
Perlahan mobil yang Dirga kendarai memasuki parkiran Gedung Ozage Crypton Group. Mobil berhenti sempurna di parkiran khusus untuk para pejabat tinggi di Gedung itu. Dirga langsung melepas sabuk pengamannya. Kedua telapak tangannya menepuk kedua pipinya, entah kenapa kedua pipinya terasa kaku, sepanjang perjalanan dia tidak bisa berhenti tersenyum. “Ya Tuhan ….” Sulit mengungkapkan kebahagiaan ini.
Mata Dirga melirik tangan kanannya, teringat kembali kejadian barusan. Dirga memindahkan Arloji yang melingkar di tangan kirinya, ke pergelangan tangan kanannya, agar punya alasan untuk selalu melirik tangan yang mengukir sejarah pada hari ini.
Segera turun dari mobil, senyuman yang sama masih terukir, melangkah begitu semangat. Semua mata yang memandangi Dirga dibuat heran, aneh dengan expresi orang yang berlalu di depan mereka, beda dari biasanya. Terlihat Dirga terus memandangi punggung telapak tangan kanannya. Mereka hanya diam menyaksikan pemandangan aneh itu.
Dirga sampai di lantai tempat ruangannya berada, matanya masih memandangi tangan yang beruntung itu. Tidak menyadari keadaan sekitar.
“Kamu kenapa, Dirga?”
Pertanyaan itu menyadarkan Dirga dari khayalan indahnya. Menegakkan wajahnya menoleh kearah suara itu bersumber. Terlihat di depan sana, Sam berdiri di depan meja Sekretarisnya.
“Ikut aku!” Sam langsung berjalan lebih dulu menuju ruang kerjanya. Dirga berusaha mengatur napasnya, dia segera melangkah menuju ruangan Sam.
Perlahan Dirga membuka pintu ruangan itu, terlihat seorang laki-laki gagah, yang kadang menyebalkan berdiri tegap di tengah ruangan. Melipat kedua tangannya di dada. “Kau tampak sangat bahagia, ada apa?”
Dirga menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Aku dapat keajaiban pagi ini.” Senyuman itu begitu lebar, membuat mata yang
memandang juga ikut tersenyum.
“Dia mau menerima hubungan kalian?”
Senyuman lebar yang tulus berubah menjadi senyuman kaku. “Aku tidak tahu.” Dirga menundukkan kepalanya.
“Lantas … apa yang membuatmu sebahagia ini?”
Dirga mulai menceritakan kejadian pagi ini, sambil memperlihatkan punggung telapak tangannya yang di cium oleh Syafi.
“Dia mencium tanganmu?”
Pertanyaaan Sam di jawab Dirga dengan anggukkan kepalanya, sembari menaik-turunkan alisnya.
“Ya salam … hanya di cium di tangan, kamu seperti ini?” Sam menepuk dahinya dengan telapak tangannya. “Aku kira kau—” Sam membuang kasarnapasnya, rasanya laki-laki yang berdiri di depannya ini terlalu lebay apa terlalu bucin. “Sudah sana kerja!”
Dirga langsung memutar arah tubuhnya, melangkah menuju pintu, meninggalkan ruang kerja Sam.
__ADS_1
***
Jam menunjukkan jam 10 pagi, Resa bersama dua babysitternya sudah siap menuju Sekolahan Gavin dan Gilang. Resa teringat akan sosok Syafi, dia meraih handphonenya, mengetik sesuatu di sana. Tidak lama panggilan masuk pada ponselnya. Resa langsung menggeser icon berwarna hijau.
“Kamu yakin mengajak Syafi ke Sekolahan anak-anak?” Pertanyaan itu langsung menyambutnya.
“Yakin, tolong minta izin sama Dirga ya … aku ingin membantu Syafi.”
“Baiklah ….” Sam sungguh tidak berdaya menolak permintaan Resa.
Resa menunggu balasan pesan suaminya, tidak lama satu notif pesan masuk, Resa tersenyum mendapat izin dari Dirga untuk menculik istrinya. “Mbak … kita berangkat,” ajaknya pada dua pegasuhnya. Mereka semua segera masuk kedalam mobil. Mobil mulai menuju kediaman Dirga, sesuai instruksi Resa.
Di Rumah Dirga, Syafi berbincang santai dengan bi Masri, sambil membantu pekerjaan bi Masri. Suara bel pintu membuat obrolan keduanya terhenti. Syafi langsung menuju pintu, membukakan pintu. Saat pintu terbuka terlihat sosok wanita cantik dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
“Hai ….” sapa Resa.
“Nona, selamat datang, mari masuk,” ajak Syafi.
“Emm … saya Cuma sebentar, saya mau ajak kamu jalan-jalan, mau yaa ….” Bukan meminta, tapi terdengar sedikit memaksa.
“Tidak perlu, izin dari Dirga sudah di dapat.”
“Baik Nona, saya izin ganti baju saja.”
Resa tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya. Hanya butuh waktu sebentar, Syafi sudah selesai. Dia keluar dengan setelan yang baru, beruntung Dirga membelikannya banyak pakaian. Melihat Resa sudah siap, keduanya lansung pergi menuju mobil Resa. Mobil yang cukup besar, di bagian belakang ada dua orang wanita muda yang mengenakan seragam yang sama. Sedang Syafi diminta Resa untuk duduk di bagian tengah, berdampingan dengannya.
Selama perjalanan, Syafi tidak banyak bicara, hanya menjawab apa yang Resa tanyakan. Selebihnya hanya Diam. Perlahan mobil memasuki Gerbang yang menjulang tinggi. Resa memandangi keadaan sekitar lewat kaca jendela mobil.
“Saya mengajak kamu ke Sekolahan anak-anak saya,” ucap Resa.
Mereka semua turun dari mobil, Syafi hanya bisa mematung melihat pekerjaan yang di lakukan oleh kedua babysitter itu, ingin membantu, tapi tidak tahu harus apa.
“Ayok ….” Resa langsung meraih tangan Syafi, mengajaknya berjalan bersama memasuki wilayah Sekolah. Hingga mereka sampai di satu ruang terbuka, terlihat di sana banyak orang tua juga banyak wanita muda yang berseragam babysitter. Resa mengajak Syafi duduk di dekatnya, sambil menunggu jam istirahat anak-anak.
Sesekali Resa melirik kearah Syafi, tidak ada perbedaan, masih betah dengan diamnya. Resa terus memaksa otaknya bekerja agar wanita di dekatnya ini bisa bicara tanpa harus menunggu di tanya. Suara bel sekolah terdengar, tidak lama suara gemuruh tawa kecil dari suara khas anak-anak terdengar dari arah depan. Benar saja kaki-kaki mungil itu terlihat memacu Langkah mereka menuju orang tua mereka atau babysitter mereka masing-masing.
__ADS_1
“Mamaaa.” Lengkingan teriakan itu menyita perhatian Resa. Resa segera menaruh tas kecil yang tadi dia pangku di samping Syafi, langsung membuka kedua tangannya menyambut kedua puteranya yang berlari menghambur kedalam pelukannya. Kedua mulut mungil itu terus bercerita banyak hal. Resa menjadi pendengar yang baik atas semua cerita-cerita yang keluar dari bibir mungil itu.
“Terus, Gavin sama Gilang bisa lakukan tugas yang bu Guru kasih?”
“Bisa mam,” jawab keduanya bersamaan.
“Yeay … anak-anak mama hebat!” Menghujani kedua puteranya dengan ciuman secara begantian.
“Sayang, lihat … siapa itu ….” Jemari Resa mengarah pada Syafi.
“Aunty Fiy ….” seru keduanya. Syafi langsung mendekati keduanya, mengajak Gavin dan Gilang bicara. Kadang memuji kedua anak lelaki itu atas usaha yang berhasil mereka taklukkan.
Dari kejauhan sepasang mata masih memandang kearah di mana Syafi sedang bercanda dengan Gavin dan Gilang. Dia memastikan kalau itu adalah orang yang dia rindukan selama ini.
Itu Syafi? Apa halusinasiku saja?
“Ada apa May?” Pertanyaan itu membuat fokus Mayfa buyar.
“Enggak apa-apa bu, saya Cuma merasa mengenali wanita yang ada di sana.” Mayfa menunjuk kearah Gavin dan Gilang.
Teman Mayfa menoleh kearah yang Mayfa maksud. Terlihat di sana Resa dan kedua pengasuhnya tengah bercanda dengan kedua puteranya. “Ya iyalah kamu merasa kenal, itu istri Tuan Sam, dan dua anak-anak laki-laki itu, anak dari Tuan Sam. Pemilik sekolahan ini, lagian wajah-wajah mereka juga sering menghiasi media televisi atau cetak,” jelas rekan bicara Mayfa.
Mayfa menoleh kembali kearah itu, tapi dia tidak melihat sosok yang mirip temannya itu.
Huhh … mungkin ini karena aku terlalu rindu pada Syafi, kemaren saja aku kepeluk mbak yang jual jamu, melihatnya aku kira melihat Syafi.
Mayfa meneruskan langkahnya, mengurus anak-anak TK susah-susah gampang. Kadang bikin bahagia, kadang bikin emosi jiwa. Apalagi tempatnya mengajar, rata-rata semua anak didiknya adalah anak-anak sultan. Extra hati-hati, siapapun yang salah, pasal berlaku sultan selalu benar.
***
Heheheee pasal diatas hanya berlaku di dunia pernovelan ya,
damai sobat. ✌✌✌✌
Baru bisa update akoh, maaf yup🙏
__ADS_1