Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 93


__ADS_3

Adah masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, majikannya pergi dengan membawa tas jinjing yang berisi beberapa lembar pakaian.


"Nona, jangan bercanda!" Adah mengejar Syafi, dan menghalangi langkah Syafi.


"Mbak, saya mohon izinkan saya pergi."


"Tidak!" Adah merentangkan kedua tangannya menghalangi Syafi.


"Maaf mbak, saya harus pergi."


"Tapi kenapa Non …." Adah sangat sedih melihat wajah Syafi yang jauh berbeda dari biasanya.


"Saya tidak mampu berbagi suami mbak, ternyata itu tak semudah perkiraan saya." Syafi ingin sekali menangis, tapi tidak bisa lagi.


Adah mematung mendengar penjelasan Syafi.


"Saat kak Dirga tidak di rumah ini, dia di rumah istri mudanya, mereka sudah memiliki anak, lebih baik saya yang pergi mbak."


Adah masih mematung, dirinya pernah berada di posisi Syafi, Adah melangkah ke samping, dia membiarkan Syafi pergi begitu saja. "Hati-hati di jalan Non."


Syafi mengusap pundak Adah, tanpa berkata lagi, dia meninggalkan rumah Dirga dengan taksi online yang sudah dia order sebelumnya, saat Syafi sampai di depan rumah, mobil taksi juga sudah menunggunya. Syafi segera pergi dari sana.


Syafi  menelepon Mayfa, menceritakan keputusan yang dia ambil saat ini. Isak tangis Mayfa sangat jelas terdengar dari ujung telepon itu.


"Aku akan pergi, maafkan aku karena tidak mengucapkan salam perpisahan padamu."


"Maafkan aku, selama bersamamu aku hanya bisa merepotkan dirimu, membuatmu kesal dengan kelakuanku."


"Fiy ...." Mayfa tidak mampu berucap, tangisnya menahan segala kata yang ingin dia utarakan.


"Maafkan aku ya May, sampai jumpa lagi lain waktu."


"Lu akan kemana Fiy?"


"Pulang, aku sudah memesan tiket, penerbanganku sebentar lagi, beruntung ada penerbangan pagi."


"Gua telepon keluarga gue ya, buat jemput lu di Bandara Syamsudin Noor."


"Jangan May, kasian ayah dan bunda kamu, juga 5 saudari kamu, kalau melihat aku, rasanya akan seperti melihat kamu, tapi tetap beda, kan kasian mereka tersiksa oleh rasa rindu mereka padamu yang semakin besar." Syafi berusaha tertawa. "Aku hanya mengingatkan mereka padamu, intinya aku tidak mengunjungi mereka sebelum kamu pulang."


"Terus lu kemana?"


"Setelah dari makam abah sama mama, kemungkinan aku langsung pulang ke desa nenek."


"Ya Udin ... gue bisa apa, menahan lu hanya membuat lu semakin sakit. Gue usahain ke bandara saat jam mengajar gue selesai."


"Sampai ketemu thayank."


Syafi dan Mayfa menyudahi pembicaraan mereka.


Di tengah perjalanan, senyuman kembali menghiasi wajah Syafi, saat mobil taksi yang dia tumpangi, berselisihan di jalan dengan mobil Dirga.


"Terima kasih atas cinta kakak, dan kenahagiaan yang kakak beri untukku selama ini." Mata Syafi terus memandangi mobil Dirga yang terus melaju, hingga hilang dari pandangan matanya.


***


Flash back di kediaman Lala.


Lala dan bi Jumi terus mengemasi barang-barang mereka.


"Kamu mau kemana La?!" 


Pertanyaan itu membuyarkan konsentrasi Lala. Saat Lala menegakkan wajahnya, dia terkejut melihat sosok kakak laki-lakinya berada di rumahnya.


"Kak Getra?" Lala mematung.

__ADS_1


"Mau kemana kamu!?" Maki laki-laki itu.


"Aku mau pergi dari sini, lagian kakak juga tau, kalau Dirga bukan ayah dari bayiku."


Getra mengambil Fattah yang masih terlelap dalam kereta bayinya. "Kalau kamu pergi, siapa yang membiayai hidup kami?" Getra memandang tajam pada bayi yang ada dalam gendongannya.


Lala faham kemana arah pembicaraan Getra. "Kak, ku mohon … cukup hidupku yang kakak hancurkan, hidup anakku jangan …." Lala memohon.


"Aku tidak perduli, kau tetap jadi istri rahasia Dirga, atau akan aku beritahu pada musuh Romi, di mana anak Romi." Ancam Getra.


"Kakak …."


"Aku tau musuh Romi, tapi aku diam."


"Maksud kakak?"


"Kalau kau nekad pergi, aku akan mendatangi musuh Romi, memberi mereka fotomu dan Fattah," ancam Getra.


Samar terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah, membuat Lala langsung mengusap air matanya.


"Dari baunya, itu Dirga, tetap bersikap manis padanya, atau …." Getra meng-isyarat kalau dirinya akan mencelakai bayi Lala.


Lala sangat ketakutan, Getra orang yang nekad, dan menghalalkan segala cara demi meraih keinginannya.


"La! Kamu mau kemana?" Dirga terkejut melihat ada koper di ruang tengah, juga kehadiran Getra di sana.


"Lala tidak akan kemana-mana, Dirga, aku sudah menasehatinya," sela Getra.


"Kenapa kamu ingin pergi La?" Tanya Dirga.


"Aku hanya takut menyakiti istri kakak, aku tidak mau rumah tangga kakak hancur hanya karena aku," ucap Lala.


"Tapi dengan pergi dari masalah, tidak akan menyelesaikan masalah La, bersabar … setelah Romi bangun, kita akan perbaiki sama-sama."


"Bagaimana kalau Syafi tau sebelum kak Romi sadar?"


Handphone Dirga terus berdering, membuat konsentrasi Dirga buyar, bicara pada Lala atau percaya pada Getra.


"Kamu kerja saja Dirga, masalah Lala, biar aku yang urus," sela Getra. "Aku jamin, Lala tidak akan pergi."


Mendengar jaminan Getra, Dirga pun pergi dari sana. Karena dia harus menghadiri pertemuan penting.


Getra menatap sinis kearah Lala.


"Jika kamu berani pergi dari Dirga, ingat ancamanku tadi, musuh Romi akan memburu putramu!"


Lala sangat kebingungan.


"Kamu pikir, siapa yang menjebak Dirga malam itu?" Getra tersenyum sinis sambil menimang keponakannya. "Malam itu Romi meneleponku, menceritakan kalau ada yang mengincar kamu La, saat aku tau Romi mengutus temannya bernama Dirga untuk menjemputmu, aku mencari tau siapa Dirga, ternyata dia orang penting di The Alvaro group."


Getra terus tersenyum. "Karena Romi dalam bahaya, dan aku takut dia mati, kenapa tidak aku ambil kesempatan saja? Ku pukul belakang Dirga, ku seret dia ke kamarmu, dan ku telanjangi dia, tinggal pancing emosi warga saja, hingga adikku bisa jadi ladang uang bagiku."


"Kau--" Lala sangat geram mendengari cerita Getra.


"Rencanaku mulus, karena Ayah dan ibu tidak ada di rumah."


Malam itu penyebab kekacauan saat ini, rasanya Lala ingin menerkan manusia paling be-jat yang tengah memeluk bayinya.


"Kakak! Kenapa kakak selal--"


"Permisi, selamat pagi …." 


Suara tamu yang datang membuat Lala harus menahan emosinya.


"Kalian tetap di dalam, aku mau periksa siapa yang datang, siapa tau penagih hutang itu mengikutiku sampai ke sini." Getra melangkah ke luar, memeriksa siapa tamu yang datang.

__ADS_1


Getra sangat hati-hati, dia takut kalau penagih hutang yang memburunya sampai ke sini. Perlahan Getra mengintip, saat sepasang matanya melihat sosok yang berada di luar rumah Lala, senyuman merekah menghiasi wajah Getra, dia segera menemui tamu yang datang.


Wanita itu nampak terkejut melihat Getra tengah menggendong bayi. "Permisi, apa benar ini rumah Lala?" tanya-nya.


"Benar sekali, Anda siapa ya?" Getra pura-pura tidak mengenali sosok yang berdiri di depannya.


"Saya Syafi, teman Lala."


"Saya Getra, kakak Lala."


Syafi terlihat lebih santai, saat mengetahui laki-laki yang tengah menggendong bayi Lala, adalah kakak laki-laki Lala.


"Sebentar, saya panggil adik saya dulu." Getra izin pamit pada tamunya.


Syafi berusaha tersenyum menanggapi ucapan Getra.


Dengan semangat Getra kembali kedalam menemui Lala.


"Siapa kak? Kenapa wajah kakak begitu bahagia?" tanya Lala.


"La, setelah tamu itu pergi, maafkan kakak, karena kakak harus mewarnai wajahmu dengan pukulan tanganku," ucap Getra.


"Kakak mau memukuliku? Apa salahku?"


"Di depan ada bini Dirga, nanti pas Dirga datang, bilang aja kamu babak belur karena dilabrak istri sah Dirga," usul Getra.


"Kakak benar-benar gila! Syafi tidak seperti itu!"


"Ya sudah, kalau begitu temui dia, awas saja kalau kau cerita semua sebab pernikahan kamu dan Dirga, aku pastikan ini detik terakhir Fattah menghirup oksigen!" Ancam Getra.


"Cepat sana, temui bini Dirga!"


Lala segera melangkahkan kakinya ke luar. Benar saja, matanya melihat sosok Syafi berada di ruang tamu rumahnya. Wanita itu tapak asyik memandangi foto-foto yang terpanjang di bagian tembok ruang tamu.


Hati Lala semakin menciut, melihat Syafi memandangi foto akad nikah dirinya dengan Dirga.


"Maafkan aku, aku terlalu asyik melihat foto-foto kalian."


Perkataan Syafi menyadarkan Lala dari lamunannya.


"Jangan takut, aku ke sini bukan untuk melabrak kamu." Senyuman masih menghiasi wajah Syafi.


"Aku sudah lama mengetahui pernikahan kalian, saat kami hampir menabrak kamu di jalan, aku sudah tau siapa kamu, jujur aku sakit melihat Dirga seakan tidak mengenalmu, ini tidak adil namanya."


Ingin sekali Lala menceritakan semuanya, namun ancaman Getra membuat mulut Lala bungkam.


"Inilah sorga yang aku rindukan La, aku ingin kak Dirga mendapatkan keinginannya." Syafi memandang kearah foto Fattah, dan mengusap foto itu. "Cintaku pada kak Dirga, aku hanya ingin memastikan kak Dirga bahagia, dengan aku atau tanpa aku."


"Kebahagiaan kak Dirga itu kamu Fiy, selama di rumah ini, mulutnya selalu menyebut namamu."


Syafi tersenyum. "Aku tau."


"Jangan pergi dari kak Dirga Fiy, aku dan kak Dirg--"


"Bi Jumi … bikinin minum buat tamu kita!" Teriakkan lantang dari Getra terdengar jelas. Lala faham, itu adalah kode dari Getra.


"Bilang kakak kamu, nggak usah repot-repot, aku ke sini hanya sebentar, aku hanya ingin minta maaf padamu." Syafi mendekati Lala, dan meraih kedua telapak tangan wanita itu. "Maafkan aku La, karena cinta kak Dirga yang terlalu besar untukku, dia tidak berlaku adil padamu." 


Syafi memeluk wanita yang mematung di depan matanya. "Titip kak Dirga, bahagiakan dia." Tanpa bicara lagi, Syafi melepaskan pelukannya dan pergi begitu saja dari rumah Lala, taksi yang dia tumpangi masih menunggu dirinya di depan rumah Lala.


"Apa maksudnya ini?" Lala mengumpulkan kesadarannya. Pikiran Lala saat ini hanya Dirga, Lala berlari ke kamarnya, mengambil handphone-nya. Sebisanya dia mencoba menghubungi Dirga, tapi teleponnya tidak diangkat Dirga.


Lala sangat panik. "Kak Dirga … tolong angkat …." Pekik Lala. Lala berulang kali melakukan panggilan ke nomor Dirga, namun hasilnya sama, panggilannya tidak diangkat Dirga.


***

__ADS_1


Mohon maaf banget ya, alur aku terlalu lambat dan lama, penderitaan makin komplit, krn aku up juga gak mampu banyak 🙈 


__ADS_2