleponnya. Dia segera melajukan mobilnya menuju alamat yang Alvi minta. Saat mobil Arnaff berhenti di halaman sebuah halaman perkantoran, seorang wanita cantik berlari kecil menuju mobilnya. Dia langsung membuka pintu mobil Arnaff.
“Makasih sayang, sudah bersedia jemput ak—" Ada yang berbeda dari wajah Arnaff. Alvi segera menyalakan lampu mobil bagian dalam. “Sayang wajah kamu kenapa?” Alvi memegang wajah calon suaminya.
“Aku tidak tau, entah kenapa jika bertemu wanita itu hidupku jadi sial, papa melukis semua ini di wajahku, karena membela wanita yang aku tinggal itu. Bukan hanya papa, tapi Sam dan Dirga juga membela wanita itu.”
“Dia ada di sini?” Keceriaan di wajah Alvi seketika lenyap.
“Iya, tadi sore aku bertemu di lapangan tempat acara.”
“Dia sangat terobsesi pengen jadi pasangan kamu, yank.”
“Sepertinya, dia bernyanyi di sana setiap sore, dia ‘kan hobi teriak.”
“Besok kita beri dia pelajaran. Sebelum itu kita beli makan dulu, kita makan malam di apartemen aku. Sekalian mengobati wajah kamu yank.”
Arnaff segera melajukan mobilnya menuju Restoran yang di sebut Alvi. Setelah membeli makanan di sana, mobil Arnaff segera melajukan mobilnya menuju Apartemen Alvi. Sesampai di sana, Alvi langsung mengobati wajah Arnaff. Ringisan selalu lolos dari mulut Arnaff saat Alvi mengobati wajahnya. Selesai mengobati Arnaff, keduanya langsung menikmati makan malam mereka. Selesai menikmati makan malam mereka, Arnaff langsung pulang.
Sesampai rumah, suasana terlihat sepi hanya lampu temaran yang menyala. Arnaff segera mengunci pintu utama. Seketika lampu terang menyala, membuat Arnaff kaget, pupil matanya harus menyesuaikan dengan keadaan yang tiba-tiba terang. "Papa?" Arnaff kaget melihat papanya berdiri dekat sakelar lampu.
"Andai kamu tidak salah, papa rela menjual perusahaan asal membela kamu, sekarang kamu yang salah. Mulai besok kamu bukan Manager Ohoana Group lagi!" tegas Rinto. "Papa akan ambil alih lagi semuanya, kamu sangat mengecewakan!"
"Aku butuh dana banyak pah untuk pernikahanku nanti, dan aku juga butuh pekerjaan." Arnaff tampak kacau mendengar keputusan papanya.
"Untuk pernikahan kamu, ambil saja semua royalti yang Sam beri, untuk pekerjaan, kamu akan bekerja di perusahaan Edweil, sebagai karyawan biasa." Rinto segera pergi meninggalkan Arnaff. Rinto menghentikan langkah kakinya. "Saat orang tidak tahu siapa kamu, maka jangan pernah sebut papa atau Ohoana group, tapi jika orang kenal padamu, bilang saja kau ingin merasakan perjuangan menjadi karyawan," ucap Rinto.
****
Sepanjang malam Dirga tidak tenang, merasa bersalah membawa Syafi ikut makan malam. Harusnya dia hanya sendiri saja datang. Hal itu sudah terjadi. Pagi menyapa, Dirga segera bersiap untuk turun ke bawah, sebelum Syafi keluar dari kamarnya. Mata Dirga terlihat merah, karena kurang tidur, pikirannya yang kacau membuatnya tidak bisa merangkai kata-kata untuk surat yang akan dia kirim pada Satpam penjaga gerbang. Pak Ajah sudah menunggu di depan pintu, siap untuk mengantarkan paket cinta pada Satpam penjaga gerbang, yang nanti akan di berikan pada Syafi.
“Hari ini libur dulu kadonya, pikiran saya kacau,” ucap Dirga.
“Tapi bunga pastinya sudah di terima Pak Yudis, Tuan.”
“Hari ini bunga saja dulu.”
Pak Ajah segera pergi, melangkah menuju mobil, sedang jemarinya sibuk mengetik pesan yang akan dia kirim pada Pak Yudis, Satpam Sekolah itu. Selesai urusannya dengan Pak Ajah, Dirga segera kembali ke kamarnya. Kejadian tadi malam sungguh membuat otaknya tidak bisa berpikir. Gumpalan kertas berbentuk bola, berserakan di penjuru kamarnya. Dirga pasrah, hari ini gagal untuk mengirim surat pada Syafi.
Detik demi detik begitu mendebarkan. Dirga sangat takut kalau Syafi terpuruk lagi. Dirga masih duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. Menatap makanannya, sambil menunggu Syafi keluar dari kamarnya. Suara pintu kamar yang terbuka bagaikan mata air yang seketika menyejukkan hati Dirga, dia menoleh kearah kamar Syafi, terlihat wanita itu Nampak cantik dengan seragam guru yang dia kenakan, lengkap dengan jilbab pink yang menutup bagian kepalanya.
“Pagi kak.” Sapaan itu meruntuhkan semua ketakutan Dirga. Wanita ini masih bisa ceria.
“Malam Fiy ….”
Syafi tersenyum, dia langsung meraih kursinya dan segera menarik makanan yang ada di meja tepat di depannya. Keduanya segera sarapan bersama. Walau senyuman menghiasi wajah cantik itu, entah kenapa hati Dirga masih ketakutan. Ada firasat buruk yang tidak mau pergi dari perasaan Dirga. Tapi apa? Entahlah dia ‘pun bingung, saat ini Syafi terlihat baik-baik saja.
Selesai dengan sarapan pagi mereka, Dirga dan Syafi segera melangkah bersama menuju mobil. Perjalanan menuju sekolah berjalan lancar seperti biasa. Syafi hanya memandangi jalanan yang dilewati, begitu pula Dirga, dia hanya fokus dengan jalanan yang ada di depan matanya.
__ADS_1
Tanpa menunggu permintaan Syafi, Dirga segera menepikan mobilnya, ditempat biasa Syafi meminta turun. Seperti biasa pula, Syafi mencium punggung telapak tangan Dirga sebelum turun dari mobil. Syafi tidak bisa melepaskan jabatan tangannya, Dirga menggenggam tangannya erat.
“Fiy, kamu baik-baik saja?” Dirga memastikan.
“Aku baik kak.” Senyuman manis terukir di wajah cantik itu.
Dirga segera melepaskan tangan Syafi, walau rasanya tidak rela, dia ingin menggenggam tangan itu selama yang dia bisa. Setelah Syafi menutup pintu mobilnya, Dirga segera melajukan mobilnya, meneruskan perjalannya menuju kantor.
Syafi meneruskan langkah kakinya menuju sekolahan. Anak-anak berlarian di sekitarnya, membuat para pengasuh mereka kerepotan mengejar anak-anak Sultan itu. Anak-anak itu seketika berbalik arah, ketika melihat Syafi.
“Pagi miss Aurel.” Mereka bergantian menyalami Syafi dan mencium punggung telapak tangannya.
“Pagi juga sayang ….” Syafi tersenyum melihat tingkah lucu anak-anak manis itu. Anak-anak itu meneruskan langkah kaki mereka. Sedang beberapa pengasuh yang menjaga anak-anak itu, menganggukkan kepala mereka, memberi hormat pada wanita yang mengenakan seragam guru tersebut.
Jalanan kembali sepi, hanya Syafi seorang diri berjalan santai menapaki trotoar itu.
“Engkau bidadari turun dari mana ….” Suara itu berhasil membuat Syafi menghentikan lankah kakinya, dan merubah arah tubuhnya kearah suara itu berasal.
Terlihat Athan berhenti di dekatnya, dia masih duduk diatas motornya. “Kapan kau berhenti menggodaku? Aku ini istri orang, Athan ….”
“Istri apaan masih bersigel gitu,” ledek Athan.
“Athan!”
Sampai jumpa di lagi bidadariku yang nyangkut di buku nikah orang.” Athan meneruskan laju motornya menuju gerbang sekolah, tidak memerdulikan raut wajah Syafi yang berubah kesal karena ucapannya.
Pak Yudis tersenyum Ketika melihat Syafi berjalan kearahnya. Tidak perlu menerangkan apa-apa lagi, dia langsung memberikan bunga mawar putih pada Syafi. “Pencinta Anda, hari ini sibuk, dia hanya bisa mengirim ini,” ucap Pak Yudis.
“Justru saya berharap laki-laki misterius ini bosan mengirim hadiah pada saya.” Syafi menerima setangkai bunga mawar putih yang biasa dia terima setiap harinya sejak mengajar di Sekolahan ini. “Terima kasih, Pak.” Syafi segera melajutkan langkah kakinya menuju sekolahan.
“Hai Rara sayang ….” Syafi mengulurkan tangannya menyambut anak kecil yang berlari kearahnya.
Melihat Nadira masuk bersama gurunya, sopir yang mengantar Nadira segera pergi meninggalkan Sekolahan itu.
*******
Suasana sore di Lapangan, tempat biasa Syafi dan Athan tampil, hari ini lebih ramai dari biasanya, Terlihat beberapa orang yang mengenakan kostum penari berkeliaran di dekat lapangan. Mayfa baru turun dari ojek, setelah membayar ongkos jasa ojek online yang dia tumpangi, Mayfa segera menuju stand minuman kesukaannya.
"Dua kak ...." Mayfa memesan dua cup minuman dingin kesukaan dia.
"Satu saja, untuk Syafi sudah aku belikan."
Mayfa menoleh kearah suara itu berasal. "Kak Athan, bisakah kakak jangan menggoda Syafi? Dia itu sudah menikah!"
"Andai dia bahagia dengan pernikahan ini, aku akan melepasnya. Masalahnya Syafi tersiksa dengan status yang Dirga berikan padanya."
Brukkk!
Sesuatu jatuh dari meja, terlihat seorang pelayan yang mengenakan topi, kacamata dan masker tengah memunguti benda yang tidak sengaja dia jatuhkan. Mayfa dan Dirga sama-sama menoleh kearah pelayan itu.
"Kak Athan--"
"Syafi datang, nanti kita teruskan nanti pembicaraan kita." Athan memotong perkataan Mayfa, dia segera menempelkan benda elektronik pipih persegi panjang itu ke sisi telinganya. "Sekarang!" titahnya. Athan segera mengambil mic yang sudah dia siapkan.
(Huuuu .... uuuu ... uuuu ....)
__ADS_1
Syafi heran, dia baru sampai di lapangan ini, para penari mengelilinginya dan unjuk kebolehan mereka.
(Oh, her eyes, her eyes
Make the stars look like they're not shinin'. Her hair, her hair
Falls perfectly without her tryin'
She's so beautiful and I tell her everyday)
Athan mendekat sambil bernyanyi. Athan berdiri tepat di depan Syafi. Syafi tersenyum, walau dia bingung melihat pertunjukan Athan kali ini.
(Yeah, I know, I know
When I compliment her, she won't believe me. And it's so, it's so
Sad to think that she don't see what I see. But every time she asks me, "Do I look okay? I say)
Saat bersamaan, Kelopak bunga mawar merah di tabur para penari kearah Syafi dan Athan.
(When I see your face)
Dua orang penari membuka spanduk, di spanduk itu terpampang foto lama Syafi dengan senyuman manisnya.
(There's not a thing that I would change. 'Cause you're amazing
Just the way you are)
Athan bernyanyi sambil mengisyarat kalau wanita dalam spanduk itu sangat memukai.
(And when you smile)
Penari lain membuka Spanduk lagi, tertulis jelas di sana. 'Jika kau tak bisa bahagia dengan ikatan itu, lepaskan Fiy, ada aku di sini yang tulus mencintai kamu.'
Rasanya tidak ada oksigen yang bisa dia hirup, dadanya terasa sesak melihat Athan menyatakan perasaannya.
(The whole world stops and stares for a while. 'Cause girl, you're amazing. Just the way you are, Yeah)
Senyum yang tadi menghiasi wajah Syafi seketika lenyap. Dia memandangi Athan yang terus bernyanyi untuknya, Athan memberinya bucket bunga mawar merah, Syafi menerimanya, tapi dirinya hanya mematung.
Para penari itu terus menari, sedang Athan terus menyanyikan lagu 'Just The Way You Are' berdiri di depan Syafi.
Dari kejauhan, Dirga merasa hancur melihat Athan berani mengungkapkan perasaannya. Lamunan Dirga buyar, saat seseorang meraih tangannya begitu kasar dan menyeretnya.
"Ayok kak, ungkapkan perasaan kakak sekarang sebelum terlambat!" Mayfa terus menyeret Dirga.
Dirga melepaskan tangannya yang di pegang Mayfa. "Belum saatnya May."
"Kapan lagi?! Menunggu Syafi jatuh cinta pada kak Athan, baru kakak ungkapin perasaan kakak!?" maki Mayfa.
****
Maaf sobat, aku gak kuat ngetik, maaf ngegantung lagi ya ...
Aku tidak bisa up rutin, akan aku up jika aku ada waktu santai, terima kasih banyak sobat atas pengertian kalian.
__ADS_1