
Syafi dan Dirga saling tatap. Sedang Pak Said masih melanjutkan memberi nasehat pernikahan. Tentang sakral dan sucinya sebuah ikatan pernikahan. Hati Syafi semakin terasa sesak mendengar semua nasehat itu. Dirga memahami kesedihan Syafi saat ini.
“Pak, bolehkah saya izin sebentar? Ada yang ingin saya katakan pada Aul,” ucap Dirga.
“Bang … jangan di icip-icip dulu Bang, sabar Bang … sebentar lagi halal,” goda Mayfa.
Dirga hanya tersenyum, dia meminta Syafi untuk mengikutinya. Mereka sampai di satu sudut yang di rasa aman untuk bicara.
Dirga memandangi wajah Syafi. “Aul ….” Panggilnya.
Wanita itu masih terlihat cemas. Berulang kali Aul menghela napas untuk mengumpulkan keberanian untuk bicara.
“Aul, ada apa?”
“Niat kita salah kak, rasanya berat untuk melanjutkan pernikahan ini.”
Rasanya tubuh Dirga seketika tak berdaya. Dirga menyandarkan punggungnya pada tembok yang ada di dekatnya, agar tidak jatuh ke lantai. Merasakan hal yang sama seperti yang Syafi rasa. “Aku juga merasa bersalah, jika menikahimu hanya dengan tujuan menjadikanmu sebatas pendamping.” Menghembuskan kasar napasnya,
memandang kosong kesembarangan arah. “Bisakah kita bersangka baik pada Allah, kalau dengan jalan ini Allah menyatukan kita?”
Syafi menatap tajam pada Dirga, keduanya beradu tatap. Dirga semakin tidak berdaya melihat tatapan mata Syafi.
“Aku ragu pada diriku sendiri, apakah aku bisa menjadi seorang istri." Syafi membuang pandangannya kearah lain.
“Kita mulai hubungan ini, walau hanya sebatas pendamping, setelah menikah nanti. Jika diantara kita tidak ada kenyamanan, kita pikirkan urusan itu saat itu tiba. Jika kita menemukan kenyamanan, lalu kamu bersedia menjadi istri yang sesungguhnya, aku juga bersedia menjadi suami yang sesungguhnya.”
Syafi mencerna kata-kata Dirga. “Untuk menjadi istri kakak, aku harus mengubur Syafi yang dulu. Aku tidak bisa menjalani hidup kedepan dengan Syafi yang dulu, beri waktu untuk aku berubah, kak.”
__ADS_1
Doarrrr!
Rasanya jantung Dirga ikut meledak mendengar ungkapan Syafi barusan. Dirga bingung harus apa, mencoba mengumpulkan sisa kesadarannya. “Aku akan siap, di saat kamu siap.” Dirga mengulurkan tangannya pada Syafi. Kedua sudut bibir Syafi sedikit tertarik, mengukir sebuah senyuman kecil di wajah itu.
“Aku bersedia, tapi ingat saat kakak menemukan wanita pilihan kakak, di saat antara kita masih sebatas pendamping, kakak harus menikahi wanita pilihan kakak, dan melepaskan aku.”
Dirga tidak menjawab, dia hanya menggerakkan tangannya yang sedari tadi dia ulurkan untuk menjabat tangan Syafi. Syafi langsung menyambut jabatan tangan Dirga.
“Kalian ngapain?”
Pertanyaan itu mengejutkan keduanya. Syafi dan Dirga menoleh kearah sumber suara itu. Terlihat Mayfa dengan gaya somplaknya dari arah itu.
“Sudah selesai uji cobanya? Mending halalin sekarang, biar—” Mayfa menarik turunkan kedua alisnya menggoda Dirga dan Syafi. Tapi tidak ada respon diantara keduanya. Syafi memberikan senyuman yang dipaksakan pada Mayfa, dia melangkah lebih dulu menuju ruang akad. Di pojokan hanya tertinggal Mayfa dan Dirga.
“Dia berubah, May ….” Dirga terus memandangi punggung Syafi yang terus menjauh.
“Padahal Syafi yang dulu yang meluluhkan hatiku.” Sorot mata Dirga masih memandangi kearah Syafi yang terus menjauh.
Ucapan Dirga barusan membuat kedua bola mata Mayfa seakan melompat. “Lu suka gadis somplak?”
“Amm ….” Dirga merasa serba salah, terlalu hanyut dalam lamunan, dia keceplosan mengucapkan perasaan yang dia rasa selama ini.
Mayfa tersenyum jail. “Ini jalan yang Allah kasih buat kakak, untuk mendapatkan wanita kakak, ayo kak berjuang!” Mayfa menyemangati Dirga.
“Apakah aku bisa membantu Syafi untuk jadi dirinya sendiri? Dia bilang dia ingin berubah, aku nggak rela dia berubah, aku suka dengan Syafi yang dulu. Aku cinta Syafi yang dulu, aku ingin Syafi yang dulu.”
“Jangan mikir sekarang, ayo halalkan dulu, kedepannya usaha dan ihktiar, jangan lupa berdo’a juga.” Mayfa memberi semangat pada Dirga. “Ayok Bang, kita langsung bergabung sama yang lain, ‘ntar dikira orang, aku bawa kabur abang!” Mayfa mengajak Dirga untuk segera menuju tempat akad.
__ADS_1
Di ruang akad, terlihat semua sudah siap. Melihat Dirga sudah bergabung, acara akad nikah segera di mulai. Terlihat air mata Syafi tidak berhenti menetes saat dia berhadapan dengan wali hakim yang di tugaskan oleh KUA menjadi wali Hakimnya. Melihat pemandangan itu, Mayfa langsung menarik Syafi kedalam pelukannya.
“Ada apa?”
Syafi melepaskan diri dari pelukan Mayfa. “Aku—” Syafi tidak bisa mengucapkan kata-kata yang ingin dia sampaikan. Tidak punya keluarga yang bisa menikahkannya, karena keluarga Almarhum Ayahnya juga tidak di ketahui masih ada atau tidak. Rasanya sedih melihat orang lain yang bertindak sebagai wali hakim untuk menikahkan dirinya. Tidak bisa mengunggkapkan kesedihannya dengan kata-kata, seakan tenggorokkannya tercekat. Mayfa sadar akan kepedihan temannya.
“Lo nggak sendiri. Lihat di sana.” Mayfa menunjuk kearah Ayah dan Bundanya, juga beberapa kerabat Kamal. “Mereka semua keluarga kamu.”
Syafi berusaha tegar, mengumpulkan sisa kekuatannya untuk melanjutkan berwali pada wali Hakim yang akan menikahkan dirinya. Acara akad nikah di mulai, suasana seketika hening saat penghulu dan Dirga saling berjabat
tangan. Setelah Dirga mengucapkan ijab Kabul, lantang terdengar sahutan ‘Sah’ dari kedua saksi.
Dirga menyematkan cincin di jari manis Syafi. Syafi pun melakukan hal yang sama. Syafi kembali larut dalam lamunannya. Syafi mematung, tidak ada reaksi dari wajah cantik itu. Berulang kali Dirga melirik, Syafi tidak juga menyadari kalau Dirga mengulurkan tangannya. Mayfa mendekat Kembali, dia menyenggol lengan temannya itu. Syafi tersadar dari lamunannya dia segera memutar sedikut tubuhnya menghadap kearah Dirga, mengulurkan tangannya pada Dirga, menyalimi tangan laki-laki yang kini jadi suaminya, mencium punggung telapak tangan itu. Seketika tubuh Dirga bergetar, saat Syafi salim dan mencium punggung telapak tangannya, ingin sekali mendaratkan ciumannya di pucuk kepala wanita itu. Tapi nyalinya tidak sebesar keinginannya. Keduanya terlihat kikuk, Syafi dan Dirga Kembali pada posisi mereka.
“Nggak di cium bang alis adek?” goda Mayfa.
Keduanya saling diam, menatap kosong kedepan mereka, tanpa menangkap apa yang dilihat oleh mata.
“Kalau mau cium jidat neng, langsung aja Bang … jangan malu-malu sapi atuh ….” Goda Mayfa lagi. Mayfa membuang kasar napasnya. Syafi yang suka bercanda dengan rayuan bucin, ceria dan somplak, semua itu tidak terlihat. Wanita di samping Dirga itu memang Syafi temannya. Tapi hanya jasadnya saja.
Setelah acara do’a selesai, beberapa anggota keluarga dekat Kamal ikut berfoto bersama dua mempelai. Foto terakhir, Syafi dan Dirga berfoto bersama Mayfa, Eren, Rosalina dan Pak Said. Belum selesai sesi foto kedua mempelai, ponsel Pak Said berdering, terlihat nama Marcelina yang memanggilnya. Pak Said langsung menggeser icon berwarna hijau.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, Ayah. Ayah … Paman Ardhin ….” Marcelina tidak bisa meneruskan ucapannya. Namun Ayahnya faham apa maksud putrinya itu. Pak Said berbisik pada Mayfa, Mayfa segera mendekati Syafi dan Dirga, terlihat dari sana Mayfa menyampaikan sesuatu. Selesai berbicara dengan Syafi, mereka semua segera meninggalkan KUA.
***
__ADS_1
Isya allah sambungannya besok ya, dah sepet mata.