
Arnaff masih sangat sibuk dengan pekerjaannya, suara
deringan handphone-nya membuat fokusnya terbagi. Terlihat nama Alvi di layar ponselnya. “Iya Al. maaf seminggu ini aku sibuk banget.”
“Iya, aku maklum sayang. Yank … transfer nanti ya untuk souvenir pernikahan kita.”
“Vi, sudah 800 juta loh kamu habiskan untuk persiapan
pernikahan, ingat Vi, resepsi pernikahan bukan puncak segalanya, tapi kita baru memulai untuk fase kehidupan baru.”
“Iyaaa. Tapi aku ingin pernikahan kita berkesan, sayang.”
“Okey, nanti aku transfer sekarang.” Arnaff tidak banyak waktu untuk berdebat.
Sedang di belahan lain, Alvi sangat bahagia, akhirnya
pernikahan impiannya dengan seorang CEO Ohoana Group, akan segera terwujud. Tapi ada kekesalan dalam hati Alvi, dia tidak bisa lagi mengancam calon anak
tirinya, entah kenapa anak kecil itu sekarang lebih cerdas setiap kali dia mengancamnya, anak itu malah sok manis. Hingga tidak ada celah untuk memaki-maki anak tirinya itu. Alvi tidak ambil pusing, dia kembali melanjutkan pemotretan yang sedang dia jalani.
“Vi, kemaren Pak Geovan nanya, mastiin apa benar kamu akan nikah apa enggak.”
“Sudahlah Rhe, aku sudah memutuskan untuk bersama Arnaff. Lagian, lebih berpengaruh Arnaff daripada Geovan.”
“Pastinya, secara Tuan Arnaff dan Tuan Sam, sahabat dekat. Hem siapa lagi itu yang selalu setia di samping Tuan Sam? Dia tidak mempunyai perusahaan, tapi posisi dia luar biasa. Sayang orangnya sedikit tertutup, susah untuk di dekati.”
“Dirga?”
“Hem ….”
“Aku berpikir Dirga tidak menyukai lawan jenis, dari kami kuliah, kami belum jadi apa-apa saja, dia susah di dekati. Apalagi sekarang.
“Kamu pernah mendekati Dirga?”
“Dulu … tapi dia tolak.”
“Kamu yang luar biasa cantik begini dia tolak, apaplagi aku hanya serbuk kayu lapuk gini.” Ryehna Terlihat kecewa.
“Sabar, masih banyak laki-laki lain yang patut kamu
perjuangkan.” Alvi menyemangati temannya.
“Eh vi, dengar kabar angin, akan ada peresmian nama
perusahaan Ozage Cryton Group, kamu di undang?”
“Ya pasti lah, calon suamiku Arnaff, dia adalah sahabat Tuan Sam.”
“Ciyee calon istri mas Duren. [Duda keren]”
Kabar tentang pernikahan Alvi dan Arnaff hampir di ketahui oleh semua rekan kerja Alvi. Dengan bangganya Alvi mengatakan kalau dirinya akan menjadi salah satu tamu VIP di acara besar yang diadakan oleh perusahaan Sam.
Di sana Alvi dan Arnaff tengah merangkai perjuangan untuk hari pernikahan mereka nanti, sedang di
Sekolahan itu, Mayfa sibuk mengajar dan bermain bersama anak-anak didiknya. Anak-anak itu terus berlarian di sekitarnya.
“Miss upp.” Panggilan itu membuat fokus Mayfa yang sedari tadi memerhatikan anak-anak lain menjadi buyar.
“Iya sayang ….” Mayfa memberikan senyuman pada Nadira.
__ADS_1
“Miss Aurel kapan kembali?” Sepasang mata itu Nampak berkaca-kaca.
Mayfa merasa kasihan dengan Nadira yang Nampak sangat meridukan Syafi. “Insyha Allah, miss Aurel secepatnya akan mengajar lagi.”
Gadis kecil itu kembali bermain bersama temannya. Mayfa kembali memandangi anak-anak yang lain. Lagi-lagi perhatian Mayfa buyar, saat merasa getaran dari bangku Panjang tempatnya duduk.
“Apa kak Athan?” Mata Mayfa masih memandangi anak-anak yang bermain dari arah lain.
“Syafi sudah sampai Banjarmasin? Dari kemaren dia tidak menjawab pesanku, juga tidak mengangkat panggilan teleponku.”
“Kak, sudahlah … aku meminta kakak berhenti berjuang buat Syafi, bukan karena aku cemburu. Kakak itu bagi aku sebatas teman, masalahnya, Syafi dan Dirga tidak akan berpisah, Syafi sudah memutuskan untuk tetap bersama Dirga.”
“Aku tidak percaya.”
“Tidak percaya, ya sudah. Yang penting aku sudah kasih tau.” Mayfa mengalihkan pandangannya kearah lain.
Semua orang di luar sana terus melakukan aktivitasnya
masing-masing. Tapi tidak dengan wanita yang bernama Aurelia Syafitri itu. Setelah selesai melakukan aktivitas rumahannya, dia kembali melabuhkan dirinya
kealam mimpi. Tidurnya tadi malam sangat sedikit. Membuat matanya menagih hak untuk berpejam lagi.
Berulang kali Syafi merasa terganggu, karena hidung dan telinganya gatal. Dia hanya menggosoknya saja, dan meneruskan alurnya dialam mimpi. Tapi suara gelak tawa seseorang membuat kedua matanya yang masih ingin berpejam harus terbuka. “Kakak?” Syafi kaget melihat Dirga berada di kamarnya.
Dirga masih berusaha menahan gelak tawanya, di tangannya terlihat selembar tisu. “Masih ngantuk?” tatapan sendu dari sorot mata Dirga tertuju padanya.
“Maaf, aku ngantuk banget!”
“Maaf, karena aku mengambil waktu tidurmu.” Dirga mencubit hidung Syafi.
“Kenapa kakak kembali?”
“Ya sudah, ayok kita makan siang, adek lapar yank.”
“Cuci muka dulu.”
“Gendong ….”
Dirga menggeleng sendiri, ternyata wanita ini bisa juga
manja. Dirga mendekati Syafi bersiap menngendong istrinya ala princes.
“Bercanda kakak, aku minta gendong biar kakak medekat padaku.” Satu ciuman lembut medarat di pipi kanan Dirga. Sedang yang mencium sudah berlari menuju kamar mandi.
Dirga menhembus kasar napasnya. Sejak tadi malam Syafi terus membuat hatinya tidak karuan dengan tingkah manjanya. Tidak berselang lama wanita pujaan hatinya keluar dari kamar mandi.
“Kak ….” Panggilnya.
“Iya, ayok kita makan siang.”
Syafi melingkarkan tangannya di pinggang Dirga, keduanya melangkah bersama menuju meja makan. Keduanya menikmati makan siang mereka.
“Fiy. Besok malam mau ya temani kakak dalam acara peresmian perusahaan Sam.”
“Apa yang tidak bagi kakak? Hati dan diriku saja sudah jadi milik kakak.”
“Kamu ….” Dirga men-acak rambut Syafi, karena gemas dengan kelakuan istrinya ini. “Sore ini kita jalan-jalan ke lapangan yuk, hari ini acara penutup.”
“Boleh kak, asal bersama kakak, ‘meski ke ujung dunia …’
__ADS_1
pasti aku ikut.”
“Hem … kalau ke jurang? Masih mau ikut?”
“Lihat jurangnya dulu kak, kalau dalam aku gak ikut.”
“Hilih!” Cubitan gemas dari jemari Dirga mencubit gemas ujung hidung Syafi.
“Jangankan aku kak, kakak pun tidak akan aku izinkan terjun. Kakak bunuh diri dosanya besar, karena dua nyawa yang mungkin akan melayang.”
“Aku bukan kartun yang mempunyai cadangan nyawa.” Dirga sangat gemas dengan wanita yang berada di depan matanya ini.
“Siapa bilang kakak punya nyawa cadangan, kalau kakak mati, mungkin aku juga, kan separuh nyawaku ada pada kakak.” Syafi mengedipkan sebelah matanya.
“Yaa ya yaaa aku kalah kalau melawanmu.”
“Terima kasih kak, karena mencintaiku sebesar ini.”
“Terima kasih doang?”
“Aku harus apa dong?”
“Apa ya?” Dirga berusaha mempermainkan emosi Syafi.
“Kakak maunya apa?”
“Kamarku, apa kamarmu?”
“Ya salam ….” Syafi faham apa kode suaminya.
******
Sinar matahari yang terik, perlahan meredup. Dua manusia yang baru menjalin kasih mereka, tengah bersiap menuju lapangan untuk melihat acara penutupan di sana. Syafi masih sibuk dengan handphonenya, Pastinya mengabari Mayfa kalau dirinya dan Dirga akan ke sana.
“Lebih gantengan handphone ya dari wajahku,” sela Dirga.
“Mana ada … suamiku mah paling ganteng.”
“Ayok jalan, biar kita bisa lebih lama menikmati acara di
sana, suamimu ini bukan Sultan, maaf hanya bisa mengajakmu bulan madu ketempat lokal seperti ini.”
“Kemanapun bulan madunya, pastinya Cuma berakhir di tempat private itu kan? Jadi … di mana saja semua sama, yang beda—” Syafi sengaja memutus ucapannya.
“Yang beda apaan weih?”
“Beda jadinya dan terasa istimewa, kalau kakak bersamaku. Kemanapun tempat terindah, bagiku suram kalau nggak ada kakak di samping aku. Jadi di
mana aja sama, yang membuat beda itu kakak, apalagi jika aku bisa bersandar seperti ini setiap saat, ini adalah hal paling indah.” Syafi menyandarkan kepalanya di bahu Dirga.
***
Maaf baru update, cuma dua doang pula. maafkan ya.
Akan up lagi jika ada waktu luang, 😘
Kalau gak up, artinya aku lagi asa kebukan. terima kasih semua.
kapan?
__ADS_1
Entahalah.