
Selesai menikmati makan siang mereka, Dirga segera mengantar Syafi pulang ke rumah. Mobil Dirga berhenti di halaman rumahnya, Syafi segera melepas sabuk pengaman.
“Selamat bekerja kak, hati-hati di jalan,” ucap Syafi. Dia meraih tasnya, tangan yang satunya membuka handle pintu mobil.
“Hemm, Cuma Syafi normal nih yang bisa salim?” oceh Dirga.
Syafi kembali ke posisinya, mengulurkan tangannya pada Dirga.
“Cuma bercanda, nggak perlu terlalu sering, takutnya nanti kamu ketagihan cium tangan saya,” ucap Dirga.
“Saya mungkin tidak bisa jadi istri kakak, selain diantara kita tidak ada perasaan apa-apa. Pernikahan kita juga dipaksa keadaan. Tapi aku bisa jadi adik yang baik buat kakak.” Syafi meraih tangan Dirga dan mencium punggung telapak tangan itu.
“Fiy, mungkin dalam beberapa waktu kedepan, saya lembur. Jadi kamu tidak perlu menunggu saya, kamu makan saja duluan sama bi Masri.” Dirga jera, kalau tidak bilang yang ada nanti dia makan malam dua kali lagi.
“Iya kak.” Syafi tersenyum, dia segera turun dari mobil Dirga.
Kedua bola mata Dirga terus memandangi punggung Syafi yang terus menjauh dari pandangannya. Tepat di depan pintu rumah Syafi merubah arah tubuhnya kearah Dirga, dia tersenyum sambil melambaikan tangannya, tidak mengetahui bagaimana tanggapan Dirga, karena kaca mobil itu gelap. Syafi segera masuk kedalam rumah.
Di dalam mobil itu, detak jantung Dirga seakan melambat, melihat senyuman manis yang tertuju buatnya. “Tidak apa-apa Fiy, saat ini kamu hanya menganggapku kakak, aku akan terus memberimu cinta, walau aku tidak tau cintamu tertuju pada siapa nanti.” Dirga segera melajukan mobilnya menuju kantornya.
Di tempat Lain ….
Seorang anak kecil terus menyenandungkan lagu sekehendaknya, sebelah tangannya memeluk boneka teddy bear ukuran kecil warna pink, sedang tangan yang satunya memegang tangan sang Ayah.
“Rara sayang, nanti kalau ketemu tante Alvi, Rara yang manis ya sayang.”
“Iya papa ….”
Dari kejauhan seorang wanita cantik berjalan kearah anak dan Ayah itu. “Sayang ….” Satu ciuman mendarat di pipi kanan sang Ayah.
Seketika senandung keceriaan anak perempuan itu hilang, saat melihat wanita yang mencium papanya. Senyuman yang menghiasi wajah cantik itu juga mendadak lenyap, saat melihat anak kecil yang terpaku memandangnya.
“Rara sayang, ayo salim sama tante Alvi.” Ucapan sang Ayah memecah kecanggungan.
“Dia anak kamu sayang?”
“Iya, Vi. Dia Nadira anak kesayangan aku.” Arnaff memandang kearah Nadira. “Rara sayang … ingat pesan papa?”
__ADS_1
Gadis kecil itu Nampak ketakutan, demi sang ayah dia segera menuruti perintah sang Ayah.
“Nadira, lama nggak ketemu, sekarang Nadira makin cantik,” puji Alvi.
“Maaf ya Vi. Nadira sedikit pemalu sama orang baru, ucap Arnaff.
“Nadira nggak pemalu, sayang. Dia mungkin takut, karena aku tegas kalau sedang mengajar.”
Arnaff Nampak kebingungan. “Maksud kamu?”
“Aku sebelumnya mengajar di Sekolahan Nadira, dan jujur, Nadira beberapa kali aku hukum, karena dia terlalu aktif,” terang Alvi. Alvi memandang kearah Nadira. “Sayang … sekarang aku tante kamu, bukan Guru kamu, jadi kita bisa jadi teman?” Alvi mengulurkan tangannya.
“Iya tante.” Nadira ‘pun menyambut uluran tangan Alvi.
Selesai perkenalan mereka, Arnaff, Alvi dan Nadira menjelajahi mall itu. Menghibur anak kecil yang cantik itu, agar bisa akrab dengan calon ibu sambungnya.
*******
Sebentar lagi Gedung Ozage Crypton Group, akan berubah menjadi The Alvaro Group. Seperti nama Sekolahan kebanggan Sam, The Alvaro School. Yang sengaja dia bangun untuk Pendidikan kedua putranya, tujuan utama sebelumnya. Ternyata malah menjadi favorite beberbagai kalangan. Pekerjaan kantor Dirga sudah selesai, saatnya melanjutkan untuk urusan hati. Dirga meraih buku kecil, untuk menulis rencana yang sudah dia susun, akan dia mulai besok. Merasa rencana cukup matang, dia segera bersiap untuk pulang.
kearah pintu kamar Syafi, entah kenapa sekarang dirinya semakin gila. Memandang pintu kamar itu saja dia sangat bahagia. Dirga meneruskan langkahnya menuju kekamarnya.
*
Rasanya mata sangat sangat nyaman untuk terus berpejam. Tapi alarm terus berteriak, membuat Dirga harus membuka kedua matanya. Melihat sudah jam berapa, Dirga segera bergegas melakukan tugasnya.
Semua tugas subuh selesai, setelan kerja juga sudah dia kenakan, Dirga segera berlari menuju pintu. Saat sampai di bawah, hanya bi Masri yang terlihat sibuk di ruang makan. “Bi, kalau Syafi menanyakan saya, katakan saya harus berangkat pagi, nanti dia diantar sama Pak Ajah ke Sekolah,” pesan Dirga.
“Iya Tuan.”
Dirga mempercepat langkahnya menuju pintu, sebelum Syafi keluar dari kamarnya. Masih sangat pagi, Dirga sudah melajukan mobilnya membelah jalanan. Bermacam rencana yang dia susun terus berputar di kepalanya. Berharap apa yang sudah dia susun, bisa berjalan lancar.
Syafi sudah rapi dengan Seragam guru yang dia terima kemaren, Terlihat anggun dan cantik dengan kerudung sederhana yang ia kenakan. Bi Masri ikut tersenyum melihat penampilan Syafi. Sedang mata Syafi sesekali menoleh kearah tangga. Sosok yang dia tunggu belum juga terlihat. Mata Syafi tertuju ke meja makan, hanya ada dua piring sarapan di sana, biasanya ada tiga. “Kak Dirga kemana bi?”
“Oh … Tuan sudah pergi pagi-pagi sekali, katanya ada pekerjaan,” terang bi Masri.
“Owh … ya sudah bi, ayok kita sarapan.” Syafi segera duduk di kursi dan meraih makanannya.
__ADS_1
Selesai menikmati sarapan pagi, Syafi segera bersiap untuk rutinitasnya yang baru, di depan rumah Pak Ajah sudah menunggunya. Tanpa basa-basi, Pak Ajah segera mengantar majikannya menuju Sekolahan. Perjalan menuju Sekolah ramai lancar, mata Syafi terus memandangi jalanan yang ada di depannya.
“Tenang Nona, saya tahu kok Sekolahan tempat Nona mengajar.”
“Bukan begitu Pak, saya Cuma ingin bapak berhenti sebelum gerbang, terlalu wah kalau seorang guru baru seperti saya diantar pake mobil.” Mata Syafi terus memadangi jalanan. Merasa jaraknya tudak terlalu jauh, Syafi meminta Pak Ajah menurunkannya di tempat yang dia tunjuk. Pak Ajah hanya tersenyum dan mematuhi permintaan majikannya.
“Terima kasih, ya Pak. Nanti nunggu saya di sini juga pas mau jemput. Kalau kak Dirga protes, bilang saja lebih baik langganan ojek kalau mau saya turun tepat di depan gerbang sekolah,” oceh Syafi.
Pak Ajah tersenyum, rasanya majikannya sekarang terlihat lebih ceria, sedang Syafi sudah melangkahkan kakinya menuju arah Sekolah. Pak Ajah segera melajukan mobilnya meninggalkan area itu.
Angin pagi terus berhembus, berulang kali gadis yang melangkah menelusuri trotoar itu, sesekali membenarkan kerudungnya yang diterpa angin. Kadang senyuman terukir di wajahnya saat orang tua murid menyapanya, dan beberapa anak-anak kecil yang berlarian di depannya juga ikut menyapanya dan salim padanya. Usapan lebut mendarat di pucuk kepala anak-anak yang mencium punggung telapak tangannya.
“Selamat pagi, Miss Aurel.” Satpam penjaga gerbang langsung menyambut Syafi.
“Selamat pagi juga Pak Yudis.” Membaca bordiran nama yang ada di saku Seragam Satpam yang di kenakan orang yang menyapanya.
“Ini miss, ada titipan buat Anda.” Pak Yudis memberikan sebuah bingkisan kecil dan setangkai bunga mawar putih.
Kedua alis Syafi tertaut, bingung dengan barang yang di berikan Satpam Sekolah padanya. Memandangi setangkai bunga dan bingkisan kecil yang sudah dia terima. “Yakin buat saya?” Syafi memastikan.
“Iya, Anda Aurelia Syafitri?”
“Iya itu nama saya.”
“Nah, berarti benar buat Anda.”
Syafi masih memandangi barang yang dia pegang. Baru mengajar kemaren sudah ada yang memberi dirinya hadiah.
“Saya pamit, mau lanjut tugas.” Pak Yudis memberi hormat pada Syafi sebelum meninggalkan perempuan yang masih Nampak kebingungan itu.
Syafi segera menyimpan bingkisan kecil kedalam tas-nya, sedang bunganya masih dia pegang. Daripada Lelah berpikir bunga dan kado ini dari siapa.Syafi meneruskan langkahnya memasuki area sekolah.
***
Bersambung ...
Mohon maaf ya sobat, aku beneran gak bisa up rutin, aku akan usahakan up sebisa aku. Ada kesibukan lain yang mengalihkan ku dari kolom naskah. Makasih semua karena menjadi bagian dari karya ini. Maaf ya🙏, cuma bisa 1 eps.
__ADS_1