
Sepanjang perjalanan pikiran Syafi terus berputar, terbayang kata-kata Mayfa dan Resa. Syafi berusaha mengalihkan pikirannya, tetap saja semua perkataan Mayfa berputar di otaknya. Dirga bisa menangkap kecemasan dari raut wajah Syafi.
“Fiy, ada apa?” Syafi sama sekali tidak mendengarkan pertanyaan Dirga. Dia masih larut dalam lamunannya.
Dirga menurunkan laju mobilnya, perlahan menepikan mobilnya ke tepi jalan. Dirga mendaratkan telapak tangannya di bahu Syafi. Membuat tubuh wanita itu terperanjat. “Ada apa?” Pertanyaan yang sama kembali Dirga tanyakan.
“Aku bertemu Mayfa,” jawab Syafi.
“Kalian pergi jauh menyeberangi lautan, tapi kalian bertemu lagi di tempat baru. Waw luar biasa, Upin ipin kalah sama kekompakkan kalian, lihat nasib saja mempertemukan kalian di tempat ini.” Dirga tersenyum, turut bahagia Syafi bertemu temannya.
Mendengar kata 'Upin dan Ipin' hati Syafi semakin menjerit, teringat Athan yang kini tampak membenci dirinya.
“Tunggu, harusnya kau bahagia, kenapa kau tampak sedih seperti ini, apa karena anak-anak di sana?” tebak Dirga.
“Mayfa berlaku seolah tidak mengenalku, katanya yang ada di depan matanya bukan Syafi temannya.”
“Mayfa benar, aku juga merasa demikian, aku merasa menikahi orang lain, bukan keponakan Paman Ardhin. Keponakakan Paman Ardhin itu ceria, membuat aku iri padanya, seakan tidak ada beban dalam hidupnya. Sedang wanita yang aku nikahi? Hemm entahlah, aku hanya melihat seorang gadis yang putus asa, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Dirga kembali melajukan mobilnya.
“Aku hanya ingin jadi pribadi lebih baik, agar tidak mempermalukan Anda.”
“Malu? Justru aku malu pada Paman Ardhin, karena keponakan kebanggaannya seakan mati. Kamu tahu sejak tinggal di rumah paman, aku belajar menjadi seperti Syafi, ehh Aul keponakan paman Ardhin maksudku, aku ingin menikmati hidup seperti dia, tadinya aku ingin belajar langsung pada keponakan Paman Ardhin, agar beban di pundakku sedikit berkurang. Pekerjaanku sangat serius, aku Lelah. Ingin juga bisa menghibur diri sendiri.” Pandangan Dirga masih lurus kedepan, memandangi jalanan yang ada di depan matanya.
“Apa kakak tidak malu, ehh maaf. Maksud aku apakah kakak Bahagia jika aku seperti yang dulu, pecicilan, bar-bar dan—” Syafi bingung mengungkapkan tentang dirinya.
“Kebahagiaanku terbesarku, cukup dengan kamu mau menerima cintaku.” Pandangan matanya masih lurus kedepan, tanpa memandang lawan bicaranya.
Syafi menyipitkan kedua matanya memandangi wajah Dirga, sedang yang dipandangi pura-pura tidak tahu kalau sedang ditatap. “Untuk pemula … nilai kakak lumayan bagus.”
Ini bukan rayuan fiy, ini ungkapan … biarlah kamu anggap ini gombalan. Setidaknya dengan cara ini aku bisa mengutarakan perasaanku padamu, langsung. Gerutu hati Dirga.
“Kakak mau jadi raja gombal? Tapi kenapa harus aku yang jadi sasaran mukidi kakak?”
“Mukidi?”
“Rayuan begitu, kami menyebutnya gombal mukidi.”
“Owh … karena yang perempuan di dekat aku adanya kamu, ya kamulah jadi patner aku, masa aku rayu bi Masri? Gagal keren ...." Dirga berusaha menahan senyumannya. Dia melirik kearah Syafi, Syafi masih memandangi dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Nyali Dirga menciut, takut Syafi membenci dirinya. "Berapa nilaiku?” kilah Dirga.
“Kakak tidak ternilai, karena kakak adalah hal yang paling berharga yang aku miliki di dunia ini.” Syafi mengulum senyuman, aneh dengan kata-katanya barusan, pandangan matanya lurus kedepan memandangi jalanan di depan sana.
__ADS_1
Deggg!
Senyuman tulus itu, membuat darah Dirga mendidih. Tiba-tiba Ada yang meledak dalam dirinya.
“Lunas ya kak,” ucap Syafi.
Dirga menggelengkan kepalanya, tangannya mengusap tengkuknya, merinding mendengar balasan dari Syafi, senyuman juga masih menghiasi wajahnya. Pedenya terlalu berlebihan. Tadinya berpikir itu ungkapan Syafi untuk dirinya.
“Kak ….”
“Hemm.”
“Aku kemaren minta maaf sama kak Athan, kata kak Athan, dia mau memafkan aku, asal aku mau menemani dia bernyanyi selama sebulan.”
“Kamu sekarang mengajar dari pagi sampai siang, bagaimana kamu menemani teman dia?” Bukan pembagian waktu yang Dirga takutkan, tapi kebersamaan Syafi dan Athan yang membuat Dirga khawatir.
“Kata kak Athan, dia menyanyi sore hari, kalau kakak tidak keberatan, aku mau melakukan itu, asal dapat maaf dari kak Athan.”
“Mulai dari kapan?”
“Belum tau, aku juga belum bertemu dengan dia.”
“Iya, aku izinkan.”
Keduanya saling melempar senyuman. Tidak tau harus bicara apa lagi. Perlahan Dirga menurunkan kecepatan mobilnya, Restoran yang dia tuju sudah dekat, mobil itupun memasuki halaman luas milik Restoran yang dituju. Keduanya turun dari mobil, memasuki restoran, untuk mengisi perut mereka yang mulai berdemo minta jatah.
Pelayan Restoran langsung menyambut mereka, Dirga dan Syafi segera duduk di tempat yang Dirga tunjuk, memesan makanan yang mereka inginkan. Syafi bingung harus apa.
“Kak, aku izin ke toilet, ya.”
Dirga hanya mengangukkan kepalanya, merespon ucapan Syafi. Syafi segera berdiri, bertanya pada salah satu pelayan, di mana arah toilet. Dia segera melangkahkan kakinya kearah yang pelayan Restoran tunjuk. Mata Syafi terus melihat kearah tanda penunjuk arah. Tidak melihat keadaan di depan matanya.
Brukkk!
Syafi menabrak seseorang, dia hampir ambruk ke lantai, yang dia tabrak tidak oleng sedikitpun. Orang itu justru menolong Syafi, hingga dia tidak jatuh ke lantai.
“Kalau jalan, hati-hati mbak,” ucap orang itu.
“Syafi menegakkan tubuhnya, dan mendongakkan wajahnya. “Kak Athan?” Syafi terkejut melihat sosok yang ada di depan matanya.
__ADS_1
Athan menghembus kasar napasnya. “Apa bumi ini terlalu sempit? Kemana aku merantau, selalu ada kamu.” Athan langsung meninggalkan Syafi.
“Kak! Aku Mau memenuhi persyaratan kakak. Dengan syarat!”
Athan menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menghampiri Syafi. “Yang meminta syarat itu, aku. Bukan kamu!” tegas Athan.
“Syaratku, kakak beneran mau memaafkan aku dan kakak jangan mengundurkan diri dari sekolahan itu.”
“Jika kau tidak menyebalkan seperti kemaren, maka maaf-ku ‘pun ku berikan. Aku tidak memaafkan kamu, karena kamu bukan temanku. Besok sore datang ke taman kota, aku pentas di sana. Kalau kau datang maka nomer telepon kamu akan aku buka blokirannya.” Athan meneruskan langkahnya meninggalkan Syafi sendirian di sana.
Syafi hanya bisa memandangi punggung Athan yang terus menjauh dari pandangan matanya. Syafi menyadarkan dirinya, dia segera melanjutkan langkah kakinya menuju toilet. Sesampai di dalam toilet perempuan, Syafi memandangi pantulan dirinya di cermin. Dia sudah kehilangan Paman dan Bibinya, dia tidak mau lagi kehilangan hal berhaga lain, orang-orang yang menyayanginya.
"Arnaff ...." kata itu terucap dari bibir Syafi. "Ada kamu atau tanpa kamu, aku sudah bahagia, aku sangat bodoh, karena hinaanmu, aku terpuruk terlalu dalam." Syafi menegakkan wajahnya. "Aurelia Syafitri ... ayo kembali!" Merasa puas berbicara sendirian, Syafi segera kembali menyusul Dirga.
Dirga tampak gelisah, lumayan lama Syafi pergi, tapi belum juga kembali. Pandangan matanya tertuju kearah jalur yang menuju toilet. Di sana terlihat sosok laki-laki yang tidak asing bagi Dirga. Seketika ulu hatinya terasa perih.
Apa karena dia bertemu Athan di sana, sehingga dia pergi selama ini? Desah hati Dirga.
Makanan yang di pesan Dirga dan Syafi datang, para pelayan Menyusun rapi makanan itu di atas meja. Dirga menundukkan wajahnya, ketakutan menyelimuti hatinya. Bagaimanapun mulutnya berkata ikhlas melepas Syafi, hatinya sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi.
“Maaf kak, aku kelamaan pergi ke toiletnya.” Perkataan barusan menyadarkan Dirga dari lamunannya.
Dirga mematung melihat wajah Syafi yang berbeda dari biasanya. Cahaya yang lama padam seakan menyala kembali.
“Kak ….”
Lagi-lagi lamunan Dirga buyar. “I-iya.” Dirga berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya.
“Kenapa melamun kak?”
“Ada yang berbeda dari kamu, sesuatu yang lama padam, sekarang mulai bersinar.” Pandangan mata itu saling beradu tatap.
“Maafkan aku kak, aku tidak tahu, kalau perubahanku membuat sedih semua orang. Perkataan Resa dan Mayfa menyadarkanku.” Syafi meraih kursi yang berada tepat di seberang Dirga. Duduk dengan nyaman di sana, sambil meraih gelas minumannya. Menikmati segarnya minuman yang dia pesan.
“Yang paling tersiksa atas perubahan kamu itu, aku.”
Syafi menganggukkan kepalanya. Menegak air yang sudah masuk ke dalam mulutnya. “Mukidi kakak ada kemajuan,” sela Syafi, meletakkan kembali gelas minuman yang dia pegang.
Dirga tersenyum sendiri, walau dianggap gombalan, setidaknya ada celah baginya mengutarakan perasaanya. “Jangan pernah berubah Fiy. Jadilah dirimu sendiri. Syafi yang dulu bagaikan Pelangi yang menghiasi langit. Memberi warna tersendiri bagi semua orang yang sayang padamu.”
__ADS_1
“Siapa bilang aku Pelangi dalam kehidupan setiap orang yang sayang padaku, aku hanya Pelangi dalam kehidupan kakak, karena yang aku sayang hanya kakak.” Senyuman lebar menghiasi wajah Syafi. Dia membuang pandangannya kearah lain. Terasa lucu, rasanya lidahnya kelu melancarkan rayuan bucin barusan.
“Ayo kita makan dulu, aku lapar. Lama-lama kamu yang aku makan.” Dirga langsung meraih makanannya, menundukkan wajahnya memandangi makananya, tidak mampu menegakkan wajahnya, mendapat rayuan mukidi Syafi, rasanya hawa panas menjalar di seluruh wajahnya.