Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 65 Nenek Sihir


__ADS_3

Arnaff masih mematung melihat wanita yang dia benci berfoto bersama putrinya, darahnya seakan mendidih menyadari keadaan ini. Putri kecilnya sangat mencintai wanita itu, bahkan setiap saat Nadira selalu bercerita tentang sosok miss Aurel.


“Kemaren miss Aurel sakit, anak-anak sedih, miss Aurel sangat dicintai anak-anak, Tuan.” Cerita pengasuh Nadira.


“Aurel? Aurelia Syafitri?” napas Arnaff terasa berat, teringat nama Syafi. Terlintas kecelakaan yang menimpa Syafi.


“Nadira sangat banyak perubahan Tuan, Nadira sekarang sangat mandiri, tidak cengeng lagi dan terbuka untuk berteman dengan siapa saja, tidak seperti dulu, setiap jam istirahat pasti menghampiri saya dengan keadaan menangis, selama Nadira mengenal miss Aurel, dia tidak pernah lagi mendatangi saya, saya lihat dari kejauhan Nadira asyik bermain bersama teman-temannya, bahkan memakan bekalnya sendiri, tidak manja lagi. ‘Kan biasanya Non Nadira selalu minta suapi.” Pengasuh Nadira terus berbicara  tentang perkembangan Nadira setelah Nadira mengenal sosok yang dia panggil miss Aurel.


Rasanya paru-paru Arnaff di-ikat begitu kuat dengan tali tambang, sesak … sulit untuk bernapas saat menyadari bagaimana istimewanya wanita yang sangat dia benci. Bahkan dia melihat langsung bagaimana perkembangan Nadira, karena dididik wanita itu.


Saya tidak akan melanjutkan pernikahan ini! Saya sudah punya anak. Saya tidak bisa menikahi wanita yang alai dan lebay itu, kalau dia jadi istri saya, bagaimana perkembangan anak saya nanti? Anaff teringat kata-kata kasarnya sesaat sebelum meninggalkan Syafi.


“Apa yang telah aku lakukan?” Arnaff membuang Kasar napasnya. Dia menyerahkan kembali handphone yang dia pegang pada pemiliknya. “Sayang, mainnya lanjut ya, papa mau mandi dulu.” Arnaff mencium pucuk kepala putrinya, dan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Sesampai di dalam rumah, Arnaff berlalu begitu saja, dia ingin menyegarkan dirinya, memulihkan tenaganya untuk malam  ini bertemu Alvi nanti. Saat mengetahui siapa sosok yang Nadira banggakan membuat Arnaff tidak tenang, segala rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Hari pernikahannya dengan Alvi juga tinggal menghitung hari saja.


Matahari sudah tenggelam di ufuk barat, lampu-lampu mulai menerangi kota itu. Arnaff sudah rapi dengan setelannya, untuk menemui Alvi. Setelah pamit pada kedua orang tuanya, Arnaff segera melajukan mobilnya menyusuri jalan raya, menuju tempat yang dia janjikan. Sesampainya di sana, seoang wanita cantik dengan mini dress-nya sudah duduk manis di meja yang sudah Arnaff pesan sebelumnya.


“Vi ….” Sapa Arnaff. Rasanya lidahnya kelu memanggil wanita itu sayang karena kejadian tadi siang.


“Hai sayang.” Wanita itu melempar senyuman manisnya. “Bisa jelaskan, kenapa kamu bekerja sebagai karyawan biasa di Perusahaan temanku?” Alvi langsung menanyakan hal yang sepanjang siang selalu beputar di benaknya.

__ADS_1


Arnaff segera meraih kursi dan duduk di sana. “Itulah pekerjaanku saat ini, aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku bingung untuk memulai dari mana.”


Wajah Alvi seketika kehilangan keceriaanya saat mengetahui Arnaff bukanlah CEO Ohoana Group. “Kek-kenapa bisa?”


“Sam marah, karena Ardhin dan Kamal katanya meninggal karena ulahku, daripada perusahaan bangkrut, aku menjual perusahaan di saat masih jaya, sebelum anjlok, dan uang penjualan sahamku, sudah kita gunakan untuk biaya pernikahan impian kamu, sisanya nanti kita akan beli mobil baru buat kamu, juga rumah impian kamu.” Arnaff terus memandangi wajah Alvi, ingin membaca reaksi Alvi saat mendengar cerita bohongnya.


Kepala Alvi terasa gatal saat mengetahui Arnaff hanyalah mantan CEO. Alvi berusaha santai dengan gaya elegantnya. “Apa karena ini kamu tidak masuk list tamu VIP waktu itu?”


“Mungkin ….” Arnaff terus memandangi wajah calon istrinya itu. “Kamu tidak akan mundur kan? Kamu bilang, kamu tulus mencintai aku, bukan karena apa-apa yang ada padaku. Aku sudah memberikan segalanya. Kalau aku, aku hanya meminta kamu setia di sisiku, sebagai istriku, sebagai ibu Nadira, dan ibu buat anak-anak kita kelak,” ucap Arnaff.


Alvi tidak bisa menjawab pertanyaan Arnaff. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya.


“Jangan!”


“Owh, aku kira kamu malas untuk lanjutkan pernikahan ini,karena aku hanya seorang buruh biasa.”


“Aku sangat lapar, bisa kita pesan makanan?” Alvi berusaha mengalihkann topik pembicaraan.


Arnaff tersenyum, sangat terasa perubahan Alvi saat mengetahui keadaannya saat ini. Arnaff dan Alvi segera memesan menu yang mereka inginkan. Saat menikmati makan malam ‘pun, keduanya tetap membisu. Akhirnya makan malam yang membosankan ini selesai juga.


“Aku antar pulang?” tawar Arnaff.

__ADS_1


“Tidak perlu, aku masih ada janji, kamu pulang saja.”


Arnaff memahami kesibukan Alvi, dia segera undur diri, setelah keluar dari Restoran itu, Arnaff segera menuju parkiran. Sepasang suami istri yang ada di depan sana, menyita perhatian Arnaff. Dua orang itu sangat asyik bercanda, gelak tawa keduanya juga samar bisa Arnaff dengar. Arnaff membuang begitu kasar napasnya, melihat Dirga begitu bahagia dengan wanita yang dia telantarkan. Sepasang suami istri itu sudah pergi dengan mobil mereka. Arnaff hanya bisa melihat kebahagiaan wanita yang dia sakiti dulu.


“Kesulitan yang aku alami saat ini, masih tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku berikan padanya.” Pandangan mata Arnaff masih tertuju ke-arah di mana mobil Dirga melaju. Arnaff segera melangkahkan kakinya menuju mobilnya.


Waktu terus berlalu, Arnaff sudah mengurus cuti di tempat dia bekerja, hari pernikahannya dengan Alvi semakin dekat. Arnaff mengisi waktu liburnya untuk bermain bersama putri kesayangannya. Setelah menikah nanti, dia dan Alvi langsung pergi untuk berbulan madu. Arnaff mengisi waktu kosong ini agar puas bermain bersama putrinya, sebelum meninggalkan sang putri beberapa hari nanti.


Akhirnya hari besar yang Arnaff dan Alvi rencanakan hari ini waktunya. Ada ketidak beresan di Gedung tempat acara berlangsung, beberapa poster prewedding dirinya dan Alvi tidak terpasang di tempat yang sebelumnya sudah di rencanakan, menu makanan yang mereka pesan jauh-jauh hari juga beberapa tidak terlihat. Arnaff memanggil salah satu panitia WO yang dia percaya untuk meng-handle hari bahagianya ini.


“Di mana poster dan foto prewedding kami? Dan itu kenapa beberapa menu tidak ada di meja hidangan?”


“Maaf Tuan, dua hari kemaren Nona Alvi merubah beberapa persiapan, untuk poster kami simpan di ruang ganti Tuan. Itu permintaan Nona Alvi sendiri.


Arnaff langsung melangkah begitu cepat menuju ruangan yang dia tempati untuk ber-istirahat bersama keluarganya, juga ruangan yang dia pakai untuk ganti baju nanti. Sesampai di ruangan itu, poster besar maupun foto yang ber-ukuran besar, ada di ruangan itu, bukan itu yang membuat Arnaff kaget, tapi kelakuan putri kecilnya yang mencoret wajah Alvi dengan spidol yang dia pegang.


“Sayang, kamu ngapain?” tanya Arnaff.


“Eh papa, nenek sama mbak lagi sibuk, kata nenek Rara harus tetap di ruangan ini dan bersikap manis.” Nadira terus ber-exploitasi dengan imajinasinya. Foto Alvi yang cantik sudah tak terlihat, yang ada foto dengan coretan abstrak. “Papa … kenapa papa foto bareng nenek sihir ini?” celoteh mulut mungil itu, sedang tangannya masih sibuk dengan imajinasinya.


“Nenek sihir?” Arnaff kaget dengan ungkapan Nadira. Selama ini yang Nadira sebut nenek sihir adalah wanita yang dia bilang jahat, yang suka-marah-marah tanpa sebab kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2