Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 104


__ADS_3

Fablo begitu santai memasuki area Rumah Sakit, dia langsung menuju kamar perawatan Romi. Dibalik saku jasnya, dia menyimpan cairan yang akan dia suntikkan ke tubuh Romi.


Fablo sangat yakin misinya berjalan sukses, apalagi keadaan Rumah Sakit sangat sepi. Sesampainya  Fablo di ruangan Romi, hanya ada dua perawat suruhannya yang berjaga di sana.


"Mana Karla si penyihir?" Fablo memandangi area sekitarnya.


"Nyonya Karla, Nona Qida, Nona  Ayu, semuanya izin pulang." Jawab salah satu perawat.


"Bagus sekali, karena racunku reaksinya lambat, maka ini saat yang tepat untuk menyingkirkan keturunan Tomas dari keluarga Sabir." Fablo mengambil cairan yang ada di sakunya.


"Barli, suntikkan ini pada Romi." Fablo memberikan botol kecil itu pada salah satu perawat.


"Maaf Tuan, seperti janji kami, kami tidak bisa langsung membunuh Romi." Barli menolak.


"Kami memang tidak bisa melakukan langsung, tapi Anda bisa, sini saya bantu memasukan cairan itu pada jarum suntik." Salah satu perawat mendekati Fablo dan mengambil cairan itu pada Fablo.


"Herma, kamu memang pintar." 


"Bagaimana reaksi obatnya, Tuan?"


"Racun bereaksi setelah 30 menit, ku jamin dia akan mati dengan tenang, tidak ada yang akan mencari tau sebab kematiannya, karena sebabnya sangat biasa."


Herma masih memasukkan cairan itu pada jarum suntik.


Drettt ….


Handphone Herma bergetar. "Tuan, saya izin sebentar mengecek handphone saya." Herma meletakkan jarum suntik dan cairan itu diatas meja.


Suntikkan cairan itu padanya jika kalian ingin selamat, kalau kami hanya menjerat iblis itu dengan hukuman penjara,ku yakin dia akan memburu kalian, karena merasa di khianati.


Herma berpikir sejenak setelah membaca pesan dari Nyonya Karla, dia akhirnya mengambil lagi jarum suntik itu, dia segera menyelesaikan pekerjaannya.


Sedang Fablo, dia asyik memandangi Romi yang masih tidak sadarkan diri. "Akhirnya, aku bisa menyingkirkan keluarga Tomas, akhirnya aku akan berada di tampuk kekuasaan Sabir Group. Mulai sekarang hanya ada keturunan dari darah Fablo Sabir yang memimpin. Ha ha ha haaa---" 


Tawa Fablo terhenti, ketika dia merasakan denyutan kecil seperti gigitan semut di sekitar tengkuk lehernya.


"Kau--" Lidah Fablo kelu tidak bisa memaki anak buahnya. Fablo ingin menyerang, tapi dia kalah tangkas, kedua perawat itu malah menangkapnya dan mengikatnya di kursi yang ada dj sana.


Sepersekian detik, dari arah pintu muncul Qida, Karla,dan Ayu.


"Papa bikin aku malu! Apa selama ini tante Karla kurang baik!"


Fablo mencoba mengatur napasnya, dia tidak menyangka kalau cairan racun itu malah masuk ke dalam tubuhnya sendiri. "Dasar anak tidak tau diuntung dan pembawa sial! Andai kamu terlahir sebagai laki-laki, maka papa tidak perlu mengambil cara ini, dengan bejatnya kelakuan Romi, maka tampuk kekuasaan akan pindah padamu, tapi kau perempuan!"


"Romi bejat karena hasutan om!" Ayu berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


Qida memandang ayahnya dengan tatapan kebencian.


"Kalian berdua bebas tugas, dan kalian boleh pergi dari sini," ucap Karla pada dua perawat di sana.


Perawat itu pun pergi.


35 menit berlalu, Fablo mulai tersiksa oleh efek racun yang masuk ke dalam tubuhnya. Keringat mengucur, pupil matanya terlihat membesar.


"Qida … tolong papa …." Keluhnya.


Tidak seorang pun yang perduli padanya. Karla mendekati Fablo dan melepas ikatan itu.


"Sampai kapanpun aku tidak bisa memberimu maaf, tapi melihatmu kemarahanku semakin besar!"


"Pergi dari sini!"


Secepat yang dia bisa, Fablo berlari pergi dari ruangan itu. 


Karla mendekati Qida, memeluk gadis yang masih sesegukan menangis.


"Ada beberapa luka yang sangat menyakitkan bagi anak gadis, melihat Ayahnya menikah lagi saat tidak ada masalah apapun dalam keluarga, kedua melihat kelakuan jahat Ayahnya sendiri." Qida tenggelam dalam tangisnya. Sakit, kecewa, malu, marah, semua jadi satu ketika menyadari penyebab Romi celaka adalah Ayahnya sendiri.


"Aku selalu berdo'a, semoga papaku tidak akan meninggalkan mama, itu terkabul, tapi--" Qida tidak mampu melanjutkan kata-katanya.


Karla terus mengusap punggung Qida, memberi wanita itu kekuatan dan ketegaran.


Fablo terus memacu langkah kakinya menuju mobilnya. Sesampai di dalam mobil Fablo langsung menelepon temanya.


"Apakah racun yang aku beli kemaren ada penawarnya?" Fablo terus berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Saat ini kepalanya semakin berdenyut, jantungnya berdegup lebih kencang, dadanya juga terasa sangat sesak.


"Penawarnya hanyalah kematian."


Fablo putus asa, dia memutuskan panggilan teleponnya.


Fablo memukul keras bagian dadanya, reaksi obat itu semakin menyiksanya, hingga tangan itu lemas terkulai tidak mampu melakukan apapun lagi.


Tidak ada yang mengetahui bagaimana keadaan Fablo, orang-orang lalu lalang di sekitar mobil itu.


Sebuah mobil parkir di samping mobil Fablo, wajah tampan itu tidak ada reaksi apapun, demi sahabatnya dia mau mendatangi Rumah Sakit ini. Kakinya terus melangkah memasuki area Rumah Sakit.


"Kak Dirga."


Sapaan itu menghentikan langkah kakinya. Wajahnya hanya menoleh dan sedikit mengangguk tanda dirinya merespon panggilan itu.

__ADS_1


"Kak Dirga mau menjenguk kak Romi?" 


Dirga hanya menganggukkan kepalanya dan meneruskan langkah kakinya.


Lala terdiam, karena kebaikan Dirga, semua itu malah menjadi penyebab hancurnya kebahagiaan laki-laki itu.


"Kasian kak Dirga, kak. Semua ini gara-gara kita."


Getra menepuk lembut punggung Lala. "Jika urusan Romi sudah selesai, kita bantu sebisa kita untuk urusan Dirga. Tidak adil jika orang baik harus selalu kena duri karena kebaikan mereka."


Kedua kakak beradik itu memasuki area Rumah Sakit.


Di dalam ruangan Romi semua berkumpul. Tante Karla mulai menceritakan kejadian sebelumnya.


"Terima kasih Getra, berkat informasi kamu, kami berhasil membuat 2 perawat itu berpaling," ucap tante Karla.


"Urusan Romi sudah selesai tante?" tanya Dirga.


"Dalang dari semua ini sudah terungkap, semoga secepatnya Romi bisa bangun," ucap tante Karla.


"Kalau begitu saya pamit dulu." Dirga izin pergi dari ruangan itu, dunianya sekarang kelam, tidak ada apapun yang membuat dia semangat.


Karla terdiam memandangi punggung Dirga yang semakin menjauh. "Kenapa Dirga berubah?" Gumamnya.


"Karena matahari yang menyinari kehidupannya sudah pergi." Lala mulai menceritakan kepergian Syafi.


"Demi menyelamatkan satu kehidupan, ada bangunan lain yang roboh." Pandangan mata Karla lesu, dia melangkah mendekati tempat Romi terbangun.


"Kapan kau seperti ini terus!" Karla berteriak sebisa yang dia mampu kearah Romi.


"Kau tau Dirga sangat mencintai istrinya, kalau kau tidak bisa bangun juga tidak menutup kemungkinan Dirga juga akan mati! Karena tidak ada yang menyelamatkan rumah tangganya!" 


Plakkk!


Taparan begitu keras dari Karla mendarat telak di pipi kanan Romi. Sontak hal itu membuat semua orang terkejut dengan perbuatan Karla barusan.


Di area parkir. 


Petugas parkir berulang kali mengetuk kaca mobil yang ada di dekatnya, samar dia melihat ada pengemudinya di dalam mobil.


"Pak, bisa pindahkan mobil Anda sebentar, mobil lain ingin keluar terhalang mobil Anda, Pak."


Berulang kali dia mengucapkan kata yang sama, namun tetap saja tidak ada sahutan.


Merasa ada yang aneh, petugas parkir memanggil security yang berjaga di depan, mereka segera memeriksa keadaan sang pengemudi.

__ADS_1


Sesaat kemudian keadaan parkir heboh, saat berhasil membuka mobil, mereka menemukan sang pengemudi sudah tidak bernyawa lagi.


__ADS_2