
Akhirnya acara Resepsi Dirga dan Syafi berakhir. Arnaff sangat bahagia, bisa lepas dari Alvi tanpa harus menanggung malu karena batal menikah. Hanya maaf dan ucapan terima kasih yang Arnaff tujukan pada Syafi dan Dirga. Setelah memberi hadiah pada Rye, Arnaff segera pulang ke rumah. Arnaff baru sampai rumah, selesai membersihkan dirinya, Arnaff langsung berbaring ditempat tidurnya, matanya masih memandangi layar handphone, saat matanya membaca undangan online, seketika kedua mata Arnaff membulat.
“Aku akan datang Vi, aku ingin melihat kebahagiaanmu,” tekad Arnaff.
*
Di tempat lain.
Hari semakin gelap, sambil menunggu waktu, Alvi bersantai di ruang tamu yang ada di Villa suaminya, melihat infotaiment dari televisi, seketika mulut Alvi menganga lebar, saat melihat Gedung tempat acara dia dan Arnaff menjadi resepsi pernikahan Syafi dan Dirga. Tidak ada kesedihan di wajah Arnaff, saat mata kamera menyorot wajah tampan itu. Yang membuat Alvi kesal, dia melihat keluarga besar Sam hadir di acara Resepsi itu.
“Sayang, ayoo bersiap, kita harus segera ke Gedung sayang.” Teriakan suaminya, membuat Alvi harus menyudahi tontonannya, dia segera berlari menyusul suaminya,
Tidak terasa, waktu terus berlalu, Gedung tempat Alvi mengadakan Resepsi mulai di padati tamu undangan. Semua orang menikmati acara yang tengah berlangsung. Beberapa tamu undangan juga mulai menyalami kedua mempelai. Barisan para tamu terlihat mengular untuk memberi selamat pada kedua mempelai. Hingga sampai pada giliran Arnaff dan kedua orang tuanya untuk memberi selamat pada kedua mempelai. Kedua bola mata Alvi membulat sempurna, saat melihat tiga orang yang berdiri di depannya.
“Pak Rinto, bu Leti, dan putera mereka. Mereka kagum dengan perusahaan kita Geovan, dan mereka akan menanam modal di perusahaan kita, karena puas dengan cara kepemimpinan kita.” Ucap Edweil.
“Apa maksud kakak?” Geovan tidak mengerti apa maksud perkataan kakaknya.
“Kamu kenal siapa laki-laki ini?” Edweil balik bertanya.
“Dia salah satu pegawai kita, kenapa aku ingat? Karena kinerja dia semakin hari semakin memuaskan,” jawab Geovan.
“Dia hanya berpura-pura jadi pegawai, dia Arnaff, CEO Ohoana Group,” terang Edweil.
“Mantan CEO, tepatnya,” sela Alvi.
“Bukan mantan, dan mungkin tidak akan pernah jadi mantan CEO, anakku sengaja menyamar jadi pegawai biasa, agar bisa mengenali mana teman yang tulus dan mana teman yang modus. Juga kedepannya dia lebih pandai menghormati orang lain!” tegas Rinto.
Geovan terlihat tegang, saat menyadari siapa Arnaff. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya, mengingat selama ini dia sering memaki-maki Arnaff.
“Santai Pak Geovan, justru saya salut dengan cara kepemimpinan perusahaan kalian, saya sangat berterima kasih, sebab berkat bekerja di perusahaan Anda, sangat banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapat. Yang lebih menguntungkan, saya bisa menyingkirkan kerikil yang menghambat perjalanan saya.” Arnaff tersenyum pada Geovan, dan menatap sinis pada Alvi.
__ADS_1
Selesai mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, Arnaff dan kedua orang tuanya segera pergi meninggalkan tempat acara berlangsung. Pesta pernikahan impian Alvi sungguh megah, banyak tamu-tamu yang menghadiri
acara tersebut. Sedang mempelai wanita itu merasa hancur, rasa penyesalannya meninggalkan Arnaff tidak bisa dia ungkapkan. Terus berusaha tersenyum, walau batinnya ingin berteriak karena kebodohannya, sedang kembali pada Arnaff itu hanya mimpi.
*******
Tidak ada yang istimewa dikeseharian Syafi, pagi mengajar, menghabiskan waktu bersama Mayfa dan Athan juga para anak-anak didiknya, sisanya semua waktunya untuk suami tercinta. Waktu terus berjalan, bukan hanya kebahagiaan Syafi yang semakin bertambah, kebahagiaan Sam juga.
Cerahnya sinar matahari, secerah senyuman yang menghiasi wajah-wajah yang terus betah tersenyum, sambil memandangi kearah bayi yang masih berada dalam box bayi.
“Cantik seperti mamanya,” puji Ramida.
“Benar sekali, si cantik ini persis Resa saat baru lahir,” tambah Hayati.
“Ayo Syafi, kapan kau akan memberi Dirga kebahagiaan seperti ini,” ungkap Ramida.
Seketika senyuman yang menghiasi wajah Syafi Sirna, Sampai sekarang tidak juga ada tanda kehamilan ada padanya, ketakutan menyelimuti hati Syafi.
Ramida diam, dia juga pernah merasakan rasa sakit itu, ketika teman-temannya menanyakan kapan punya cucu, sedang Vania sama sekali tidak mau memberikan keturuan. “Maafkan tante, sayang ….” Ucap Ramida.
Syafi berusaha tersenyum, walau batinnya menjerit. “Tidak apa-apa tante.”
Kebahagiaan sangat terasa di ruangan itu, Syafi lebih memilih bermain bersama Gavin, Gilang, dan Nadira. Setidaknya rasa sakitnya akan berharap memiliki bayi manis itu jauh berkurang, karena tidak melihat langsung.
Merasa cukup lama berada di Rumah Sakit, Syafi dan Dirga pamit undur diri. Bagaimanapun Syafi tersenyum, Dirga bisa merasakan kesedihan yang Syafi rasa. Selama perjalanan Syafi diam, hanya menjawab pertanyaan yang Dirga tanyakan. Membuat hati Dirga gundah. Dirga menepikan mobilnya.
“Syafi ….” Panggilnya. Dirga meraih telapak tangan wanita itu.
Syafi menoleh kearah Dirga. “Iya Bee ….”
“Jangan sedih karena kita tidak bisa memiliki keluarga yang sempurna, sayang.” Dirga menepuk telapak tangan Syafi yang ada dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
“Aku memikirkan kamu, aku tidak memiliki anak tidak mengapa, asal kamu bahagia Bee.” Air mata lolos di ujung mata Syafi.
“Kebahagiaan aku itu kamu, sayang. Aku ikhlas selamanya tidak memiliki buah hati, asal kamu selamanya di sisiku.” Dirga mengusap air mata yang terus menetes di wajah istrinya.
“Bagaimana masa depan kita, tanpa anak?” Syafi sungguh sedih dengan ketidak berdayaannya. "Masa tua kita?"
“Kamu lupa kalau kita punya Tuhan? Kalau kau termakan omongan orang-orang tentang suramnya masa tua tanpa anak. Ingat Tuhan tidak pernah tidur, DIA akan memberikan berkah dan rahmat pada hamba-hamba yang taat.
Sudah jangan sedih, Kita tetap ikhtiar sebisa kita, berdo’a dan terus berusaha.” Dirga mendekatkan wajahnya pada wajah Syafi, mendaratkan ciumannya diantara alis wanita itu.
Dirga berhenti mencium istrinya, dia memandangi wajah cantik yang berada tepat di depan matanya. “Kita fokus dekatkan diri pada sang pencipta, andai suatu saat kita dikasih Alhamdulillah, kalau tidak di kasih, artinya Tuhan ingin kita tetap romantis seperti ini hingga tua, tetaplah bersamaku, pendampingku.”
Syafi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Merasa Syafi sudah lebih baik, Dirga melanjutkan perjalan pulang mereka. Syafi menyandarkan kepalanya di bahu Dirga, merasa sangat beruntung punya suami seperti Dirga, penuh cinta, juga menerima dirinya apa adanya.
“Aku tidak bisa menjanjikan hal yang selalu indah padamu, selama kamu bersamaku. Karena hidup ini ujian. Tapi bagaimanapun perjalanan kita di depan nanti, bersediakah kamu melewati semua itu, suka maupun duka, tetap bersamaku?”
“Hem ….” Syafi hanya mampu menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Dirga.
********
Alhamdulillah, akhirnya bisa nulis sampai END. Terima kasih pada kalia semua yang membersamai perjalanan Syafi.
Kenapa Tamat? Yah beginilah alur yang aku buat.
Mohon maaf lahir batin semua, menjelang Ramadhan ini, aku sengaja mau hiatus nulis, karen mau fokus RL aku.
Mohon maaf atas segala kekuranga dalam coretan halu ini.
Sampai jumpa lagi di coretan aku yang lain, tapi tidak ada dalam wakti dekat 🤣🤣🤣🤣
Sampai jumpa 🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1