Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 29 Bagai Salju


__ADS_3

Melihat Dirga berlari meninggalkan ruangannya, Sam juga segera mengejar Dirga, bagaimanapun ini kesalahannya. Para karyawan di buat bingung melihat atasan mereka berlari mengejar Dirga. Mereka hanya diam dan fokus dengan pekerjaan mereka. Teringat akan pesan Dirga, cara hidup tenang adalah tidak perlu mencari tahu suatu hal yang tidak perlu kamu ketahui.


“Aku ikut kamu!” Sam berhasil mencegat Dirga, dia masuk kedalam mobil. Mobil itu pun segera melaju cepat meninggalkan Gedung tersebut. Mobil Dirga baru memasuki halaman rumahnya, keduanya langsung keluar dari dalam mobil. Di halaman itu, terlihat satu mobil mewah milik bidadarinya Sam terparkir, dan satunya adalah mobil Ramida. Kedua sopir pribadi Ramida dan Resa berdiri di dekat mobil yang terparkir, keduanya memberi salam dengan gerakkan tubuh mereka, pada Sam dan Dirga. Samar terdengar suara gelak tawa anak kecil dari arah dalam rumah, siapa lagi, tentunya itu suara Gavin dan Gilang. Sam dan Dirga saling pandang, keduanya langsung melangkahkan kaki memasuki rumah Dirga.


Saat sampai di ruang tamu, bagai salju yang turun di tengah gurun, melegakan hati dan perasaan Dirga, saat melihat gadis yang selama ini murung dan mematung, kini nampak ceria bercanda bersama Gavin dan Gilang. Senyuman tulus dari wajah itu sangat dia rindukan.


“Dia istrimu?” Pertanyaan Sam sama sekali tidak Dirga dengar, dia masih menikmati manisnya pemandangan itu, yang selama ini hilang.  “Dirga!” Sam menyenggol lengan Dirga, membuat Dirga tersentak dari lamunannya. Suara Sam juga membuat semua orang yang ada di ruangan itu menyadari kedatangan mereka.


“Papaaa.” Gavin dan Gilang berlari menghambur ke pelukan Sam. Sam langsung membungkuk, membuka kedua tangannya menyambut kedua putranya.


“Anak papa tidak sekolah?” Sam mendaratkan ciumannya di pipi Gavin dan Gilang bergantian.


“Maaf ….” Terdengar suara manja dari ujung sana, terlihat Resa memberikan senyumannya, merasa bersalah membawa kedua putranya dari Sekolah hanya untuk bertemu istri Dirga.


“Papa, kami punya teman baru, aunty Fiy.” Galang menujuk kearah Syafi. Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan sedikit kepalanya. Syafi memberi senyuman pada Sam, namun yang meleleh laki-laki yang berdiri di belakang Sam.


Ya salam … senyuman itu …. jerit hati Dirga.


Sam melirik kearah Dirga, faham akan perasaan sahabat juga orang yang menjadi bagian penting dalam perusahaannya.


Sepanjang perkenalan bersama keluarga Sam, Syafi bisa tersenyum mendengari pembicaraan Ramida atau Resa. Kadang lolos gelak tawanya ketika melihat tingkah konyol Gavin dan Gilang. Syafi yang lama seakan kembali, susah sekali bagi Dirga untuk mengalihkan perhatiannya yang tertuju pada Syafi, seakan seluruh dunia kini berpusat pada senyuman gadis itu. Sangat sulit mengungkapkan kebahagiaannya hari ini.


"Nyonya, makan siang sudah siap." Ucapan bi Masri berhasil menyita semua perhatian yang ada di ruangan itu. Mereka semua makan siang bersama. Melihat Syafi makan dengan porsi normal, membuat Dirga sangat lega, selama di sini wanita itu sangat sedikit makan. Dirga menyadari keceriaan Syafi karena dua putra Sam.


Resa juga memandangi gadis cantik itu, sejak kedatangannya, hanya Gavin dan Gilang yang membuat gadis itu mau bicara dan bisa tertawa. "Kamu sangat suka anak kecil, Fiy?"


"Iya, saya sangat suka anak kecil, kalau anak tetangga sering saya buat nangis." Syafi tersenyum kaku pada Resa.


"Tapi anak saya tidak kamu bikin nangis." Resa masih memandangi gadis itu.


"Saya tidak berani," jawab Syafi.


“Dirga, nanti bawa Fiy ke rumah kami, nenek pastinya sangat ingin bertemu dengan istrimu yang cantik ini,” ungkap Ramida.


“Akan saya usahakan tante,” jawab Dirga.


Sudah terlalu lama keluarga Sam merusuh di kediaman Dirga. Akhirnya mereka pamit pulang. Sayfi langsung membantu bi Masri membersihkan sisa-sisa perang Gavin dan Gilang, juga membersihkan yang lainnya.


“Tidak usah, Nona. Ini pekerjaan saya.” Bi Masri merasa tidak enak majikannya membantu tugasnya.


Senyuman Kembali terukir di wajah Syafi. “Nggak apa-apa, bi. Maafkan saya, selama dua minggu ini saya sangat merepotkan bibi.” Mereka


melanjutkan tugas mereka. Dirga hanya bisa memandangi keindahan itu.


“Kak ….” Panggilan itu meyadarkan Dirga.


“I-iya, Fiy ….”


“Bisa kita bicara?”

__ADS_1


“Tentu ….”


Dirga melangkah lebih dulu, Syafi melangkah mengekori Dirga. Hingga mereka sampai di sebuah ruangan, yang hanya ada mereka berdua.


“Maafkan aku kak, dua minggu ini aku sangat keterlaluan, aku lupa akan tugasku sebagai seorang istri.”


“Jangan dipikirkan. Lakukan apa saja yang membuatmu nyaman.”


“Aku lupa akan prinsipku, kalau bahagia dan sedih itu sama-sama gratis, kenapa aku memilih bersedih, lebih baik aku memilih bahagia, itu prinsipku dulu. Saat ujian menghampiriku, aku baru sadar, berkata itu sangat mudah, namun saat terkena ke diri sendiri, aku pun oleng.” Teringat kembali akan pembicaraanya bersama Mayfa dulu. “Aku ingin memperbaiki semuanya, kak. Setidaknya aku bisa berlaku


sebagai istri yang baik, walau aku belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya.”


“Jangan dipikir, Fiy. Ingat aku tidak menuntutmu untuk menjadi seorang istri, bahkan jika kau bahagia dengan dengan orang lain, aku akan melepaskanmu, ingat janjiku pada Paman adalah membahagiakan dirimu.” Dirga mendalami ucapanya, rasanya ingin sekali menarik perkataannya barusan.


Air mata Kembali membasahi pipi mulus itu. “Terima kasih, kak. Jujur … aku merasa tidak pantas bersanding dengan kakak, siapalah aku ini.”


Entah kenapa ada yang hancur dalam diri Dirga. Ya Tuhan … bisakah aku menarik ucapanku? Aku tidak punya keberanian untuk melepasnya jika benar suatu saat nanti ada yang bisa membuatnya Bahagia selain aku.


Brukkkk!


Dirga tersadar dari lamunannya, gadis itu langsung memeluk dirinya.


“Hei sudah ….” Dirga menepuk lembut punggung gadis itu. “Kau


terlalu banyak menangis, aku mual melihatnya,” ucap Dirga.


Syafi melepaskan pelukannya, terlihat sunggingan senyuman menghiasi wajahnya.


“Fiy ….”


Merasa namanya di panggil, Syafi menegakkan wajahnya memandang wajah Dirga. “Iya ….”


“Malam ini ada acara pernikahan temanku, dan kamu tau … acaranya nanti kesenian traditional Kalimantan Selatan, Madihin. Mau ikut?” ajak Dirga.


“Aku lupa bawa baju untuk ke pesta.”


“Jangan di pikirkan, nanti sore baju buatmu akan datang.”


Syafi hanya menganggukkan kepalanya. Merasa pembicaraan


mereka selesai, Dirga segera meninggalkan rumah, dia harus  melakukan tugasnya di perusahaan Sam.


Beberapa orang datang membawa banyak setelan baju Muslimah.


Syafi bingung melihat para pekerja lalu-lalang di dalam rumah. Syafi mendekati bi Masri. “Bi … mereka siapa?”


“Mereka karyawan dari sebuah Butik, Tuan Dirga menyediakan itu semua untuk Nona.”


Syafi berjalan menuju dapur, karena di sanalah suasana tenang dia dapati. Menghela napas berulang kali, mengumpulkan keberanian sebelum menelpon Dirga. Merasa sudah siap dia langsung menelepon nomer Dirga. Tidak berselang lama, panggilannya langsung diangkat Dirga.

__ADS_1


“Ada apa?” Pertanyaan itu langsung menyambut Syafi.


“Kenapa sebanyak ini?” Syafi langsung mengeluarkan uneg-unegnya.


“Maaf, kamu adalah keluargaku, kebutuhan kamu harus aku penuhi.”


“Tapi—”


“Sudah ya  … aku mau lanjut kerja dulu,” potong Dirga cepat. Dirga tidak tahu harus berkata apa lagi.


Syafi mematung, kenapa Dirga memperlakukannya seperti tokoh


di novel, andai ini mimpi, ingin rasanya mengganti mimpi ini dengan adanya Paman dan bibinya.


Matahari kian condong kearah barat. Sore hari semua pekerja dari butik itu sudah selesai dengan tugas, mereka segera meninggalkan rumah


itu. Syafi melangkahkan kakinya memasuki kamarya, sejak tadi siang dia hanya berdiam diri di taman belakang, menunggu semua pekerja itu menyelesaikan tugas mereka, hanya bi Masri yang mengawasi mereka. Syafi masuk ke ruangan khusus, di mana semua pakaian itu di simpan. Semua pakaian Muslimah terbaru sudah tersusun rapi dalam ruang khusus itu. Dalam mimpi pun dia tidak mengira akan memiliki


ini semua. Apa yang dia bisa? Hanya diam dan menerima ini semua.


Jam menunjukan jam 9 malam, terdengar dari arah luar suara


mesin mobil yang berhenti. Syafi sedari tadi duduk di ruang tamu menunggu Dirga. Akhirnya penantiannya berakhir juga. Sayfi segera melangkah menuju pintu.


Saat pintu terbuka, bukan hanya Dirga yang dia lihat, tapi juga dua orang wanita yang datang bersama Dirga menarik koper di tangan mereka.


“Kak ….” Syafi bingung dengan dua wanita itu.


“Mbaknya, tolong langsung saja, itu istri saya,” ucap Dirga. Syafi baru sadar, kalau dua wanita itu petugas salon yang pastinya akan bertugas merias dirinya.


*****


Di kediaman Sam.


Resa masih memandangi wajah suaminya yang sibuk dengan layar laptop. "Sayang ...." panggilnya.


Wajah Sam langsung memandang kearah wanita yang sangat dia cinta. "Iya ...."


"Sayang, aku merasa aneh dengan istri Dirga, apakah dia wanita yang dinikahkan dengan Dirga sebagai penebus atau sesuatu? Saat kami datang dia masih mengurung diri di kamar, saat bi Masri bilang kalau yang datang adalah keluarga Ozage, tidak lama dia keluar."


"Dia keponakan Paman Ardhin, Paman Ardhin adalah pelayan setia di keluarga ini. Dia sangat menyayangi Dirga, juga sebaliknya." Sam mulai menceritakan kejadian nahas yang menimpa Syafi, juga tentang perasaan Dirga.


"Kita bantu, Dirga untuk meraih cintanya, sayang."


Sam mengukir senyuman di wajahnya, dia menganggukkan kepalanya.


***


Bersambung dulu thayank😘

__ADS_1


Aku gak bisa up rutin ini, tapi jika aku bisa, aku akan up lebih dari 1, mohon maaf ya.


__ADS_2