Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 63 Tidak Jomblo Lagi


__ADS_3

Alvi memukul pelan pipinya, memastikan yang dia lihat saat ini hanya mimpi. “Awh ….” Sakit yang Alvi rasa. Wanita itu terlihat akrab dengan keluarga Sam. Pembawa acara sudah memulai acara diatas panggung, riuh suara tepukkan tangan tidak juga membuyarkan tatapan Alvi dan Arnaff yang sama-sama tertuju kearah keluarga Sam. Bukan keluarga Sam yang menyita perhatian keduanya, tapi sosok wanita yang mengenakan kerudung seorang diri yang berada di lingkup keluarga Sam, yang menjadi perhatian Alvi dan Arnaff.


“Bagaimana mungkin ratu drama itu bisa berada di sana!” Kekecewaan Alvi sangat jelas, belum lagi, kedua orang tua Arnaff terlihat bersikap begitu manis pada Syafi. Berbeda jauh saat bersama dengannya di mobil sebelumnya, Alvi bisa merasakan kalau kedua calon mertuanya malah kesal padanya.


“Mana aku tau!” Arnaff juga sangat kesal, Sam dan Dirga lebih mengutamakan wanita itu daripada dirinya. “Aku sangat kecewa,” gerutu Arnaff.


"Papa dan mamamu juga sangat manis pada wanita sialan itu, menantu mereka itu, aku apa wanita itu?!"


"Ini acara umum, masa iya papa dan mamaku malah memarahinya."


Acara di depan sana terus berlanjut. Bahkan pembukaan yang Sam sampaikan tidak menjadi fokus Arnaff dan Alvi, keduanya sibuk dengan argument mereka sendiri tentang Syafi.


“Malam yang sangat membahagiakan bagi keluarga saya, atas sukses dan lancarnya keinginan kami untuk merubah nama perusaan ini, kebahagiaan besar juga di rasa oleh pendukung setia saya, Dirga Pramudja, seorang Dirga akhirnya menemukan tambatan hatinya, perkenalkan … Aurelia Syafitri, istri Dirga.” Sam meng-arahkan tangannya kearah Syafi dan Dirga. “Ayo Dirga perkenalkan bidadari sorgamu, pada kami semua.” Sam meminta Dirga dan Syafi naik keatas panggung.


Dengan bangga Dirga menggandeng Syafi berjalan menuju panggung. Tepukkan tangan semakin menggemuruh saat melihat pasangan itu berdiri di samping Sam.


Sebelah tangan Dirga meraih mic, sedang tangan yang satu masih menggandeng tangan Syafi. “Pasti kaget ya, melihat saya bersama wanita cantik yang ada di samping saya. Jujur perjalan saya mendapatkan wanita ini tidak mudah, saya harus menyeberangi beberapa lautan untuk menemui dia.” Dirga tersenyum, dia memandangi Syafi yang terus menunduk. “Tidak ada yang bisa saya ungkapkan lagi, pastinya saya sangat bahagia, kami hanya menikah di KUA, karena ada suasana duka, untuk resepsi, masih dalam perencanaan. Terima kasih semua. Saya Dirga, sekarang tidak jomblo lagi.” Dirga menundukkan sedikit kepalanya sebagai penghormatan pada semua tamu yang memerhatikan dirinya.


Semua orang turut bahagia atas kebahagiaan Dirga, namun tidak bagi Alvi dan Arnaff. Keduanya langsung pergi saat mengetahui Dirga dan Syafi sepasang suami istri. Keduanya masih berdiri di pingir jalan menunggu taksi yang mereka pesan. Sejak keluar dari Gedung The Alvaro Group, tidak ada senyuman lagi yang terukir di wajah Alvi dan Sam. Sebuah mobil berhenti di depan Alvi dan Arnaff. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil. Mobil itupun perlahan melaju, setelah memastikan kedua penumpangnya duduk dengan nyaman.


Pikiran Arnaff melayang entah kemana, terbayang akan segala kesialannya sejak bermasalah dengan wanita itu. Alvi juga membisu, rasa kecewanya tidak bisa dia gambarkan. Bayangan akan menjadi primadona karena mendampingi seorang Arnaff semua itu nihil, bahkan dirinya sama sekali tidak tersorot mata kamera.


Malam yang penuh kebahagiaan bagi mereka yang bisa merasakan kebahagiaan Dirga dan Sam. Tapi tidak bagi Arnaff dan Alvi, tadi malam adalah malam yang suram yang mereka lewati. Suasana pagi yang cerah, masih tidak bisa membuat wajah itu ceria. Senyuman Syafi tadi malam entah kenapa bagai pisau yang menancap di hatinya.


“Papaa, ayo cepat, nanti Rara terlambat ke Sekolah, kata miss upp kemaren, miss Aurel kembali mengajar hari ini, Rara mau berterima kasih sama miss Aurel, yang miss Aurel ajarkan berhasil membuat nenek sihir nggak galak lagi sama Rara.” Ocehan Nadira membuyarkan lamunan Arnaff akan kesedihannya.


"Nenek sihir?" Arnaff bingung dengan ungkapan Nadira. Arnaff menepis pemikiran jeleknya, segera menyadarkan dirinya. “Ayok sayang, papa juga harus segera ke kantor.”


“Papa kenapa ke kantor pakaian papa tidak seperti biasanya?”


Arnaff terdiam, bingung bagaimana menjelaskan pada putrinya kalau papanya sekarang hanyalah pegawai biasa di salah satu perusahaan kecil. “Nanti ceritanya, ayok kita berangkat sayang.”


Sesampai di gerbang Sekolahan Nadira, putri kecilnya itu tidak mau masuk kedalam Sekolahan, Arnaff bingung sedang dirinya harus segera berangkat ke kantor. Arnaff menoleh kearah Satpam penjaga gerbang sekolah. “Pak, bisakah saya menitip putri saya di sini? Dia tidak mau masuk sebelum bertemu salah satu guru kesayangannya,” pinta Arnaff.


“Eh, Non Rara, mau nunggu miss Aurel ya?” Satpam itu bertanya pada Nadira.


“Iya Pak, kata miss upp. Miss Aurel akan kembali mengajar hari ini.”


Satpam sekolah menoleh kearah Arnaff. “Saya kenal sama guru Rara, nanti saya pastikan dia masuk bersama gurunya.”


“Terima kasih, Pak.” Arnaff segera mendaratkan ciumannya di pucuk kepala Nadira. Dia sungguh sangat terlambat, Arnaff segera masuk ke dalam mobil, dan memacu cepat mobilnya menuju kantor.


Sesampai di depan gerbang sekolah, Dirga menepikan mobilnya. "Selamat mengajar sayang ...."

__ADS_1


Syafi salim pada suaminya, mencium punggung telapak tangan itu. "Kakak juga semangat kerjanya."


Dirga menahan tangan Syafi. "Kakak? Adakah panggilan lebih manis dari itu?"


"Huh ... nanti aku pikirkan. Kalau sekarang kakak harus bekerja dan aku harus segera mengajar."


"Istriku yang cerdas." satu ciuman lembut dari bibir Dirga mendarat diantara kedua alis Syafi.


Syafi segera turun dari mobil Dirga, sedang Dirga langsung melajukan mobilnya menuju kantor. Syafi masih berdiri di tepi jalanan memandangi mobil Dirga yang semakin menjauh.


"Miss ...."


Teriakan itu membuyarkan perhatian Syafi. Syafi tersenyum saat melihat gadis kecil yang berlari kearahnya. Syafi membungkukkan tubuhnya, menyambut anak kecil yang belari menghambur kearahnya.


"Hai Rara cantik." Syafi membuka kedua tangannya.


"Miss, kangen sama miss." Nadira langsung masuk kedalam pelukan Syafi.


"Maaf, miss kemaren sakit. Tapi sekarang miss sudah sehat, siap bermain bersama Rara dan teman-teman yang lain."


Nadira melepaskan pelukannya dari Syafi. "Akhirnya miss kembali. Miss kemaren tante galak, galakkin Nadira lagi, terus Nadira ikutin apa kata miss. Tante galak itu nggak galak lagi, miss."


"Tante itu galak, karena sayang Rara, Rara sudah buktikan kalau Rara anak manis dan pintar, makanya tante gak galak lagi."


"Iya miss."


Syafi dan Nadira berjalan bersama memasuki area sekolahan, keduanya melempar senyuman pada Satpam sekolah yang sedari tadi memerhatikan keduanya.


Rasanya kebahagiaan Syafi belum habis, kedatangannya kembali mengajar di Sekolah ini, semakin menambah kebahagiaannya. Entah kenapa anak-anak didiknya begitu santun, sulit bagi Syafi untuk tidak menyayangi mereka. Aktivitas mengajar pun terasa semakin indah.


Apalagi yang membuatnya bahagia, teman yang baik, laki-laki yang setia dan penuh cinta. Serta dikelilingi orang-orang yang pandai menghargai. Karena banyak orang-orang datang pada diri saat mereka butuh, tapi tidak pandai menghargai. Buktinya mereka pergi begitu saja saat tidak membutuhkan kita lagi.


Janji Dirga pagi ini, dia ingin mengajak Syafi menjelajahi kantor yang selama ini menjadi sumber penghasilan Dirga. Saat mobil Dirga terlihat di depan gerbang Sekolah, Syafi langsung menarik tangan Mayfa.


“Gua bisa pulang sendiri!” protes Mayfa.


“Sudah, lagian searah.”


Mau tidak mau, Mayfa mengikuti ajakkan temannya ini. Setelah mengantar Mayfa, Dirga kembali melanjutkan perjalannya menuju Gedung The Alvaro Group. Mata Syafi tidak berhenti mengagumi keindahan Gedung ini.


“Kau suka Gedung ini, kita bisa tinggali salah satu ruangan yang ada di sini. Tidak perlu tempat yang luas kalau hanya untuk kita bedua,” goda Dirga.


Cubitan kecil dari tangan Syafi, memelintir bagian perut Dirga, hinga suara ringisan Dirga terdengar. Para karyawan di sana yang mengetahui siapa Syafi, hanya bisa ikut tersenyum melihat sepasang suami istri itu.

__ADS_1


“Kakak berlebihan, memangnya aku siapa? Apa yang aku mau terwujud.”


“Apa sih yang tidak, jika buat kamu,” goda Dirga


“Beneran apa yang aku mau akan terkabul?”


“Tergantung ….”


“Aku mau, kakak dan Sam memaafkan Arnaff, kakak jangan salah faham. Aku hanya kasihan sama Pak Rinto, tadi malam beliau terlihat lelah, harusnya acara seperti itu di hadiri Arnaff, kasian kak orang seperti Pak Rinto masih aktif kerja.”


Dirga terdiam mendengar permintaan Syafi, wanita ini sama sekali tidak menaruh dendam.


“Itu urusan nanti, ayok aku ajak kamu berkeliling Gedung ini.” Ajak Dirga.


Dirga dan Syafi terus menjelajahi beberapa tempat yang Dirga rasa Syafi perlu tahu. Acara berkeliling perusaahaan selesai, keduanya segera kembali ke ruangan Dirga. Dirga kembali bekerja di depan layar laptopnya, Syafi hanya bersantai di ruangan kerja Dirga, sedang matanya terus fokus memandangi laki-laki yang mulai mengisi relung hatinya.


“Jangan menggodaku,” ucap Dirga.


“Siapa yang menggoda kakak, aku hanya mengagumi indahnya ciptaan Tuhan,” balas Syafi.


Dirga menutup laptopnya, dia segera mendekati Syafi, mengurung Syafi yang tengan duduk bersandar di sofa empuk yang ada di ruangan kerjanya. “Mengagumi ciptaan Tuhan? Hemm … kamu baru sadar kalau suamimu ini ganteng?”


“Maaf, mataku baru terbuka.”


Dirga terus mendekatkan wajahnya pada wajah Syafi. Kedua wajah itu semakin dekat, terasa hembusan napas terpantul di permukaan kulit.


Brukkk!


Suara pintu terbuka, membuat Dirga dan Syafi terperanjat.


“Dirga! Ayok bersiap untuk Ra—” Sam tidak jadi meneruskan ucapannya, saat melihat pemandangan indah yang ada di depan matanya.


Dirga langsung menegakkan badannya saat menyadari Sam melihat keadaan barusan. Sedang Syafi langsung memperbaiki posisi duduknya.


“Hai Fiy, senang sekali aku, kamu mau datang berkunjung ke sini. Kapan datang?” Sam berusaha mencairkan suasana canggung.


“Lumayan lama, Tuan,” jawab Syafi.


“Dirga, ada rapat dadakan, rapat kita mungkin sekitar 1 jam nantinya, bagaimana Syafi?” tanya Sam.


“Aku menunggu di sini tidak apa-apa. Lagian kami sudah membeli banyak makanan, cukup untuk bekal pengusir bosanku,” sela Syafi.


“Yakin?” Dirga ragu meninggalkan Syafi sendirian.

__ADS_1


“Yakin.” Syafi meyakinkan Dirga.


Mau tidak mau Dirga tetap pergi bersama Sam, untuk menghadiri rapat di luar kantor. Sedang Syafi mulai memposisikan dirinya dengan nyaman di ruangan itu, mulutnya terus mengunyah makanan yang dia suap, sedang matanya terus menonton film yang dia putar di layar handphone-nya.


__ADS_2