
Orang itu menoleh kearah Syafi, senyuman pun terukir di wajahnya.
"Terima kasih ibu-ibu, saya izin pamit dulu, ada urusan dengan istri teman saya." Laki-laki itu segera memacu langkahnya berjalan kearah Syafi.
Syafi menatap tajam orang yang berjalan kearahnya. Ingin memaki orang itu, maka bibi dan tetangganya akan tahu kalau dia berada di sini karena menjauhi Dirga.
"Anda kenal saya?" Laki-laki itu langsung melontarkan pertanyaan.
"Sepertinya tidak," jawab Syafi singkat.
"Tapi saya sangat mengenal Anda, hanya saja kita tidak pernah bertemu." Laki-laki itu tanpa meminta izin dari Syafi dia langsung duduk di teras rumah nenek Syafi yang terbuat dari papan kayu ulin.
"Kalau ke sini, hanya untuk meminta saya kembali pada Dirga, usaha Anda gagal."
"Saya tidak membujuk Anda untuk kembali, hanya saja ingin bercerita." Laki-laki itu berusaha melempar senyuman pada sorot mata tetangga seberang rumah Syafi yang terus tertuju kearahnya.
"Kalau hanya untuk bercerita Dirga sedih menderita bla bla bla, aku tidak akan iba."
"Yah … Dirga memang sangat berubah, bukan sosok yang ceria, bahkan sekarang--"
"Gue tidak perduli!" Potong Syafi cepat.
"Aku sahabat Dirga, namaku Romi, kamu tahu aku baru sembuh, demi membuka matamu yang masih terpejam, aku nekad melakukan perjalanan udara 3 jam, melakukan perjalanan darat 4 jam. Hanya demi menebus kesalahanku!" Romi tidak sanggup lagi harus bersikap manis.
"Ini undangan pernikahanku untukmu, kamu mau datang atau tidak terserah!" Romi memberikan amplop pada Syafi. "5 Bulan lagi, semoga otak dan hatimu sudah berfungsi dengan baik nantinya."
Syafi menerima amplop dari Romi dan perlahan membukanya, terlihat jelas nama 'Romi & Wayla' dan wanita yang ada di foto itu Syafi sangat kenal.
"Ku rasa, kamu sudah tahu wanita yang ada dalam undangan itu, namanya Wayla, akrab dipanggil Lala, dia kekasihku dan calon istriku. Aku adalah Ayah biologis dari anak Lala."
Kedua bola mata Syafi membulat sempurna.
"Malam itu, rapat keluarga besarku, kakekku ingin menentukan siapa penerus tampuk kepemimpinan perusahaan keluargaku, tapi karena kelakuan bejatku, kakek dan keluarga lain tidak setuju kalau aku menduduki posisi itu. Panjang ceritanya, hingga akhirnya tampuk kepemimpinan akan ditentukan oleh anak Qida sepupuku, atau anakku, masalahnya aku dan Qida sama-sama belum menikah, hingga kakek akan memberikan tampuk kekuasaan sementara pada om Fablo." Romi menarik begitu dalam napasnya. Mempersiapkan diri untuk bercerita lebih lanjut lagi.
"Aku bisa menangkap kesedihan mamaku, karena mama tau, kalau aku tidak akan mau menikah, karena aku tidak percaya komitmen, dipastikan pemimpin selanjutnya adalah dari keluarga om Fablo, mama sedih bukan karena kehilangan jabatan, namun cara om Fablo menjalankan perusahaan sangat tidak manusiawi."
"Aku tidak mau cara kinerja perusahaan berubah, akhirnya aku mengatakan dilema yang aku simpan 3 bulan terakhir."
__ADS_1
"Pertemuanku dengan Lala bukan perkara yang indah bagi Lala, aku memperkosa Lala, tapi akhirnya aku jatuh cinta pada Lala saat ku tahu Lala hamil 2 bulan."
"3 bulan berlalu, aku terus berjanji akan menikahinya, tapi belum juga aku buktikan. 3 bulan itu aku bingung bagaimana caraku memberitahu keluargaku, kalau Romi yang nakal dan tidak akan mau menikah ini sedang jatuh cinta dan ingin menikahi kekasihnya yang telah hamil 5 bulan."
"Malam itu, aku pikir ini kesempatanku, aku katakan kalau aku punya kekasih yang tengah hamil 5 bulan, aku ingin menikahinya, tapi aku bingung bagaimana bercerita pada kalian semua."
"Semua keluargaku bahagia, akhirnya aku diminta menjemput calon istriku, namun saat separu perjalanan ku tempuh, aku merasa ada yang membuntutiku, hingga aku ke rumah Ayu sahabatku, aku lupa kalau Ayu di luar negri, akhirnya aku meninggalkan surat di sana."
"Aku melanjutkan perjalananku, tapi bukan ke rumah Lala, aku yakin yang membuntutiku pasti mengincar darah dagingku."
"Aku putus asa, hingga aku tidak sengaja melihat Dirga dari kejauhan, aku menelepon dia, meminta dia menjemput calon istriku, aku tidak mau Lala kecewa, karena aku sudah berjanji padanya, kalau malam ini akan menjemputnya, dan menikahinya malam ini juga."
"Namun, penguntitku sadar kalau aku berusaha kabur dari mereka, hingga malam itu akhirnya kesempatan terakhirku membuka mataku, setelah malam itu, aku terbaring di Rumah Sakit hampir 7 bulan."
Syafi semakin terkejut mendengar cerita laki-laki yang ada di depan matanya.
"Aku baru sadar 2 minggu yang lalu, sebelum aku sadar dalam bawah sadarku, aku melihat Lala dan ibuku menangis menyalahkanku, karena Dirga mendayung sendiri perahunya, kata ibu, itu karena kesalahanku, rasa bersalahku membuatku bisa bangun dari alam bawah sadarku."
"Saat aku sudah sadar, Lala menceritakan semuanya. Kalau malam saat tragedi itu terjadi, Dirga dijebak oleh kakak Lala." Romi menceritakan perbuatan Getra hingga pernikahan itu terjadi.
"Dalam ikatan itu, Dirga hanya korban, apa kamu masih tega menghukum seorang penolong seperti ini?"
"Syafi, kembalilah …." Bujuk Romi.
"Kalau ceritaku kamu anggap hanya halusinasiku saja untuk menarik rasa iba mu untuk Dirga, ini bukti semuanya." Romi memberikan beberapa amplop lain.
Satu per satu Syafi buka, amplop pertama berisi hasil test DNA Romi dan Fattah, amplop kedua perceraian Dirga dan Lala, amplop ketiga keterangan Rumah Sakit tentang Romi.
"Jika kebaikan Dirga berakhir dengan penderitaan, jangan salahkan manusia lain jika kebaikan musnah dari muka bumi ini, karena orang-orang akan jera berbuat baik, jika hanya getah yang menempel di tangan mereka setelah menolong."
"Maaf, aku tidak bisa memaafkan kebohongan Dirga, sebaiknya kamu pulang saja, siapapun yang datang tidak akan merubah pendirianku saat ini."
"Baiklan, aku sudah datang untuk membuka matamu akan cinta Dirga yang hanya tertuju padamu. Aku pamit." Romi memacu langkah kakinya meninggalkan rumah Syafi.
"Tadi siapa Fiy?"
Pertanyaan bibinya menyadarkan Syafi dari lamunannya.
__ADS_1
"Sahabat kak Dirga bi, dia datang ke rumah kami, kata pembantu aku di sini, dia tidak tanya kalau aku pulang sendiri apa berdua sama mbak di sana, dia langsung ke sini untuk ketemu Dirga, dia mau kasih undangan langsung sama kami bi." Syafi memperlihatkan undangan pernikahan Romi dan Lala pada bibinya.
"Kenapa tidak diajak masuk?"
"Idih bibi, kalau diajak masuk, dalam rumah hanya berdua, bahaya. Lagian dia juga hanya sebentar, aku mau bikinin minum dia tolak."
"Dirga pasti orang yang sangat baik, bayangkan dari seberang lautan sana, temannya datang hanya untuk Dirga."
Syafi terdiam mendengar ucapan bibinya.
*****
Flash back Romi.
Karla sangat frustasi, hanya demi menolong Romi, Dirga jadi kehilangan segalanya. "Kapan kau seperti ini terus!" Karla berteriak sebisa yang dia mampu kearah Romi.
"Kau tau Dirga sangat mencintai istrinya, kalau kau tidak bisa bangun juga tidak menutup kemungkinan Dirga juga akan mati! Karena tidak ada yang menyelamatkan rumah tangganya!"
Plakkk!
Taparan begitu keras dari Karla mendarat telak di pipi kanan Romi. Sontak hal itu membuat semua orang terkejut dengan perbuatan Karla barusan.
Bukan terkejut karena Karla menampar Romi, tapi terkejut perbuatan Karla membuat kedua mata Romi terbuka.
"Romi!" Semuanya sangat bahagia melihat Romi sadar.
"Mama, tolong lindungi Lala, Lala dan anak kami dalam bahaya," keluh Romi, suara Romi terdengar begitu lemah.
"Aku dan anak kita baik-baik saja, sebentar lagi anak kita berusia 7 bulan."
Romi terkejut melihat Lala, Ayu, Qida, juga ada di depan matanya.
"Kakak koma selama 7 bulan," ucap Qida.
Karla mulai menceritakan apa yang terjadi selama 7 bulan ini, termasuk pernikahan Lala dan Dirga, hingga membuat rumah tangga yang Dirga bangun selama 3 tahun hancur seketika.
"Aku akan ke Kalimantan ma, aku ingin membantu sahabatku, dia telah menyelamatkan anak dan wanita yang aku cinta selain mama, saatnya aku membantu sahabatku yang kehilangan cintanya."
__ADS_1
"Boleh sayang, dan mama bangga dengan niatmu, tapi pulihin dulu kesehatan kamu."
Hari demi hari berlalu, merasa tubuhnya benar-benar sehat, Romi terbang menuju Kalimantan berbekal alamat yang dia dapat dari Sam.