Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 25 Hancur


__ADS_3

Mereka semua melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit. Perjalanan mereka lancar, mobil Mayfa baru berhenti di parkiran Rumah Sakit. Syafi langsung turun dari mobil Mayfa, tanpa pamit pada siapapun


Syafi langsung berlari menuju ruangan Pamannya. Melihat Syafi berlari tanpa memerdulikan mereka, Dirga juga segera berlari mengejar Syafi. Sesampai di ruangan Pamannya, terlihat dokter dan beberapa perawat memeriksa Pamannya.  Melihat Syafi masuk kedalam ruangan, tatapan mata semua orang tertuju kearahnya. Syafi memandangi wajah-wajah yang Nampak cemas itu, pandangan matanya terhenti saat menatap sang dokter yang menangani Pamannya, seakan memberi isyarat padanyaa. Dokter langsung mendekati Syafi.


Berulang kali dokter berusaha untuk bicara, tapi dia bingung memulai dari mana. “Berbicaralah pada Pamanmu, sampaikan suatu hal yang membuat Pamanmu lega, sehingga dia bisa pergi dengan tenang.” Dokter melihat Dirga juga mendekat, dokter berjalan kearah Dirga, dia menepuk Pundak Dirga.


Syafi melangkah mendekati pamannya, dia meraih tangan pamannya. “Paman ….” Mencium tangan yang tidak berdaya itu.


Sedang di pintu ruangan itu, terlihat Mayfa, Eren, Rosalina dan Pak Said baru sampai di ruangan itu. Mayfa meraih tangan Dirga, dia menarik Dirga. Dirga pasrah mengikuti tarikan tangan Mayfa, hingga mereka berdua berdiri di dekat Syafi. Mayfa mendaratkan telapak tangannya di bahu Syafi. Berusaha menyemangati temannya.


Tatapan mata Syafi masih tertuju pada pamannya. Tangannya masih menggenggam tangan Pamannya. “Paman … aku dan kak Dirga sudah menikah.” Syafi menundukkan wajahnya begitu dalam.


Dirga segera mendekat pada Ardhin. “Paman, sekarang Aurelia Syafitri, sudah sah menjadi istriku, sekarang dia menjadi tanggung jawabku, Paman. Paman jangan khawatir, insya Allah … aku akan menjaga Syafi, melindunginya, menyayanginya dan mencintainya.” Sedang yang di sebut tenggelam dalam lamunannya, tidak mendengari apa yang Dirga ucapkan.


Pak Said mendekat juga pada Ardhin, mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Ardhin, berbisik di sana. Terlihat wajah Pak Said sedikit lega, saat mendengar sayup suara Ardhin walau tidak jelas. Tidak berselang lama suara monitor terdengar, pada layar pun terlihat garis lurus.


Syafi berusaha menahan tangisnya. Melihat temannya begitu terluka Mayfa mengusap punggung Syafi. Menyadari di sampingnya ada Dirga, Mayfa menarik Dirga agar mendekati Syafi, sedang dia melangkah mundur ke belakang.


“Jangan di tahan Fiy, tumpahin … lepasin … walau itu tidak mengurangi rasa sakitmu,” Ucap Mayfa.

__ADS_1


Syafi langsung menenggelamkan dirinya ke pelukan orang yang ada di sampingnya. Dia mengira itu Mayfa. Menumpahkan tangisnya dalam pelukan itu. Seketika tubuh Dirga bergetar hebat, Syafi memeluknya. Berusaha mengontrol perasaannya, Dirga membalas pelukan Syafi, mengusap lembut punggung wanita yang kini menjadi istrinya. Sedang di depan sana, tim perawat mengurus jasad Ardhin. Sedang Syafi masih menumpahkan tangisnya dalam pelukan Dirga.


Pak Said langsung mengabari keluarga Ardhin yang tinggal dekat rumah Ardhin, untuk mempersiapkan persiapan menyambut jenadzah Ardhin nanti di rumah.


***


Suara sirine ambulan memecah kesunyian, beberapa warga sudah siap menanti jenadzah Ardhin. Terlihat Syafi dan Dirga juga keluar dari mobil Ambulan, para warga menyalaminya, sedang Syafi hanya diam, pandanganya entah tertuju kemana, walau dia menyambut uluran tangan para warga yang menyalaminya. Entah kenapa, rasa malu itu hilang dari perasaan Dirga, dia menarik Syafi dalam dekapannya, hingga wanita itu bersandar pada bahunya. Warga yang melihat maklum, karena mereka tau kalau lai-laki itu suami Syafi. Dari cerita saudara Kamal yang ikut menyaksikan akad nikah.


Keluarga Pak Said datang, Dirga meminta Mayfa untuk menemani Syafi, sedang dirinya membantu proses yang lain. Kini wanita itu bersama Mayfa dan saudari-saudari Mayfa. Syafi menyandarkan dirinya dalam pelukan Mayfa. Suasana duka itu kembali menyelimuti kediaman Ardhin, Syafi selalu setia di samping jasad pamannya, baru saja kemaren jasad Kamal terbaring di tempat ini, sekarang jasad pamannya juga terbaring di sini. Tidak menunggu lama jasad Ardhin akan segera di makamkan sore ini.  Hanya air mata dan pemandangan yang menyesakkan dada yang terlihat di kediaman itu, bahkan sampai saat pemakaman Ardhin.


Malam harinya langsung diadakan pengajian untuk Ardhin dan Kamal. Selesai acara pengajian, hanya sepasang pengantin baru itu saja yang ada di rumah itu.


Keduanya berdiam diri di ruang tengah, beberapa kali Dirga melirik kearah Syafi, tapi tatapan mata Syafi entah tertuju ke mana.


Syafi menoleh kearah Dirga. Melihat wajah Dirga biasa-biasa saja, Syafi hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi ucapan Dirga. Dirga segera masuk ke kamar yang dulu dia tempati bersama Ardhin, sedang Syafi langsung masuk ke kamarnya. Pengantin baru itu tidur di kamar yang terpisah.


Syafi menghempas kasar badannya duduk di sisi tempat tidurnya. Matanya tertuju kearah lemari kecil, di mana dia menyimpan Handphone yang di serahkan oleh pelayat di hari saat kamal meninggal. Syafi teringat kalau handphone Mayfa tertinggal di rumah ini. Syafi segera beranjak mengambil Handphone itu, beruntung pengisi daya handphone itu sama dengan handphone miliknya. Syafi segera mencolokkan kabel pengisi daya pada Handphone itu. Pikirannya terbang entah kemana, bingung dengan semua duka yang datang tiba-tiba.


Sudah lebih 30 menit handphone itu terhubung dengan pengisi daya. Syafi segera melepas kabel pengisi daya yang terhubung pada handphone itu. Menghidupkan handphone itu. Saat layar handphone itu menyala, terlihat foto Mayfa di layar handphone itu. Syafi lega, ternyata ini handphone milik temannya. Syafi ingin menaruh handphone itu ketempat semula, tiba-tiba dia teringat saat menghentikan rekaman yang berlangsung saat waktu kematian bibinya. Dia membawa handphone itu menuju tempat tidur. Duduk di tempat tidur sambil membuka handphone itu, beruntung handphone itu tidak pakai kunci keamanan.

__ADS_1


Jemarinya terus mengusap layar benda persegi Panjang itu, mencari video tersebut. Syafi menarik napas begitu dalam saat menemukan video yang di cari, mengumpulkan keberanian untuk menonton video itu. Simbol play dia sentuh.


Rekaman Video menunjukkan rekaman yang memperlihat kan barang-barang yang tersusun di lantai, terdengar suara Mayfa menjelaskan kalau barang itu kiriman dari Erli, Bos Restoran tempat mereka bekerja dulu. Seketika jantung Syafi seakan meledak mendengar percakapan Arnaff dan paman juga bibinya, air mata Syafi mengalir deras saat mendengar Arnaff menghina dirinya, dan mendengar permohonan pamannya, agar Arnaff tidak membatalkan pernikahan. Syafi sangat hancur setelah menonton semua video itu. Tangisnya pecah di kamar itu. “Abah … mama ….” Jeritnya.


Hatinya sangat hancur, saat itu dia begitu lepas bernyanyi, bahkan suara nyanyiannya ikut terekam dalam video itu. Dia berteriak bahagia di luar rumah, sedang di dalam rumah Paman dan bibinya bersedih.


"Mama ... Abah ...." jeritnya. Melepaskan handphone yang dia pegang, lalu menenggelamkan wajanya di bantal guling yang dia peluk.


Rumah Ardhin bukan beton, hanya bangunan dari papan, sehingga sangat jelas Dirga mendengar suara tangisan dari arah kamar Syafi. Dirga cemas, dia langsung menuju kamar Syafi. Berulang kali mengetuk pintu kamar, tidak ada sahutan, hanya suara isak tangis Syafi yang semakin jelas. Dirga perlahan memutar gagang pintu, beruntung kamar itu tidak di kunci. Terlihat di arah tempat tidur seorang wanita menangis sambil memeluk guling.


Hati Dirga hancur, melihat wanita yang ia cinta menangis seperti itu, dia segera mendekati Syafi duduk di sisi tempat tidur, mendaratkan telapak tangannya di Pundak Syafi.  Wanita itu tetap larut dalam tangisnya. Dirga melirik kearah samping Syafi, terlihat sebuah handphone masih menyala, menayangkan rekaman video. Dirga meraih benda pipih berbentuk persegi Panjang itu, mengulangi rekaman dari detik nol. Seketika kemarahan menyelimuti dirinya, saat menonton rekaman video itu, beruntung dia tidak satu kota dengan Arnaff, andai dia di kota mereka, saat ini juga dia melampiaskan kemarahannya pada Arnaff, yang menorehkan luka terlalu dalam pada hidup Syafi.


Dirga meninggalkan kamar Syafi, melangkah cepat menuju kamarnya, untuk mengambil handphone-nya, setelah dapat dia segera Kembali ke kamar Syafi, mengirim video dari handphone yang menyimpan rekaman detik-detik terakhir kehidupan Kamal itu pada handphonenya. Selesai, Dirga segera menyimpan dua benda pipih itu di nakas yang ada di samping tempat tidur. Sedang Syafi masih tenggelam dalam tangisnya.


Dirga naik ketempat tidur Syafi, berbaring di samping wanita itu, lalu menariknya kedalam dekapannya. “Tumpahkan saja, tumpahkan semuanya,” ucapnya. Tangannya mengusap punggung Syafi. Tangisan wanita itu semakin keras. Membuat mata Dirga juga ikut bocor mengeluarkan air mata, ikut merasakan kepedihan wanita yang menangis dalam pelukannya.


***


*Bersambung.

__ADS_1


Hiks hiks hiksss ...


Akoh syedih ... untuk besok aku nggak janji bisa up, berapa hari ini aku nangis mulu, kayak orang putus cinta aja. huwaaaa bahu mana bahu buat author bersandar 😭😭😭😭😭🤧


__ADS_2